
“Kenapa? Bukannya kamu sangat menyukaiku?” tanya Reka yang bingung dengan respon Aurel.
“Suka, tapi bukan berarti aku harus merendahkan diri dengan membiarkan kamu menyentuh tubuhku,” tutur Aurel masih dengan saling menatap. Tapi bukan tatapan penuh cinta melainkan tatapan muak.
“Sampaikan pada Nirma aku tetap pada pendirianku,” ujar Aurel tanpa menatap Reka. “Aku ingin istirahat, pastikan pintunya kamu tutup kembali.”
Reka meninggalkan kamar Aurel dengan perasaan kesal, kedua tangannya mengepal. Mungkin, jika Aurel adalah perempuan sudah diajak berkelahi. “Ternyata tidak mudah menaklukan gadis itu,” batin Reka.
“Bagaimana?” tanya Nirma menghampiri Reka yang baru saja melangkahkan kaki dari anak tangga terakhir. Reka menggelengkan kepalanya sambil berlalu melewati Nirma. “Maksudnya gimana? Kenapa kamu tidak menjawab aku?”
“Please, Nirma. Cukup Aurel yang membuat aku emosi. Dia sangat sulit untuk dibujuk.”
Nirma menarik lengan Reka untuk menghentikan langkahnya, “Banyak cara, kamu bisa rayu dia sedikit dengan cium pipi atau ...”
“Sudah,” sahut Reka. “Aku sudah mencoba dengan yang lebih dari itu. Dia menolaknya. Hal ini harus segera ada solusi, rencana kita bisa gagal kalau berkas itu belum berhasil Aurel tanda tangani. Aku pulang,” ucap Reka meninggalkan Nirma.
.
.
.
Aurel kembali menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan, perutnya terasa sangat lapar yang ternyata sudah waktunya makan siang. Melihat Nirma, Aurel memasang wajah biasa saja berbeda dengan Nirma yang seolah akan mengajak perang. “Aurel, kamu enggak perlu aku ancam untuk tanda tangan ‘kan?”
“Tergantung,” jawab Aurel lalu duduk di salah satu kursi. “Hari ini ART enggak ada ya? Kok enggak ada makan siang?” Asisten rumah tangga Aurel hanya datang pagi sampai siang. “Enggak ada, aku yang sementara mengoffkan dia bekerja.”
Dari pada berdebat, Aurel memilih menuju halaman samping rumah. Duduk di kursi ayun yang ada di sana. Ia kembali menemukan setangkai mawar di sana, diambilnya mawar tersebut sambil tersenyum. Semenjak ia pulang dari rumah sakit, Aurel beberapa kali menemukan setangkai mawar di sini. “Punya siapa dan untuk siapa ya?” tanya Aurel.
Nirma baru saja pergi entah kemana, Aurel menghela nafasnya mengetahui ia kembali ditinggalkan Nirma. Padahal jelas-jelas Nirma bekerja untuknya, seharusnya Nirma lebih perduli pada Aurel. Aurel yang sudah berada di dalam rumah, duduk pada sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian masuklah Pras membawa plastik berisi sterofoam box yang sudah pasti berisi makanan.
“Loh, Bang Pras ada di rumah?”
Pras berdecak lalu duduk di sofa berhadapan dengan Aurel. “Aku kan sudah bilang, tiap hari aku akan datang,” ucapnya sambil meletakan yang ia bawa dihadapan Aurel. “Eh, makanan aku sudah datang ya?” tanya sambil membuka kantong tersebut.
“Kamu pesan online? Memang yang biasa masak ke mana?” tanya Pras sambil menengok ke sekeliling. “Nirma bilang, ia offkan sementara. Tapi enggak mikirin aku makan apa,” jawab Aurel sambil menyuapkan makanan pesanannya.
“Kenapa enggak bilang, biar aku yang masak.”
“Bang Pras bisa masak?”
“Kalau untuk makan kamu aja sih bisa, tapi kalau harus sesuai dengan menu yang biasa dihidangkan oleh chef profesional yang enggak.” Aurel kembali menatap Pras, “Bang Pras tiap hari datang kenapa enggak masuk ke dalam, ‘kan aku jadi ada teman. Nirma pergi-pergi terus,” ujar Aurel.
