
“Aku ajarkan bagaimana yang benar.” Tangan kanan Pras menyentuh tengkuk Aurel dan menekannya agar semakin dekat dengan wajah Pras lalu menyatukan bibirnya dan memagut bibir Aurel dengan lembut. Cukup lama mereka dalam posisi itu, sampai terdengar suara desahhan dari keduanya.
Akhirnya Pras melepaskan pagutannya, Aurel terlihat mengatur nafasnya yang tersengal. Pras melepaskan kuncian tangannya, “Bergeserlah, kelamaan aku bisa gila dan berbahaya untuk kamu.”
“Dasar mesum,” ejek Aurel sambil beranjak dari posisinya. Pras hanya tertawa, “Tapi suka ‘kan,” sahut Pras. Aurel duduk dipinggir ranjang, dengan wajah tersipu malu. Pras meraih selimutnya yang jatuh dan kembali merebahkan diri. Menutupi tubuhnya dengan selimut sampai pinggang.
"Bagaimana bisa sampai sini?" tanya Pras.
"Ada mobil dan GPS," jawab Aurel masih dengan posisinya membelakangi Pras yang berbaring miring menghadap Aurel. "Lalu, ke sini mau ngapain?"
Aurel menoleh, "Ya sudah, aku pulang." Aurel baru saja berdiri namun tangannya ditahan oleh Pras. "Aku hanya bercanda. Aku senang kamu ada di sini," tutur Pras. "Duduklah!"
Aurel kembali duduk membelakangi Pras, tanpa dia ketahui posisinya saat ini malah menggoda Pras. Menatap tubuhnya dari belakang dengan lekukan yang terpampang jelas serta tengkuk yang menggoda. Pras menarik pinggang Aurel, membuat gadis itu memekik, lalu merebahkan tubuh Aurel di sampingnya. “Disini bukan tempat kamu, seperti melangkah dari lantai marmer lalu turun ke comberan,” ujar Pras.
Aurel memukul lengan Pras, “Kalo ngomong suka sembarangan,” sahut Aurel. Pras menoleh, “Sembarangan bagaimana, jelas-jelas kenyataannya begitu.”
“Ah, malas bicara sama kamu, ngeselin.” Aurel bangun dari posisinya lalu berdiri di samping ranjang menatap Pras. “Kamu dipecat Nirma kenapa enggak bilang aku?” tanya Aurel sambil melipat kedua tangannya di dada.
Pras beringsut bersandar pada head board lalu meraih ponselnya di atas nakas. “Mau bilang bagaimana, aku turun dari kamar kamu, eh langsung dipecat.” Membuka ponselnya, membaca beberapa pesan masuk.
“Kamu bisa telpon aku, kirim pesan atau ...”
“Kamu lupa, apa yang kita alami kemarin?” tanya Pras sambil beranjak dan kini posisinya berhadapan dengan Aurel. “Kamu itu shock. Jangankan diajak bicara, nangis sesenggukan,” ujar Pras sambil menirukan gaya menangis dengan lucu. “Aduh, Aurel sakit, auw,” jerit Pras karena Aurel memukuli lengannya juga mencubit pinggang Pras. “Ampun, aku hanya bercanda.” Pras menahan tangan Aurel.
“Aku sengaja pergi, untuk membuat kondisi lebih tenang. Karena kamu pasti akan cari atau hubungi aku.”
“Anda percaya diri sekali,” sahut Aurel. “Kenyataannya begitu ‘kan.” Pras berjalan menuju kamar mandi.
Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka. Pras keluar hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya, Aurel yang melihatnya segera mengalihkan pandangan. Pras tersenyum melihat wajah merona Aurel.
Dadanya pelukable banget sih, beruntung banget Aurel dicintai sama Pras. Aku juga mau deh punya kekasih kayak Pras. Tampan, perhatian, setia, melindungi, ah lengkap banget sih, batin Mia.
Pras mengambil pakaiannya lalu kembali ke kamar mandi dan keluar sudah berpakaian lengkap. “Jadi, siapa bodyguard kamu yang baru?” tanya Pras mengalihkan atensi Aurel yang sedang memainkan ponselnya. “Bodyguard aku yang baru? Memang aku mengijinkan Nirma memecat kamu.”
“Hmm, tapi Nirma benar dia yang merekrut aku jadi dia yang berhak memecat,” ujar Pras. “Ya sudah, Nirma pecat Bang Pras tapi aku rekrut kembali Bang Pras, beres bukan.”
