
“You and I, will never say goodbye,” ucap Aurel lalu mengecup singkat bibir Pras. Kemudian mereka tertawa.
Tok Tok tok
Atensi keduanya berpindah pada jendela mobil di samping Aurel.
"Kamu dari mana sih?" tanya Nirma saat Aurel keluar dari mobilnya.
"Healing," jawab Aurel sambil berlalu meninggalkan Nirma. Nirma menatap kesal pada Aurel yang terlihat sudah menjauh. Menoleh ke arah pria yang baru saja turun dari mobil. “Pras? Sedang apa kamu, kamu sudah aku pecat.”
“Aku sudah kembali bekerja, direkrut langsung oleh atasanmu,” jawab Pras sambil berjalan melewati Nirma yang masih terpaku dengan pernyataan Pras.
Hari-hari berlalu, Aurel semakin dekat dengan Pras. Nirma semakin merasa tidak suka dengan Pras karena rencana yang ia dan Reka buat sulit untuk dilaksanakan.
Mia mengingat betul apa yang ia baca mengenai rencana Nirma dan Reka, bahkan kejadian Aurel yang terbunuh pun tanggal dan waktunya sangat ia ingat. Waktu kejadian tersebut sudah semakin dekat. Selalu berhati-hati dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nirma. Ia tidak ingin sampai kejadian Aurel meninggal dan dirinya tidak bisa kembali menjadi Mia di dunia nyata.
“Oke, tanggal itu Aurel ada jadwal bernyanyi di sana. Ia sangat menyukai rooftop, kita laksanakan rencana kita hari itu. Pokoknya kamu pastikan lagi untuk eksekusinya.” Nirma yang berbicara lewat telpon tidak menyadari jika Aurel berada di balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Hendak menuju pintu samping melewati kamar Nirma, tetapi dikejutkan dengan obrolan rencana jahat Nirma.
Sepertinya Nirma mempunyai kebiasaan tidak menutup pintu kamarnya karena Aurel sebelumnya mendapati Reka sedang berbagi ranjang dengan Nirma dan saat ini Aurel mendengar sendiri rencana yang Nirma dan Reka akan lakukan untuk menyakiti Aurel.
Bergegas meninggalkan kamar Nirma menuju kamarnya sendiri. Sesampai di kamar, Aurel berjalan mondar mandir sambil sesekali menggigit jarinya karena gugup. Bukan hanya gugup, dia tidak menyangka jika kejadian tewasnya Aurel ternyata semakin dekat.
“Aku harus bagaimana?” Aurel bermonolog. Dia menoleh ke arah pintu, khawatir jika Nirma tiba-tiba masuk. Segera menuju pintu untuk menguncinya, “Apa aku sampaikan ke Bang Pras, apa yang baru saja aku dengar, ya.”
Mia akhirnya pasrah, apapun yang akan Nirma dan Reka lakukan pada Aurel, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengikuti alur agar meninggal dengan cara mengenaskan. “Yang jelas aku harus berhati-hati,” ujar Aurel.
...~ *** ~...
Aurel merasakan sangat-sangat gugup, Pras sudah mengetuk pintu kamarnya. Namun, Aurel belum berani keluar. Hari ini adalah harinya, hari di mana Aurel tewas. Berbarengan dengan jadwal ia harus menyanyi dalam acara yang diadakan di salah satu hotel bintang lima.
“Aurel!” panggil Pras dengan sedikit berteriak.
Pintu terbuka, Aurel berada di balik pintu dengan wajah menunduk. “Ada apa?” tanya Pras. Aurel tidak menyampaikan apapun pada Pras terkait dia mengetahui rencana jahat Nirma dan Reka. Aurel menggelengkan kepalanya. Kini Aurel, Pras dan Nirma sudah berada dalam mobil yang membawa mereka ke lokasi. Pras yang menatap Aurel melalui rear vision mirror heran dengan sikap Aurel. Tidak biasanya gadis itu terlihat murung.
Para MUA pun merasa aneh karena Aurel yang tidak rewel saat dimake up. Aurel menatap Nirma lewat cermin dihadapannya, terlihat wanita itu sibuk dengan ponselnya bahkan tadi keluar dari ruangan untuk menerima panggilan telpon.
Pras menarik tangan Aurel menjauh dari para MUA, setelah ia selesai di make up. “Ada apa?” tanya Pras. “Katakan, ada apa. Aku melihat ada yang aneh, tidak biasanya kamu begini.”
