My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Alasan Ketiga



“Setelah ini mau kemana?” tanya Aurel tanpa menoleh pada Pras.


“Pulang, ke rumah.”


“Ahhh, kita ke danau. Please, Bang,” rengek Aurel menggoyangkan lengan pria itu. “Aku enggak akan lari-lari seperti tadi deh,” ujarnya.


“Boleh,” jawab Pras. “Tapi harus janji satu hal untuk aku,” pinta Pras pada Aurel. “Apa?” tanya Aurel dengan wajah bingung berdiri menghadap Pras yang menatap ke arahnya. Saat mereka sudah berada di parkiran, tepatnya di samping mobil Aurel.


“Segera selesaikan urusanmu dengan Reka,” titah Pras.


Aurel mengangguk, “Hmm, kenapa?” tanya Aurel lagi, “kenapa aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Reka?”


Pras menghela nafasnya, lalu ingin mengatakan, Karena aku merasa dia punya niat buruk. Namun, kalimat itu tidak diucapkan karena Pras tidak memiliki bukti terhadap hal tersebut. “Yang pertama, karena aku lihat kalian tidak cocok, pasangan kekasih tetapi malah Nirma yang lebih dekat dengan Reka dibandingkan kamu dan Reka. Yang kedua, kamu mengatakan tidak mencintai Reka, dan yang ketiga...” Pras menunduk untuk menatap lekat wajah Aurel karena tubuhnya yang lebih tinggi dari Aurel.


“Yang ketiga ...” ucap Aurel agar Pras kembali melanjutkan kalimatnya.


Pras menekan sensor kunci mobil dan menekan handle pintu mobil di belakang tubuh Aurel, “Masuk,” ucapnya pada Aurel. Wajah Aurel terlihat kesal karena Pras tidak melanjutkan kalimatnya.


Bughh, Pras meringis dan mengusap lengannya yang dipukul Aurel. “Enggak lucu tau, aku kan menunggu kelanjutannya.”


“Nanti,” ucap Pras. Banyak yang memperhatikan kita, kamu tidak pakai masker. Aurel menyentuh wajahnya, “Oh My God,” lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Aurel tidak ingin membuat gaduh di Rumah Sakit karena banyak yang mengenalinya lalu ramai yang mengajak berfoto.


“Kita, jadi ke danau ‘kan?” tanya Aurel.


Pras menggelengkan kepalanya, “Nirma sudah mengirimkan pesan. Kamu harus segera pulang karena akan membicarakan jadwal kamu ke depan. Selamat menikmati kembali kesibukan kamu,” ejek Pras sambil tertawa.


“Ishh, harusnya tadi aku bilang sama dokter kalau kaki aku masih sakit. Pasti rekomendasi untuk istirahat lagi,” sahut Aurel.


.


.


.


Selama dalam perjalanan Mia mengingat apa yang akan Aurel alami ke depan. Mobil, kecelakaan. Aurel hampir tertabrak mobil tapi  diselamatkan ... batin Mia.


Aku harus lebih hati-hati, agar Aurel tetap selamat. Semaksimal mungkin kisah ini akan berubah, aku tidak mau harus mengikuti alur yang Nirma buat, batin Mia lagi.


Aurel tersadar karena Pras mengusap kepalanya, “Sudah sampai, kamu melamun?” tanya Pras. Aurel melihat sekeliling, ternyata benar ia sudah berada di parkiran rumahnya. “Iya,” jawab Aurel sambil melepaskan seat beltnya. “Mikirin apa sih?”


Aurel menoleh pada Pras, “Kepikiran kelanjutan pernyataan Bang Pras tadi,” jawab Aurel. Aurel sudah berada di depan rumah, saat akan mendorong pintu ia kembali menoleh pada Pras yang sedang bersandar pada mobil dengan tangan di lipat di dada. Pras melambaikan tangan seakan menyuruh Aurel untuk masuk.


Nirna dan Aurel saat ini sudah duduk berhadapan dengan memegang gadget masing-masing-masing. "Itu jadwal yang sudah update kegiatan kamu ke depan," ujar Nirma. Aurel memandang tablet di tangannya, mencoba memahami file berisi schedulenya. 


Ini maksudnya bagaimana, aku tidak paham dengan schedule Aurel, batin Mia sambil menggaruk tengkuknya. Kalau aku tanya Nirma pun, gengsilah, batin Mia lagi. 


"Mulai besok kamu akan kembali sibuk," ujar Nirma. 


"Hmm." 


Nirma meletakan gadgetnya dan menatap Aurel yang masih fokus pada tablet mencoba memahami schedulenya. “Aurel, kamu yakin tidak akan melakukan usulan dari aku?” Aurel menoleh, “Usulan yang mana?” tanyanya.


sepertinya akan membahas masalah asuransi lagi.


