My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Tapi suka 'kan?



Pras baru saja turun dari kamar Aurel, gadis itu telah terlelap setelah shock dengan kejadian mobil yang hampir saja mencelakainya.


Nirma sudah menunggu tidak jauh dari undakan tangga terakhir, memasang wajah tidak bersahabatnya. "Mulai besok kamu enggak usah ke sini. Kamu saya pecat!" Ucap Nirma. Pras mendengar hal itu hanya terkekeh. "Yang bisa pecat aku hanya Aurel," jawabnya.


"Kamu salah, untuk urusan MUA, bodyguard termasuk asisten rumah tangga itu urusan aku. Hak penuh aku, kamu yang merekrut aku dan aku pecat kamu."


"Alasannya?" tanya Pras dengan santai. "Alasannya kamu hampir mencelakai Aurel dan aku, kalau kamu tadi tidak stay di tempat itu dan berbelok lalu cari jalan lain, enggak akan kejadian seperti tadi." Nirma meninggalkan Pras yang masih terpaku.


Sebenarnya alasan yang Nirma kemukakan hanya pengalihan karena ia dan Reka gagal melukai Aurel sebab Pras menyelamatkan gadis itu. Reka menyarankan untuk menyingkirkan Pras.


Gara-gara aku atau rencana kalian tidak berhasil, batin Pras. Ia menoleh sekilas ke lantai atas lalu beranjak pergi. Menaiki motornya meninggalkan rumah Aurel.


"Aku sudah pecat dia," ujar Nirma melalui sambungan telpon. "Tinggal kita matangkan rencana berikutnya. Jangan sampai gagal lagi, aku sudah muak terus-terusan jadi bawahan Aurel."


Keesokan pagi, Mia menatap cermin yang ada di dinding wastafel. Berada di tubuh Aurel dan menjalani perannya yang sebagian besar alur ceritanya sudah diketahuinya. Menghembuskan nafas, “Kapan aku bisa kembali ke tubuhku? Aku lelah menjadi Aurel, terlalu menyeramkan menjalani kehidupannya,” ujar Mia.


Menuruni anak tangga dengan kondisi lebih baik dari kemarin. Ia menuju ruang makan, mengambil gelas dan mengisi air dari dispenser. Membaca jadwal hari ini di ponselnya, karena melihat tidak ada pergerakan kesibukan baik Nirma ataupun Pras yang menyerukan dirinya untuk bergegas.


“Oh, hanya latihan vokal dan ke butik,” ujar Aurel. Saat meletakan gelas di meja, Nirma bergabung di meja makan. “Kita berangkat setelah ini, aku sarapan dulu,” ucap Nirma. “Bang Pras sudah datang? Aku belum lihat dia.”


“Untuk hari ini biar aku yang mengemudi, Pras sudah aku pecat.”


Aurel menoleh ke arah Nirma dan menatap wanita itu dengan heran, berusaha meyakinkan diri dengan apa yang baru saja Nirma ucapkan. “Bang Pras kamu pecat?” tanyanya. Nirma menganggukan kepala karena mulutnya sibuk mengunyah sarapannya. “Alasannya?”


“Karena dia tidak bisa menjaga kamu dan hampir mencelakai aku,” jawab Nirma lalu kembali melanjutkan sarapannya. Aurel menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Apa hakmu memecat dia, kalian semua bekerja untuk aku. Hanya aku yang berhak memecat atau mengganti siapapun yang bekerjasama dengan aku.”


Nirma tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti ini dari Aurel, ia pikir Aurel tidak akan keberatan jika ia menyingkirkan Pras agar rencana berikutnya bisa berjalan dengan lancar. “Kejadian kemarin itu kecelakaan dan kalaupun karena kesalahan Bang Pras harusnya aku yang marah bukan kamu.” Aurel meninggalkan meja makan. Tidak lama kemudian dia turun memakai sling bag dan mengambil kunci mobilnya lainnya. “Mau kemana kamu? Sebentar lagi kita harus berangkat.”


“Kosongkan saja jadwal hari ini, aku perlu menenangkan pikiran,” jawab Aurel. “Mobilmu rusak, aku ingin pakai yang itu,” ucap Nirma.


