My Bodyguard Is My Doctor

My Bodyguard Is My Doctor
Semua Akan Baik-baik Saja



Ini ‘kan waktu saat Aurel kecelakaan.


Mia mengingat lembaran-lembaran yang pernah ia baca, bab yang menceritakan kecelakaan Aurel.


Saat kejadian itu, Aurel selamat karena memang ada yang menyelamatkannya. Tapi tidak jelas siapa yang menolongnya dan kali ini apakah Aurel akan selamat karena aku sedikit demi sedikit telah merubah alur cerita ini. 


Pras sudah keluar dari kamar Aurel, tetapi gadis itu masih dalam lamunannya. Bagaimana jika kecelakaan itu benar terjadi dan aku kembali terluka?


Mia merebahkan diri diranjang Aurel, alih-alih merefresh diri ia malah terus memikirkan cara agar tidak sampai ada insiden kecelakaan.


Tidak mungkin aku membatalkan acara hari ini. Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Batin Mia.


Mia lalu terbangun duduk, "Apa aku sampaikan pada Bang Pras," ujar Mia bermonolog. "Jangan, nanti dia malah berfikir aku gila. Lalu mundur dan membatalkan perasaannya.


Pras yang melewati kamar Nirma menuju pintu samping, mendengar pembicaraan Nirma dan Reka. "Kita eksekusi hari ini, buat Aurel berada di jalan bagaimana pun caranya. Akan ada mobil yang mengikuti kalian yang siap beraksi kapan pun," tutur Reka.


Namun yang didengar Pras tidak utuh, ia hanya mendengar eksekusi dan jalan raya. Sambil bergegas menjauh dari kamar Nirma khawatir kepergok dia sedang menguping, Pras memikirkan maksud potongan kata yang didengarnya.  Reka meninggalkan rumah Aurel untuk menjalankan misinya.


Setelah makan siang, Aurel sudah berada di mobil menunggu Nirma. Pras kembali membunyikan klakson agar Nirma bergegas. Tidak lama Nirma keluar dari pintu rumah lalu memasuki mobil.


Aurel tidak perduli dengan keterlambatan Nirma dia sedang memikirkan kejadian hari ini, kejadian yang jelas terekam di benaknya berdasarkan apa yang ia baca. Kejadian yang akan melibatkan Aurel, bahkan bisa juga mencelakainya.


"Aurel," panggil Pras. Aurel bergeming, Pras menyentuh lutut Aurel karena posisinya masih duduk pada kursi kemudi. Aurel terperanjat dan menoleh pada Pras, "Kita sudah sampai," ujar Pras. Bahkan Nirma sudah lebih dulu keluar dari mobil.


Penampilan Aurel hari ini hanya lip sync, tentu saja itu tidak menyulitkan Aurel yang masih kalut memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Berhati-hati saat menuruni stage, khawatir kejadian sebelumnya terulang lagi.


Pras yang mengikuti dan mengawasi Aurel pun terus berhati-hati, karena kata-kata yang didengar saat melewati kamar Nirma seakan sebuah puzle. "Kenapa? Kamu seperti yang gugup banget, 'kan sudah tampil?" tanya Pras.


"Entahlah, hati rasanya tidak tenang," ujar Aurel.


"Masih mau jambak-jambakan dengan Nirma?" tanya Pras sambil terkekeh. Aurel berdecak, "Ya enggaklah,” jawabnya.


Lagipula kalau sampai kelahi, sepertinya aku akan kalah karena tubuh Nirma yang lebih besar dari tubuhku, batin Mia.


"Sudah selesai 'kan? Langsung pulang?" tanya Pras Aurel hanya mengangguk.


Nirma menyerahkan bukti transfer pembayaran penampilan Aurel hari ini. “Ini bukti transfernya, langsung ke rekening kamu,” ujar Nirma. “Aku tidak tau benar atau tidak sudah di transfer karena aku tidak bisa mengkroscek langsung rekening kamu.”