“Saya di pos security,” ujar Pras sambil menatap Aurel. Aurel hanya mengangguk. “Kalian bertengkar lagi?” tanya Pras. Aurel menoleh, “Maksudnya aku?”
“Bukan bertengkar, tapi ... yah begitulah.”
Pras melihat gurat kecewa dan kesedihan pada wajah Aurel, “Apa dia sudah mengetahui bahwa Reka dan Nirma menghianatinya?” batin Pras.
“Bisa bawa aku ke danau kemarin, Bang?” tanya Aurel.
“Hmm, untuk saat ini belum bisa, mungkin nanti saat itu sembuh dan bisa berjalan normal lagi,” sahut Pras sambil menunjuk kaki Aurel yang masih cedera. “Besok jadwal pemeriksaan kamu, tapi Nirma belum ada hubungi saya.”
“Enggak usah nunggu Nirma, belum tentu dia ingat jadwal cek up aku. Yang jelas besok Bang Pras antarkan aku ke rumah sakit,” titih Aurel yang dijawab Pras dengan anggukan. “Hmm, di rumah ini ada CCTV enggak sih?”
Pras mengernyitkan dahinya, “CCTV?” Aurel mengangguk antusias. “Untuk di luar seperti area parkir dan gerbang memang ada, tapi di dalam rumah sepertinya tidak ada.”
“Apa yang perlu diawasi sampai kamu menanyakan CCTV?” Aurel tidak mungkin menjawab untuk mencari bukti kedekatan Reka dan Nirma dan kedua orang itu pasti mengetahui karena tidak ada CCTV maka mereka bebas berbuat tidak pantas di rumah ini.
“Hmm, enggak ada. Hanya bertanya saja,” jawab Aurel tidak jujur. Tanpa Aurel tahu bahwa Pras sudah mengetahui ada yang tidak beres dengan hubungan dirinya dengan Reka, juga ada hubungan lain antara Nirma dan Reka.
Aurel kembali mengingat setangkai mawar yang ia beberapa kali temukan di meja halaman samping. Ingin menanyakan pada Pras, tetapi urung dilakukan. Ia akan selidiki sendiri, karena sudah jelas bunga itu pasti untuk Aurel. Hanya perlu ada pembuktian siapa yang meletakan di sana dan tujuannya.
Aurel sempat berfikir pria dihadapannyalah orang yang memberikan bunga, tetapi tidak dapat memikirkan tujuan dilakukannya hal tersebut. Dia juga tidak ingin terlalu percaya diri jika Pras menyukainya.
Pras membereskan bekas makan Aurel dan menyodorkan botol air mineral kepada Aurel. “Mau berlatih nyanyi lagi?” tanya Pras. Aurel menggelengkan kepalanya setelah meneguk hampir separuh isi botolnya. “Aku lagi malas latihan,” jawab Aurel.
“Nirma juga belum menyampaikan jadwal yang ia batalkan sampai dengan kapan dan kegiatan terdekat yang perlu kita persiapkan.”
“Tapi, tadi dia pergi,” ujar Pras. “Iya, memang. Sibuk dengan urusannya yang tidak jelas. Seperti saat di rumah sakit, bilang sedang banyak yang diurus terkait pekerjaan aku malah datang dengan membawa berkas asuransi.”
Pras mengangguk mendengarkan keluhan Aurel.
“Pakai acara maksa pula,” keluh Aurel lagi.
“Entah nanti pulang, dia bawa kejutan apalagi.”
“Aku jadi kepikiran mengganti dia sebagai asisten aku, karena sekarang-sekarang ini Nirma benar-benar tidak membantu pekerjaan aku banget.”
“Kenapa kalian tidak duduk berdua, membicarakan hal ini. Mencari solusi terhadap masalah yang kalian hadapi,” usul Pras. “Iya juga ya,” jawabnya. Ucapan Pras benar, Aurel dan Nirma memang harus duduk bersama membicarakan masalah mereka. Apalagi mereka sebenarnya besar bersama dalam naungan lembaga dan didikan yang sama.
Karena Aurel pun harus mencari tau, motif Nirma dan Reka bekerja sama sampai berniat menyelakainya. Mengapa mereka bisa setega itu pada Aurel, mencoba memikirkan kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga membuat Nirma marah atau tersinggung.