
Aurel memenuhi permintaan Reka untuk bertemu sambil makan malam. Tentu saja ditemani oleh Pras. Mampir ke butik untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak ingin pulang dan memilih segera bertemu Reka untuk menuntaskan urusannya.
"Yang ini bagus gak? Kalau yang ini cocok enggak untuk aku? Ini lucu ya?"
Pras hanya berdecak mendengar Aurel menanyakan tanggapannya. "Kamu mau terlihat cantik di depan Reka?" tanya Pras wajah memandang ke arah lain. Aurel menoleh, "Siapa yang mau terlihat cantik untuk Reka? Aku 'kan tanyanya ke kamu berarti untuk dipandang kamu dong," jelas Aurel sambil kembali mencari dress yang dianggapnya lebih bagus.
"Lebih enak dipandang enggak usah pakai apa-apa," bisik Pras. Aurel yang mendengar ucapan Pras langsung menoleh, "Apa? Mesum?" tanya Pras seakan tau apa yang akan dikatakan Aurel.
"Bang Pras nyebelin tau enggak sih," sahut Aurel. Pras tak menjawab hanya mengikuti setiap langkah Aurel. "Jadi bingung, pilih yang mana dong?" tanya Aurel lagi.
"Kamu tanya aku?"
"Please deh Bang Pras jangan bikin aku kesel, ya aku tanya kamulah."
"Katanya aku nyebelin, kok masih tanya aku," sahut Pras masih dengan pandangan ke arah lain. Ia mengulum senyum karena Aurel merasakan kesal dibuatnya.
Aurel mengerucutkan bibirnya, Pras akhirnya terkekeh.
Cup!
Aurel terkejut karena Pras berani mencium pipinya ditempat umum, "Aduh, Aurel sakit." Pras memekik sambil mengusap perutnya yang dicubit Aurel. "Kamu pakai yang mana juga cantik, udah yang itu aja," usul Pras menunjuk dress yang baru saja diletakan kembali oleh Aurel.
Kini mobil yang dikendarai Pras baru saja terparkir di Restoran tempat Aurel akan menemui Reka. "Kalau kalian berada di private room, lakukan panggilan telpon ke kontak aku selama kalian bicara. Untuk sementara biar Reka hanya tau kalau aku memang sudah dipecat," tutur Pras. Aurel mengangguk kepala tanda ia mengerti dengan apa yang disampaikan Pras.
Aurel mengenakan dress selutut tanpa lengan dipadukan dengan heels. Wajahnya di sapu make up natural dengan rambut digerai. Telah berada dalam resto, menanyakan reservasi atas nama Reka pada bagian informasi. Salah seorang pelayan mengantarkan Aurel menuju private room.
"Hai, sayang," sapa Reka saat pelayan membuka pintu ruangan. Ternyata Reka sudah tiba lebih dulu, Aurel tersenyum tipis pada Reka lalu duduk berhadapan dengannya. Dia juga mengeluarkan ponselnya melakukan panggilan pada Pras dan meletakan ponsel di atas meja dalam posisi terbalik.
"Kamu cantik sekali," puji Reka.
Ya iyalah Aurel cantik, kamu aja yang konslet malah pilih selingkuh dengan Nirma, batin Mia.
"Sudah pesan?" tanya Aurel mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin mendengar kegombalan dusta dari mulut Reka.
"Sudah, aku pesankan yang biasa."
Pesan yang biasa? Memang kamu tau makanan yang aku suka. Aduh, bagaimana kalau yang Reka pesan menu yang aku tidak suka, batin Mia.
Pembicaraan yang terkesan basa basi, Aurel tidak terlalu antusias menjawab. Selain karena ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Reka juga tidak ingin Pras salah paham. Karena Pras sedang mendengarkan apa yang dia dan Reka bicarakan saat ini.
Saat pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesan Reka, Aurel menghela nafas lega. Steak, masih dalam toleransi, batin Mia saat mengetahui bahwa Reka memesankan steak untuknya.
Aurel sedang mengiris steak miliknya dan menyuapkan potongan kecil ke dalam mulutnya tanpa menatap Reka sama sekali. Reka terlihat ingin menyampaikan sesuatu, “Hmm, Aurel,” panggil Reka. Aurel pun menoleh, masih dengan kedua tangannya fokus mengiris potongan steak.