Aurel tidak perduli apa yang dikatakan Nirma, “Kita jalan sekarang!” titah Aurel pada Pras.


“Macet, Bang Pras harus cari alternatif lain kayaknya,” ujar Aurel.


Ternyata mobil yang menghalangi jalan karena sempat oleng ada masalah dengan mesinnya, terdapat balita yang berada dalam mobil tersebut. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan dan saat ini sedang berlari ke sana kemari. Aurel melihat Pras yang masih berada di antara beberapa orang yang sedang mengecek kondisi mobil. Sepertinya tidak akan dalam waktu dekat mobil tersebut akan tertangani.


Aurel pun membuka pintu mobil sebelah kanan, “Mau ke mana kamu?” tanya Nirma. “Turun, bosan nunggu di dalam,” jawabnya.


Lebih bosan karena ada kamu di mobil, batin Mia.


Pras menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Aurel yang berjalan melewati depan mobil dan menghampiri balita yang berlarian.


“Hey, kamu lucu banget sih,” ujarnya sambil jongkok agar tinggi tubuhnya sejajar dengan balita itu. “Namanya siapa?” tanya Aurel. Balita itu hanya menunjukan deretan giginya tanpa menjawab.  Lalu kembali berlari kecil, Aurel tersenyum mengikuti gerakan balita itu.


Mobil yang mogok itu sedang ditangani montir, lebih dari tiga puluh menit akhirnya kembali hidup. Sang montir pun menepikan mobil agar lalu lintas kembali lancar. Aurel menghampiri Pras, “Sudah beres ‘kan, aku ingin cepat pulang,” sahut Aurel. Pras yang sedang merokok, hanya mengangguk.


Aurel berjalan melewati depan mobilnya, tanpa diduga mobil dari arah berlawan dengan laju agak kencang menuju ke arahnya. Pras yang melihat itu, teringat pembicaraan Nirma dan Reka.


Eksekusi dan jalan raya, batinnya lalu berlari ke arah Aurel dan menarik tubuh Aurel  ke dalam pelukannya dan berguling kembali ke arah sebelah kiri.


Bruk, mobil itu menabrak mobil Aurel. Orang-orang yang berada disekitar berteriak melihat kejadian tersebut. Belum sempat dihampiri, mobil itu mundur kemudian kembali melaju.


“Are you okey?” tanya Pras. Aurel hanya mengangguk karena masih shock dengan kejadian barusan.


Ternyata benar-benar terjadi dan Pras yang menyelamatku, batin Mia.


Orang-orang menghampiri Aurel dan Pras yang beranjak bangun dari posisinya. Nirma keluar dari mobil, tidak menyangka malah ia yang hampir celaka karena mobil tadi menabrak mobil Aurel dimana dirinya berada.


“Kita ...”


“Aku mau pulang,” ucap Aurel menjeda kalimat Pras. Aurel duduk di trotoar, tubuhnya terasa lemas karena membayangkan jika Pras tidak menariknya. Pras menghubungi seseorang sambil terus menatap pada Aurel.


“Ayo,” ajak Pras sambil mengulurkan tangannya, “kita pulang, taksi sudah menunggu. Aku sudah menghubungi orang yang akan mengurus ini. Sebentar lagi akan banyak wartawan.”


Aurel dirangkul Pras masuk ke dalam taksi, Nirma sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi dan duduk di samping supir. Sedangkan Pras kembali ke luar untuk memindahkan barang Aurel dari mobil ke bagasi taksi.


“Sepertinya kamu punya musuh, aku hampir celaka gara-gara kamu,” ujar Nirma. Aurel tidak perduli dia lebih memilih menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. “Jalan Pak, ujar Pras saat ia sudah duduk disamping Aurel. Aurel menyandarkan kepalanya pada dada Pras, ia menangis dipelukan Pras.


Pras mengusap pelan punggung Aurel, “Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” bisiknya.