My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Tutup Kembali



Pagi ini, meskipun perasaannya masih tidak karuan karena menyaksikan hal yang membuatnya semakin kecewa dengan Nirma dan Reka, Aurel memutuskan tetap turun dan bersikap biasa seolah ia tidak mengetahui apapun.  Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, perlahan ia menuruni anak tangga.


Terdengar suara Reka dan Nirma yang berbicara dengan sapaan dan panggilan sayang.  Aurel sudah tidak perduli dengan hal itu, saat tiba di meja makan ia tidak menatap kedua orang itu. "Selamat Pagi," ucapnya sambil meraih botol air mineral dan meneguk isinya.


Reka dan Nirma saling menatap, mereka pikir Aurel akan banyak tanya. Mengapa ada Reka? Kapan datang?  dan rengekan manja lainnya. Namun, kali ini mereka salah, karena Aurel sedang fokus menatap apa yang terhidang di meja maka. Memilih mengambil roti bakar, "Aurel, aku hari ini free. Sengaja aku datang pagi-pagi, selain ingin tau kondisi kamu, aku akan temani kamu seharian," ujar Reka.


Aurel mengangguk tanpa menoleh ke arah Reka.


Datang pagi-pagi? Semalaman kamu mendessah di kamar Nirma, dasar pengkhianat.


Ingin sekali Aurel menyiram wajah kedua orang di hadapannya ini. Aurel mengigit roti tanpa dioles selai. Reka merasa Aurel bersikap dingin karena marah selama ini dia abaikan, "Kamu mau selai apa?" tanya Reka pada Aurel, berusaha bersikap romantis dan perduli.


"Selai kesukaanku dong, masa kamu enggak tau," sahut Aurel sambil menuang susu kotak ke gelasnya. Reka bingung, dia tidak mengetahui selai apa yang Aurel suka.


Nirma menunjuk selai kacang dengan sudut matanya. Reka pun tersenyum lalu meraih botol selai kacang, mengoles sehelas roti dan meletakan di piring Aurel.  "Makanlah," ujar Reka. Aurel menatap piringnya, ia pun menghela nafasnya. "Aku tidak suka selai kacang," ujar Aurel lalu mengambil roti yang baru dan mengoles dengan selai nanas.


Reka menoleh pada Nirma, "Sejak kapan kamu tidak suka selai kacang?" tanya Nirma.


Sejak, aku masuk ke tubuh ini.


Aurel mengedikkan bahunya.


"Kamu mau teh susu atau coklat panas?" Reka kembali menawarkan pada Aurel. Aurel menggelengkan kepalanya, karena mulutnya sedang sibuk mengunyah. Sikap Aurel membuat suasana tampak canggung, "Setelah ini kamu mau kemana? Yang jelas hari ini khusus untuk kamu," ungkap Reka.


"Seharian?" tanya Aurel.


"Yups," jawab Reka.


"Kemana pun?" tanyanya lagi.


"Yes."


"Hanya kita berdua?"


"Absolutely yes."


Wajah Reka terlihat sangat senang karena berhasil merayu Aurel dan akan melancarkan aksi berikutnya.


Aurel mengingat, bahwa alur berikutnya Aurel dan Reka menghabiskan waktu bersama selama seharian dan akhirnya luluh dengan menandatangani semua berkas yang diajukan Nirma. "Hmm, sayangnya aku tidak bisa. Mungkin kamu lupa, kalau kakiku sedang cedera. Jika tidak, mungkin aku sudah melesat entah ke mana," tutur Aurel mulai merubah alur kisah hidupnya.


Nirma dan Reka menatap Aurel, tidak menyangka dengan jawaban gadis itu. Padahal saat Aurel di rumah sakit, ia terus menghubungi Reka agar menemuinya dan melihat kondisinya. Siapa sangka, saat ini sikapnya berubah tidak perduli. Reka masih beranggapan bahwa Aurel sedang marah, ia kembali melancarkan aksi rayuannya yang malah membuat Nirma kesal karena cemburu.


“Aurel, insiden kecelakaan kamu ini sebagai pelajaran bagi kita. Kalau segala sesuatu mungkin saja terjadi, bagaimana jika kejadiannya lebih parah dari ini. Keputusan aku mendaftarkan asuransi kamu itu adalah pilihan tepat. Jadi segera tanda tangani agar aku bisa segara proses,” jelas Nirma. Aurel mendengarkan sambil sesekali mengangguk.


“Ya, aku pikir juga begitu.”


Reka dan Nirma saling tatap mendengar jawaban Aurel, hampir luluh pikir mereka. “Aku enggak bisa membayangkan jika kemarin cedera kaki aku lebih parah dari ini dan tidak bisa aktifitas. Siapa yang mau membiayai hidup aku, eh hidup kita maksudku,” sindir Aurel pada Nirma, membuat wanita yang merasa tersindir itu menghela nafas kasar.


