
“Sebaiknya kamu fokuskan saja pada pekerjaanmu, jangan terlalu kepo atau banyak tanya. Biasanya orang yang seperti itu akan mudah celaka.”
Nirma meninggalkan Pras yang masih menunggu Aurel selesai berfoto. Pria itu memandang gadis yang terus mengembangkan senyumnya. Meskipun saat ini sedang terluka karena dimanfaatkan oleh Reka dan Nirma.
"Sudah selesai?" tanya Pras saat Aurel menghampirinya. Aurel menganggyk, “Ayo, aku sudah lelah.”
Selama perjalanan pulang Aurel hanya diam memandang ke luar jendela, Pras sesekali melihat pada rear vision mirror mengawasi Aurel. Dia ikut geram dengan pengakuan Nirma, jika boleh ingin sekali Pras baku hantam dengan Reka.
“Hubungi Reka, minta dia ke sini besok pagi,” titah Aurel pada Nirma sebelum membuka pintu mobil. “Reka itu kekasih kamu, hubungi saja sendiri,” jawab Nirma sambil berjalan dibelakang Aurel. “Tapi urusan uang milikku yang kalian gelapkan tidak ada hubunganya dengan hubungan aku dengan Reka. Makanya aku minta kamu yang hubungi dia karena kalian yang terlibat.”
Aurel meninggalkan Nirma, menuju kamarnya di lantai dua. Pras yang membawakan peralatan milik Aurel dan mengantarkan ke kamar Aurel. Pras baru saja akan meletakan barang yang dibawanya, tetapi Aurel sudah memeluk tubuhnya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Pras. “Woww,” ucap Pras karena terkejut mendapatkan pelukan dari Aurel.
“Aku kesal, Bang. Mereka benar-benar ada sesuatu di belakangku,” ucap Aurel masih dalam posisinya. “Aku ingin balas memelukmu, tapi kedua tanganku ...”
Aurel melepaskan pelukannya, Pras menyimpan tas Aurel di atas meja rias sedangkan koper berisi perlengkapan Aurel ia letakan di walk in closet. Bugh, Aurel kembali memeluknya saat Pras baru saja keluar dari walk in closet. Pria itu terkekeh lalu mengusap pelan punggung Aurel.
“Masih kesal?” Aurel mengangguk. “Baru tau kalau mereka ada sesuatu?” tanya Pras lagi. “Bang Pras sudah tau?” tanya Aurel menatap Pras dan melepaskan tangannya dari tubuh Pras, Pras hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak mungkin menyampaikan bahwa ia mencurigai sesuatu antara Reka dan Nirma karena tuduhannya tidak berdasar selama ia tidak memiliki bukti.
“Istirahatlah, ini sudah malam,” ujar Pras. Aurel duduk di pinggir ranjangnya, “Aku mau ke danau, bagaimana suasana di sana kalau malam hari,” ucap Aurel antusias. “Tidak,” ujar Pras, “tidur.”
Aurel menghampiri Pras, “Please, kita ke danau,” rengeknya sambil mengguncang lengan Pras. “Lain kali,” sahut Pras lalu berjalan menuju pintu. Tanpa diduga Aurel mengejarnya dan kembali memeluk Pras. “Aku enggak akan lepas, sebelum dijawab iya.”
Pras berdecak, ia menunjuk kening dan mendorong kepala Aurel dengan telunjuknya. “Nanti, kalau cedera kamu sudah pulih sempurna. Atau, jangan-jangan kamu hanya alasan karena ingin memelukku semalaman,” tutur Pras sambil tertawa.
Aurel langsung melepaskan pelukannya, “Mesum,” sahut Aurel sambil menuju kamar mandi. “Karena kamu,” ucap Pras.
Tanpa Aurel ketahui, Pras menginap karena khawatir dengan kondisi Aurel dan juga ia ingin mengawasi Nirma. Dugaan Pras benar, tengah malam Reka datang dan Nirma menyambutnya. Artinya mereka memang sudah merencanakan pertemuan malam ini. Pras yang masih berada di pos, bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, Pras tidak berhasil mendengarkan pembicaraan kedua orang itu karena berada di dalam kamar Nirma.
Keesokan pagi, Aurel sudah terbangun. Namun, masih bermalasan dengan bantal dan selimutnya. Ponsel Aurel bergetar, ternyata pesan dari Pras.
