
“Nirma ke mana?” tanya Aurel, menyadarkan Pras yang tadi teringat kembali proses kejadian yang menimpa Aurel.
Pras duduk di kursi persis di samping ranjang Aurel. “Tidak ada.”
“Sedang ambil perlengkapan aku?” tanya Aurel lagi.
Pras menggelengkan kepalanya.
“Terus?”
Pras menatap Aurel, “Owh, apa jangan-jangan dia sedang bersama Reka?”
Pras menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Aurel, “Mungkin. Yang jelas setelah insiden itu, aku bawa kamu ke rumah sakit. Tidak lama dia menyusul, kami menunggu di depan UGD. Ada informasi dari lokasi kejadian, polisi sementara menutup akses TKP. Diduga ada unsur kesengajaan, setelah itu aku tidak melihat Nirma sampai sekarang.”
Tentu saja Nirma saat ini sedang bersama Reka, mereka berdua pasti sedang memikirkan bagaimana lepas dari masalah ini, batin Aurel.
Aurel menghela nafasnya. “Aurel,” panggil Pras. Membuat gadis itu menoleh. “Kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk,” ucapnya.
Aurel menyimak apa yang disampaikan Pras. “Kejadian mobil yang hampir menabrak kamu juga kemungkinan ada unsur kesengajaan. Sepertinya kedua insiden ini saling berkaitan, dengan perintah dari orang yang sama.”
“Orang terdekat dengan aku?”
“Mungkin.”
Kamu tidak akan bisa mengelak Nirma, walaupun ada perbedaan kejadian dengan novel yang sudah tamat aku baca. Aku yang perlahan merubah alurnya tetapi tidak bisa merubah karakter tokohnya, batin Aurel.
Dua hari kemudian Aurel sudah diperbolehkan pulang. Dia disibukkan dengan pemanggilan dirinya sebagai saksi dan korban kejadian. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari aparat terkait. Titik terang sudah ditemukan. Petugas yang dibayar untuk membuat peralatan jatuh saat Aurel tampil sudah ditangkap bahkan sudah bersaksi mengenai siapa yang menyuruhnya.
Sementara Aurel pindah tinggal di apartement, karena rumah yang dia tinggali saat ini dalam pemeriksaan aparat untuk mencari barang bukti lain. Sudah ditetapkan tersangkanya adalah Reka. Nirma saat ini berstatus saksi dan belum hadir untuk memberikan kesaksian. Kedua orang itu menghilang dan dalam pencarian.
Aurel yang sudah kembali beraktifitas dengan asisten baru dan Pras yang masih setia melindunginya. Keduanya masih diliputi kekhawatiran karena Reka dan Nirma belum ditemukan. Artinya bisa saja, mereka gelap mata dan kembali berniat menyakiti Aurel.
“Setelah ini kamu boleh istirahat. Sesuai arahan Pras kalau jadwal kamu sementara tidak terlalu padat, besok pun sudah aku kosongkan. Jadi kamu free,” ujar asisten Aurel yang baru.
“Oke.”
Aurel saat ini berada dalam mobil yang dikemudikan Pras menuju apartement. Dia kembali melamun membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Mengingat kisah asli dari novel berakhir saat Aurel tewas. Juga memikirkan bagaimana dia bisa kembali ke dunia nyata yaitu tubuh Mia.
Atau aku di dunia nyata sudah meninggal, jadi aku berpindah ke kisah ini. Huft, sungguh aku ingin kembali ke tubuh ku. Ya Tuhan, aku akan tetap semangat dan berusaha tidak mengeluh apalagi putus asa jika aku bisa kembali ke tubuhku sendiri.
“Aurel,” panggil Pras sambil mengusap puncak kepala Aurel.
“Iya.”
“Melamun lagi?”
“Tidak Bang, hanya ada hal yang aku pikirkan.”
Saat mobil berhenti di lampu merah, Pras menoleh. “Tentang apa?”
“Hm, bagaimana jika aku bukanlah aku?” tanya Aurel.
Pras mengernyitkan dahinya, dia mencoba berfikir maksud dari pertanyaan Aurel. “Lupakan, Bang. Aku hanya bercanda,” sahut Aurel.
“Istirahatlah, malam ini aku tidak pulang.”
