My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Dokter Pras



“Mia, kamu sudah sadar?”


Suara itu sangat tidak asing. Tunggu, dia sebut Mia. Bukannya aku sedang berada di ... Apakah aku sudah kembali ke tubuh Mia.


Menoleh ke samping. Bukan hanya suara yang tidak asing. Dia Ela, wanita ini Ibu tiriku. Berarti aku sudah kembali.


Mia beranjak bangun dari posisinya saat ini. “Eh, kamu jangan bangun dulu, biar Ibu panggil dokter.”


Mia akhirnya diperiksa oleh Dokter jaga, karena saat ini sudah hampir larut malam. Dengan posisi duduk sambil memegang dahinya karena masih ada rasa pening yang melanda. “Besok akan ada visit dokter spesialis syaraf, beliau juga yang akan menyampaikan apakah Nona Aurel masih harus melakukan pemeriksaan intensif atau boleh pulang.”


Setelah pemeriksaan, Mia kembali merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar rawat inap. “Sekarang kamu sudah sadar, cepatlah sembuh. Kalau sudah tidak ada keluhan minta pada dokter untuk diijinkan pulang. Kamu pikir murah biaya perawatan di sini, bahkan Ibu tidak pulang-pulang untuk menemani kamu,” tutur Ela.


Mia bergeming, dia bukan sedang memikirkan apa yang disampaikan Ela. Tapi memikirkan bagaimana dia bisa kembali ke dunia nyata. Lalu apa yang terjadi dengan Aurel dan Pras. “Aaahhhh,” teriak Mia karena kembali merasakan pening di kepalanya.


Esok pagi.


“Mia, kamu jangan aneh-aneh. Cepat habiskan bubur kamu dan minum obat ini,” titah Ela. Setelah perawat mengantarkan obat yang harus diminum Mia saat pagi. “Aku tidak lapar, Bu.”


“Ini bukan masalah lapar atau tidak, cepat dimakan atau Ibu akan pulang. Kamu pikir Ayah kamu akan segera datang karena tau anaknya menyusahkan seperti ini.”


Mia berdecak. Meraih mangkuk berisi bubur dan memakannya. Meskipun hanya sanggup menghabiskan separuh dari isi mangkuk. Meneguk air dalam gelas setelah meminum obat yang sudah disediakan. Kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Mia merasa ada yang hilang dalam dirinya, entah apa. Rasanya agak sesak kalau memikirkan hal tersebut.


“Selamat Pagi,” ucap Dokter yang baru saja masuk diikuti oleh seorang suster.


“Pagi, Dok,” jawab Ela.


“Wah, Nona Mia sudah bangun ya. Kita periksa dulu.” Dokter tersebut mendekat ke brankar Mia. Tersenyum melihat Mia yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar. “Nona Mia, bagaimana perasaannya saat ini?”


“Bingung,” jawab Mia tanpa menoleh.


“Bingung bagaimana?” tanya Dokter lagi.


“Bingung aja, gimana ceritanya aku bisa bolak-balik dunia nyata lalu ke dalam cerita sekarang balik lagi ke dunia nyata. Padahal aku udah nyaman di sana, ada Bang Pras,” tutur Mia lalu menoleh ke samping. Lebih tepatnya pada dokter yang sejak tadi berdiri di sampingnya sambil bertanya.


“Aaahhhh,” teriak Mia lalu bangun dan duduk. Dokter itu pun terkejut bahkan sampai memundurkan langkahnya.


“Mia, kamu apa-apaan. Ngapain teriak-teriak,” hardik Ela.


Mia menatap dokter di depannya, yang wajahnya mirip sekali dengan Bang Pras sang Bodyguard. “Nona Mia, anda tidak apa-apa? Apa yang anda rasakan sekarang?”


“Enggak apa-apa. Justru aku yang bertanya Bang Pras kok bisa ikut ke sini?”


Sejenak hening, Dokter itu tidak mengerti dengan apa yang disampaikan Mia. Bahkan sang dokter sempat saling tatap dengan suster yang ada di sampingnya karena bingung. “Mbak Mia, ini Dokter Ari. Beliau dokter yang bertanggung jawab dengan kondisi Mbak Mia. Tolong di jawab semua pertanyaan dengan baik, ini penting untuk diagnosa dan kelanjutan pemeriksaan,” ungkap Suster.


“Betul, saya Ari. Ari Presetyo,” ucap Dokter. Mia pun menoleh pada tag name yang ada di jas dokter yang dikenakan oleh laki-laki itu.


Ari Prasetyo, di kisah Aurel ada Aji Prasetyo. Oh, Tuhan. Apa lagi ini, batin Mia.


“Jadi, apa ada keluhan setelah Nona Mia bangun?” tanya Dokter Ari. Mia menggelengkan kepala.


“Apa yang kamu rasakan sekarang?”


Mia kembali menggelengkan kepala. Dokter Ari tersenyum. “Oke, sekarang istirahat. Besok kita lihat lagi kondisinya.”


“Belum boleh pulang sekarang, Dok?” tanya Ela.


Dokter yang menoleh pada Ela lalu kembali menatap Mia. “Masih ada beberapa hal yang harus saya pastikan dulu ya Bu. Sabar dulu sampai besok,” jawab Dokter Ari. Kemudian dokter tersebut mencatat pada berkas yang dibawa suster dan berbicara pada suster yang dijawab dengan anggukan.


“Oke, Nona Mia. Kalau ada keluhan silahkan tekan tombol daruratnya ya. Permisi,” ujar Dokter.


Mia menghela nafasnya, ingin segera pulang untuk mencari buku novel kisah Aurel dan membaca akhirnya ceritanya. Apakah masih sama dengan yang sebelumnya dia baca atau sudah berubah.


“Mia, Ibu tidak mau tau. Besok kamu harus bisa pulang. Toh, kamu sehat-sehat aja,” ujar Ela.


Esok hari. Dokter Ari melakukan visit agak siang. Berbeda dengan hari kemarin yang mengunjungi pasien saat masih pagi. “Selamat Siang Nona Mia. Bagaimana istirahatnya tadi malam?”


“Hmm, oke. Enggak ada masalah.”


“Nyenyak tidurnya?”


Mia mengangguk. “Ada mimpi buruk atau sakit kepala jika mencoba berfikir?”


Mia menggelengkan kepalanya.


“Oke. Sepertinya kondisi Nona Mia sudah aman untuk rawat jalan ya. Tiga hari lagi bisa kontrol ke poli. Nanti akan di jelaskan oleh suster untuk jadwal rawat jalan dengan saya.”


“Terima kasih, Dok,” ucap Ela dengan bahagia karena hari ini mereka akan pulang.


Setelah mengurus administrasi hal lainnya untuk persyaratan kepulangan pasien. Akhirnya Mia dan Ela tiba di rumah. Mia yang langsung masuk ke kamar melewati Alea yang sedang berdiri menyambut kedatangan Mia dan Ela.


Mia segera menuju rak buku tempat novel-novelnya disimpan. Menemukan yang dia cari, menarik dari tempat penyimpanan lalu duduk di lantai membuka lembaran dengan cepat sampai akhirnya di beberapa lembar terakhir.


“Aaahhhh,” teriak Mia sambil terisak dengan buku novel kisah Aurel berada dalam pelukannya.