Nirma tidak menyangka akan semudah ini, bahkan ia belum mengeluarkan kalimat bujukannya. “Sudah aku siapkan,” ujarnya menunjuk map yang ada di meja sofa. Aurel berdiri dan menghampiri meja tersebut, membuka map dan mengernyitkan dahinya saat lembar demi lembar ia baca.


“Kok masih nama kamu sebagai ahli waris, aku sudah bilang tulis nama Ibu panti sebagai ahli waris,” ujar Aurel lalu meletakan kembali mapnya. “Aurel, kamu kenal aku sudah lama, masalah ini kamu tidak percaya denganku?”


“Cepat ganti, baru aku tanda tangani,” sahut Aurel sambil melipat kedua tangannya di dada. Nirma kembali menghela nafasnya, “Atau Reka saja sebagai ahli warisnya, masa kamu tidak percaya Reka,” ucap Nirma.


“Wah, iya ya, kenapa enggak nama kamu aja,” ujar Aurel menatap Reka yang berjalan menuju sofa tempat Aurel dan Nirma berada. “Tapi, kamu belum ada hubungan kekeluargaan dengan aku, atau kita menikah saja,” ujar Aurel dengan tatap mata berbinar menggoda Nirma dan Reka.


Menikah dengan Reka, lebih baik aku jomblo dari pada harus dengan kamu si playboy modal dengkul.


Tatap mata Nirma menyiratkan tidak suka dengan yang Aurel utarakan, sedangkan Reka bingung jawaban apa yang harus dikatakan. “Bukannya aku tidak mau menikah, tapi aku belum siap,” jawabnya.


Memang aku perduli, kamu siap pun aku tidak mau.


Aurel berdiri sambil berkata, “Yang jelas, aku akan tanda tangan kalau sudah sesuai dengan apa yang aku mau. Aku ke kamar dulu, kaki ‘ku belum boleh banyak aktifitas, jadi lebih baik aku istirahat saja.”


“Bagaimana ini?” tanya Nirma pada Reka setelah ia memastikan Aurel benar-benar naik ke lantai dua. “Aku akan bujuk kembali, biarkan aku ke kamarnya,” jawab Reka. Nirma menatap sinis pada Reka, “Kamu tidak akan mengambil kesempatan bukan? Jangan-jangan bukan membujuk Aurel tapi ...”


“Nirma, apa kamu mencurigaiku. Kalau memang aku niat macam-macam dengan Aurel mungkin sudah sejak awal aku lakukan. Karena lebih mudah mendekati Aurel di banding kamu,” tutur Reka. “Kita sudah sejauh ini, jadi jangan ragukan aku.”


Reka menaiki anak tangga menuju kamar Aurel. Setelah mengetuk pintu kamar Aurel, ia pun membukanya tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar. Aurel yang sedang bersandar pada head board ranjangnya dengan tangan memegang ponsel pun menoleh, “Aku belum ijinkan kamu masuk, bagaimana kalau ternyata aku sedang tidak berpakaian.”


“Berarti keberuntunganku bisa melihat tubuh kamu yang ...”


Bughh, Aurel melempar bantal pada wajah Reka. Pria itu hanya terkekeh, lalu duduk di pinggir ranjang menatap Aurel. “Aurel, aku pikir lebih baik kamu mempermudah pekerjaan Nirma. Dia kan asisten kamu.”


“Juga kekasihmu,” batin Aurel.


“Kamu cukup fokus pada kesehatan lalu berikan penampilan terbaik di setiap jadwal kamu. Biar segala sesuatunya Nirma yang urus. Kenapa aku mengatakan ini karena aku perduli, kamu kekasihku jadi wajar jika aku khawatir dengan hubungan kalian yang mulai tidak akur.”


Kenapa aku muak mendengar rayuan Reka.


“Hmm.”


Aurel kembali fokus pada ponselnya, Reka merubah posisinya mendekat pada Aurel. Wajahnya semakin dekat bahkan Aurel merasakan hembusan nafas pria itu.


Ehhh, ini Reka mau apa sih.


Aurel meletakan kedua tangannya di dada Reka seraya menahan tubuh itu agar tidak semakin dekat. “Aku tau maksud dari posisi ini. Kita belum sedekat ini harus sampai melakukan hal itu.” Reka pun memundurkan tubuhnya. “Kenapa? Bukannya kamu sangat menyukaiku?”


“Suka, tapi bukan berarti aku harus merendahkan diri dengan membiarkan kamu menyentuh tubuhku,” tutur Aurel masih dengan saling menatap. Tapi bukan tatapan penuh cinta melainkan tatapan muak.


“Sampaikan pada Nirma aku tetap pada pendirianku,” ujar Aurel tanpa menatap Reka. “Aku ingin istirahat, pastikan pintunya kamu tutup kembali.”