Aurel mengenakan masker agar tidak dikenali oleh orang-orang disekitarnya. Berdiri di depan rumah kontrakan dua lantai, ia ragu memasuki pagar rumah itu. “Cari siapa Neng?” tanya orang yang lewat. “Hmm, Bang Pras tinggal disini bukan?”


“Bang Pras?” tanya orang itu lagi. Aurel melihat motor Pras terparkir di dalam, “Ah, itu motornya,” sahut Aurel.


“Itu sih punya si Aji.” Aurel tersenyum, “Ia maksud aku Aji Prasetyo,” tutur Aurel menyebutkan nama lengkap Pras. “Iya dia tinggal di sini, tuh di lantai dua kamar paling ujung.” Aurel menoleh pada arah yang ditunjuk.


Melangkah menaiki tangga, menuju unit paling ujung, melewati empat unit lainnya. Beberapa kali mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dan pergerakan dari dalam. Aurel pun mencoba menghubungi Pras tetapi tidak dijawab. Menekan handle pintu dan mendorongnya, “Tidak dikunci,” ucap Aurel.


“Bang Pras,” panggil Aurel memasuki ruangan. Ia khawatir berada di ruangan yang salah, tapi melihat tas yang biasa dipakai Pras dan foto yang tergantung di dinding membuatnya yakin ini adalah kontrakan Pras. Hanya dibatasi sekat tembok, bagian depan yang agak sempit terdapat meja kursi dan sekat yang kedua ternyata kamar tidur Pras.


Pria itu masih tidur, dengan posisi tengkurap hanya mengenakan boxer pada ranjang yang selimutnya sudah jatuh ke lantai. Aurel membuka maskernya dan meletakan tasnya di atas nakas. Ia duduk di pinggir ranjang, bangunkan atau tidak ya, batinnya.


Sepuluh menit berlalu ia mulai bosan, setelah melihat keadaan kontrakan Pras. “Bang Pras,” panggil Aurel sambil menyentuh tangan pria itu. “Bang Pras,” panggilnya lagi sambil menggoyangkan bahu Pras. Pria itu hanya bergerak sekilas memeluk kembali bantalnya dan terlelap. “Bang Pras,” panggil Aurel lagi sambil mengguncangkan tubuh Pras lebih kuat. Pras membalikan tubuhnya, masih dengan mata yang terpejam. “Bang ...” Pras meraih tangan Aurel yang berusaha membangunkannya. Menarik tangan itu, hingga menyebabkan tubuh Aurel terjerembab jatuh sempurna di atas tubuh Pras.


Aurel membelalakkan kedua matanya merasakan bagian tubuh Pras yang menempel pada tubuhnya. Kedua mata Pras terbuka, kini mereka saling menatap dengan posisi yang sangat dekat. Aurel berusaha bangun, tetapi kedua tangan Pras malah mengunci tubuhnya. “Bang Pras, lepasin,” ujarnya sambil menahan agar dadanya tidak menempel pada tubuh Pras.


Ia menutup mulut dengan kedua tangannya agar tidak teriak ketika merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana, Pras hanya terkekeh melihat tingkah Aurel.


“Mau aku lepas?” Aurel mengangguk. “Give me morning kiss,” pinta Pras. Aurel menggelengkan kepalanya dengan tangan masih menutupi mulutnya. “Ya sudah,” ujar Pras kembali memejamkan mata.


Aurel segera mencium kilat bibir Pras. Pria itu memicingkan matanya, “Itu bukan ciuman tapi kecu_pan,” ujar Pras. “Sama saja, Bang Pras lepas dong.”


“Aku ajarkan bagaimana yang benar.” Tangan kanan Pras menyentuh tengkuk Aurel dan menekannya agar semakin dekat dengan wajah Pras lalu menyatukan bibirnya dan memagut bibir Aurel dengan lembut. Cukup lama mereka dalam posisi itu, sampai terdengar suara desahhan dari keduanya.


Akhirnya Pras melepaskan pagutannya, Aurel terlihat mengatur nafasnya. Pras melepaskan kuncian tangannya, “Bergeserlah, kelamaan aku bisa gila dan berbahaya untuk kamu.”


“Dasar mesum,” ejek Aurel sambil beranjak dari posisinya. Pras hanya tertawa, “Tapi suka ‘kan,” sahut Pras.