
“Kenapa kalian tidak duduk berdua, membicarakan hal ini. Mencari solusi terhadap masalah yang kalian hadapi,” usul Pras. “Iya juga ya,” jawabnya. Ucapan Pras benar, Aurel dan Nirma memang harus duduk bersama membicarakan masalah mereka. Apalagi mereka sebenarnya besar bersama dalam naungan lembaga dan didikan yang sama.
Karena Aurel pun harus mencari tau, motif Nirma dan Reka bekerja sama sampai berniat menyelakainya. Mengapa mereka bisa setega itu pada Aurel, mencoba memikirkan kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga membuat Nirma marah atau tersinggung.
Saran dari Pras terus menjadi bahan pikiran Aurel, ia berniat melakukan hal yang disampaikan Pras. Malam harinya, Nirma masuk ke dalam kamar Aurel, wanita itu pergi sejak siang dan baru kembali. “Aurel, untuk memudahkan pengurusan keuangan. Kamu sebaiknya ganti pin atau beritahu pin semua rekening dan verifikasi sms untuk transaksi dengan nomor telpon aku. Kadang susah jika ada transaksi harus menunggu kamu yang verifikasi.”
Aurel menatap Nirma.
Apa maksudnya mengganti verifikasi dengan nomor telponnya? Ini sama saja setiap transaksi bisa ia lakukan tanpa sepengetahuan aku.
“Kenapa begitu?” tanya Aurel. “Agar mudah kalau aku harus mengeluarkan dana untuk semua kebutuhan. Operasional rumah, gaji seluruh karyawan dan pengeluaran yang berhubungan dengan penampilan kamu.”
“Selama ini oke aja dengan sistem yang ada. Kalau kamu bilang susah, susahnya dimana? Kalau hanya bertanya verifikasi atau approve, kita kemana-mana bersama. Kalau kamu mau periksa pencairan atau pembayaran penampilan aku bisa lihat di rekening koran. Jadi masalahnya di mana?”
Nirma menghela nafas, mendengar pertanyaaan beruntun dari Aurel. “Nah, justru itu agar aku leluasa mengelola jadi berikan aku kemudahan.”
Aurel heran dengan ide Nirma yang berubah aneh begini, memaksanya menanda tangani berkas asuransi juga mengajukan kekuasaan penuh mengelola keuangan. Jelas-jelas Aurel mengajaknya bekerja sebagai asisten yang mengurus kebutuhan pekerjaannya, kalau untuk masalah keuangan yang tadi Nirma sampaikan bukan ranah Nirma.
Apa ini alasan mereka melukaiku, masalah harta?
“Untuk sementara aku tidak perlu lakukan hal yang kamu ajukan tadi, kita masih aman dan bisa berjalan dengan sistem sebelumnya,” ujar Aurel sambil meletakan ponselnya di atas nakas. “Apa kamu tidak percaya aku, Aurel?” tanya Nirma.
Aurel kembali menoleh pada Nirma. “Ini bukan persoalan percaya atau tidak, tapi memang sejak awal aku minta kamu bekerja untuk jadi asisten aku yang mengurus semua kebutuhan jadwal sampai penampilan aku bukan mengelola keuangan.”
Mereka masih kembali berdebat, sampai Aurel jengah dan meminta Nirma keluar karena dia perlu istirahat. Nirma semakin kesal dengan Aurel karena semakin sulit dia taklukan, “Makin membangkang,” ujar Nirma. “Ah, menyebalkan. Kalau begini kapan aku bisa bahagia hanya dengan Reka.”
.
.
Esok pagi, Aurel yang berencana mencari tau siapa yang meletakan buanga mawar untuknya. Dia sudah mengawasi halaman samping dari dalam rumah, untuk membuktikan siapa yang sudah meletakan bunga mawar yang biasa ia temukan. Tidak lama kemudian terdengar deru mesin motor Pras. Aurel terkejut melihat Pras duduk di area yang diawasi oleh Aurel, menghisap rokok yang terselip di salah satu jarinya. Setelah habis satu batang, Pras berdiri dan mengeluarkan bunga dari dalam plastik yang ia bawa dan diletakan di atas meja.
“Ternyata Bang Pras? Lalu apa motifnya? Apa jangan-jangan Bang Pras suka sama aku?” tanya Aurel entah pada siapa, karena ia sedang sendiri saat ini. Aurel tersenyum mengingat ternyata Pras yang selalu memberikannya bunga tanpa mengatakan darinya.
