My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Hati-hati



“Siapkan ambulance,” titah Pras entah pada siapa. Tidak lama kemudian Nirma datang, “Pras, ini gimana ceritanya?” tanya Nirma.


“Kecelakaan, mana ada pakai cerita. Kalau mau tau kenapa bisa begini, tanya bagian properti,” sahut Pras. “Bang, ambulance sudah siap,” ucap salah satu crew pada Pras. Aurel pun di gendong Pras ala bridal style, menuju ambulance yang sudah siap membawa Aurel ke rumah sakit.


Aurel jatuh terperosok, saat salah satu anak tangga yang ia pijak ternyata tidak kokoh. Entah hanya terkilir atau ada luka serius yang jelas Aurel menjerit saat Pras memintanya berdiri. Terdapat juga luka sobek pada kaki Aurel, untungnya tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.


Aurel berada di ambulance ditemani Pras, sedangkan Nirma menyusul membawa mobil Aurel. “Sshhh,” Aurel mendesis pelan menahan rasa sakit pada kakinya. “Tahan sebentar, kita hampir sampai di rumah sakit,” ujar Pras.⁸


Ambulance itu parkir tepat di depan UGD, Pras mendorong brankar masuk ke dalam UGD agar Aurel segera mendapatkan penanganan. “Maaf, Bapak tunggu di luar,” ujar salah satu perawat. Saat ini Nirma dan Pras menunggu Aurel mendapatkan penanganan, cukup lama sampai akhirnya perawat memanggil perwakilan keluarga Aurel.


“Keluarga pasien atas nama Aurelia.”


Pras dan Nirma bergegas menghampiri perawat itu, “Silahkan temui dokter  yang menangani pasien, sebelah sini ya.”


Kini Nirma dan Pras duduk di hadapan seorang Dokter, “Secara umum kondisi nona Aurel baik, beliau mengalami ankle fracture. Kondisi saat tulang-tulang di sekitar pergelangan retak atau patah, namun yang dialami nona Aurel adalah retak ya. Sementara harus istirahat karena sudah pasti aktifitasnya akan terganggu. Minimal enam minggu paling lama dua bulan,”  ungkap Dokter yang menangani Aurel.


“Selama itu Dok? Tidak bisa lebih cepat penyembuhannya,” ujar Nirma membuat Pras menoleh pada wanita itu. Dokter pun menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari Nirma.


“Itu pun kalau pasien tidak mengalami infeksi, tidak mengikuti arahan penyembuhan atau ada kondisi medis tertentu.”


“Masalahnya, jadwal Aurel ke depan ...”


“Maaf, saya sebagai Dokter menyarankan apa yang tadi saya sampaikan untuk kesembuhan nona Aurel,” tutur Dokter menyela kalimat Nirma. “Menurutmu mana yang lebih penting, kesembuhan Aurel atau jadwal kerja Aurel?” tanya Pras pada Nirma karena jengkel dengan sikap Nirma.


“Dan untuk saat ini Nona Aurel saya sarankan rawat inap, silahkan diurus prosedurnya,” tambah dokter. “Kamu temani Aurel, aku yang urus administrasi,” titah Nirma.


“Bang Pras, kakiku bagaimana?” tanya Aurel saat Pras menemuinya. “Yang jelas kamu masih bisa bernyanyi karena kondisi pita suara mu aman,” canda Pras yang direspon Aurel dengan memukul lengan Pras. “Yang aku tanya bagaimana dengan kaki aku, lihat aja kakinya diperban begini.” Aurel menunjuk pada kaki kanannya yang dibalut perban elastis, sedangkan di betisnya ada luka yang sudah dijahit dan tertutup perban.


“Sementara kamu akan cuti, silahkan nikmati masa cuti kamu dengan istirahat,” ujar Pras, “tapi tidak boleh pulang, harus masuk rawat inap,” terang Pras.


Kini Aurel sudah berada dalam kamar perawatan tentu saja dengan fasilitas VVIP agar Aurel tetap nyaman selama dalam perawatan bahkan ia sudah mengenakan piyama pasien. “Aku sudah minta pihak Rumah Sakit menghindarkan Aurel dengan wartawan sampai kita yang mengadakan konferensi pers,” jelas Nirma pada Pras.


“Jangan ajukan tuntutan pada penanggung jawab kegiatan,” ucap Aurel. “Kenapa begitu? Ini kan karena kelalaian mereka doublrmaintenance properti,” sahut Nirma. “Ini kecelakaan, murni kecelakaan. Yang jelas aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, minta saja ganti rugi perawatan aku tapi tidak usah perpanjang apalagi sampai menuntut.”


Nirma masih mendebat Aurel mengenai insiden itu namun Aurel tidak perduli, ia memilih diam kembali mengingat puzle-puzle ingatan lembaran cerita yang sudah ia baca. Aurel mengerjapkan kedua matanya saat ia kembali mendapatkan ingatan tentang potongan alur kisahnya.


Kecelakaan. Akan ada kecelakaan, aku akan mengalami kecelakaan walaupun tidak menyebabkan kematian. Setelah ini aku harus berhati-hati.


Malam ini, tidak ada yang menemani Aurel di kamar rawat inapnya. Pras berjaga dan menunggu di luar kamar, sedangkan Nirma memilih pulang dan mengatakan akan kembali besok pagi. Dengan alasan tidak nyaman dan tidak bisa istirahat jika berada di rumah sakit.


Belum bisa memejamkan mata dan tidak ada teman, Aurel pun mengirim pesan pada Pras yang berjaga di luar.


Bang Pras, tunggu di dalam saja, aku takut.


Pras menghela nafas membaca pesan yang Aurel kirim. “Kalau aku di dalam, justru aku yang takut. Takut tergoda dengan kecantikan seorang Aurel,” batin Pras. Namun karena titah dari majikannya Pras pun mengiyakan perintah Aurel. “Mas Pras bisa tidur di sofa atau family bed yang sudah disediakan,” ujar Aurel, “yang penting aku enggak sendirian.”


Keberadaan Pras di dalam ruang perawatan Aurel bukan hanya untuk menghilangkan rasa takutnya, tapi juga menghilangkan kantuknya. Pras dan Aurel malah ngobrol bahkan sesekali Pras mengeluarkan leluconnya membuat Aurel tergelak.


“Kamu tidak mengantuk?” tanya Pras. Aurel menggelangkan kepalanya. “Bang Pras,” ucap Aurel. Pras yang duduk di kursi sebelah brankar Aurel hanya berdeham mendengar panggilan dari Aurel.


“Menurut Abang, Reka benar-benar cinta aku enggak?”


Pras menoleh pada Aurel yang sedang menatap langit-langit kamar tersebut. “Kenapa tanya begitu?”


“Iya, penasaran aja. Jawab dong Bang,” ucap Aurel.


“Mau yang jujur atau bohong.”


“Hmm, bohong dulu deh,” sahut Aurel.


“Reka cinta sama kamu, bahkan sangat cinta.”


Aurel menatap pada Pras, “Yakin?” Pras mengangguk, “tapi itu adalah contoh kalimat salah atau bohong,” jawab Aurel. Pras hanya tergelak mendengar kemarahan Aurel.


“Yang jujur apa?”


“Hmm,” sahut Pras, “Reka tidak mencintaimu dan kamu harus hati-hati,” ucap Pras. 


_______


Jejaks yesss