
Berbagai pertanyaan dibenak Aurel membuatnya melamun sampai Pras menyentuh bahunya membuatnya tersadar.
"Aku sudah ingat, akhir semua ini. Hidupku berakhir dengan tragis, aku akan mati,” ujar Aurel dengan tatapan kosong. Pras yang tidak mengerti dengan yang Aurel ucapkan, dan ia merasa ada yang tidak beres dengan Aurel segera membawa gadis itu keluar dari toko buku.
Merangkul Aurel yang masih diam membisu berada dalam lamunanya sendiri, Pras membawa gadis itu menuju parkiran. Mendudukannya Aurel di kursi depan dan memasang seat belt.
Selama perjalanan Pras sesekali menoleh ke arah Aurel yang menatap kosong kaca jendela di sampingnya. Entah apa yang gadis itu lamunkan, Pras juga tidak mengerti dengan apa yang disampaikan saat mereka di toko buku.
“Aku akan mati.” Kalimat terakhir Aurel sungguh membuatnya bertanya-tanya.
Mengapa dia mengatakan dia akan mati, apa dia merencanakan sesuatu yang buruk atau dia bisa melihat sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dalam benaknya Aurel merutuki nasib buruk yang akan menimpannya, dengan segala kemudahan hidup yang ia rasakan saat ini nasib tragis menantinya dan menyebabkan berakhir kisah hidupnya. Awalnya Mia yang saat ini berada dalam tokoh Aurel sangat bahagia dengan keadaannya saat ini karena meninggalkan hidup yang menyedihkan sebagai Mia.
Namun, jika Aurel akan berakhir tragis ternyata kisah Aurel jauh lebih menyedihkan dari kisah hidup Mia. “Aurel,” panggil Pras, namun Aurel bergeming. Ia masih menatap jendela disampingnya.
“Aurel,” panggilnya lagi, masih tidak ada sahutan. Karena sedang fokus menyetir, Pras hanya mengusap lembut kepala Aurel. Saat berada di lampu merah ia menghentikan mobilnya lalu meraih tangan Aurel dan menggenggamnya, “Aku tidak tau apa yang kamu pikirkan, yang pasti semua akan baik-baik saja. Jangan singkirkan aku maka aku akan melindungimu,” ucap Pras.
Saat mobil yang membawa Pras dan Aurel sudah tiba di rumah, Pras melihat mobil Reka yang sudah terparkir di sana. Pras membawa mobil itu kembali melaju meninggalkan rumah. Ia tidak ingin dengan kondisi Aurel yang sekarang malah menyaksikan kebusukan antara Reka dan Nirma.
Aurel masih belum menyadari bahwa Pras sudah membawanya pulang bahkan kini ia kembali dibawa oleh Pras meninggalkan rumah. Pras membawanya menuju suatu tempat, tempat di mana Aurel bisa melepaskan sejenak beban hidupnya. Tempat yang jauh dari keramaian dan mungkin tidak ada orang yang mengetahui identitas Aurel.
Ponsel Pras berdering, ia melihat nama Nirma tertera di layar, namun Pras tidak berniat menjawab panggilan tersebut. Ia lebih memilih terus melanjutkan tujuannya membawa Aurel menenangkan diri.
“Jadi, gimana? Kapan kita bisa miliki semua ini,” ujar Reka pada Nirma saat mereka telah menyelesaikan olahraga menyenangkan. “Sabar, asuransi yang aku ajukan belum mendapat tanda tangan dari Aurel. Aku juga mengajukan perpindahan rekening dan dia belum menandatangani persetujuannya.”
“Sebaiknya kita segera matangkan rencana ini,” titah Reka pada Nirma, ia lalu beranjak menuju kamar mandi. “Kamu segera pulang deh, kita sudah kelamaan disni. Aku khawatir tiba-tiba Aurel datang,” ungkap Nirma saat Reka sudah memakai kembali pakaiannya.
Pras menghentikan mobilnya, ia lalu keluar dan menatap pemandangan dihadapannya. Membakar sebatang rokok dan menghisapnya, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Setelah habis terbakar hampir setengah batang, Pras membuangnya dan menginjak rokok tersebut dengan sepatunya.
Menghampiri sisi mobil tempat Aurel berada, lalu membuka pintunya. “Aurel,” ucap Pras sambil menepuk pipi gadis itu. Aurel tersadar dari lamunanya, ia menatap sekeliling saat Pras melepaskan seat belt.
“Loh, ini dimana?”
“Seingatmu kita harusnya berada di mana?” tanya Pras. Aurel terdiam memikirkan sesuatu lalu ia menatap Pras, “Tadi kita sedang mencari buku novel, yang kisahnya ...”
“Keluarlah,” titah Pras. Aurel pun keluar dari mobil. Ia menatap pemandangan di hadapannya.
"Ini," ucap Aurel lalu menoleh pada Pras. "Nikmatilah, lupakan sejenak beban hidupmu," titah Pras.
_______
Haiiii, jejaks yess