My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Jangan Banyak Tanya



“Jadi apa alasan yang ketiga?” tanya Aurel lagi.


Pras menggeser duduknya semakin dekat dengan Aurel, wajah mereka kini sangat dekat bahkan hembusan nafas keduanya sangat terasa. Manik mereka pun sedang saling menatap, Pras berusaha membuktikan sesuatu dari tatapan mata Aurel. “Alasan yang ketiga adalah karena aku mencintaimu.” 


Ucapan Pras barusan membuat Aurel tetiba diam seribu bahasa. Bahkan kini tidak ada suara dari keduanya, hening selama beberapa saat hanya tatapan mata mereka yang berbicara.


Oh, Tuhan, bagaimana ini? Aku, aku tertarik dengan pria ini. Tapi aku Mia, apa yang harus aku lakukan? Kalau aku terima, apa Aurel pun merasakan hal yang sama. Ahhh, kenapa jadi ribet begini.


Pras yang merasa ungkapan perasaannya tidak berguna dan hanya sia-sia karena ia sadar diri siapa dirinya. Apalagi tidak ada respon apapun dari Aurel setelah ungkapan cintanya. Menghela nafas, lalu berdiri hendak beranjak dari tempatnya saat ini.


Mia yang bimbang tersadar bahwa dia sudah membuat Pras kecewa karena mengabaikan pernyataan cinta Pras tanda menjawab ataupun meresponnya. Mencengkram lengan Pras untuk menahan pria itu, ia pun berdiri berhadapan dengan Pras. Kecupan mendarat di bibir Pras, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya?" tanya Pras.


Ahh, masa bodoh dengan perasaan Aurel, Pras pria baik dan selalu melindungiku, Aurel juga tentunya menyukai sosok Pras bukan, batin Mia.


"Hmm, bukankah aku pernah mengatakan kalau aku harus selesaikan dulu urusan aku dengan Reka. Bahkan Bang Pras juga menyarankan begitu."


"Jadi?" tanya Pras sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Iya, aku juga suka tapi ..." kalimat Aurel terjeda karena Pras mendekatkan tubuhnya lalu meraih tengkuk Aurel. Melummat bibir yang sering mengoceh bahkan memakinya jika gadis itu sedang kesal. Aurel membelakan kedua matanya.


My first kiss, batin Mia.


Karena belum berpengalaman dan terkejut dengan gerakan Pras yang tiba-tiba menciumnya, Aurel pun hanya bisa diam menerima dan pasrah terhadap apa yang Pras baru saja lakukan.  Pras mengusak rambut Aurel setelah melepaskan pagutannya.


"Bang Pras, aku ..."


"Sttt, aku akan menunggu sampai kamu putus dengan Reka. Segera!" Titahnya. "Tapi, jaga jarak dengan pria itu." Aurel menganggukan kepalanya. "Istirahatlah, nanti sore kamu harus ke stasiun TV."


Sore hari, sesuai jadwal dan yang disampaikan oleh Nirma bahwa Aurel sore ini harus berada di Stasiun TVX. Kini, Aurel baru saja tiba di lokasi bersama Pras. Berjalan disamping Aurel membawakan tasnya, menuju ruangan yang sudah Nirma sampaikan melalui pesan.


“Intinya, ini semacam klarifikasi tentang insiden kamu terjatuh saat turun dari panggung. Seperti konferensi pers tapi disisipkan dalam acara infotainment. Makanya waktu kamu di Rumah Sakit kita keep agar tidak ada informasi ke luar, karena permintaan dari Stasiun TV,” jelas Nirma pada Aurel saat mereka sudah berada di ruang tunggu.


“Aku sudah siapkan pakaian yang akan kamu kenakan, MUA barusan berkabar baru saja tiba,” ucap Nirma lagi.


“Tunggu-tunggu, ada yang aneh di sini,” sahut Aurel. Pras yang tadinya tidak menyimak obrolan Nirma dan Aurel langsung memusatkan perhatiannya.


“Aneh, bagaimana?” tanya Nirma.


“Posisi aku adalah korban, Stasiun TV tidak ingin aku speak up apapun terkait insiden itu. Bahkan klarifikasi pun harus di acaranya sendiri, seharusnya ada permintaan maaf resmi dari pihak mereka ke aku dong,” tutur Aurel.


