
Part 9 (Merried Without Love)
Lalu esok harinya pun tiba, Aku pun masih kepikiran dengan perkataan Putra tadi malam, sehingga aku memutuskan untuk menelpon Putra dan mengajak dia untuk pergi bersama dengan ku ke rumah Lara.
Sudah 5 kali aku menelpon nya namun dia tidak juga mengangkat dan aku pun berfikir dia masih tidur, lalu aku memutuskan untuk mengirim pesan saja.
""""(Isi pesan)""""
"Kamu masih tidur ya! Oh ya, aku masih kepikiran, sebenarnya maksud kamu tadi malam apa sih aku gak paham! Please balas chat aku ya atau telpon aku!"
""""""""""”""""""""""""""""""""""
Lalu aku pun mulai bersih bersih kamar dan memasak sarapan pagi, karena Mama masih menemani Papa di luar Kota, sementara Mira masih tidur.
*******(Malam hari)*****
Ketika malam hari, Putra pun masih belum membalas chat ataupun menelpon ku, aku masih bingung ada apa dengan Putra, namun aku memutuskan untuk pergi ke rumah Putra setelah dari rumah Lara.
Lalu aku pun bersiap untuk pergi ke rumah Lara, setelah aku sampai di rumah Lara begitu banyak orang yang datang dan rumahnya pun di dekor cantik seperti ada yang nikah atau tunangan, karena penasaran aku pun langsung masuk ke dalam dan sangat ramai sekali.
Lalu aku terus masuk ke dalam untuk mencari Lara, lalu aku pun mendengar suara tepuk tangan dari semua orang lalu aku melihat ada apa, ternyata Lara bertunangan dengan Putra yang tak lain adalah Pacar ku, aku langsung terdiam dan meneteskan air mata ku karena kaget melihat semua ini.
Aku hanya terdiam seperti patung tanpa bisa berkata apapun, yang aku lakukan hanya menangis sedih dan sungguh sakit hatiku melihat pacar dan teman dekat ku bertunangan. Lalu Lara dan Putra pun melihat ku.
"Maya!" Ujar Putra kaget.
Sementara Lara Hanya tersenyum lebar karena senang akhirnya Maya tau.
"Show time! Akhirnya Maya tau kalau Putra itu milikku!" Ujar Lara dalam hati senang.
******
Ketika Putra melihat ku spontan aku langsung pergi dengan rasa sedihku.
"""""(Di teras rumah Lara)""""
"Maya, maafin aku!" Ujar Putra sedih.
"Stop! Jahat kamu! Kenapa kamu harus bohong sama aku? Tega kamu nyakitin aku Put? Salah aku apa?" Ujar ku kesal dan menangis.
"Kamu gak salah! Tapi aku yang salah! Waktu yang salah! Aku cuma mau kamu tau kalau aku benar benar cinta sama kamu! Aku terpaksa tunangan dengan Lara!" Jawab Putra sedih dan memegang bahu ku.
"Lepas! (Sambil menghempaskan tangan Putra) jangan pernah ketemu aku lagi, mulai sekarang kamu bukan siapa siapa! Anggap aja kita gak pernah kenal!" Ujar ku kesal dan menghapus air mataku.
"Baguslah kalau kamu sudah tau! Jadi aku gak perlu sandiwara lagi!" Sambung Lara yang tiba tiba datang.
"Hah! Aku gak nyangka kamu sejahat ini!" Ujar ku cetus kepada Lara.
"Aku itu dari awal yang suka dengan Putra, tapi kamu malah ikutan suka dengan Putra! Dan pada akhirnya aku senang karena Papanya Putra dan Papa aku rekan bisnis, Lalu aku minta orang tua aku untuk menjodohkan kami! Finally Putra milik aku!" Balas Lara santai.
"Kamu dengar kan May! Aku terpaksa tunangan sama dia! Aku cuma cinta sama kamu!" Ujar Putra lagi sambil memegang tangan ku.
"Cukup! Jangan sentuh aku! (Menghempaskan tangan Putra lagi) Mulai sekarang anggap aja kita gak pernah kenal! Kalian berdua sama aja! Sama sama jahat! Semoga kalian bahagia!" Ujar ku kesal dan pergi.
*********
"Sayang! Kamu jangan sedih gitu dong! Kalah cantik apa sih aku sama Maya? Dari awal kita kan udah dekat, udah lupain aja dia!" Jawab Lara santai.
"Ya Awalnya aku terima perjodohan ini karena sebelumnya aku gak tau Maya ternyata suka sama aku, karena dari awal aku udah suka sama dia, makanya setelah aku tau dia juga suka sama aku makanya aku mendekati dia! Jangan harap kamu bisa dapatkan cinta aku Ra!" Ujar Putra kesal dan masuk ke dalam rumah.
Lara pun sangat kesal dengan ucapan Putra tadi, namun dia berusaha tenang karena bagaimanapun Putra akan menikah dengannya. Lalu Keluarga Lara dan Putra pun melanjutkan acara pertunangan mereka.
*********
Sementara aku sangat sedih dengan semua ini, lalu aku pun mampir ke rumah Yesi, untuk curhat kepadanya.
(Di teras rumah Yesi)
"Loh kamu kok nangis May? Ada apa?" Ujar Yesi kaget.
"Yes, mereka jahat!" Balas ku sambil memeluk Yesi dan menangis.
"Tenang! Ya udah di dalam lagi rame! Hapus air mata kamu ya! Kita ke kamar aku dan cerita!" Ujar Yesi lagi.
Lalu kami pun pergi ke kamar Yesi, dan Yesi pun mengunci kamarnya.
"Ada apa sih? Kok nangis?" Tanya Yesi penasaran dan ikut sedih.
"Lara dan Putra mereka tunangan hari ini!" Ujar ku.
"Apa? Kok bisa?" Balas Yesi kaget.
"Ternyata Lara selama ini punya hubungan dengan Putra, Lara juga ternyata juga suka dengan Putra! Dan yang jahatnya lagi mereka udah bohong sama aku! Tega sekali Lara menyuruh aku datang ke pertunangan mereka!" Balas ku nangis.
"brengsek ya tu anak! Lihat aja besok di kampus! Abis dia aku labrak! Si Lara yang lebih kurang ngajar, dia pasti sengaja nyuruh kita datang ke rumah nya!" Balas Yesi marah.
"Aku nggak mau masuk kuliah dulu! Aku mau nenangin pikiran aku dulu!" Ujar ku sedih.
"Jangan gitu dong! Nanti si Lara kampret itu malah senang lagi kalau kamu terpuruk! Udah besok datang aja! Kamu buktikan ke mereka kalau kamu santai aja dengan semua ini!" Balas Yesi tegas.
"Lihat besok deh! Aku gak tau bisa kuat apa nggak!" Balas ku lagi.
"Harus bisa! Kalau bisa kamu tampar tu si Lara! Ih, maunya aku ada di sana tadi, habis tuh si Lara aku tampar, aku tarik rambutnya! Geram aku May! Udah gak sabar nunggu besok!" Ujar Yesi kesal sambil meremas bantalnya.
Melihat ekspresi Yesi yang lucu seperti itu membuat ku tertawa kecil dan terhibur.
"Nah gitu dong! Senyum jangan sedih!" Ujar Yesi.
"Makasih ya Yes! Kamu memang teman aku yang baik!" Balas ku.
Lalu kami pun saling berpelukan, sedikit demi sedikit aku juga mulai terhibur dengan candaan Yesi. Yesi benar, aku harus kuat dan tegar.
Bersambung....