My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Never Say Goodbye



“Jadi, kita mau ke mana?” tanya Pras pada Aurel. “Ke danau,” jawab Aurel singkat.


“Enggak, ini sudah malam.”


Aurel menoleh, “Memang, tidak boleh ya?”


“Kita ke tempat lain, yang lebih romantis,” ujar Pras sambil terkekeh.


Aurel tidak tau Pras akan membawanya ke mana, sepanjang perjalanan pembicaraan mereka diselingi candaan yang membuat Aurel terbahak. Baik Mia atau Aurel jelas tidak pernah merasakan hidupnya sesederhana itu untuk bisa bahagia. Hanya bercanda dengan orang yang punya arti di dalam hati dan hidupnya bisa membuatnya bahagia.


Ponsel Aurel berdering, mengeluarkan dari tasnya dan membaca nama pemanggil di layar ponsel. “Siapa?” tanya Pras sambil fokus mengemudi. “Nirma,” jawab Aurel.


“Jawablah, bagaimanapun juga Nirma adalah asistenmu. Dia berhak tau ke mana artisnya nakalnya ini pergi,” sahut Pras sambil terkekeh. Aurel berdecak, lalu menjawab panggilan dari Nirma.


“Halo.”


“Di mana kamu?” tanya Nirma di ujung telpon.


“Masih di jalan,” jawab Aurel.


“Aurel, aku pecat Pras demi kebaikan kamu. Bisa-bisanya kamu malah pergi lagi dengan orang itu,” oceh Nirma.


“Tunggu, dari mana kamu tau aku pergi dengan Bang Pras. Ahhh, Reka sudah mengadu apa saja sama kamu?” Terdengar Nirma berdeham, “Bukan itu masalahnya di sini,” jawab Nirma.


“Memang itu sekarang masalahnya. Untuk apa dia ceritakan hal ini sama kamu? Atau dia ada di sana saat ini.” Aurel terkekeh, “Apa dia juga sampaikan kalau tadi Reka ajak aku makan malam romantis dalam ruangan private, terus dia sempat goda aku.”


Terdengar Nirma menghela nafasnya, Pras yang sedang mengemudi pun melakukan hal yang sama mendengar Aurel mengatakan hal itu.


“Tapi setelah itu, aku putus dengan Reka.”


“Hah, kamu putuskan Reka?” tanya Nirma.


“Iya, terserah sekarang kalian mau bagaimana. Yang jelas aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Reka. Aku tidak pulang malam ini,” ujar Aurel lalu mengakhiri panggilannya.


Aurel menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya. “Kenapa? Menyesal putus dengan Reka?” tanya Pras masih fokus pada jalanan di depan.


Refleks, Aurel memukul lengan Pras, “Apaan sih? Siapa juga yang menyesal. Aku hanya tidak menyangka bahwa rumah aku akan dijadikan pasangan tidak tau diri itu berbuat ....”


“Kamu tau kalau selama ini Nirma dan Reka mengkhianati kamu?” tanya Pras.


Aurel mengangguk. Pras perlahan menepikan mobil. Aurel bingung dengan keputusan Pras menepi, ia melihat sekeliling. “Aurel, serius kamu sudah tau kalau kamu dikhianati oleh Reka dan Nirma?”


“Seriuslah,” jawab Aurel. “Bahkan aku pernah melihat mereka ... ah sudahlah,” ujar Aurel.


“Tapi, kamu diam saja?” tanya Pras lagi dengan tubuh menghadap pada Aurel.


“Bang Pras, aku malas bahas ini. Ayo lanjut lagi, kamu mau bawa aku ke mana?”


“Sebentar, jawab dulu pertanyaan aku.”


Pras kembali melanjutkan perjalanan, mobil mereka memasuki daerah pantai. Pras menuju salah satu area, “Aku ingin tempat yang lebih sepi, yang tidak terlalu banyak orang,” ujar Aurel. Pras mengangguk, ia sudah paham dengan maksud Aurel.


Setelah mendapatkan kunci cottage yang menghadap ke arah pantai, Pras kembali ke mobil menuju cottage yang sudah ia pilih saat berada di resepsionis.


Aurel langsung duduk pada ayunan yang menghadap lepas pantai, angin laut yang membuat helaian rambutnya bebas bertebrangan. Pras mengeluarkan goody bag berisi pakaian Aurel yang tadi ia beli di butik sebelum bertemu Reka dan meletakannya di sofa yang ada dalam cottage.


