My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Membohongi Aurel



Aurel sudah berada di toko buku, berada di rak khusus novel. Entah apa yang ia cari, Pras hanya mengikutinya. Merasa tidak menemukan apa yang ia cari, Aurel mengajak Pras pulang.


“Sudah ketemu apa yang kamu cari?” tanya Reka pada Aurel. “Belum,” jawab Aurel. Sedangkan Nirma, ia pura-pura tertidur. Pras merasa ada yang aneh dalam mobil, ia bisa menebak apa yang sudah Reka dan Nirma lakukan di dalam mobil, karena aroma yang ditinggalkan. Aroma khas jejak percintaan antara Reka dan Nirma.


Pras menoleh pada Nirma yang pura-pura terlelap di kursi sebelahnya, kemudian melajukan mobil meninggalkan area mall. Selama perjalanan Reka menggoda Aurel, namun Aurel tidak terlalu menanggapi. Selain karena ia sudah lelah, Aurel merasa kesal karena sebagai kekasih Reka tidak peka dan kurang perhatian pada Aurel.


Bahkan Reka lebih memilih menunggu di mobil dibandingkan menemani Aurel ke toko buku. Pras yang sedang mengemudi masih dapat mendengar jelas apa yang diucapkan Reka saat menggoda dan merayu Aurel. “Halah, Dusta. Dasar playboy,” batin Pras.


“Sayang, kok kamu diam aja sih? Marah?” tanya Reka pada Aurel yang berada dalam rangkulan Reka. Aurel memejamkan matanya, “Enggak apa-apa, aku hanya lelah.”


“Makanya jangan maksa, masih ada hari esok,” ujar Reka.


Aurel berdecak, “Bukan itu, tapi sudahlah.” Pras menatap Aurel melalui rear-vision mirror, dalam hatinya Pras iba pada Aurel yang berada diantara kebohongan Nirma dan Reka. Walaupun Pras memberanikan diri menyampaikan kebenaran, Pras yakin Aurel tidak akan mempercayainya.


Aurel sudah pasti akan mempercayai Reka yang statusnya kekasih dan Nirma yang merupakan sahabatnya sejak lama. Sedangkan Pras hanya seorang pekerja yang Aurel kenal belum lama ini. Pras kembali pada tujuannya yaitu, hanya bekerja sebagai pelindung Aurel bukan ikut campur urusan pribadi Aurel.


Setibanya di rumah setelah memastikan mobil terparkir sempurna, Pras juga harus memastikan keamanan Aurel selama di rumah. Ia memeriksa seluruh keadaan kamar Aurel. Aurel menunggu Pras mengecek kamarnya dengan menunggu di ruang tamu. Bersandar pada sofa sambil menatap pada layar televisi.


“Sayang, aku ambilkan air minum untuk kamu ya,” ujar Reka bergegas menemui Nirma di ruang makan. Nirma langsung mengalungkan tangannya pada leher Reka, “Malam ini kamu tidak usah pulang, sebentar lagi Aurel juga tidur. Kalau kelelahan dia akan tidur seperti orang mabuk tidak ingat dengan sekitar,” pinta Nirma.


Reka terkekeh, “Kalau aku tidak pulang, kita mau ngapain? Main ludo?” tanya Reka sambil tertawa.


“Lanjutkan yang tadi di mobil, aku tidak terlalu menikmati takut ketahuan.”


Pras mendengar semua apa yang kedua orang itu bicarakan. Kemudian berjalan menuju Aurel berada, “Kamar sudah saya cek, semua aman. Nona Aurel sudah bisa istirahat,” ujar Pras.


“Hmm, aku tunggu Reka ambil air. Haus banget,” sahut Aurel masih menatap pada layar TV. “Orang yang anda maksud bukan mengambil air tapi beradu bibir dengan sahabat anda sendiri,” ucap Pras dalam hati. Tidak lama kemudian Reka datang membawa botol air mineral.


“Lama amat sih?” tanya Aurel. Reka menghela nafasnya, “Dari toilet,” jawab Reka sambil duduk disamping Aurel yang sedang meneguk isi botol. “Kamu istirahat, pasti lelah. Aku akan pulang, masih tunggu orang yang mengantar mobilku,” ujar Reka berdusta.


Aurel mengangguk, Reka mencium kening Aurel. “Good night and sleep tight,” ujar Reka.


“Hmm.” Aurel menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada sambil menguap. Sampai di kamar ia membersihkan diri dan menggunakan piyama tidurnya lalu berbaring dan terlelap.


Reka yang memastikan Aurel memasuki kamarnya lalu ia menghampiri Nirma yang sudah menunggunya di depan kamar. Memeluk wanita itu lalu mereka tertawa dan masuk ke dalam kamar Nirma.


Pras sengaja menunggu di luar rumah, memastikan kebenaran ucapan Reka pada Aurel. Sudah lebih dari satu jam tidak ada pergerakan Reka keluar rumah. Pras kemudian masuk kembali ke dalam rumah, ia berada di depan pintu kamar Nirma. Sayup-sayup terdengar suara aneh dalam ruangan tersebut. Suara dessahan dan erangan yang saling bersahutan dari kedua anak manusia yang sudah berhasil membohongi Aurel. 


_______


jejaknya gaes 😊


Mohon maaf labir dan batin ya 🙏