
Esok hari, Mia terbangun masih dalam tubuh Aurel. Ia pun sebenarnya masih menyukai dengan dirinya saat ini. Apa yang Aurel miliki adalah hal yang tidak Mia miliki di kehidupan nyatanya. Wajah cantik dan tubuh indah bak terpahat sempurna, kemewahan dan kepopuleran juga kekasih. Untuk yang terakhir itu perlu digaris bawahi. Mengingat ia belum pernah berpacaran sekalipun, kisah cintanya selalu kandas sebelum dimulai. Terakhir adalah dengan Bira.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Aurel berlama-lama di depan cermin. Bahkan tanpa make up pun ia sudah terlihat cantik. Mia yang belum lama berperan sebagai Aurel sampai hafal dan menguasai bagaimana memoles wajahnya.
Melangkah turun melewati anak tangga menuju ruang makan, Aurel terkejut melihat Reka dan Nirma sudah berada di sana sedang sarapan tanpa menunggunya. “Kamu kok udah ada di sini aja, perasaan ini masih pagi?” tanya Aurel.
Reka sempat bingung menjawab karena ia pikir akan pergi sebelum Aurel bangun. “Reka baru datang, dompetnya tertinggal di kamar mandi. Makanya dia buru-buru ke sini, khawatir kalau hilang di tempat lain,” jawab Nirma. “Iya, sayang,” ujar Reka. “Aku enggak bisa ngebayangin kalau ternyata dompet itu benar hilang, malas aku urus-urus lagi dokumennya.”
“Tapi kan, bisa telpon aja minta dicek ada dompet kamu atau enggak?”
Reka dan Nirma saling menatap dengan pertanyaan Aurel. “Sudahlah, mending kamu cepat duduk dan sarapan. Jadwal kamu sudah menunggu,” ujar Nirma.
“Nirma benar, kamu kok seperti yang enggak suka aku di sini ya?” tanya Reka sambil melipat kedua tangannya di dada. Aurel yang sudah duduk dan meraih gelas dihadapannya berkata, “Bukan tidak suka, aneh aja, tidak biasanya sepagi ini kamu sudah ada disini. Biasanya paling enggak mau ada jadwal pagi, tapi ini Cuma karena dompet bisa berubah. Tapi, bagus sih. Jadi kamu sekarang bisa terima job pagi hari.”
Setelah Reka pergi, tidak lama kemudian datanglah Ibu Nana guru vokal yang biasa melatih Aurel. Berada di ruangan latihan, dimana di sana terdapat piano juga gitar akustik yang bisa digunakan untuk mengiringi nyanyian Aurel.
...
Jika kau bilang cinta saja sudah cukup
Itu salah
Jika kau pikir sayang juga sudah cukup
Kau keliru
Coba sempatkan tuk lihat isi hatiku
Apakah diriku bahagia selama ini
Bisakah kau sedikit peka
Ku butuh waktu dan perhatian
(Rimar – Waktu dan Perhatian)
Bu Nana mengevaluasi nada-nada saat Aurel bernyanyi, khususnya saat nada rendah. Meminta Aurel kembali mengulang untuk lirik-lirik tertentu. Bahkan ada nada yang diulang beberapa kali, Nirma pun sampai ikut berdecak dan menegur Aurel.
“Kamu bisa seperti sekarang karena suara nyanyian kamu, jadi ikuti semua arahan Bu Nana. Kalau sumbang mana mungkin orang mau dengarkan suara kamu yang ada malah terganggu,” ujar Nirma. Aurel hanya menghela nafasnya.
Hampir dua jam Aurel berlatih vokal, kini Bu Nana pun sudah pergi. “Setelah ini kita harus ke butik untuk coba busana baru yang akan dipakai tampil minggu depan,” ungkap Nirma saat melihat jadwal Aurel. Pras sudah mempersiapkan mobil yang akan dipakai menuju lokasi.
“Nanti dulu dong, aku masih lelah.”
“Cuma nyanyi aja pakai lelah,” sahut Aurel.
Kini Aurel, Nirma dan Pras kembali berada dalam mobil menuju butik tempat Nirma biasa mengorder busana untuk Aurel gunakan saat tampil.
Tiba di butik, Nirma dan Aurel masuk lebih dulu. Ia disambut oleh manager butik, lalu menyerahkan beberapa jenis gaun khusus untuk penampilan Aurel. Aurel mencoba satu persatu gaun yang sudah dipesan oleh Nirma sebelumnya.
“Yang ini bisa dirubah sedikit lagi enggak?” tanya Aurel pada perwakilan butik yang menemani Aurel mencoba semua busana yang Nirma pilih. “Agak sedikit kebesaran ya?”
“Iya, aku kurang percaya diri deh, dengan bentuk baju yang kebesaran begini.” Rupanya apa yang disampaikan Aurel didengar oleh Nirma, “Enggak usah di rubah, ini semua sudah aku sesuaikan dengan ukuran kamu. Jadi, tidak mungkin kalau ada yang kebesaran atau kekecilan.
“Tapi ini buktinya,” ujar Aurel sambil memutar tubuhnya. “Itu pas kok ditubuh kamu, jangan dikecilkan lagi,” titah Nirma, membuat pramuniaga bingung pada kedua orang yang sedang berdebat itu.
Aurel semakin kesal pada Nirma, karena wanita itu semakin banyak larangan dan aturan pada hidup Aurel. Bahkan urusan busana, untuk hal yang mudah dan sepele saja harus dengan persetujuan Nirma.
Merasa semakin aneh dan tidak nyaman karena perlakukan Nirma, Aurel mencoba mengingat bagaimana alur dari cerita ini termasuk endingnya. Namun ia lupa entah karena sudah banyak novel yang ia baca atau memang secara otomatis ia akan lupa alurnya karena berada dalam cerita tersebut. “Arghhhh,” Aurel karena tidak berhasil mengingat bagaimana kelanjutan alur cerita ini. “Aku tidak boleh terus-terusan tertindas, makanya aku perlu tau alur cerita ini.”
________
jgn lupa jejaksnya ya