
Pras duduk disebelah Aurel, “Kalau kamu mau makan, aku akan sampaikan alasan ketiga kenapa kamu harus segera menyelesaikan urusan kamu dengan Reka,” bisik Pras. Bahkan hembusan nafas pria tersebut terasa hangat di leher Aurel.”Tolong kemarikan makanan aku,” sahut Aurel yang disambut Pras dengan terkekeh geli karena sikap Aurel.
Aurel menurunkan kakinya dan menikmati makan siangnya dengan sedikit terburu-buru, bahkan ia sempat tersedak. Pras dengan cekatan memberikan air minum dan menepuk punggung Aurel. “Pelan-pelan, memang mau ke mana sih,” ujar Pras. Sedangkan Nirma sejak tadi menjauh dari Pras dan Aurel sedang menerima panggilan telpon. Aurel sempat menoleh pada Nirma saat ia menaruh box makanannya yang sudah kosong.
"Oke, jadi apa alasan yang ketiga?" tanya Aurel sambil meipat kedua tangannya di dada menunggu Pras bicara.
"Next, Aurel ayo sekali lagi setelah itu kamu boleh lanjut," titah koreografer. Aurel menoleh pada Pras yang mengedikkan bahunya.
"Merusak suasana aja. Setelah ini, pokoknya setelah ini tidak boleh tidak," sahut Aurel yang dijawab dengan tertawa oleh Pras. Aurel kembali memakai sepatunya yang tadi dilepas oleh Pras. Melihat Aurel yang kembali lincah bergerak di stage membuat Pras lega, tetapi masih ada yang mengganjal dihatinya karena Aurel masih berstatus sebagai kekasih Reka. Bukan karena ia menyukai Aurel tapi melihat Reka tidak pantas mendapatkan Aurel apalagi dengan gelagat yang Pras nilai aneh dari Reka.
"Oke, good." Koreografer dan tim dancer Aurel bertepuk tangan untuk saling menyemangati. "Nirma, gerakan sudah kita sesuaikan, karena cedera kaki Aurel. Kita ada latihan sekali lagi setelah itu GR sehari sebelum acara," ujar sang koreo pada Nirma dengan sedikit gemulai.
"Oke, thanks ya," sahut Nirma. "Jangan lupa salamin dari aku untuk si macho itu," menunjuk Pras yang sedang sudah siap membawa perlengkapan Aurel.
Nirma dan Aurel terbahak, saat si gemulai memanggil Pras dan memberikan cium jauh dengan tangannya. Pras bergidik lalu bergegas keluar sanggar.
Aurel sudah duduk di kursi belakang, bahkan Pras juga sudah duduk nyaman didepan kemudi. "Pras kamu ajak Aurel pulang, aku ada perlu. Nanti sore kita bertemu di stasiun TVX." Aurel menoleh saat mendengar Nirma mengatakan akan pergi dengan urusannya. Semakin sering pergi tidak jelas, batin Aurel. "Bang Pras, kita ikuti Nirma aja," titah Aurel.
Pras berdecak, saat Aurel keluar dari mobil untuk pindah duduk disampingnya. "Ayo," titah Aurel. "Kita kalau mau menguntit, pakai mobilnya harus disesuaikan." Aurel menoleh pada Pras, “Memang ada apa dengan mobil ini?”
“Ini mobil mencolok sekali, Nirma bisa langsung tau kalau sedang diikuti.” Aurel bersandar pada kursi mobil, rencananya untuk mengikuti Nirma mengetahui apa kegiatannya yang mulai mengabaikan tugas sebagai asistennya gagal. Memang saat ini Pras membawa MPV premium milik Aurel, mobil yang digunakan untuk aktifitas bekerja Aurel. Karena selain banyak perlengkapan yang Aurel bawa, mobil itu nyaman untuk Aurel jika sewaktu-waktu harus beristirahat di mobil.
“Gagal deh berperan sebagai detektif,” ujar Aurel. Pras mulai fokus pada kemudi.
“Eh, aku tagih janji Bang Pras. Ayo apa alasan ketiga?” tanya Aurel. Pras menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan dan kemudianya. “Pakai seat belt kamu,” titah Pras. Setelah menuruti perintah Pras, Aurel kembali menoleh pada Pras.
