
Aurel terbahak mendengar Pras bercerita yang dibumbui dengan candaan. Sejak tadi pagi Aurel yang merasa jenuh dan kesal bahkan berulang kali mengeluh ingin pulang.
Namun Pras berhasil mengalihkan perhatian dan membuat gadis itu tidak merasa kesepian. Cukup dengn menemani gadis itu dan alihkan perhatiannya, karena inti masalahnya adalah Aurel merasa kesepian.
Selain menghibur, Pras juga menyemangati Aurel agar fokus pada kesembuhan kakinya. "Karena segala sesuatu itu bisa dilakukan kalau kita sehat," ujar Pras. "Percuma kamu punya berbagai rencana dan banyak uang kalau sakit. Rencana tidak bisa direalisasikan, kamu juga tidak bisa menikmati kemewahan yang dimiliki karena kamu sedang terbaring lemah atau sekarat," ungkap Pras.
"Aku kok nyaman sih, dekat dan bicara dengan Bang Pras, padahal waktu awal Bang Pras datang dan dikenalkan oleh Nirma kelihatan nyebelin. Mana mukanya jutek banget," ucap Aurel sambil cemberut.
Pras hanya terkekeh mendengar Aurel menilai dirinya saat awal bertemu. "Pekerjaan aku mengharuskan aku bersikap begitu," sahut Pras sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu bisa bayangkan kalau aku cengengesan dan gemulai?”
"Tapi aku juga suka gaya Bang Pras kalau sedang ngawal aku, kelihatan macho dan ..."
“Owh, hanya suka gaya aku, bukan orangnya," ujar Pras menyela ucapan Aurel. Tiba-tiba suasana jadi hening, Pras terdiam sambil memandang Aurel, sedangkan Aurel mencoba mencerna kalimat Pras.
Hanya suka gaya aku, bukan orangnya. Maksud Bang Pras apa ya? Hmmm, apa ....
Ceklek
Pintu kamar Aurel terbuka. Pras yang masih duduk di kursi dan Aurel yang duduk di ranjangnya menoleh ke arah pintu. Nirma, datang dengan map di tangannya. Merasa menjadi pusat perhatian dan berada dalam kecanggungan, Nirma pun bertanya, "Kenapa? Ada ada dengan kalian?"
"Kamu dari mana sih? Semalam tidak ada, sore begini baru datang. Harusnya kamu temani aku, itukan tanggung jawab kamu," ujar Aurel pada Nirma.
"Ini kelas VVIP, butuh apa-apa tinggal panggil perawat. Lagi pula ada Pras di sini, aku masih harus mengurus kebutuhan kamu yang lain."
Entah mengapa mendengar ocehan Nirma, Aurel tiba-tiba kembali teringat, teringat lembaran cerita novel ini. Sebagai Aurel atau Mia, yang jelas saat ini ia seakan berada pada masa sedang membaca novel tersebut. Lembaran demi lembaran terbayang jelas, membuat Aurel semakin yakin dan mengingat jelas alur kisah dan akhir dari kisah ini.
Tidak mungkin. Bagaimana mungkin mereka? Orang yang aku percaya selama ini. Apa mungkin salah?
Pras yang memilih duduk pada sofa saat Nirma datang, sedangkan Nirma duduk pada kursi yang sebelumnya ditempati oleh Pras. Merasa omongannya diabaikan oleh Aurel, Nirma pun menoleh dan melihat Aurel sedang melamun.
“Aurel,” panggil Nirma namun tidak ada tanggapan. “Aurel,” panggilnya lagi, “kamu dengar aku enggak?” Nirma menepuk bahu Aurel membuat gadis itu terperanjat. “Kamu melamun?” tanya Nirma, bahkan Pras pun menatap ke arah Nirma dan Aurel berada karena mendengar teguran Nirma.
“Melamun?” tanya Aurel. Nirma melihat Aurel melamun, namun di posisi Aurel ia baru saja mengingat dengan jelas bagaimana alur kisah novel sampai selesai. “Aku bukan melamun tapi berfikir ternyata kamu ada di balik semua ini. Kamu orang yang sudah aku percaya tapi berkhianat, kamu orang yang aku anggap saudara tapi menikam,” ucap Aurel dalam hati.