“Bang Pras,” panggil Aurel.


Pras pun menghampiri Aurel, “Mengapa membawa aku ke sini?”


“Sepertinya kamu butuh tempat untuk istirahat. Bukan hanya fisik kamu tapi psikis juga,” jawab Pras.


Pras dan Aurel bercakap-cakap di halaman cottage sampai lewat tengah malam. Bungkus cemilan dan kaleng-kaleng soda kosong sudah Pras bereskan. Ia meminta Aurel untuk istirahat lebih dulu. Hanya ada satu kamar dalam cottage tersebut dan Aurel sudah terlelap di atas ranjang. Pras duduk ditepi ranjang memandang wajah damai Aurel yang sedang terlelap. Ia pun merebahkan dirinya di ranjang yang sama.


Keesokan hari, sinar matahari terlihat sudah menyapa. Aurel yang belum tersadar penuh mendengar deru ombak dan menyadari bahwa dia dan Pras berada di pinggir pantai. Merasakan sesuatu yang berat berada di atas pinggangnya, mengerjapkan kedua matanya dan melihat tangan kekar Pras memeluk pinggang ramping Aurel.


Aurel bermaksud bangun, saat akan memindahkan tangan Pras pria itu malah mengeratkan pelukannya. “Bang Pras,” panggil Aurel.


“Hmm.”


“Minggir dulu, aku mau ke toilet.”


Hari itu Aurel benar-benar gunakan untuk menghibur dirinya. Mengenakan kaos dan celana pendek yang Pras beli tidak jauh dari tempat mereka menginap, Aurel bermain air mengenakan ban karet. Berteriak saat dia terhantam ombak, saat ini tubuhnya sudah basah kuyup.


“Hey, jangan terlalu ke tengah,” teriak Pras saat ia menepi.


Merasa sudah cukup bermain di pantai, Aurel berjalan kembali ke cottage dengan kaki yang penuh pasir serta pakaian dan tubuhnya yang basah. “Sudah puas?” tanya Pras.


“Lain kali ke sini lagi ya, aku senang tidak banyak orang jadi bisa bebas.”


Pras berdecak, Aurel selalu mengajak kembali pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. “Sebentar lagi kita harus cek out, sebaiknya kamu cepat mandi. Pakaian ganti ada di kamar,” titah Pras.


Sebelum pulang, mereka mampir untuk makan siang. Selama perjalanan Aurel tertidur karena lelah. Pras fokus pada kemudi juga memikirkan bagaimana Aurel bisa menjalani hidup dengan teman yang sudah mengkhianatinya.


Menempuh perjalanan hampir tiga jam, kini mobil tersebut sudah terparkir di carport rumah Aurel. “Hei, putri tidur, bangunlah!” ujar Pras membangunkan Aurel. “Besok apa jadwalmu?” Aurel meregangkan otot tubuhnya setelah tertidur dengan posisi duduk sepanjang perjalanan. Lalu membuka ponselnya untuk mengecel jadwal.


“Ini,” ujar Aurel sambil memperlihatkan layar ponsel pada Pras. “Istirahatlah, besok pagi aku datang lagi,” titah Pras. Aurel mengangguk, Pras menahan Aurel yang sudah melepas seat beltnya dan akan keluar dari mobil. Mencondongkan tubuhnya, saat ini wajah mereka sangat dekat bahkan hembusan nafas keduanya sangat terasa. Aurel tau apa yang akan dilakukan Pras, dia pun tidak menolak saat bibir mereka bertemu.


Pras melummat bibir Aurel dengan lembut, menyesap atas dan bawah. Cukup lama sampai akhirnya Pras melepaskan pagutannya karena Aurel yang seperti kehabisan nafas, “Mulai hari ini, kamu milikku,” ucap Pras sambil menghapus jejak basah bibir Aurel dengan ibu jarinya.


“Aku tidak perduli, kamu akan menyembunyikan hubungan ini atau tidak. Yang jelas kita sama-sama saling menyukai, bukan seperti hubungan kamu sebelumnya.”


“You and I, will never say goodbye,” ucap Aurel lalu mengecup singkat bibir Pras. Kemudian mereka tertawa.


Tok Tok tok


Atensi keduanya berpindah pada jendela mobil di samping Aurel.