
Pada saat kuliah aku berkenalan dengan lelaki yang bernama Putra, dia lelaki yang cukup tampan di kampus, dia juga lelaki yang aktif dalam kegiatan sosial di kampus.
(Di kantin kampus)
"May! Lihat! Itu Putra pujaan hati kamu!" Ujar temanku Yesi.
"Apaan sih yes! Udah jangan di perhatikan, nanti malah buat malu!" Balasku malu.
"Come on! Kapan lagi kamu ungkapan perasaan kamu ke dia? Mumpung dia masih jomblo!" Ujar Yesi yang menggoda ku.
"Sudah biarkan saja! Lagian aku mau fokus kuliah dulu! Lagian nggak mungkin dia suka sama aku!" Balas ku lagi.
"Ayolah! Maya kamu itu cantik, pintar dan baik juga! Kurang apalagi coba?" Ujar Yesi yang masih saja menggodaku.
"Udah, mending sekarang kita makan dulu! Bentar lagi kita ada kuliah!" Balasku yang mengganti topik pembicaraan.
Aku memang sudah lama menyukai Putra semenjak semester 3, awal mula aku menyukainya karena kami satu organisasi. Bagiku dia lelaki yang pintar dan baik, namun sepertinya dia tidak pernah memandang ku. Karena sekarang sudah semester 6 tapi dia tidak ada niat untuk mendekati ku.
Yesi selalu bilang untuk ungkapkan perasaan ku lebih dulu, namun prinsip ku wanita tidak mengatakan perasaannya lebih dulu.
*****
Kami pun sudah selesai makan dan bergegas untuk pergi, ketika aku berjalan melewati meja tempat Putra makan tiba tiba Putra memegang tangan ku, aku sontak kaget dan menoleh ke belakang.
"Kamu Maya kan?" Tanya Putra yang masih memegang tanganku.
"Iya, ada apa ya?" Jawabku gugup.
"Minggu depan ada baksos, kamu ikut lagi kan?" Tanya Putra lembut.
Aku kaget ternyata Putra tau selama ini aku selalu ikut bakti sosial tiap tahun, dan yang buat aku senang ternyata dia tau namaku.
"Iya, pasti aku akan ikut lagi!" Ujar ku senyum.
"Baguslah! Aku tunggu ya!" Balasnya dengan membalas senyuman ku.
Lalu aku dan Yesi pun pergi, sepanjang jalan Yesi terus saja berceloteh.
"Ya wajar lah dia tau nama aku! Udah deh gak usah buat aku geer gitu, kalau memang dia suka sama aku pasti dia udah nembak aku untuk jadi pacarnya." Balas ku
"Kalau kamu gak berani bilang biar aku deh yang bilang!" Ujar Yesi ngotot.
"Jangan! Awas ya kalau sampai kamu bilang! Jangan harap deh kita temenan lagi!" Balasku cetus.
"Adeh! Iya deh iya! Susah bilang deh Ama kamu!" Ujar Yesi yang mulai bete.
(Di kelas)
"Kalian dari mana aja sih? Aku dari tadi nelpon kalian tau! Tapi gak ada satupun yang angkat!" Ujar Lara temanku.
"Maaf ya Ra, hp aku silent." Balasku.
"Iya hp aku juga silent." Balas Yesi.
"Ya udahlah! Yang penting kita kan dah ketemu sekarang!" Ujar Lara.
"Eh tau nggak! Tadi si Putra megang tangan Maya loh." Ucap Yesi bocor.
"Oh ya, apa kamu dan putra sudah berkenalan may?" Tanya Lara.
"Bukan kenalan tapi si Putra udah tau nama si Maya! So sweet kan!" Sambung Yesi.
"Deh! Yesi aku gak nanya kamu! Nyambung aja kayak kabel listrik!" Ujar Lara kesal.
"Gak ada yang spesial kok! Tadi putra cuma bilang Minggu depan ada baksos lagi! Cuma ngasih info itu doang!" Balas ku santai.
"Oh begitu! Aku kira yang gimana mana!" Ujar Lara.
Di kelas kami bertiga memang sangat akrab, Yesi orangnya ceplas-ceplos dan rame, sementara Lara orangnya kalem dan tidak banyak bicara, tapi mereka semua baik kok.
Lalu dosen pun masuk dan kamu mulai belajar, aku yang kurang fokus karena masih memikirkan Putra, jujur betapa senangnya aku bahwa putra tau nama ku karena begitu banyak mahasiswa yang ikut baksos tiap tahunnya.