
Part 23 (Merried without love)
**(Di rumah Lara dan Putra)**
"Kamu darimana?" tanya Lara.
"Bukan urusan Kamu!" cetus Putra.
"Sampai kapan Kamu berhenti mengejar Maya? Please, Put! Berhenti mengejar Maya, dia sudah bahagia dengan suaminya" ucap Lara sedih.
"Aku akan berhenti mengejar Maya sampai dia jadi istriku, Aku menikah dengan mu karena Aku benci padamu" jawab Putra dan pergi ke kamarnya.
Lalu Lara hanya bisa menangis dengan ucapan Putra.
🌞🌞🌞
(Keesokan harinya di kampus)
"Yes, Aku bingung nih." ujar Ku.
"Kenapa lagi?" tanya Yesi.
"Gimana ya caranya buat Putra ngelupain Aku, hubungan Aku sama Dimas itu udah mulai dekat, Kamu ada ide gak?"
"Menurut Aku sih Kamu berhubungan serius sama Dimas."
"Maksudnya?" tanya Ku penasaran.
"Ya kalian punya anak." jawab Yesi santai.
"Gila kamu! Itu sih bukan solusi!" seru Ku.
"Ya bagi Aku itu cara yang ampuh buat Putra nyerah, lagian apa salahnya sih kamu punya anak dari Dimas? Kan Dia suami Kamu?" tanya Yesi heran.
"Aku belum siap loh." jawab Ku ragu.
"Belum siap apa lagi? Bukannya Kamu udah suka sama Dimas?" heran Yesi.
"Aku belum yakin aja sama perasaan Aku." jawab Ku bingung.
"Ya ampun! Apalagi sih yang membuat kamu bingung?" tanya Yesi yang mulai kesal.
"Ya nggak tau, Aku ragu aja loh!" seru Ku.
Ketika kami sedang asik ngobrol, tiba tiba ada Lara datang menghampiri kami menangis lalu memeluk Aku.
"Loh, Mak lampir bisa nangis juga?" heran Yesi.
"Aku gak tau harus apa May?" tanya Lara sambil menangis.
"Sudah, Kamu tenang dulu ya." balas Ku.
"Kamu kenapa Ra? Kalian sudah baikkan?" tanya Yesi heboh.
"Iya, Kami sudah baikkan." jawab Ku.
"Sebelumnya Aku minta maaf ya ke kalian, Aku jahat itu karena Aku mau Putra jadi milik aku seorang, sekarang Kami sudah menikah tapi batin Aku tersiksa." ucap Lara masih nangis.
"Tuh kan May, lihat Lara aja nangis gara gara si Putra kampret itu! Terus kamu masih belum yakin sama Dimas?" tanya Yesi lagi kesal.
"Kamu yang sabar ya Ra, lagian ini semua kan sudah jadi pilihan Kamu." balas Ku
"Iya, andai aja dulu Aku gak paksa Putra nikah sama Aku pasti kalian sekarang sudah bahagia." jelas Lara sedih.
"Sudah, gak baik menyalahkan keadaan! Sekarang ini yang penting rumah tangga Kamu dan Aku." hibur Ku.
"Aku punya ide." ujar Yesi.
"Apa yes?" tanya Ku penasaran.
"Otak kamu kan licik, gimana Kamu jebak Putra untuk tidur dengan Kamu?" ide Yesi untuk Lara.
"Gak enak banget Aku dengar liciknya itu Yes." balas Lara.
"Kan memang iya Kamu licik, udah coba aja ide tadi! Kayak di film film itu loh!" tegas Yesi.
"Jangan! Itu malah gak baik, Aku takut Putra makin benci sama dia." balas Ku.
"Ya terus apa dong?" tanya Yesi.
"Aku akan buat Putra benci sama Aku, karena sebenarnya Aku yang udah kasih Putra harapan." jelas Ku.
"Baiklah, Aku percayakan sama Kamu ya May." ujar Lara.
***(Di Cafe)***
"Put, kesepakatan kita tinggal 5 bulan lagi kan?" tanya Ku lagi.
"Iya, kenapa Kamu sudah gak sabar ya nikah sama Aku?" tanya Putra pede.
"Bukan itu, Aku mau buat kesepakatan baru."
"Apa itu?"
"Kalau dalam waktu 5 bulan ini Aku gak bisa cinta lagi sama Kamu maka hubungan Kita berakhir, begitu juga sebaliknya kalau Kamu gak bisa cinta lagi sama Aku maka hubungan Kita berakhir, gimana?"
"Aku setuju, lagian Aku yakin kalau Aku akan selalu mencintai Kamu." jawab Putra yakin.
"Oke, Kita deal ya."
Lalu Kami pun membuat kesepakatan baru, Aku akan buat Putra benci sama Aku dengan segala cara.
***(Di rumah Ku dan Dimas)***
"Ketemu Putra." jawab Ku santai.
"Kenapa Kamu ketemu Dia lagi? Kamu masih cinta sama Dia?" tanya Dimas cetus.
"Dimas, Aku ketemu Dia karena ada alasannya." jawab Ku.
"Alasan Apa?" tanya Dimas penasaran.
"Aku sudah memutuskan untuk putus hubungan dengan Putra tapi Aku harus buat Dia benci sama Aku."
