My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Saudara Kembar



Mia masih duduk bersandar pada headboard ranjangnya, dengan tatapan kosong. Novel kisah Aurel masih berada di pangkuannya. Mengetahui alur kisah Aurel yang ternyata mengalami perubahan yang berakhir bahagia karena pernikahannya dengan Pras sang bodyguard. 


Namun, ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa diungkapkan oleh Mia saat ini. Seharusnya dia bersyukur karena bisa kembali ke dunia nyata dan tubuhnya, tapi serasa ada yang kurang. Karena rasa yang tertinggal, rasa cintanya untuk sosok seorang Pras. 


Terdengar pintu kamar diketuk, "Masuk," ujar Mia masih dengan posisi ternyamannya. 


"Mia," panggil Alea yang sudah berdiri di samping ranjangnya. 


"Hm," jawab Mia tanpa menoleh sedikit pun. "A-aku minta maaf, seharusnya kita tidak bertengkar dan ...." 


"Cukup." Alea menghentikan kalimat yang sudah dirangkai agar dapat dengan mudah disampaikan pada Mia, tapi Mia malah menghentikannya. 


"Aku sedang tidak ingin membahas hal itu, bisakah kamu keluar! Aku ingin istirahat," pinta Mia pada Alea tanpa menatap gadis yang masih berdiri di sampingnya. Alea pun akhirnya meninggalkan kamar Mia. 


...***...


Semenjak keluar dari Rumah sakit, Mia lebih baik berdiam diri di kamarnya. Benar-benar menikmati istirahatnya dengan merenung dan mencoba menerima kenyataan bahwa yang kemarin dia rasakan mungkin hanya mimpi dan ilusi. Jadi, tidak mungkin mengabaikan kenyataan hidupnya saat ini karena alur cerita novel yang mana dia pernah alami termasuk jatuh cinta pada tokoh novel tersebut. 


"Semangat Mia, cobalah melupakan Pras. Dia hanya tokoh dalam novel dan inilah dunia nyatamu," ucap Mia bermonolog menyemangati dirinya. 


"Mia." 


Mia menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara Ela Ibu tirinya. Mia pun melangkah keluar dari kamarnya, menghampiri Ela. 


"Hari ini jadwal kamu kontrol, Ibu tidak bisa mengantar. Jadi, berangkatlah sendiri. Jangan sampai ayahmu mengira aku tidak peduli dengan kesehatan kamu."


Mia menghela nafasnya, Memang kamu nggak peduli dengan aku, batin Mia.


"Aku serius," ucap Ela. 


"Iya, Bu."


Mia sudah menunggu di depan poli syaraf bersama pasien lainnya. Sepertinya belum dimulai jadwal praktek dokter karena belum ada pergerakan di poli tersebut. Mia bersandar di kursi tunggu yang terasa tidak nyaman karena berbahan stainless sambil memainkan ponselnya.


Tidak lama kemudian dokter Ari memasuki poli dan suster mulai memanggil pasien sesuai dengan urut pendaftaran. Menunggu giliran nomor urutnya, membuat Mia jenuh sampai akhirnya terdengar namanya dipanggil.


“Selamat siang, Nona Mia. Bagaimana kabarnya? Ada keluhankah?” tanya dokter Ari sambil fokus pada layar monitor membaca rekam medik milik Mia.


“Baik Dok, keluhan saya cuma satu kok,” jawab Mia dan ternyata sukses membuat dokter Ari menoleh dan kini menatap Mia.


“Oke, keluhan apakah itu?”


Mia menatap lekat wajah pria dihadapannya, dalam hati dia mengumpat karena pria ini sama persis bahkan sangat mirip dengan Pras tokoh dalam novel. “Halo,” ucap dokter Ari sambil melambaikan tangan dihadapan Mia, membuat gadis itu mengerjap pelan tersadar dari lamunannya.


“Apa dokter percaya jika manusia bisa berpindah lokasi ke dimensi lain. Misal berada di mimpi orang lain, novel, film atau ....” Mia menghentikan pertanyaannya, “Nggak jadi dok,” ujar Mia membuat Ari heran.


“Kenapa tidak jadi? Saya masih menunggu, ayo ceritakannya,” pinta Ari sambil melipat kedua tangan di dada. Mia menghela nafasnya, dia tahu jika dokter Ari sepertinya menduga jika Mia mengalami gangguan atau halusinasi.


“Nggak jadi dok, nanti saya pikir belum sembuh dan harus mengikuti berbagai prosedur untuk membuktikan kesehatan saya,” sahut Mia.


“Jadi, keluhan kamu adalah ....”


“Keluhan saya hanya karena penasaran saja ingin bertanya,” sahut Mia.


“Bertanya apa?” tanya Ari pada Mia.”Apa dokter punya saudara kembar?” tanya Mia.


 


\=\=\=\=\=\= to be continue