Karena asisten Aurel tidak mendampingi dua puluh empat jam, maka untuk saat-saat tertentu Pras akan menemani Aurel bahkan tidak pulang. Tentu saja mereka profesional, meskipun memiliki hubungan dan perasaan yang sama tetapi tidak mencampur adukkan dengan pekerjaan.
Pras mencoba memejamkan matanya, tetapi sulit. Tadi sore dia mendapatkan kabar jika Reka dan Nirma hampir tertangkap. Tempat persembunyian Reka dan Nirma sudah ditemukan tapi berhasil melarikan diri.
Pras baru bisa memejamkan matanya menjelang pagi. Aurel tidak tega membangunkan, padahal dia akan pergi ke rooftop karena ada seseorang yang menunggu di sana. Mengaku sebagai pimpinan label musik dan akan merekrut Aurel untuk ikut bergabung mengeluarkan single atau album.
Aurel keluar dari apartemennya dan menggunakan lift untuk menuju lantai paling atas. Tanpa berfikir jika saat ini bisa saja yang menghubungi adalah orang jahat yang bermaksud menjebak Aurel.
Sesampai di rooftop, Aurel menatap sekeliling tidak menemukan siapapun di sana. Ponsel yang sejak tadi dia genggam, saat ini terhubung pada kontak orang yang sebelumnya menghubungi Aurel.
Terdengar suara tepukan tangan.
Aurel menoleh ke arah suara, “Reka, Nirma,” ucap Aurel dengan raut wajah terkejut. Tidak menyangka jika kedua orang ini berani menemuinya. Jangan-jangan pria yang mengaku sebagai pimpinan label musik yang akan merekrutnya ini adalah Reka.
Reka tertawa, “Aku tidak mengira jika kamu bisa sehebat ini. Dua kali selamat dari ide kami berdua. Tapi itu membuatku kesal,” teriak Reka.
“Ini semua tidak akan terjadi, kalau kamu sebelumnya melaksanakan apa yang diperintahkan Nirma,” tegas Reka.
“Lalu apa untungnya untuk aku mengikuti kemaunan Nirma? Sedangkan kalian sudah merencanakan dengan matang. Mencelakai aku lalu mengambil alih semua aset.”
Reka tidak menyangka jika Aurel mengetahui apa yang mereka rencanakan.
“Dan kamu Nirma, aku tidak mengerti kenapa kamu bisa jadi begini. Mengikuti Reka menjadi orang jahat,” tutur Aurel.
“Aku tidak akan seputus asa ini kalau kamu tidak lebih baik dari aku. Kamu itu sok, selalu berlagak hebat dan ....”
Suara Nirma tercekat, dia berdeham untuk menetralkan suaranya. “Kita tidak usah banyak basa basi, aku tidak perduli jika harus mendekam di balik jeruji asal kamu tidak selamat.” Nirma menghampiri Aurel menarik tangannya lalu menyeret hingga tepi bangunan.
“Lepas!” teriak Aurel.
“Tidak akan sayang, aku akan buat kamu terbang dari sini. Bukankah kamu menyukai rooftop. Coba lihat ini, indah bukan?”
Tangan kiri Nirma memegang erat kedua tangan Aurel sedangkan tangan kananya menjambak rambut agar wajah Aurel menatap ke bawah. Pemandangan yang sangat mengerikan, jika membayangkan tubuhnya terlempar dari sini.
“Nirma, lepaskan aku. Lebih baik kamu menyerahkan diri dan mengakui semua. Hukuman kamu akan lebih ringan dibandingkan kamu akan ditangkap setelah ini.”
Nirma terbahak, “Aku tidak masalah, yang penting kamu mati!”
Nirma menarik kembali tubuh Aurel, berbarengan dengan kehadiran orang-orang di sana.
“Berhenti!”
Nirma dan Reka menoleh ke arah suara. Ada Pras dan beberapa orang berseragam aparat penegak hukum mengarahkan senjatanya ke arah mereka. “Lepaskan Nona Aurel,” perintah salah satu anggota.
“Lepas, Nirma lepaskan aku,” ujar Aurel. Dia berontak karena rambut yang masih berada dalam jambakan Nirma.
“Bagaimana kalau kita terjun bersama?”