Kedua tangan Aurel menyentuh dada Pras yang berlapis kaus dan jas. Membiarkan tangannya merasakan detak jantung Pras, Aurel harus siap dengan kemungkinan terburuk jika ia tidak selamat. Artinya semua akan berhenti, cerita ini akan berhenti sampai di sini. Aurel menatap wajah Pras yang menatap heran padanya, “Aku sayang Bang Pras,” ucap Aurel.
Pras hanya diam, lidahnya terasa kaku untuk mengutarakan kata. Biasanya ia dan Aurel akan berbalas kalimat cinta tapi kali ini ia tidak sanggup membalas atau menjawab. Ia merengkuh Aurel ke dalam pelukannya. “Bang Pras,” panggil Aurel. Pras lebih mengeratkan kembali pelukannya.
Aurel pesimis akan selamat, karena kemarin mendengar sekilas Nirma yang emosi menjawab telpon. “Pastikan Plan B ini akan berjalan sesuai rencana.” Reka merubah rencananya dan Aurel tidak mengetahui bagaimana ia akan celaka.
Pras berada di belakang stage, mengawasi Aurel yang sudah mengakhiri lagu pertamanya.
In my life, in my mind
Where I make up stories all the time
And I pretend that I am not someone
Left to face the world alone
Lately I'm not the same
I've found a stranger calling out my name
Have a feeling you would be so proud
And he's gon' need me now
But he's not you He's not you
He will never be you
......................
Lagu kedua yang dinyanyikan Aurel terdengar menyedihkan di telinga yang mendengar. Pras terus menatap pada Aurel yang sedang bernyanyi.
Pada saat lirik reff kedua, Aurel bernyanyi sambil menengadah, tubuhnya terasa kaku saat matanya menatap salah satu lampu penerangan yang sedang meluncur tepat ke arahnya. Ia berusaha menghindar.
Bugh
Praangg
Brakk
Suasana panggung langsung riuh, dan beberapa orang langsung berkerumun di panggung.
“Geserin!”
“Coba tolongin dulu!”
“Mas, enggak apa-apa?”
“Mbak Aurel, tolongin woy.”
.
.
.
Suara AC, lalu lalang orang dan suara orang berbicara membuat Aurel mengerjapkan kedua matanya. “Aurel, hey. Akhirnya sadar juga.” Menatap wajah tampan Pras yang berat ia tinggalkan.
Tunggu-tunggu, kenapa aku bisa bertemu Bang Pras lagi? Ini dimana? Surga? Emang yakin aku akan masuk surga, batin Mia sambil menatap sekeliling.
“Bang Pras,” panggil Aurel.
“Aku panggil dokter dulu.” Pras menekan tombol darurat yang tergantung tidak jauh dari ranjang Aurel.
Aurel tercengang mengetahui sudah dua hari ia tidak sadarkan diri setelah mengalami kecelakaan saat bernyanyi. “Kalau sampai besok tidak ada keluhan, sudah bisa pulang,” ujar Dokter.
“Bang Pras, kejadiannya seperti apa?” tanya Aurel saat dokter dan suster yang mengecek kondisinya sudah beranjak pergi.
Nirma dan Reka, ke mana mereka? Bagaimana respon mereka saat tau aku masih selamat, batin Mia
“Ada peralatan jatuh dan hampir menimpa kamu,” ujar Pras.
“Bang Pras yang menolong aku?”
Pras menghela nafasnya, mengingat kejadian saat itu.
Ia sedang menatap Aurel yang membawakan lagu kedua dengan lirik yang terdengar menyayat hati, juga sikapnya yang aneh. Gerakan Aurel yang bernyanyi menatap ke atas, refleks membuatnya melihat ke atas panggung. Lampu sorot yang ukurannya lumayan besar meluncur pelan, “Aurel! Teriak Pras lalu mendorong tubuh Aurel dan mereka jatuh bersama dengan lampu yang jatuh dan pecah.
Pras tidak bisa membayangkan jika Aurel berada di bawah lampu tersebut. “Aurel,” panggil Pras pelan melihat Aurel yang tak sadarkan diri. Pras berusaha mengangkat tubuh Aurel dan menyadari belakang kepala Aurel mengeluarkan darah.
“Geserin!”
“Coba tolongin dulu!”
“Mas, enggak apa-apa?”
“Mbak Aurel, tolongin woy.”
Beberapa orang menghampiri mereka, “Kita bawa ke Rumah sakit.”
Pras berjalan terburu-buru menggendong Aurel melewati Nirma yang hanya berdiri tanpa bertanya ataupun panik karena rekan dan juga sahabatnya mengalami kecelakaan.
“Nirma ke mana?” tanya Aurel, menyadarkan Pras yang tadi teringat kembali proses kejadian yang menimpa Aurel.