My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Suara Reka



Gambaran itu seakan memperlihatkan dengan jelas tampang rupawan dari seorang Reka dan wajah tak bersalah Nirma. “Bagaimana awalnya sampai kalian bertemu? Apa hubungan aku dengan Reka juga setingan kalian?” tanya Aurel dalam hati.  


Aurel akhirnya akan menandatangi berkas tersebut jika nama ahli waris ia rubah menjadi nama Ibu Panti yang memiliki peran penting dari semua anak yang tumbuh dan besar di Panti Asuhan tempat Aurel dan Nirma tumbuh. “Ahli waris sudah aku rubah, jangan dirubah kembali.” Hal itu dilakukan karena Aurel sudah mengetahui motif Nirma dan Reka. 


"Mana bisa begitu, Ibu Panti sudah tua. Kamu pikir dia  bisa ke sana ke mari urus hal-hal seperti ini dan kalau ada apa-apa,  belum tentu dia paham untuk mengurusnya."


"Memang kamu berharap aku akan mengalami apa? Kalaupun ada yang perlu diurus tinggal siapkan mobil dan orang untuk mengantarkan," ujar Aurel. Nirma masih enggan mengganti nama ahli waris membuat Aurel enggan menandatangani berkas dan semakin ragu pada ketulusan Nirma.


Akhirnya Aurel dan Nirma malah bertengkar, Pras berusaha menengahi,  “Hey, hey, kalian bukan anak kecil dan ini rumah sakit. Bagaimana jika ada yang mendengar pertengkaran kalian lalu up di media," ujar Pras. Nirma dan Aurel terdiam saling mengalihkan pandangan.


Tidak lama kemudian dokter melakukan visit, "Nona Aurel, sudah bisa pulang ya. Kontrol minggu depan dan jangan dulu beraktifitas berat.”  Nirma segera mengurus administrasi untuk kepulangan Aurel.


“Bang Pras, bantu aku turun. Aku mau ke toilet,” pinta Aurel. Pras pun membantu Aurel turun dari ranjang dengan memeluk pinggang gadis itu membuat tubuh mereka sangat dekat, bahkan saat Aurel menengadah tepat menatap wajah Pras yang juga sedang menatapnya.


“Mau jalan sendiri atau aku gendong,” ujar Pras menyadarkan Aurel. Aurel berjalan tertatih karena salah satu kakinya yang cedera masih dalam balutan perban. Melihat Aurel yang kesulitan namun tetap kukuh ingin berjalan sendiri, Pras segera mendekat dan mengangkat tubuh Aurel ke dalam gendongannya. “Bang Pras,” pekik Aurel.


“Diam atau kamu jatuh.” Pras mendudukan Aurel di toilet yang masih tertutup. “Panggil aku, kalau sudah selesai.” Pras baru saja berbalik menuju pintu toilet, “Bang Pras, tolong ambilkan tas berisi pakaian yang ada di atas ranjang. Aku mau ganti baju,” pinta Aurel.


“Hmm.”


.


.


.


Pras membuka pintu mobil untuk Aurel, saat mereka sudah tiba di rumah. “Akhirnya, pulang juga,” sahut Aurel, ia berjalan sendiri menolak digendong oleh Pras.


“Sebaiknya kamu istirahat, banyak jadwal kegiatan yang dibatalkan karena insiden ini. Jadi cepatlah sembuh, masih banyak jadwal kamu ke depannya,” ucap Nirma.  Aurel melangkah perlahan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Pras mengikuti di belakang  Aurel karena membawakan tas berisi perlengkapan Aurel selama ia di rumah sakit.


“Perlu bantuan lain, sebelum aku turun?” Aurel hanya menatap pada Pras tanpa menjawab pertanyaan pria itu, ia menggelengkan kepalanya. “Aku akan standby setiap hari walaupun belum ada jadwal pengawalan, jadi kalau perlu bantuan hubungi aku.”


“Hmm.”


Sudah dua hari sejak kepulangan Aurel dari Rumah Sakit, namun gadis itu belum bisa melakukan aktifitas normalnya. Biasa disibukan dengan segala macam jadwal, kali ini ia banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, bermain ponsel dan menonton TV.  Bahkan Aurel sudah merasa bosan sejak hari pertama vakum.


“Bosan amat ya, dari tadi cuma buka igeh, komen efbe, update status ... acara TV iklan melulu. Nonton drakor kebanyakan drama,” keluh Aurel.  Menghubungi Reka untuk menemaninya, namun di jawab sedang sibuk. Aurel pun tak berharap banyak mengingat dia sudah mengetahui siapa sebenarnya Reka dan Nirma.


“Hahhh,” Aurel membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya. “Kebanyak makan nanti gendut, olahraga juga belum boleh, jadi aku harus ngapain dong?” Aurel masih bermonolog. “Baca novel online, top up poin untuk buka bab, ternyata bab nya enggak habis-habis.”


Aurel kembali meraih ponselnya dan mengirim pesan.


Bang Pras, antar aku ke danau. Jenuh aku Bang.


Tidak lama pesan pun terbalas.


