
Aurel sudah berada di ranjangnya, lengkap dengan piyama tidur yang ia kenakan. Namun ia belum dapat memejamkan kedua matanya. Kepalanya dipaksa berfikir mengingat kelanjutan alur kisah ini. “Ingat, kamu harus ingat. Please demi Mia dan Aurel kamu harus ingat kelanjutannya,” ujar Aurel bermonolog.
“Reka, sepertinya kamu tidak mencintaiku. Kalau benar-benar cinta, kamu tidak akan acuh dan aku tidak melihat kau menunjukkan rasa cintamu.”
Pagi ini, Aurel terbangun dari tidurnya langsung duduk.”Aku ingat, aku ingat judul novel ini,” ujar Aurel bermonolog, “judulnya novel ini adalah ‘Mendadak Famous’, Aurel akan berakhir tragis walaupun sepanjang perjalanan karirnya semakin cemerlang. Aku harus pastikan Aurel tidak akan mengalami hal itu, aku tidak akan mengikuti alur cerita ini dan mencari tau siapa yang berniat jahat mencelakainya.”
Aurel bergabung di meja makan setelah kegiatan rutin paginya, “Kalau mau sarapan, lima menit. Kita harus segera berangkat,” ujar Nirma. “Semua perlengkapan kamu sudah masuk mobil.”
Aurel hanya mengangguk, ia menikmati sarapannya sambil menatap Nirma yang duduk berhadapan dengannya di meja makan. Wanita itu sedang fokus pada ponselnya sambil senyam senyum. Aurel menduga bahwa Nirma berbalas pesan dengan seorang pria karena tidak mungkin hanya teman bisa membuat wanita itu bahagia.
Sejak kapan dia memiliki kekasih.
Aurel pun akhirnya membuka ponselnya, berharap akan ada pesan yang dikirim oleh Reka walau hanya sekedar ucapan selamat pagi. Namun room chatnya dengan Reka tidak menemukan hal itu, yang membuat Aurel heran adalah Reka saat ini sedang online tapi tidak menghubunginya.
“Ayo berangkat,” ajak Nirma mengejutkan Aurel yang sedang memandangi layar ponselnya.
Berada dalam mobil yang dikemudikan oleh Pras, menuju lokasi Aurel tampil. Acara musik salah satu stasiun TV yang mana dilakukan secara live dengan dua lokasi. Di dalam studio dan panggung berada di outdoor dengan lokasi yang berpindah-pindah, Aurel akan tampil pada panggung outdoor.
Mobil yang membawa Aurel sudah memasuki lokasi acara, penonton sudah banyak bahkan perjalanan menuju lokasi sudah macet dan sesak. Diantarkan oleh salah satu crew menuju ruangan tempat Aurel bersiap. Di sana telah menunggu dua orang make up artist yang memang khusus Nirma siapkan untuk memantaskan penampilan Aurel.
Kini Aurel sudah siap tampil, bahkan salah satu crew sudah memanggil untuk bersiap. Berjalan didampingi crew acara, Nirma dan Pras, penonton yang melihat Aurel sudah naik ke stage pun bersorak. Karena saat ini sedang live scene studio, Aurel dan band sedang bersiap. Penonton sudah tidak sabar menunggu penampilan Aurel, mereka berteriak menyebut nama Aurel dan bersorak. Aurel hanya melambaikan tangan sambil tersenyum.
Semenjak Mia berada di tubuh Aurel, penampilan kali membuatnya gugup. Biasanya ia hanya diminta lip sync namun saat ini dia akan bernyanyi live. Sebelum bertransmigrasi ke kisah Aurel Mia memang memiliki bakat suara yang indah walaupun tidak menjadikan menyanyi sebagai profesi. Tapi sebagai announcer dia diharuskan memiliki suara yang enak didengar, atas dasar itulah ia diterima sebagai seorang announcer.
Bakat Mia yang ia bawa dan bakat alami Aurel tidak membuat ia kesulitan dalam menjalankan profesi Aurel. Seperti saat ini, dua lagu sudah Aurel nyanyikan, penonton pun ikut bernyanyi. Riuh tepuk tangan dan sorak saat Aurel menunduk, “Terima kasih,” ujarnya sambil melambaikan kedua tangannya sebelum ia meninggalkan stage.
Sebelum menuruni tangga stage, Aurel menoleh kembali ke arah penonton. Kilasan lembar demi lembar buku novel terbayang kembali.
Aurel yang harus di bawa ke rumah sakit karena insiden yang terjadi di panggung setelah performance.
Tunggu, berarti aku akan mengalami kecelakaan. Petunjuknya, mengapa suasana, gambaran stage, bahkan judul lagu yang aku nyanyikan sama dengan situasi saat ini. Apa mungkin ...
Bruk
“AUREL!!!”
“Mbak Aurel.”
“Minggir, kasih jalan.”
“Aurel, are you okey?” tanya Pras. Aurel merasakan tidak nyaman pada tulang ekornya juga sakit pada kakinya. Pras membuka jacketnya dan menutupi kedua pahanya, karena saat ini Aurel mengenakan dress selutut otomatis kedua pahanya terekspos saat ia duduk. Dikelilingi beberapa orang baik crew, sesama artis dan entahlah ia tidak kenal, “Kamu bisa bangun? Aku bantu,” ujar Pras. Perlahan Aurel berdiri dan dia pun berteriak membuat Pras kembali mendudukan Aurel.
“Siapkan ambulance,” titah Pras entah pada siapa. Tidak lama kemudian Nirma datang, “Pras, ini gimana ceritanya?” tanya Nirma.
“Kecelakaan, mana ada pakai cerita. Kalau mau tau kenapa bisa begini, tanya bagian property,” sahut Pras. “Bang, ambulance sudah siap,” ucap salah satu crew pada Pras. Aurel pun di gendong Pras ala bridal style, menuju ambulance yang sudah siap membawa Aurel ke rumah sakit.
_________
Yuhuuuu, dukung terus dengan meninggalkan jejak ya. Sambil menunggu up, silahkan kunjungi karya author yang lain, semoga sukak 😁😁