Aurel menunggu jawaban Nirma, karena sebagai asisten dan managernya Nirma yang lebih tau detail kerjasama termasuk juga kegiatan saat ini. “Mereka sudah undang aku untuk membicarakan hal ini.”


Raut wajah Pras juga terlihat kesal sama dengan Aurel, “Karena kamu sedang di Rumah sakit,” jawab Nirma. “Tapi kamu tidak bahas ini denganku. Oh, God. Nirma, ada apa denganmu?”


Gesture tubuh Nirma terlihat bahwa wanita itu merasa bersalah dan ia menyadarinya. “Mungkin aku lupa.”


“Oke, aku anggap kamu amnesia sesaat jadi tidak bisa menyampaikan hal penting ini ke aku. Mereka akan memberikan kompensasi padaku selaku korban dan sebagai ganti agar aku tidak bicara apapun pada wartawan. Tidak mungkin kamu lupa dengan ini, aku tidak mendapatkan notifikasi pembayaran apapun selama aku vacum karena cedera.” Aurel melipat kedua tangannya di dada menunggu penjelasan dari Nirma.


“Mereka pasti bayar dengan uang cash, karena tidak mungkin pembayaran tersebut dengan narasi uang tutup mulut Aurel,” sahut Pras sambil terkekeh, “dan nominalnya pasti besar.”


“Nirma, aku menunggu,” ujar Aurel.


“Oke, aku memang terima uang itu. Cash,” ucapnya.


“How much?”


Nirma berdecak dan menarik nafas panjang sebelum ia menjawab. “Lima ratus juta,” sahutnya.


“Woww,” ujar Pras.


Aurel menganggukkan kepalanya, “Setengah milyar dan tidak mungkin kamu lupa dengan jumlah uang itu. Karena tidak akan muat dalam tas tangan kamu Nirma atau memang kamu kembali amnesia,” tutur Aurel.


“Uangnya diambil Reka, kamu tanyalah sendiri. Kalian ‘kan pasangan kekasih.” Nirma benar-benar terpojok, kesalahannya fatal hingga ia harus berkata jujur terkait hal ini.


Aurel menggelengkan kepalanya, “Diambil Reka? Kalau nanti Reka minta semua uang direkeningku apa kamu akan berikan juga? Bahkan tanpa memberitahuku juga? Kalian ini aneh, kalaupun status aku saat ini masih kekasih Reka bukan berarti kamu bisa seenaknya memberikan milikku yang bukan hak kamu kepada orang lain.”


“Hai, selamat sore. Kita langsung touch up aja ya,” ujar salah satu MUA khusus Aurel yang baru saja membuka pintu dan membuat ketiga orang di ruangan itu meredakan emosi mereka.


“Urusan kita belum selesai,” ujar Aurel lalu beranjak duduk di depan meja rias.


Acara infotainment yang menghadirkan Aurel untuk klarifikasi terkait insiden yang menimpanya setelah bernanyi di acara musik stasiun TV itu baru saja selesai. Saat ini Aurel, pembawa acara dan beberapa orang penting dari Stasiun TV sedang berfoto untuk berita media online dan cetak.


Pras yang mengawasi Aurel dari sisi stage, dimana disampingnya juga terdapat Nirma. “Sepertinya Aurel akan mulai tidak percaya dengan kamu, kesalahan kamu ini cukup fatal,” ucap Pras tanpa menoleh pada Nirma.


“Tidak usah ikut campur, kerjakan saja tugasmu. Kalau ada apa-apa dengan Aurel berarti kamu bodoh dan tidak becus,” sahut Nirma juga tanpa menoleh pada Pras.


Pras tersenyum sinis, “Kamu tau sendiri bagaimana cara kerjaku, merekrutku pun karena kamu tau bagaimana kemampuan aku melindungi orang. Atau memang sudah ada rencana di balik semua ini.”  


Kini Nirma dan Pras saling tatap karena kalimat Pras barusan. “Apa maksudmu?” tanya Nirma. Pras hanya mengedikkan bahunya.


“Sebaiknya kamu fokuskan saja pada pekerjaanmu, jangan terlalu kepo atau banyak tanya. Biasanya orang yang seperti itu akan mudah celaka.”