
Esok hari, Aurel masih berada di rumah sakit, hanya bisa berbaring karena belum bisa beraktifitas. Ia merasakan bosan, televisi dan ponsel sejak kemarin ikut membunuh sepinya tetap tidak dapat menghilangkan rasa bosan.
Aurel menghela nafasnya, dalam pikirannya terbersit ide untuk membuktikan kebenaran yang Pras sampaikan. Membuktikan apakah Reka benar-benar menyukainya atau tidak. Aurel pun menghubungi Reka. Terdengar nada tunggu panggilan, lama tidak dijawab. Aurel merasa kesal, bahkan sebagai kekasih Reka tidak menghubunginya setelah insiden kemarin.
Aurel pun menghububgi Nirma namun tidak ada jawaban. Kembali menghubungi Reka, kali ini pria itu menjawabnya.
"Halo," ucap suara diujung sana.
"Reka," sahut Aurel, "kamu enggak mau jenguk aku?"
"Bukan tidak mau, tapi aku sibuk. Kamu istirahat aja, ada Pras ‘kan yang temani kamu?"
Aurel menghela nafasnya, “Tapi kamu kekasih aku bukan Pras,” jawab Aurel, tidak lama kemudian obrolan mereka berakhir.
Aurel menatap langit-langit kamar rawat inapnya, dibalik kepopulerannya sebagai idola dia kesepian. Pras yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Aurel menatap nampan yang berisi sarapan Aurel masih belum tersentuh, sedangkan pasiennya malah sedang melamun.
"Makanan kamu masih utuh?" Pertanyaan Pras mengejutkan Aurel yang langsung menoleh ke arahnya. "Aku tidak lapar," jawab Aurel kembali menatap langit-langit kamar. "Bagaimana bisa cepat sembuh, kalau tidak mau makan," sahut Pras.
"Tapi yang sakit kaki aku, bukan perut."
Pras duduk di kursi yang ada di samping ranjang Aurel, "Kamu tau, kalau perut kita yang mengolah apa yang kamu makan dan minum menjadi sumber energi dan meningkatkan imun. Jadi bukan karena perut kamu oke lalu mengabaikan makan, bisa jadi dengan imun mempercepat penyembuhan."
Aurel menggerakan tubuhnya menjadi posisi duduk, lalu meraih nampan berisi jatah makannya. Mulai menyuapkan makanan sambil menatap Pras. "Puas?" tanya Aurel. Pras hanya terkekeh.
Di tempat berbeda, Nirma selaku asisten Aurel tidak menemani di rumah sakit. Bahkan ia mengatakan akan kembali ke rumah sakit esok hari namun malah pergi menuju pelayanan asuransi. Yang lebih konyol, Reka malah memilih menemani Nirma sedangkan Aurel yang statusnya masih kekasih dia abaikan. Merencanakan sesuatu yang dapat menguntungkan mereka berdua dengan Aurel sebagai korban.
Berada di salah satu meja pelayanan pendaftaran asuransi, Nirma mendengarkan penjelasan petugas dengan serius. "Pokoknya saya akan ambil program asuransi jiwa juga kecelakaan," sahut Nirma.
Petugas menyerahkan lembaran firmulir, "Silahkan di isi," titahnya. Nirma mengatakan bahwa asuransi tersebut bukan untuk dirinya. Sudah tiga perusahaan asuransi ia kunjungi dan mendapatkan penjelasan mengenai layanannya. "Pokoknya kita harus berhasil membuat Aurel nenandatangani berkas pendaftaran ini. Untuk memudahkan rencana kita nanti. Jangan sampai semua sia-sia," ungkap Reka.
Nirma menganggukkan kepalanya. Keduanya saling tatap saat ponsel Reka berdering dan nama Aurel muncul di layar. Reka tidak berniat menjawab panggilan Aurel, dengan alasan sibuk dia akan meresponnya nanti. Berikutnya giliran ponsel Nirma yang berdering, mau tidak mau dia harus menjawabnya.
"Halo." Suara Aurel diujung sana.
"Hmm," jawab Nirma.
"Kamu jangan manja, dengar saja apa kata dokter karena itu yang terbaik untuk kamu."
Perdebatan itu akhirnya berakhir saat Aurel mengakhiri panggilannya.
