
Part 15 (Merried without love)
(Di depan rumah)
"Makasih ya untuk hari ini!" Ujar ku.
"Hm, bye!" Jawab Dimas dingin.
Lalu aku turun dari mobil, dan Dimas pun langsung pergi.
"Apa dia marah ya? Aduh kok aku jadi merasa gak enak? Harusnya aku senang dong! Itu artinya dia bakalan batalin pernikahan kami! Eh... tunggu tunggu! Kalau aku batal nikah aku jadi malu dong sama Putra dan Lara! Aduh...gawat ini!" Ujar ku yang gugup dan gelisah sendiri di depan rumah.
*****
(Keesokan harinya)
"Kak! Bangun! Ada kak Dimas dan keluarganya tuh datang!" Ujar Mira yang membangunkan aku.
Lalu aku pun langsung terbangun dan gugup kalau mereka datang untuk membatalkan pernikahan. Lalu aku langsung mandi dan bersiap.
***(Di rumah tamu)***
"Kebetulan semuanya sudah kumpul di sini! Saya mau bilang ke semuanya kalau..."
"Ya ampun! Kok ada kecoa ini!" Ujar ku untuk memotong pembicaraan Dimas.
Semua pada heboh mencari kecoa, aku langsung menarik tangan Dimas ke dapur.
(Di dapur)
"Kenapa kamu tarik aku ke dapur?" Tanya Dimas heran.
"Duh Dimas please! Jangan batalin pernikahan ini ya! Aku minta maaf deh soal kemarin malam!" Ujar ku gelisah.
"Hahaha!" Tawa Dimas ngakak.
"Kok ketawa? Aku serius ini! Ada yang lucu." Balas ku kesal.
"Haha! Kamu itu aneh ya! Yang mau batalin pernikahan siapa? Aku itu tadi mau bilang ada acara wisuda besok di rumah!" Ujar Dimas tertawa terbahak-bahak
"Oh.. aku kira kamu mau bilang itu!" Ujar ku kesal dengan manyun kesal.
"Kamu cantik!" Ujar Dimas pelan dan pergi ke ruang tengah.
"Apa? Dia bilang apa tadi?" Tanya ku bengong.
***(Di ruang tamu)***
"Maya! Nggak ada kok kecoanya! Kamu ini buat orang panik saja!" Ujar Papa.
"Iya maaf Pa! Mungkin Maya salah lihat!" Balas ku malu.
"Tadi Nak Dimas mau bilang apa?" Tanya Papaku.
"Saya mau bilang kalau besok malam kami sekeluarga mau mengundang Om dan sekeluarga makan malam di rumah karena besok Dimas wisuda Om!" Ujar Dimas senyum sambil melirik ke arah ku.
***
"Ih, apa tadi? Dia pasti meledek aku makanya senyum senyum gitu ke aku!" Ujar ku dalam hati kesal.
***
"Baiklah Nak! Kami semua pasti datang! Maya kamu datang kan di Wisudanya Nak Dimas?" Tanya Papaku.
"Ya kan kita udah di undang ya pasti datang!" Balas ku.
"Bukan itu maksud Papa kak! Maksudnya papa itu kakak jadi pendamping Wisuda kak Dimas! Ya kan Pa?" Sambung Mira.
****
"Apaan sih si Mira, buat khilaf aja! Ngapain coba aku jadi pendamping Wisuda si Dimas." Ujar ku dalam hati.
***
"Maya! Kok bengong! Jawab dong?" Tanya Papa lagi.
"Iya...iya!" Jawabku singkat.
Lalu aku pun melirik sinis ke Dimas, sementara Dimas tersenyum lebar kepada ku. Melihat dia senyum semakin membuat ku kesal saja.
****
(Keesokan harinya di gedung Wisuda)
Aku dan keluarga Dimas pun menyambut Dimas karena acaranya wisuda nya sudah selesai, Dimas terlihat senang dengan teman temannya. Ketika Dimas mendekati aku, aku pun langsung memberikan bunga yang sudah aku bawa, lalu Mamanya Dimas langsung heboh menyuruh kami untuk foto berdua.
