My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Meragukan Cinta



“Ada Reka?” tanya Aurel pada Pras, “Sepertinya begitu,” jawab Pras. 


Pras berjalan dibelakang Aurel, ia khawatir jika kedua orang di dalam masih dalam posisi yang tidak layak dilihat. Aurel membuka pintu, ia dan Pras menyaksikan Reka dan Nirma yang sedang berpelukan. 


Aurel diam terpaku memandang Reka dan Nirma, kedua tangannya mengepa. Dadanya terasa sesak, marah dan kecewa namun bukan karena Reka yang notabene kekasihnya memeluk Nirma tapi karena merasa diabaikan. Aurel sekilas merasa bersalah karena tidak menjawab panggilan Nirma, sudah pasti wanita itu mengkhawatirkannya. Namun saat Aurel sudah menyampaikan kondisinya Nirma malah abai dan pemandangan saat ini seakan menjadi penjelas bahwa Nirma bukan khawatir.


Pras berdeham membuat kedua orang itu terkejut dan menoleh ke arah pintu. "Aurel kamu sudah pulang?" Tanya Nirma dengan wajah terkejut. "Hmmm." Jawab Aurel, ia berjalan ke arah Reka yang masih membisu lalu memeluk pria tersebut.


"Dari mana seharian ini, sampai tidak bisa dihubungi," ujar Reka membiarkan Aurel memeluknya. "Kamu tau aku pergi seharian? Sedangkan kita kan tidak komunikasi,” sahut Aurel sedikit curiga.  Wajah Reka terlihat panik, "Aku yang hubungi Reka karena kamu tidak jawab panggilan ku, kamu juga sama Pras. Kalian kemana sih?" tanya Nirma. 


"Hanya ke toko buku, lalu mampir, ke suatu tempat," jawab Aurel sambil melepaskan pelukan Reka. "Lalu kenapa kalian berpelukan?" tanya Aurel. Reka dan Nirma saling tatap, mereka jelas tidak membayangkan akan kepergok seperti ini, "Kontrak baru, kamu dapat kontrak baru," ujar Reka. "Iya, aku senang karena nominal dari kontrak itu lumayan besar. Karena luar biasa senang, malah peluk Reka," sahut Nirma. 


"Kontrak baru? Harusnya aku tanda tangan draft kerjasamanya dulu baru kalian senang, kalau baru tawaran kenapa sesenang itu." 


"Yang jelas, aku ikut senang jika kamu banyak mendapatkan kontrak. Artinya kamu semakin terkenal, bagaimana aku tidak senang," ungkap Nirma sambil mengedip pada Reka agar mendukung apa yang ia sampaikan. 


"Betul, memang kamu tidak gembira dapat kontrak baru?" tanya Reka, Aurel hanya mengedikkan bahunya. "Ada yang ingin aku sampaikan, kemarilah," Aurel mengajak Reka kembali duduk disofa, lalu merebahkan kepalanya pada dada bidang Reka. 


Nirma yang duduk bersebrangan dengan Reka dan Aurel menatap tidak suka dengan pemandangan didepannya. Reka mengerlingkan matanya agar Nirma tetap percaya padanya. Aurel menghela nafasnya lalu menegakkan tubuhnya, "Bukan, bukan masalah pekerjaan. Kamu kan kekasihku masa tidak tau apa yang membuat aku bahagia."


"Sudahlah, yang jelas kamu hari ini bahagia dan aku ikut bahagia," ujar Reka sambil mengacak rambut Aurel. "Aku pulang ya, sudah malam," pamit Reka. "Tapi aku masih ingin cerita, kita jarang quality time berdua. Kita masih oke 'kan?" tanya Aurel. "Masih banyak waktu, besok aku ada jadwal pagi. Kamu tau sendiri agency naunganku ketat masalah disiplin," tutur Reka membuat Aurel kecewa.


Pras yang masih berdiri di luar, mendengar semua pembicaraan karena pintu tidak ditutup. Ia hanya berdecak mendengar alasan yang dikemukan Reka. Nirma kembali duduk pada sofa disebrang Aurel setelah ia mengunci pintu rumah. Kedua tangannya ia lipat di dada sambil menatap tajam Aurel. 


Yang ditatap tidak gentar sedikitpun, malah memilih fokus pada ponselnya. "Jadi, tadi kamu ke mana?" tanya Nirma. “Toko buku,” jawab Aurel singkat. “Setelah itu?” tanya Nirmal lagi. “Ke suatu tempat, yang tidak bisa aku sebutkan lokasinya,” sahut Aurel.


“Aurel, aku ini manager dan asisten kamu, jadi aku berhak tau kemana saja kamu seharian ini. Bukan malah tidak merespon panggilan telpon aku,” tutur Nirma. “Dan aku bisa mencari orang untuk menggantikan kamu sebagai sebagai manager dan asisten aku kalau kamu terus-terusan mengekang. Baik-baiklah denganku agar aku tidak merealisasikan niatku tadi,” sahut Aurel lalu beranjak pergi meninggalkan Nirma.


“Aurel,” teriak Nirma sambil berdiri, “kamu jangan sombong, kamu belum jadi apa-apa. Kita tidak tau dimasa depan belum tentu kamu akan kembali bersinar seperti sekarang.” Aurel cuek, ia tetap berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti, “Satu lagi, jangan biarkan Reka masuk ke rumah ini jika aku tidak ada di rumah,” titah Aurel.


Aurel sudah berada di ranjangnya, lengkap dengan piyama tidur yang ia kenakan. Namun ia belum dapat memejamkan kedua matanya. Kepalanya dipaksa berfikir mengingat kelanjutan alur kisah ini. “Ingat, kamu harus ingat. Please demi Mia dan Aurel kamu harus ingat kelanjutannya,” ujar Aurel bermonolog.


“Reka, sepertinya kamu tidak mencintaiku. Kalau benar-benar cinta, kamu tidak akan acuh dan aku tidak melihat kau menunjukkan rasa cintamu.”