Tidak usah terkejut, Reka sudah tiba sejak semalam.
Menghela nafas membaca pesan yang dikirim oleh Pras.
Bang Pras kok bisa tau, Reka datang.
Jawab Aurel.
Aku menginap.
Balas Pras lagi.
Kenapa tidak ke kamar ku,
Balas Aurel
“Ya,” ucapnya. “Jangan memancing,” sahut Pras di ujung telpon. “Siapa yang mancing?” terdengar decakan Pras. “Aku ke atas sekarang,” ucapnya lagi. “Eh, jangan-jangan. Aku ‘kan hanya bercanda.”
Kini Reka, Nirma dan Aurel sudah berada di ruang tamu. Pras duduk di salah satu kursi meja makan sambil memperhatikan ke arah ketiga orang itu berada. Aurel melipat kedua tanganya di dada dengan tatapan sinis ke arah Reka. “Jelaskan!”
“Aku harus menjelaskan apa, sayang,” rayu Reka.
Cuih, bilang aku sayang karena ada maunya, batin Mia.
“Tiqdak usah berlagak polos, aku tau Nirma sudah menjelaskan panjang dan lebar terkait hal ini.
Karena bukan hanya bicara yang kalian lakukan di kamar Nirma, berbagi kenikmatan juga, batinnya lagi.
“Ayolah Aurel, aku saat itu sedang sulit dan benar-benar terdesak. Kenapa tidak menyampaikan padamu karena aku berniat menggantinya dengan segera agar tidak ada masalah.”
Reka sampai duduk disamping Aurel bahkan merangkul bahu Aurel. Nirma dan Pras sama-sama tidak menyukai pemandangan tersebut. Nirma tidak suka karena Reka harus merayu Aurel. Sedangkan Pras tidak menyukai Reka menyentuh Aurel, gadis yang dicintainya.
Aurel bergese menjauh dari Reka, entah kenapa ia tidak suka dengan usaha Reka merayunya. “Hubungan kita masih oke, ‘kan?” tanya Reka.
Aurel menggelengkan kepalanya, “Kita tidak baik-baik saja. Tidak ada hubungan yang seperti ini. Mana ada kekasih yang tidak perduli saat pasangannya terluka dan malah memanfaatkan keadaan dengan mengambil yang bukan haknya.”
“Jadi, hanya sebatas ini ukuran cinta kamu?”
“Justru aku yang harus bicara begitu, hanya segini keseriusan kamu menyelesaikan masalah dengan mengatasnamakan hubungan kita. Aku berharap kalau aku salah menduga ada sesuatu dengan kalian berdua,” ucap Aurel pada Nirma dan Reka, sekedar memancing keadaan.
Reka terlihat menyembunyikan kepanikannya, “Maksud kamu apa?”
Diskusi tersebut tidak membuahkan hasil, bahkan selanjutnya Aurel dan Nirma saling berteriak dan memekik. Bahkan Pras sampai memeluk Aurel dariq belakang untuk menahan gadis itu akan menjambak rambut Nirma. “Aurel, sudah,” ucap Pras sambil menahan tubuh Aurel yang terus memberontak.
Reka pun kewalahan menahan Nirma. “Lihat saja, kamu bukannya perduli dengan aku malah dengan Nirma. Aku sudah menduga kalau diantara kalian ada sesuatu.”
“Lepas, lepas,” teriak Aurel saat Pras membawanya ke kamar.
“Harusnya biarkan aku menjambak rambut kedua orang itu,” ujar Aurel pada Pras.
“Siang nanti kita harus berangkat karena sore kamu ada penampilan. Jadi lebih baik manfaatkan untuk merefresh diri daripada bertengkar seperti tadi.”
Aurel yang duduk diranjang dengan wajah cemberut. Aurel membuka ponselnya mengecek jadwal yang disampaikan Pras. Namun, ia tercengang melihat tanggal hari ini dan lokasi tempatnya bernyanyi.
Ini ‘kan waktu saat Aurel kecelakaan.
Mia mengingat lembaran-lembaran yang pernah ia baca, bab yang menceritakan kecelakaan Aurel.
Saat kejadian itu, Aurel selamat karena memang ada yang menyelamatkannya. Tapi tidak jelas siapa yang menolongnya dan kali ini apakah Aurel akan selamat karena aku sedikit demi sedikit telah merubah alur cerita ini.