Ketika kami sudah selesai berfoto ada Della datang mendekat.
"Dimas! Ini bunga untuk kamu!" Ujar Della genit sambil memberikan bunga.
"Ayo Dimas kita foto berdua!" Ujar Della sambil mendorong ku pelan ke belakang.
Ketika itu aku pun pergi menjauh menghampiri kedua orang tua Dimas, belum selesai Della mengambil foto Dimas langsung menyusul ku.
***
"Pa, Ma! Ayo kita pulang!" Ujar Dimas.
(Di dalam mobil)
"Maya kamu nggak usah pulang ya! Kan nanti malam keluarga kamu datang ke rumah!" Ujar Papanya Dimas.
"Iya Om!" Balas ku yang tidak berani menolak.
(Di rumah Dimas)
"Kamu buru buru pulang karena takut ketahuan kan!" Ujar ku cetus.
"Ketahuan apa?" Tanya Dimas heran.
"Ya ketahuan soal si Della?"
"Kamu kenal sama Della?" Tanya Dimas kaget.
"Kenapa? Heran ya! Tega kamu ninggalin cewek demi cewek lain!" Ujar ku cetus.
"Maksudnya apa sih? Aku gak ngerti!"
"Ah udahlah! Cowok memang susah mengerti dan gak akan ngerti! Susah ngomong sama orang yang gak peka!" Ujar ku lagi jutek kali ini.
"Dasar kamu tu aneh!" Ujar Dimas sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala ku lalu pergi.
***
"E... Sedang apa dia tadi? Dia memegang kepala ku? What?" Ujar ku dalam hati kaget plus kesal.
Lalu Mamanya Dimas pun datang.
"Nak, sambil menunggu Dimas ganti baju, kamu mau gak bantuin Tante nata meja makan!"
"Oh..iya Tante!" Balasku.
"Kak! Ini aku udah bawa baju ganti sama make up kakak!" Ujar Mira sambil memberikan barang yang aku minta.
Lalu aku mendatangi Dimas.
"Dimas, aku mau mandi! Kamar tamu dimana?" Tanya ku.
"Ya udah ayo aku antar!"
"Eh, jangan! Udah kamu tinggal bilang aja dimana! Gak perlu antar segala!"
"Ya sudah! Kamu naik ke atas, terus depan tangga ada pintu ke dua!"
(Di kamar)
Setelah selesai mandi dan berpakaian aku baru sadar ternyata aku salah masuk kamar, ternyata aku masuk ke kamarnya Dimas. Lalu aku pun buru buru bersiap sebelum Dimas yang masuk ke kamar.
Ketika aku hendak keluar aku melihat ada foto ku ketika waktu kecil di meja laptop atau meja kerjanya Dimas.
"Ini kan foto aku pas SD! Kok Dimas simpan foto ini ya?" Tanya ku dalam hati heran dan penasaran.
Ketika aku melihat foto ternyata ada Dimas masuk.
"Maya! Kok di sini?" Tanya Dimas kaget dan mengambil Foto yang aku pegang.
"Itukan foto aku waktu SD! Kok ada sama kamu?" Tanya ku penasaran.
"Iya, aku yang minta! Aku suka wajah jelek kamu di sini!" Balas Dimas mengejekku.
"Kalau jelek ngapain di pajang!" Balas ku kesal.
"Buat pengusir setan! Biar semua setan pada lari!" Balas Dimas senyum.
"Udahlah aku mau ke bawah!" Ujar ku kesal.
****
"Untung saja aku bisa ngeles! Ini kan foto pertama kali Papa kasih ke aku pas kami kecil, andai kamu tau May! Aku sudah suka sama kamu dari kecil!" Ujar Dimas dalam hatinya sambil memandang foto kecil Maya.
****
(Tiga bulan kemudian)
Akhirnya pernikahan ku pun hari ini terlaksana, aku sedikit gugup dan sedih karena akhirnya pernikahan yang tidak aku inginkan terjadi.