Aurel dan Nirma dekat sejak mereka kecil. Keduanya besar di sebuah panti asuhan, sama-sama tidak memiliki orangtua. Namun saat mereka dewasa, takdir membawa mereka kembali bertemu dengan jalan yang berbeda.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Aurel pada Nirma, saat keduanya berjalan pulang menuju panti asuhan. Mereka baru saja menyelesaikan ujian sekolahnya dan tinggal menunggu informasi kelulusan.
"Entahlah, yang pasti mencari kerja. Ibu Panti juga mengharapkan kita membantunya menghidupi panti ini," jawab Nirma.
Meskipun besar dan hidup di tempat yang sama namun sejak dulu Aurel selalu lebih unggul dari Nirma dan ternyata itu menjadi beban bagi Nirma hingga memupuk kebencian. Dunia seakan selalu berpihak pada Aurel, bahkan laki-laki yang ia sukai saat sekolah pun ternyata menyukai Aurel.
Berbeda dengan Nirma, Aurel tidak pernah merasa bersaing hingga selalu selangkah lebih unggul dibandingkan Nirma. Menurutnya semua manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, termasuk dirinya dan Nirma.
"Kamu sendiri, bagaimana?" tanya Nirma pada Aurel. "Ya mau apalagi, pasti sama dengan kamu cari uang yang banyak," sahut Aurel, "mana mungkin aku jawab, kuliah atau duduk manis dan manja. Kita bukan anak-anak yang memiliki keberuntungan seperti itu."
Seperti yang Aurel dan Nirma rencanakan, setelah lulus mereka akan mencari nafkah. Nirma yang langsung ikut dengan kakak angkat mereka, bekerja sebagai pramuniaga. Tidak jauh berbeda dengan Aurel, dia pun bekerja seperti Nirma hanya ditempat yang berbeda. Memiliki bakat bernanyi, Aurel mengikuti audisi pencarian bakat penyanyi baru.
Ternyata perjuangan Aurel tidak sia-sia, mulai dari audisi, eliminasi dan kegiatan workshop sampai akhirnya masuk ke dalam tahap voting. Karena Aurel besar di Panti Asuhan dia tidak memiliki keluarga besar dan lingkungan yang mengenal dekat dengannya, dia hanya masuk sebagai lima besar bukan juara sesungguhnya.
Namun setelah itu, banyak tawaran yang Aurel terima. Selain bernyanyi off air, cover lagu dia juga mendapat kesempatan single dari salah satu pencipta lagu yang juga juri dari ajang pencarian bakat yang ia ikuti.
Dengan semakin banyak tawaran dan kegiatan yang dia ikuti, Aurel membutuhkan orang yang bisa mengatur jadwal dan membantunya dalam setiap penampilan. Ada agency yang menawarkannya manager atau asisten, Aurel lebih memilih orang yang sudah ia kenal agar lebih leluasa saat bekerja. Ia teringat Nirma, saudara dan teman saat di panti dan di sekolah. Awalnya Nirma menolak, karena merasa tidak sanggup dan tidak mengerti dunia hiburan. Namun setelah dibujuk akhirnya ia pun bersedia.
Ternyata ketulusan Aurel mengajak Nirma bekerja dengannya membuat Nirma semakin besar rasa kebenciannya pada Aurel. Menurut Nirma, Aurel semakin sulit terkalahkan. Sedangkan Aurel merasa bersyukur dengan ketercapaiannya saat ini, mudah untuknya membantu Panti Asuhan yang sudah membesarkannya.
“Apa kata Aurel?” tanya Reka.
“Biasa, anak manja. Dia mau aku segera ke rumah sakit untuk urus kepulangannya.” Reka berdecak, “Biarkan saja dulu dia di rumah sakit, paling tidak sampai besok. Kita harus segera menyusun rencana yang matang,” ujar Reka pada Nirma yang dijawab anggukan oleh wanita itu. “Setelah ini kamu ke Rumah sakit, serahkan formulir itu, pastikan Aurel menandatanganinya. Setelah itu kamu pulang, kita bertemu di rumah,” titah Reka. “Bukan hanya Aurel yang harus kau layani, tapi juga aku,” ujar Reka pada Nirma.