
“Tadi kita sedang mencari buku novel, yang kisahnya ...”
“Keluarlah,” titah Pras. Aurel pun keluar dari mobil. Ia menatap pemandangan di hadapannya. "Ini," ucap Aurel lalu menoleh pada Pras. "Nikmatilah, lupakan sejenak beban hidupmu," titah Pras.
Aurel berjalan mendekati danau, danau dengan air yang terlihat sangat tenang. Danau yang memiliki daya pikat ketenangan. Tidak banyak pengunjung karena wilayah itu bukan tempat wisata. "Aaaaaaa," teriak Aurel seakan ingin melepaskan beban pikirannya.
Ia berjalan menjauh lalu kembali sambil berlari, bahkan sesekali ia melompat dan berteriak. Pras hanya tersenyum melihat kelakuan Aurel. Semenjak ia dikenal banyak orang, apa yang dilakukan menjadi sorotan. Tidak bisa bebas pergi kemana pun dan melakukan apapun seperti dulu.
Tempat Aurel berada saat ini membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri, tidak perlu menutupi identitasnya dan bisa bicara, tertawa dan berteriak seenaknya. "Kamu suka?" tanya Pras pada Aurel yang dijawab dengan anggukan. Senyuman tidak lepas dari wajahnya, "Kalau aku membawamu ke pantai atau pegunungan, sudah pasti tidak bisa begini. Banyak yang mengenali. Tapi di sini, tidak ada yang perduli siapa kamu," ungkap Pras.
Aurel dan Pras duduk pada kursi panjang yang terbuat dari kayu. Aurel sesekali tertawa karena candaan yang dilontarkan Pras, bahkan ia memukuli lengan Pras karena candaannya. Aurel memandang ke depan dalam diam, Pras menoleh pada Aurel.
Sepertinya ia teringat masalahnya lagi.
Pras merangkul bahu Aurel dan menarik tubuh Aurel agar semakin dekat dengannya, ternyata Aurel tidak menolak bahkan merebahkan kepalanya pada dada Pras. “Bang Pras,” panggil Aurel.
“Hmm.”
“Bolehkah kita merubah takdir?” tanya Aurel membuat Pras menoleh pada Aurel. “Merubah takdir? Hanya Tuhan yang tau jawaban itu.”
Tapi aku tau kisah hidup Aurel akan berakhir tragis, bagaimana bisa aku diam saja. Lalu bagaimana nasibku nanti.
Aurel masih dengan posisinya dan tetap menatap ke depan.
Tapi ini adalah novel, aku bisa merubahnya. Aku bisa merubah alur dan akhir kisah ini, Aurel tidak boleh berakhir dengan kejam seperti itu dan aku harus mencari tau dan mencari bukti orang yang sudah berniat buruk pada Aurel. Tugasku saat ini adalah mengingat jelas kelanjutan cerita ini.
Aurel tiba-tiba berdiri membuat Pras terkejut, “SEMANGAT AUREL, KAMU BISA!” teriak Aurel. “Apa yang membuatmu seputus asa tadi?” tanya Pras ikut berdiri, Aurel menoleh pada Pras dan tersenyum. “Hehe, rahasia,” ujar Aurel dengan wajah manja dan menggoda.
Kini posisi mereka saling berhadapan, Pras menatap wajah Aurel tanpa mengedip membuat Aurel khawatir saat wajah mereka semakin dekat. “Bang Pras mau ngapain?” tanya Aurel memundurkan punggungnya dan Pras refleks mengalungkan tangannya menahan punggung Aurel lalu kembali menegakkan tubuh itu.
“Janji ya?”
Pras mengangguk.
Keduanya kini sudah berada dalam mobil, Pras fokus pada kemudinya saat Aurel membuka tasnya yang tadi memang ia tinggal di mobil. Mengecek ponselnya dan benar saja apa yang Pras ucapkan, banyak panggilan tak terjawab dari Nirma.
“Hmm, sampai rumah pasti Nirma ceramah deh.” Aurel tidak menghubungi kembali atau membaca pesan-pesan yang Nirma kirim. Ia hanya mengirim sebuah pesan,
Aku sudah arah pulang, Ponsel tadi tertinggal di mobil.
Namun pesan itu tidak dibaca Nirma, dia masih asyik dengan Reka. Wacana Reka akan pulang ternyata menguap begitu saja, saat ini pria yang masih berstatus sebagai kekasih Aurel namun sebenarnya Nirma dan Reka juga berhubungan di belakang Aurel.
“Reka, geser. Aku takut kalau Aurel tiba-tiba datang dan melihat kita begini,” ujar Nirma. Mereka berdua sedang duduk pada sofa dan menatap layar TV, namun Nirma masih berada dalam rangkulan Reka.
“Kemana sih Aurel, sudah malam begini,” ujar Nirma. “Biarkan saja, justru dengan Aurel pergi lama kita bisa berduaan begini,” sahut Reka sambil memainkan rambut Nirma.
“Tapi aku khawatir, tiba-tiba besok ada berita tidak baik tentang Aurel. Bagaimana jika tadi ia berbuat semaunya dan ada yang mengabadikan moment itu.”
“Sudahlah Nirma, Aurel sudah dewasa dan juga ia ditemani Pras,” jelas Reka pada Nirma. Nirma menoleh pada Reka, “Menurutmu, apa mungkin Aurel dan Pras jatuh cinta? Mereka ke mana-mana selalu bersama,” ungkap Nirma. “Pras itu memang dibayar untuk mengawal kemana pun Aurel pergi, pasti bersama terus. Kamu ini aneh deh,” ujar Reka sambil mencubit hidung Nirma.
Reka akhirnya memutuskan pulang sebelum Aurel tiba, tanpa mereka tau mobil yang membawa Pras dan Aurel sudah terparkir di carport tepat disebelah mobil Reka.
“Ada Reka?” tanya Aurel pada Pras, “Sepertinya begitu,” jawab Pras. Pras berjalan dibelakang Aurel, ia khawatir jika kedua orang di dalam masih dalam posisi yang tidak layak dilihat. Aurel membuka pintu, ia dan Pras menyaksikan Reka dan Nirma yang sedang berpelukan.
________
Jangan lupa jejaks ya 🥰