**(Di acara pernikahan ku)**
Aku melihat Lara dan Putra saling bergandengan sambil berjalan mendekati aku dan Dimas.
"Selamat ya! Akhirnya pengganggu hubungan orang sudah nikah!" Ujar Lara cetus.
"Selamat ya May! Aku harap kamu bahagia!" Ujar Putra dan pergi.
"Sayang! Tunggu!" Balas Lara dan mengejar Putra.
***
"Aku tau May! Kamu masih cinta sama mantan kamu itu! Aku akan sabar menunggu kamu cinta sama aku!" Ujar Dimas dalam hatinya sambil memandang Maya.
****
"Dimas, aku ke tempat Yesi dulu ya! Boleh?" Tanya ku.
"Boleh!" Balas Dimas senyum.
***********
"Yesi!" Ujar ku menangis sambil memeluk Yesi.
"Sudah jangan menangis gitu dong May! Ini acara pernikahan kamu! Kalau ada yang lihat kan gak enak!" Balas Yesi yang menghibur ku.
"Aku gak tau kenapa sedih sekali saat Putra bilang selamat sama aku Yes! Sepertinya aku masih belum bisa move on!" Balas ku yang masih nangis.
"Lupakan Putra! Ingat Dimas May! Dimas udah jadi suami kamu! Kamu harus melakukan kewajiban kamu sebagai istri! Ingat itu!" Ujar Yesi tegas.
****
Akhirnya acara resepsi pernikahan pun selesai, aku dan Dimas di antar pulang dengan Papa nya Dimas yang sekarang sudah menjadi papa ku juga.
***(Di rumah baru ku dan Dimas)****
"Nah! Anak anak! Ini adalah rumah baru kalian!" Ujar Om Bobby.
"Makasih ya Pa!" Balas Dimas sambil memeluk Papanya.
"Makasih ya Pa!" Ujar ku.
"Baiklah! Kamar kalian ada di atas! Semua barang kalian sudah ada di kamar! Kalau perlu apa apa ada pembantu di kamar belakang!" Ujar Papa kami.
Lalu Om Bobby pun pulang.
***(Di kamar)***
"Kita beda kamar kan?" Tanya ku gugup.
"Ya satu kamar dong! Kita kan sudah suami istri!" Jawab Dimas santai.
"Nggak! Aku tidur di kamar tamu aja!" Ujar ku lagi.
"Kamu tenang aja! Aku gak akan apa apain kamu kok! Lagian kalau kita pisah kamar dan orang tua kita tau malah lebih ribet lagi!" Balas Dimas sopan.
Lalu aku hanya duduk kaku di tempat tidur sementara Dimas mandi.
"Ya ampun! Gimana bisa dia sesantai itu! Lebih baik aku ambil baju tidur yang tertutup saja!" Ujar ku gugup dan takut.
Ketika aku membuka lemari ku ternyata baju tidur yang ada hanya yang seksi saja, aku sampai kesal kenapa tidak ada baju tidur yang tertutup.
Lalu Dimas pun selesai mandi.
"Kamu gak mandi?" Tanya Dimas sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
****
"Ya ampun! Dimas cakep banget!" Ujar ku dalam hati melongok dengan memandangi wajahnya.
****
"Hei, Maya! Kamu nggak mandi?" Tanya Dimas lagi.
"Iya! Aku mau mandi!" Lalu aku pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi aku pun keluar, ternyata Dimas sudah berbaring di tempat tidur, sementara aku yang memakai baju tidur mencari jaket agar lebih tertutup.
"Kamu kedinginan? Kalau dingin aku akan kurangi suhu dingin AC nya!" Ujar Dimas.
"Jangan! Aku cuma mau pakai jaket aja! Udah AC nya jangan di apa apain! Udah kamu tidur sana! Awas ya kalau macam macam! Ini batasnya!" Ujar ku sambil meletakkan guling di tengah.
Lalu kami pun tidur, sementara aku seperti orang **** yang tidur dengan jaket, aku tidur dengan posisi membelakangi Dimas karena aku gugup dan takut terjadi sesuatu.
Bersambung...