
“Lepaskan Nona Aurel,” perintah salah satu anggota.
“Lepas! Nirma lepaskan aku,” jerit Aurel. Dia berontak karena rambut yang masih berada dalam jambakan Nirma.
“Bagaimana kalau kita terjun bersama?”
"Lepaskan Aurel," teriak Pras.
"Tangkap saja dia, semua rencana ini dia otaknya," ucap Reka sambil menunjuk Nirma.
Nirma menoleh pada Reka yang menjauh darinya sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Reka, jangan gila kamu. Kita sampai seperti ini karena kamu," teriak Nirma. Kemudian kedua orang ini saling menghardik dan menyalahkan. Pegangan tangan Nirma pada rambut Aurel mengendur. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Aurel mendorong Nirma hingga tersungkur lalu berlari. Pras pun berlari menghampiri dan merengkuh Aurel. Aparat meringkus Nirma dan Reka.
"Aurel ini semua karena kamu!" teriak Nirma. "Kamu yang memaksa aku untuk melakukan hal ini," teriak Nirma.
Aurel yang masih berada dalam pelukan Pras menggelengkan kepala mendengar teriakan Nirma. Terisak, membayangkan jika tadi Nirma benar-benar mengajaknya terjun maka berakhir pula hidup Mia dan Aurel. Juga tidak menyangka jika Nirma menyalahkannya atas semua kejahatan yang sudah dilakukan bersama Reka.
...***...
Aural masih vacum dari dunia hiburan. Pemberitaan mengenai kecelakaan, penyanderaan dan usaha mencelakai dirinya masih ramai di pemberitaan. Termasuk juga dalang dibalik dalang kejahatan yang melibatkan seorang model dengan status kekasih Aurel. Pemburu berita masih banyak yang mencarinya untuk wawancara. Namun, Aurel Lebih memilih bersembunyi di apartemennya.
Seperti saat ini, Pras baru saja datang karena menyerahkan beberapa berkas sebagai barang bukti. Melihat Aurel termenung menatap jendela, tatapannya kosong bahkan dia tidak menyadari kehadiran Pras.
“Aurel,” sapa Pras sambil menyentuh bahu gadis itu. Aurel mendongak pada Pras.
“It’s oke, semua sudah berakhir.” Aurel mengangguk, Pras lalu memeluknya.
Dua minggu berlalu, pemberitaan sudah mulai reda. Aurel dan Pras bebrapa kali dipanggil untuk memberikan kesaksian. Hubungannya dengan Pras semakin dekat. Aure benar-benar menggantungkan hidupnya pada Pras.
“Bang,” panggil Aurel yang sedang berbaring dengan pangkuan Pras sebagai bantal.
“Hmm.” Pras sedang fokus pada tablet. Baru saja manager Aurel mengirimkan file rekening koran keuangan Aurel dari beberapa rekening. Menurut Pras, Aurel benar-benar ceroboh, dia tidak terlalu teliti terkait urusan ini. Makanya, Nirma sempat membodohinya saat masih menjadi asisten dan managernya.
“Aku mau menikah saja.”
Ucapan Aurel barusan membuat Pras terpaku, menghentikan konsentrasinya karena saat ini di kepalanya sibuk mencerna maksud dari pernyataan Aurel.
Dia mau menikah? Maksudnya denganku atau bagaimana? Apa ini bertanda dia ingin segera aku lamar, batin Pras. Pras meletakan tablet pada meja di depannya. “Maksudnya bagaimana?” tanya Pras sambil menyentuh pipi Aurel.
“Ya, menikah. Tujuan dari setiap hubungan adalah menikah. Atau jangan-jangan Bang Pras tidak serius dan tidak ingin menikah dengan aku?” Aurel beranjak dari posisinya.
Pras berdecak, “Aku belum menjawab tapi kamu sudah menyimpulkan jawaban sendiri.”
“Jadi?” Aurel menatap Pras sambil melipat kedua tangan di dada.
“Cukup, cukup sampai disitu saja. Intinya kamu serius juga. Jadi kita putuskan kapan kita akan menikah. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan. Jangan lama-lama menunda,” tutur Aurel.
“Bagaimana kalau hari ini,” jawab Pras.
Keduanya tergelak, “Siapa takut,” ucap Aurel. Keseruan mereka terusik karena bunyi dering ponsel Pras.
Persidangan kasus Nirma dan Reka sudah berjalan beberapa kali, bahkan minggu depan adalah pembacaan keputusan. Aurel sudah sepakat tidak akan menghadiri. Dia hanya akan fokus pada rencana pernikahannya dengan Pras.
Pernikahan akan diselenggarakan di panti asuhan tempat Aurel dan NIrma dibesarkan. Acara yang akan berlangsung sangat sederhana. Hanya mengundang teman-teman dekat keduanya. Bukan tanpa alasan Mia memutuskan pernikahan Aurel dengan Pras. Dia berharap dengan Aurel dan Pras menikah, kisah ini pun berakhir bahagia. Sehingga dia dapat kembali menjadi Mia dalam kehidupan nyata.
Apa yang Mia alami selama berada dalam tubuh Aurel sungguh sangat mengerikan. Beberapa kali dia harus terlibat inseden yang membahayakan nyawa. Meskipun dalam dunia nyata, hidup Mia juga menyedihkan. Tapi kembali sebagai diri sendiri mungkin akan lebih baik. Dia sudah tidak perduli dengan rasanya pada Bira yang ternyata malah menyukai Aela adiknya.
Hari itu pun tiba.
Hari pernikahan Pras dan Aurel. Mereka sudah tidak bertemu hampir satu minggu karena dilarang oleh Ibu Panti. Katanya tidak baik jika calon pengantin masih saling bertemu. Setelah sarapan yang hanya mampu dihabiskan beberapa suapan, Aurel saat ini sudah bersama dua orang MUA yang biasa mendandani jika ada acara atau tampil bernyanyi.
Gaun yang akan dikenakan tergantung di dinding kamar, kini Aurel sudah duduk di depan cermin meja rias. Kedua MUA sudah mulai menyapukan berbagai macam dasar sentuhan make up. “Non, ponselnya disimpan dulu, lalu menghadap lurus ke depan.”
Aurel pun mengikuti arahan, memang sejak tadi dia masih berbalas pesan dengan Pras. Padahal Pras sudah berada di rumah itu sejak pagi, tapi di ruangan yang berbeda. Seakan tidak sabar akan menjalani proses pernikahan yang akan berlangsung dalam hitungan jam, keduanya malah masih saling lempar kata lewat pesan.
Tiba-tiba kepalanya berdenyut, awalnya hanya sedikit pening tapi kelamaan semakin sakit. Bahkan dia harus memejamkan mata untuk menahan rasa sakit yang mendera. Merasakan sakit luar biasa dan dunia yang terasa berputar sangat kencang.
“Aaaahhhhh,” teriak Aurel.
“Hahhh.” Mengerjapkan kedua matanya, dengan nafas tersengal. Menatap langit-lagit kamar yang dinding dengan cat putih dan aroma khas obat-obatan.
“Mia, kamu sudah sadar?”
Suara itu sangat tidak asing. Tunggu, dia sebut Mia. Bukannya aku sedang berada di ... Apakah aku sudah kembali ke tubuh Mia.
Menoleh ke samping, bukan hanya suara yang tidak asing. Dia Ela, wanita ini Ibu tiriku. Berarti aku sudah kembali.
Mia beranjak bangun dari posisinya saat ini.
“Eh, kamu jangan bangun dulu, biar Ibu panggil dokter