Pras hanya menganggukan kepalanya, “Tidak ada kata selain siap untuk Nona Aurelia,” ucap Pras lalu merangkul Aurel. “Mau kemana kita hari ini?” tanyanya sambil menoleh pada Aurel.
“Tunggu-tunggu, ini maksudnya kita mau keluar?”
“Bukannya kamu ke sini karena ingin ditemani ke suatu tempat, apa jadwal kamu hari ini?”
Pras terdiam, dia sudah meminta bantuan untuk menyelidiki siapa yang kemarin berusaha mencelakai Aurel termasuk dalang dibalik kejadian itu. “Lalu kamu mau di sini?” tanya Pras. Aurel menatap sekeliling, “Untuk saat ini berada dekat dengan bodyguard aku adalah yang paling aman. Lagi pula kontrakan ini untuk ukuran seorang pria single termasuk rapih,” ujar Aurel.
Pras terkekeh, “Dekat dengan aku kamu bilang aman?” Pras mendekat ke Aurel, “Kita hanya berdua di ruangan ini, katanya yang ketiga itu setan. Kamu enggak takut kalau nanti aku khilaf dan,”
Cup!
Aurel mencium bibir Pras dengan cepat. Pras berdecak, “Mulai berani ya. Bagaimana hubungan kamu dengan Reka?” tanya Pras menahan rasa ingin membalas tingkah Aurel barusan.
“Aku ingin segera mengakhiri, tapi belum bertemu lagi dengan Reka.” Ponsel Pras berdering, Aurel tidak terlalu menyimak apa yang dibicarakan Pras lewat telpon.
“Aurel,” panggil Pras setelah ia mengakhiri panggilan telpon.
“Hmm.”
Pras menepuk kursi disebelahnya, Aurel pun berpindah duduk disamping Pras. “Bagaimana jika kejadian kemarin, pelakunya orang yang kamu kenal?”
“Hah,” ujar Aurel terkejut, “Maksudnya direncanakan?” Pras mengangguk.
Aurel memegang dagunya seakan sedang berfikir. “Apa para penggemar aku, mereka dendam karena tidak bisa bertemu aku atau ... auww,” jerit Aurel sambil mengusap keningnya karena disentil oleh Pras. “Kamu terlalu banyak nonton Drama. Maksudnya, bisa saja dia orang terdekat kamu,” ungkap Pras.
Tentu saja aku tau, siapa lagi kalau bukan Nirma dan Reka, batin Mia.
“Tapi siapa ya?” tanya Aurel berpura-pura.
Pras diam, dia pun sudah mengetahui siapa pelakunya hanya sedang mencari bukti. “Besok kamu ada kegiatan?” tanya Pras. Aurel menggelengkan kepalanya, “Baiknya segera temui Reka dan akhiri hubungan kalian.”
Aurel tersenyum lalu menusuk-nusuk pipi Pras dengan jari telunjuknya, “Cemburu ya?” tanya Aurel sambil tertawa. Pras berdecak, “Bilang dong kalau cemburu. Tenang saja, aku akan segera akhiri.”
“Setelah itu?” tanya Pras. “Setelah itu?” tanya Aurel balik. Pras semakin mendekatkan wajahnya pada Aurel, hembusan nafasnya sangat terasa di pipi Aurel.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel Aurel, membuyarkan konsentrasi keduanya. Melihat layar yang terpampang jelas nama Reka. Aurel hanya diam, “Jawablah, loud speaker,” titah Pras. Aurel pun melakukan apa yang Pras minta.
Menjawab panggilan dari Reka, basa-basi Reka yang dijawab dengan biasa saja oleh Aurel. Namun, saat Reka mengajak Aurel bertemu malam ini, Aurel menoleh pada Pras. Pras mengangguk, Aurel pun menyanggupi permintaan Reka. Reka menyebutkan tempat pertemuan nanti malam.
“Aku harus bagaimana?” tanya Aurel.
“Ini kesempatan, kamu bukannya ingin bertemu dia,” jawab Pras sambil bersandar pada kursi yang ia duduki. “Tenang saja, aku akan temani.”
Tentu saja aku akan manfaatkan pertemuan ini untuk memutuskan hubungan Aurel dengan Reka. Walaupun Reka akan berpura-pura perduli dengan memberikan perhatian karena kejadian kemarin agar Aurel bersimpati lagi kepadanya, batin Mia merencanakan kembali mengubah sedikit demi sedikit kisah Aurel.