“Yups,” jawab Aurel.
“Aku ingin memperbaiki hubungan kita,” sahut Reka. Aurel tersedak mendengar ucapan Reka, segera meraih gelas dihadapannya dan meneguk hampir setengah dari isinya.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Aurel.
“Memperbaiki hubungan kita, aku merasa kita semakin jauh.”
Aurel memperbaiki posisi duduknya, “Tunggu dulu, sepertinya ada yang perlu diluruskan di sini. Kamu merasa kita semakin jauh? Kita?” Aurel tertawa. “Bukan kita tapi kamu, aku dari dulu begini aja, tapi kamu yang menjauh. Coba kamu ingat? Saat aku jatuh dari stage dan di rawat di rumah sakit, apa kamu ada mendampingi aku atau sekedar menanyakan keadaan aku? Tidak ada. Waktu kemarin aku hampir celaka, apa kamu ada menanyakan bagaimana perasaan aku? Tidak ada. Sekarang kamu bilang kita semakin jauh, Hello, apa otak kamu baik-baik aja? Aku khawatir ada virus di otak kamu,” tutur Aurel.
Pras yang mendengarkan lewat telpon terbahak mendengar deretan kalimat yang diucapkan Aurel. Tidak menyangka jika gadis itu ternyata berani juga dengan Reka.
“Aurel, kamu tau kalau aku pun sibuk. Aku bukan model yang tidak ada kerjaan dan hanya terbar pesona di media sosial,” jawab Reka.
“Ya memang kenyataannya begitu, kalau kamu sangat sibuk dan banyak kerjaan kenapa ketika kamu butuh uang malah mengambil hak aku tanpa ijin. Kamu dan Nirma,” tungkas Aurel dengan wajah mengintimidasi.
“Ayolah Aurel, aku ini kekasihmu. Masa kamu tidak mau bantu saat kekasihmu dalam kesusahan.”
Aurel kembali tertawa, “Giliran susah anggap aku kekasih, giliran senang lupa punya kekasih. Reka aku sudah muak, muak dengan segala alasan kamu.” Aurel berdiri dan meraih gelasnya lalu menghabiskan isi gelas tersebut, “Mulai saat ini kita putus,” ucap Aurel lalu meraih ponselnya dan meninggalkan Reka.
“Aurel,” panggil Reka sambil mengejar Aurel. “Tunggu dulu,” ucapnya mencengkram salah satu lengan Aurel.
“Lepas,” titah Aurel.
“Kembali, kita bicarakan lagi. Aku ingin kita perbaiki bukan putus.”
Aurel menghempaskan tangan Reka, “Tapi aku mau kita putus.”
Reka hendak menahan Aurel.
Bughh. Tubuh Reka di dorong oleh Pras hingga merangsek ke dinding. “Aurel bilang dia ingin putus, jangan memaksa. Kamu seperti pria tidak punya harga diri, mengemis cinta pada perempuan,” ujar Pras.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Reka sambil melepaskan tangan Pras yang mencengkram kerah bajunya, “bukankah Nirma sudah memecat kamu?”
Aurel menghampiri Reka, “Aku yang membayarnya jadi aku yang berhak memutuskan siapa yang berhak bekerja denganku,” sahut Aurel lalu meninggalkan Reka diikuti Pras.
“Shitt,” maki Reka menyadari dia kalah telak.
Aurel dan Pras sudah berada di dalam mobil, “Oh My God,” ucap Aurel sambil memegang dadanya karena detak jantung yang tidak biasa. Pras hanya terkekeh sambil mulai melajukan mobil meninggalkan area restoran.
“Aku tidak menyangka bisa mengatakan kalimat-kalimat tadi pada Reka. Bahkan itu spontan,” ucap Aurel. “Tapi aku lega, ternyata Reka hanya menjadi beban dalam hidup aku,” Aurel terus membeo sedangkan Pras fokus pada kemudi.
Pada saat lampu lalu lintas berwarna merah dan Pras menghentikan mobilnya, ia menoleh pada Aurel. “Mau aku antar ke mana? Pulang?”
“No, No, No. Aku tidak ingin pulang. Ini harus kita rayakan,” ujar Aurel penuh semangat.
“Merayakan apa?”
“Merayakan, goodbye Reka and welcome Prasetio,” teriak Aurel.