“Ini berkas apa? Mengapa banyak sekali? Kalau kontrak kerja biasanya kita tanda tangan langsung dihadapan penanggung jawab,” ujar Aurel.
“Sudahlah, kamu tidak perlu banyak tanya. Semua ini untuk kebaikan kamu, jangan habiskan waktu dengan membahas yang tidak jelas. Biasanya kamu tidak pernah seribet ini, kenapa sih? Yang cedera itu kaki kamu, tapi kenapa pikiran kamu yang berbelok,” sindir Nirma.
“Kalau kamu tidak mau menjelaskan, ya aku baca saja.”
“Kelamaan Aurel, aku harus antarkan lagi berkas ini, tinggal kamu tanda tangan aja apa susahnya.”
Aurel semakin merasa aneh, Nirma seakan tidak ingin menjelaskan untuk apa berkas-berkas tersebut. “Jelaskan atau aku tidak akan tanda tangan,” ancam Aurel sambil menyodorkan kembali berkas tersebut pada Nirma.
“Ini berkas asuransi, karena kejadian insiden kemarin, aku inisiatif mendaftarkan kamu untuk mengikuti asuransi. Kita tidak tau ke depannya hidup akan seperti apa, bagaimana jika insiden kemarin membuat kamu tidak bisa tampil kembali, sedangkan kamu belum memiliki bekal yang cukup untuk menjalani hidup,” ungkap Nirma.
Pras menyimak apa yang didebatkan oleh Nirma dan Aurel namun ia tidak ingin ikut campur, tugasnya hanya memastikan keamanan dan keselamatan Aurel. Masalah asuransi yang dimaksud Nirma menurutnya bukan hal yang beresiko terhadap keamanan Aurel untuk saat ini. Namun Pras cukup curiga dengan maksud Nirma tidak ingin menjelaskan lebih detail tentang program asuransi yang Aurel ikuti dan lagi seharusnya untuk hal penting seperti itu Nirma harus bicarakan di awal dengan Aurel.
Aurel tidak puas dengan penjelasan Nirma, ia pun membaca lembar demi lembar berkas-berkas itu yang membuat Nirma kesal karena tidak berhasil membuat Aurel diam-diam tanda tangan.
“Ahli waris?” tanya Aurel, “kalau hanya asuransi kecelakaan mengapa harus ada ahli waris.” Nirma terdiam dengan pertanyaan Aurel. Aurel mengernyitkan dahinya saat membaca berkas itu. “Ini asuransi jiwa? Lalu mencantumkan ahli waris dengan nama kamu?” tanya Aurel pada Nirma.
Nirma mengangguk, “Menurut kamu siapa lagi? Semua yang sudah lulus SMA sudah diminta bekerja agar dapat membantu keuangan panti. Kita tahu, bahwa kita tidak dikelilingi oleh saudara-saudara kita,” sahut Nirma.
Sebenarnya apa hubungan Nirma dan Reka.
Aurel pun bertanya-tanya mengapa Nirma bisa bertemu Reka. Ingatannya membuka tabir bahwa yang berusaha mencelakai mereka adalah Nirma dan Reka. Aurel yang masih bingung, kembali menatap Nirma dengan wajah datar.
Hufttt
Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Ending kisah ini harus berubah total, aku akan merubahnya. Aku akan menolak alur cerita ini agar akhir kisah ini bisa berubah.
Gambaran itu seakan memperlihatkan dengan jelas tampang rupawan dari seorang Reka dan wajah tak bersalah Nirma. “Bagaimana awalnya sampai kalian bertemu? Apa hubungan aku dengan Reka juga setingan kalian?” tanya Aurel dalam hati.
Aurel akhirnya akan menandatangi berkas tersebut jika nama ahli waris ia rubah menjadi nama Ibu yang memiliki peran penting dari semua anak yang tumbuh dan besar di Panti Asuhan tempat Aurel dan Nirma tumbuh. “Ahli waris sudah aku rubah, jangan dirubah kembali.” Hal itu dilakukan karena Aurel sudah mengetahui motif Nirma dan Reka.