Bukan masalah ribet, tapi kamu dan Reka akan diuntungkan kalau aku menandatangani berkas asuransi itu.


“Aku akan tanda tangan dengan ahli waris yang aku usulkan.”


“Kenapa harus Ibu Panti? Apa kamu tidak percaya padaku?”


“Kenapa sulit untuk kamu mengerjakan apa yang aku sampaikan? Apa kamu punya maksud lain, karena aku lihat kamu teguh sekali ingin menjadi ahli waris dari asuransiku.”


Dasar gila, kenapa sekarang anak ini sulit sekali diatur. Padahal yang cedera adalah kakinya buka otaknya, batin Nirma.


“Terserah, aku akan pergi. Ada hal yang harus aku urus, kamu sebaiknya segera istirahat.” Nirma berjalan meninggalkan rumah dan pergi menggunakan mobil yang juga milik Aurel.


“Lain kali, aku akan ikuti kemana pun kamu pergi.”


Pras tiba di rumahnya menjelang malam, meskipun Aurel belum ada jadwal padat, dia tetap pulang sore bahkan malam hari. Merebahkan diri pada ranjangnya masih dengan pakaian yang ia kenakan sejak pagi. Melipat kedua tangan di belakang kepala sambil memandang langit-langit kamarnya.


“Aurel,” ucapnya sambil menghela nafas. “Kenapa aku minta kamu segera mengakhiri urusan dengan Reka, karena aku menyukaimu Aurelia,” ujar Pras. “Kalaupun aku tidak bisa memilikimu, paling tidak aku bisa melindungimu.”


...~ *** ~...


Pras duduk pada salah satu kursi yang menghadap stage sederhana pada sebuah sanggar. Memperhatikan Aurel yang sedang latihan dengan para dancer. Hari ini Aurel sudah mulai disibukkan dengan segala macam kegiatan.


Sanggar tari yang sudah ditentukan oleh panitia acara dimana ia akan tampil. Mengenakan leging selutut dengan kaus longgar dan sepatu sket untuk memudahkan ia bergerak. Dengan rambut dicepol agar tidak mengganggu gerakannya. Terlihat keringat di dahi dan lehernya.


Sedangkan Mia dalam tubuh Aurel berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menari bersama pada dancer yang akan mengiringinya saat bernyanyi. “Oke, kita break dulu. Ganti team lain,” ujar koreografer.


Aurel turun dari stage menghampiri Nirma dan Pras, menerima botol air yang disodorkan oleh Pras yang sedang menatapnya. Setelah meneguk hampir separuh dari isi botol itu, Aurel duduk dikursi panjang dengan menjulurkan kakinya. Pras membuka sepatu Aurel dan melihat cedera gadis itu. Sedangkan Aurel memilih memainkan ponselnya, lebih tepatnya ia melihat tampilan-tampilan dance pada aplikasi video yang ada di ponselnya.


Nirma menekan area cedera Aurel, “Sakit?” tanyanya. Aurel hanya menggelengkan kepala. “Berarti kamu sudah bisa aktifitas normal ya,” sahut Nirma. Pras melihat garis bekas luka yang belum mengering, dengan bekas jahitan karena luka sobek yang cukup dalam.


“Kamu yakin tadi tidak merasakan sakit?” tanya Pras. Aurel kemudian menoleh pada Pras sedangkan Nirma sudah kembali duduk dan asyik dengan ponsel sambil tersenyum. “Tidak,” jawab Aurel lalu menoleh pada Nirma.


Pasti sedang berbalas pesan dengan Reka. Hmm, kita lihat saja apa rencana kalian berikutnya.


“Tapi ini ...”


“Sttt, Bang Pras udah deh, kaki aku tidak sakit. Kalaupun sakit aku tidak akan memaksa.” Pras mengangguk, “Makan siang kamu sudah datang, mau makan sekarang?” tanya Pras lagi. Aurel menghela nafasnya, menyikapi perhatian Pras. Sedangkan Reka yang statusnya adalah kekasih Aurel tidak pernah perduli, yang ada hanya pura-pura. Nirma? Sebelas dua belas dengan Reka, semakin tidak perduli dengan Aurel. Padahal jelas-jelas Nirma adalah asisten Aurel.


“Mau, tapi nanti aja deh.”


Pras duduk disebelah Aurel, “Kalau kamu mau makan, aku akan sampaikan alasan ketiga kenapa kamu harus segera menyelesaikan urusan kamu dengan Reka,” bisik Pras. Bahkan hembusan nafas pria tersebut terasa hangat di leher Aurel.”Tolong kemarikan makanan aku,” sahut Aurel yang disambut Pras dengan terkekeh geli karena sikap Aurel.