"Gimana caranya? Putra itu cinta sama Kamu, Dia sama kayak Aku juga cinta sama Kamu."
"Cinta Kamu dan Putra ke Aku itu beda."
"Beda gimana? Dia sama Aku apa bedanya?" tanya Dimas yang mulai sedih.
"Cinta Putra ke Aku gak sebesar Cinta Kamu ke Aku, Putra tidak mencintai Aku semenjak Aku kecil tapi Dia mencintai Aku semenjak ini, Kamu selalu sabar dan baik ke Aku tapi Putra kadang Kasar Ke Aku dan Aku juga bodoh selama ini gak bisa lihat besarnya cinta Kamu ke Aku." ujar Ku lembut dan sedikit lega.
Lalu Dimas terharu dengan perkataan Ku tadi, Dimas melangkah mendekati Aku dan memeluk Ku.
"Kamu sudah tau kalau Aku mencintai Kamu dari kita kecil?" tanya Dimas haru sambil memeluk Ku.
"Iya Aku sudah tau, semenjak Aku tau itu Aku langsung sadar betapa sempurnanya Kamu jadi suami Aku." jawab Ku nangis haru.
"Bisa kah Kamu mencintai Ku juga?" tanya Dimas yang masih memeluk Ku.
"Aku akan coba mencintai Kamu, Kamu harus bantu Aku untuk lepas dari Putra ya." jawab Ku senyum.
"Itu pasti, Aku akan bantu Kamu kapanpun, sampai kapanpun." balas Dimas.
Lalu kami berdua pun pergi ke kamar untuk tidur, sewaktu di tempat tidur Aku sudah tidak meletakkan guling di tengah lagi. Namun Aku masih membelakangi Dimas, tiba tiba Dimas mendekat dan memeluk Ku dari belakang, lalu Aku langsung menoleh ke belakang dan kami pun saling bertatapan mata.
"Boleh Kan Aku memeluk Kamu?" tanya Dimas sambil menatap Ku mesra.
"Boleh, Kamu bisa peluk Aku kapanpun Kamu mau." jawab Ku senyum.
"Istriku memang cantik ya." puji Dimas.
"Hey, Kamu mau menggoda Ku ya?" ejek Ku.
"Bukan, Aku hanya gak bisa tidur malam ini karena Aku sangat senang bisa tidur sedekat ini dengan Kamu." balas Dimas senang.
"Makasih ya, sudah menjadi suami yang baik untuk Aku." ujar Ku lagi senyum.
"Selalu, Aku akan selalu menjadi suami Kamu yang terbaik, Aku akan selalu mencintaimu sampai Aku tutup usia." ucap Dimas senyum dan mengelus pipiku.
Mendengar perkataan romantis dari Dimas membuat Aku sangat senang dan bahagia, Lalu tanpa sadar Aku mencium bibir Dimas sekilas.
"Maaf, Aku terbawa suasana." ucap Ku malu.
"Kenapa sekilas? Gak berasa?"
"Hah?"
Lalu Dimas mencium Ku lagi dengan mesra, Kami berciuman cukup lama, dan membuat Ku semakin berdebar kencang.
"Aku tidak akan menyentuh Kamu lebih jika Kamu tidak ingin." ucap Dimas senyum.
Lalu Dimas pun memeluk Ku dan memejamkan matanya. Sementara Aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang tampan. Aku juga senang Dimas sangat menghargai Aku karena Dia tau Aku masih belum siap untuk berhubungan intim.
🌞🌞🌞
Pagi harinya di kamar Aku terbangun dan ternyata masih tidur dengan posisi memeluk Dimas, saat aku menoleh ke wajah Dimas ternyata Dimas sudah bangun.
"Good morning My Wife!" sapa Dimas senyum.
"Morning My Husband!" balas Ku senyum.
Aku pun sangat senang karena Kami berdua bisa seromantis ini, padahal dulu Aku sangat membencinya dan sekarang Aku sudah nyaman dengannya.
Lalu Aku bersiap dan menyiapkan sarapan, Kami sudah seperti layaknya Suami istri atau di sebut pengantin baru beneran, saat selesai sarapan Dimas pamit kerja dengan mencium kening Ku.
**(Di Kampus)**
"Yes, sepertinya ide Kamu untuk Aku hamil itu ide yang bagus." ujar Ku.
"Tuh kan, apa Aku bilang! Cara itu yang membuat Putra benci sama Kamu terus pernikahan Kamu jadi lebih berwarna." seru Yesi semangat.
"Semangat banget sih Kamu? Ampe menggebu-gebu gitu."
"Habisnya Aku kesal banget Kamu masih ingat si Putra kampret itu."
Lalu setelah pulang kuliah Aku singgah ke Kantor Dimas dan membelikannya makan siang.
**(Di kantor ruangan Dimas)**
"Aku senang akhirnya Kita seperti Suami istri beneran." ucap Dimas senang.
"Ya maklum aja, dulu kan kita nikah karena di jodohkan." jawab ku.
"Ya udah Aku suapin ya."
"Gak usah, kan Aku punya makanan sendiri."
"Biar so sweet gitu."
Lalu Kami pun saling suap suapan, dan Kami juga saling tertawa senang dengan Senda gurau, pernikahan Ku semakin berwarna.
Bersambung....