Nanti, kalau kakimu sudah sembuh.


Sekarang aja, Bang. Bisa mati duduk aku, bosan begini.


Krik krik krik, cukup lama Aurel menunggu balasan namun tidak ada juga.


Pras sesuai dengan janjinya akan standby, seperti biasa dia akan menunggu di pos security dekat gerbang. Melangkah memasuki rumah Aurel, mencari Nirma. “Nona Aurel sepertinya bosan, apa tidak ada jadwal yang bisa dia kerjakan tapi tidak menyulitkan karena kondisi cederanya.”


Nirma yang sudah rapih sepertinya akan pergi, “Jadwalnya sampai seminggu ke depan sudah aku kosongkan, biarkan saja dia fokus pada kesembuhan kakinya. Malas aku harus pikirkan solusi kebosanananya. Kalau kamu mau, kamu aja yang urus. Aku mau pergi, pastikan dia tidak keluar dari rumah ini,” titah Nirma lalu meninggalkan Pras dan rumah tersebut.


Pras menghela nafasnya, “Padahal dia asisten Aurel tapi bertindak seakan dialah bosnya,” ujar Pras lalu menaiki tangga menuju kamar Aurel.


“Masuk,” ujar Aurel saat mendengar ketukan pintu. Masih asyik dengan ponselnya menunggu balasan dari Pras tidak menyadari bahwa Pras sudah masuk ke dalam kamarnya karena ia pikir Nirma yang mengetuk pintu.  “Masih bosan?” tanya Pras. Aurel pun menoleh karena terkejut, “Iyalah, ngapa-ngapain enggak bisa. Gadget udah bosan,” jawab Aurel.  “Kita ke danau lagi aja, Bang. Please,” rengek Aurel.


“Tidak, itu sama saja aku tidak mendukung kamu untuk sembuh. Kita ke bawah, ke ruangan kamu latihan, gimana?” ajak Pras.


Aurel kembali menoleh pada Pras, “Mau ngapain?”


“Tidur.”


Aurel berdecak, “Aku serius, Bang.”


“Menurut kamu kita akan lakukan apa di ruang latihan? Ayo,” ajak Pras mengulurkan tangannya. Aurel menyambut tangan Pras yang membantunya turun dari tempat tidur dan menuruni anak tangga menuju ruang latihan.


Di ruangan tersebut, ada beberapa alat musik termasuk piano yang digunakan untuk Aurel berlatih. Pras mengambil gitar akustik, dan mulai memainkannya. “Bang Pras bisa main gitar?” Pras hanya tersenyum. “Kamu nyanyi ya, khusus untuk aku bukan untuk penonton,” pinta Pras.


Sepanjang sore, Aurel dan Pras menghabiskan waktu di ruang latihan. Seperti sebelumnya, Aurel hanya butuh teman untuk mengusir kesepiannya. Hanya menemani untuk sekedar bercanda dan meminta dia untuk bernyanyi seperti yang Pras lakukan saat ini. Namun, Aurel mulai bergantung pada Pras karena akhir-akhir ini selalu ada untuknya.


Setelah menemani Aurel makan malam, Pras memastikan Aurel keamanan rumah khususnya kamar Aurel. “Istirahatlah, sudah malam dan jangan makan yang aneh-aneh nanti berat badan kamu naik drastis,” ujar Pras. “Maksudnya aku gendut?” wajah Aurel sudah tidak bersahabat. Pras hanya terkekeh, “Kenapa perempuan selalu sensitif dengan berat badan?”


“Ada topik lain enggak selain masalah itu,” ujar Aurel.


“Ada, temanya tentang aku dan kamu,” jawab Pras. “Ehh, maksudnya?” tanya Aurel.


“Selamat malam,” ujar Pras lalu berjalan menuju pintu. “Bang Pras, maksudnya apa?”  Pras hanya melambaikan tangan lalu menutup pintu kamar Aurel.


Masih dengan tanda tanya dengan clue yang disampaikan Pras dan bukan kali ini saja, sebelumnya pun Pras pernah mengucapkan pernyataan yang membuat canggung keduanya. Seperti pernyataan ungkapan perasaan, tapi Aurel belum yakin jika Pras menyukainya.


Tengah malam, Aurel yang sudah terlelap tiba-tiba terbangun. Ia kembali memikirkan lembaran cerita yang ia ingat bahwa Reka dan Nirma bekerja sama untuk mencelakainya. Masih tak percaya, namun gelagat dari kedua orang itu mengarah pada kebenaran dari alur yang sudah ia ingat detail. Merasa sangat haus, menoleh pada gelas di atas nakas ternyata sudah kosong. Mau tidak mau ia harus turun ke dapur untuk mengambil air. Berjalan perlahan menuruni anak tangga, beberapa lampu sudah dimatikan membuat area-area tersebut gelap.


Melewati kamar Nirma, Aurel mendengar suara Nirma dan seseorang. Artinya Nirma tidak sendiri. Mendekat pada pintu yang ternyata tidak tertutup rapat, Aurel semakin yakin dengan suara seseorang tersebut. Suara yang sangat ia kenal, suara Reka kekasihnya.