“Ayo, apa alasan ketiga,” ucap Aurel sambil menggoyangkan lengan Pras. “Aurel, aku sedang mengemudi,” sahutnya. Aurel berdecak, ia melipat kedua tangan di dada ikut fokus pada jalanan. Namun, tidak lama gadis itu malah terlelap, Pras tersenyum melihat hal itu. Ia mengusap puncak kepala Aurel.
Pras menghembuskan nafasnya, dadanya terasa sesak jika mengingat perasaan yang ia miliki. Semakin hari ia semakin menyukai Aurel, karena setiap hari pula ia harus bersama gadis itu. Tapi ia pun tidak berharap Aurel akan membalas perasaannya, apalagi saat ini Aurel masih berstatus sebagai kekasih Reka. Yang utama adalah Aurel seorang idola dengan segala kemewahan yang gadis itu miliki, sedangkan Pras hanya bekerja sebagai bodyguard. Bahkan rumah pun ia belum punya, tempat tinggalnya sekarang hanya rumah kontrakan di daerah padat penduduk.
“Aurel,” panggil Pras sambil mengguncang pelan tubuh Aurel karena mereka saat ini sudah sampai di rumah. “Aurel,” panggilnya lagi, “kita sudah sampai, bangunlah.”
Aurel mengerjapkan kedua matanya, “Bisa enggak sih, banguninnya lebih romantis. Kayak di drama-drama, bukan digoyang-goyang apalagi di kepret air,” sahut Aurel sambil melepas seat beltnya. “Oke, berikutnya deh,” sahut Pras sambil terkekeh. Aurel berdecak lalu turun dari mobil.
Setelah mandi dan berganti dengan pakaian rumah karena setelah latihan tadi tubuhnya terasa lengket dengan keringat. Aurel mencari keberadaan Pras, tidak ada di area rumahnya ia memilih mengirimkan pesan.
Di mana?
Di sini.
Jawab Pras.
Aurel bergumam tidak jelas saat membaca balasan pesan dari Pras, lalu kembali mengirimkan pesan.
Cepat masuk, aku perlu bantuan.
Pras tidak membalas pesan itu, tetapi ia bergegas menuju ke dalam rumah. Mengingat Aurel yang baru saja sembuh dari cederanya, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Aurel. Saat membuka pintu depan, Pras mendapati Aurel yang duduk nyaman disofa dengan ponsel di tangannya.
“Aku tunggu balasan, ternyata orangnya langsung datang,” sahut Aurel sambil tersenyum. Pras duduk disamping Aurel, “Kamu butuh bantuan apa? Apa kakimu sakit lagi?” tanya Pras dengan khawatir.
“Iya, aku perlu bantuan kamu.”
“Apa?” tanya Pras.
Aurel melipat kedua tangannya, “Sebutkan alasan yang ketiga!”
Pras memundurkan tubuhnya lalu bersandar pada sofa yang ia duduki. “Astaga Aurel, aku pikir kamu benar dalam situasi sulit.”
“Loh, ini memang situasi sulit karena Bang Pras cuma janji-janji palsu. Alasan kenapa aku harus menyelesaikan masalah dengan Reka. Yang pertama, karena aku tidak cocok dengan Reka yang terlihat lebih dekat dengan Nirma. Yang kedua, aku tidak mencintai Reka, lalu yang ketiga, apa?” tanya Aurel.
“Apa,” jawab Pras.
Aurel berdecak, “Ayolah Bang, aku juga butuh masukan dari pihak lain terkait keputusan aku dengan Reka.”
“Kalau kamu tidak cinta kenapa harus dipaksakan,” sahut Pras.
Karena aku yang tidak mencintai Reka, bukan Aurel. Batin Mia
“Jadi apa alasan yang ketiga?” tanya Aurel lagi.
Pras menggeser duduknya semakin dekat dengan Aurel, wajah mereka kini sangat dekat bahkan hembusan nafas keduanya sangat terasa. Manik mereka pun sedang saling menatap, Pras berusaha membuktikan sesuatu dari tatapan mata Aurel. “Alasan yang ketiga adalah karena aku mencintaimu.”