Aurel menghampiri Nirma ke kamarnya. "Aku ada jadwal ke rumah sakit, kamu ..."
"Tidak, kamu bareng Pras aja," sahut Nirma menyela ucapan Aurel padahal belum selesai bicara. Aurel pun kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Kini Pras sedang fokus pada jalan dsn kemudinya, Aurel duduk di samping Pras bukan dibelakang layaknya seorang majikan. "Bang Pras, agar mawar enggak mudah layu, gimana ya Bang?" tanya Aurel memancing kejujuran Pras. Pras menoleh pada Aurel lalu kembali fokus pada kemudinya.
Tidak lama kemudian, Pras menepikan mobil yang ia kendarai. Aurel menatap sekitar, sepi. Bukan jalanan yang ada rumah dan toko yang biasa kita temukan sepanjang jalan. "Mawar?" Tanya Pras sambil melepas seat beltnya dan menatap Aurel. Aurel mengangguk dan bertanya-tanya mengapa Pras sampai menepikan mobil untuk masalah ini.
"Mawar yang tiap pagi Bang Pras letakan di vas dekat ayunan."
"Jadi kamu tau, mawar itu dari aku?" tanya Pras lagi sambil mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aurel. "Tau", jawab Aurel pelan karena agak takut dengan sikap Pras saat ini.
"Apa maksud Bang Pras memberikan aku bunga tanpa idenntitas?" tanya Aurel. "Karena aku suka dengan gadis itu, gadis yang setiap hari aku lindungi," jawab Pras. Kini wajah mereka saling menatap, seulas senyum terbit di wajah Aurel.
Pras mengernyitkan dahinya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Aurel dan menempelkan bibirnya pada bibir Aurel. Aurel membelakan kedua matanya, Ciuman pertamanya yang sudah diambil oleh Pras. Aurel mendorong tubuh Pras.
"Kenapa? Kamu tidak menyukaiku? Ahhhh, aku lupa kalau kamu kekasih Reka."
"Bukan begitu, aku harus selesaikan dulu urusan dengan Reka. Aku tidak ingin nanti disebut selingkuh, walaupun aku tidak mencintai Reka."
Pras menyentuh pipi Aurel, "Jadi, kamu sebenarnya ..." Ucapan Pras terhenti saat Aurel malah tersenyum dan mengigit bibirnya. "Jangan lakukan itu di depan pria lain," ucap Pras lalu tersenyum dan mengacak pelan puncak kepala rambut Aurel.
"Ishh Bang Pras, kan jadi berantakan lagi rambut aku."
Aurel mengenakan kursi roda yang didorong oleh Pras menuju ruang dokter, sampai di dalam ruangan ia membuka masker yang sejak turun dari mobil ia kenakan agar tidak membuat kehebohan di rumah sakit karena kedatangannya.
Perban elastis untuk menyangga cedera kakinya sudah dilepas dan nasihat dokter agar tetap tidak mengerjakan aktifitas berlebihan pada kakinya. Aurel pun kembali ke mobil dengan berjalan. “Wow, sudah enakan, tidak terpincang-pincang lagi,” ujar Aurel pada Pras meragakan melangkah dengan kedua kakinya juga memutar tubuhnya. Bahkan Aurel sempat berlari, membuat Pras memekik, “Aurel,” panggilnya.
Sedangkan Aurel malah tertawa, “Sudah tidak sakit, Bang.” Pras menghela nafasnya, “Sudah tidak sakit tapi bukan berarti bisa seenaknya. Ingat tadi kata Dokter, jangan dulu ada aktifitas berat. Kamu malah berlari.”
Aurel hanya tertawa, Pras merangkul bahu Aurel agar gadis itu berjalan dengan diam tanpa pergerakan ekstrim. “Setelah ini mau kemana?” tanya Aurel tanpa menoleh pada Pras.
“Pulang, ke rumah.”
“Ahhh, kita ke danau. Please, Bang,” rengek Aurel menggoyangkan lengan pria itu. “Aku enggak akan lari-lari seperti tadi deh,” ujarnya.
“Boleh,” jawab Pras. “Tapi harus janji satu hal untuk aku,” pinta Pras pada Aurel.