
Part 14 (Merried without love)
Ketika selesai makan malam, kami semua berkumpul di ruang tengah.
"Jadi bagaimana tadi?" Tanya Papa ku.
"Sudah selesai kok Om, kami memilih indoor! Jadi nanti resepsinya di hotel!" Jawab Dimas santai.
"Hotel bintang lima kan? Soalnya tamu kita kan banyak!" Balas Papa ku
"Tentu Om! Kami berdua pasti pilih yang terbaik!" Jawab Dimas senyum.
*****
"Sok polos dan sok baik banget sih tu cowok! Dasar muka dua!" Ujar ku dalam hati yang kesal.
******
"Oh ya Om, Tante! Saya pamit dulu ya! Soalnya saya kan naik taksi! Takut nunggu taksinya lama!" Ujar Dimas.
"Kamu sudah order taksinya?" Tanya Mamaku.
"Sudah Tante! Sepertinya mau sampai! Saya nunggu di depan saja!"
"Oh ya sudah! Maya, temani Nak Dimas di depan sana!" Ujar Papaku.
"Apa? Malas Pa! Maya capek mau tidur aja!" Balas ku yang pura pura pegal dan mengusuk-ngusuk bahu ku.
"Alasan aja tuh Pa!" Sambung Mira.
Lalu aku pun melotot sinis ke Mira.
"Tidak usah Om! Saya sendiri saja! Kasihan Maya sudah lelah!" Balas Dimas senyum.
*****
"Dasar cari muka! Tapi baguslah dia sadar aku gak mau!" Ujar ku dalam hati.
****
"Ya udah Kak! Aku aja yang temani kakak ya! Ayo kak!" Ujar Mira sambil menggandeng tangan Dimas.
Ketika hendak jalan Mira menoleh ke belakang sambil melet lidah kepadaku. Lalu aku pun membalas lototan sinis kepada Mira.
*****
(Sebulan kemudian)
Aku mendapat undangan dari Lara atas pernikahannya dengan Putra. Ketika melihat undangan tersebut jujur aku sempat sedih, karena pada akhirnya Putra harus menikah.
"Terus baper..." Ujar Yesi.
"Nggak kok biasa aja! Kalau gitu kita datang! Jangan sampai kita nggak datang ke pernikahan mereka!" Balas ku yang sok tegar.
"Kamu yakin May? Seriusan?" Tanya Yesi heran.
"Iya dong! Kalau kita gak datang malah buat mereka senang!"
"Terserah deh ya! Aku sih ikut aja! Kamu gak bawa Dimas?"
"Malas banget bawa dia!" Ujar ku jadi badmood.
"Aduh May! Kamu itu memang gak pintar ya! Kalau kamu bawa Dimas, pasti si Putra cemburu! Si Mak lampir itu pasti makin kesal karena Putra cuma fokus sama kamu!" Balas Yesi semangat.
"Iya juga ya Yes! Kamu memang good lah kalau cari masalah! Hahaha!" Balas ku senang.
"Aku tuh udah gak sabar lihat ekspresi kesalnya Mak lampir itu! Kalau bisa ya aku kacaukan acara resepsi dia!" Ujar Yesi kesal.
******(Di rumah Dimas)****
"Rumah siapa ini May?" Tanya Yesi.
"Rumah Dimas! Kata kamu ajak dia besok di nikahan! Gimana sih!" Balas ku
"Ya nggak harus datang juga ke rumahnya! Kamu kan bisa telpon aja May!"
"Aku gak punya nomor hp dia! Hehehe!"
"OMG! Jadi selama ini kalian gak tukaran nomer gitu? Pasangan aneh ya!" Balas Yesi heboh.
"Udah ayo masuk!"
*****(Di ruang tamu)*****
"Hai, kamu bawa teman?" Sapa Dimas.
"Hai, aku Yesi!" Sosor Yesi.
"Besok kamu mau ikut aku undangan gak? Teman aku nikah!" Ajak ku pada Dimas.
"Boleh! Nanti aku jemput kamu ya!" Balas Dimas senyum.
"Ya ampun Dimas! Kamu kalau senyum gitu cakep banget deh!" Ujar Yesi genit dengan ekspresi konyolnya yang terpesona dengan Dimas.
Dimas pun hanya tersenyum saja dengan ucapan Yesi tadi.
"Oke! Kami pamit! Aku cuma mau bilang itu aja! Ayo yes!" Ujar ku
Ketika aku sudah melangkah ke luar pintu, ternyata Yesi masih saja berdiri seperti orang norak yang terus mandangi Dimas, dan Dimas malah senyum senyum saja.
"Yesi! Ayo!" Ujar ku lagi sambil menarik tangan Yesi.
****(Di dalam mobil)****
"Kamu norak banget sih Yes! Buat malu aku aja!"
"Cakep apaan sih! Kamu itu tadi udah buat malu aku tau gak!"
"Malu apa? Kadang aku heran sama kamu May! Cowok cakep dan lembut gitu kamu abaikan? Kenapa sih kamu harus dingin gitu sama dia?" Ujar Yesi yang mulai kesal.
"Kok kamu jadi marah gitu sama aku! Ya udah kalau gitu kamu aja yang nikah sama dia!" Balas ku yang kesal juga.
"Aku sih mau aja! Cuma kamu yang di jodohkan sama dia bukan aku! Udah pokoknya kamu coba deh dekat dengan dia! Pasti kamu bisa kok suka sama dia!"
"Udah deh! Malas bahas itu! Kita pikirkan yang lain aja ya! Dua hari lagi kita mau ujian semester!" Balas ku yang mengganti topik pembicaraan.
Lalu aku pun mengantar Yesi pulang dan setelah itu pulang ke rumah ku.
****(Keesokan harinya)*****
Dimas datang menjemput ku, jujur Dimas terlihat keren dengan jas yang di pakainya.
"Wah... Dimas kamu keren banget!" Puji Yesi norak.
"Udah ayo kita berangkat!" Ujar ku.
***(Di acara pernikahan)****
"Coba lihat mereka pintar akting!" Ujar Yesi sambil melihat Lara dan Putra.
Karena melihat Putra dan Lara mesra di pelaminan, aku pun menggandeng tangan Dimas sambil melihat ke arah mereka, sementara Dimas hanya menatap ku saja, tapi aku tidak peduli.
Seperti dugaan ku, Putra pun mendekati kami dan meninggalkan Lara di pelaminan.
"Jadi dia?" Ujar Putra yang terlihat kesal.
"Iya, kenalkan! Dia calon suami aku Dimas! Dimas kenalin dia teman aku!"
"Lebih tepatnya mantan pacar Maya!" Ucap Putra sambil menatap sinis Dimas.
"Mantan pacar?" Tanya Dimas kaget.
"Bukan! Dia aja yang ngayal! Ayo Dimas kita lihat lihat makanannya!" Ujar ku sambil menggandeng Dimas menjauh dari Putra.
Aku sedikit senang karena sudah membuat Putra kesal seperti itu, setelah itu aku dan Dimas mengambil makanan dan duduk. Aku pun pura pura menyuapi Dimas makanan agar Putra semakin cemburu melihat kami.
"Wah, kalian datang juga ya!" Ujar Lara yang menghampiri kami.
"Dasar Mak lampir!" Ujar Yesi
"Apa?" Tanya Lara kesal.
"Perlu aku ulangi lagi! Atau perlu aku pakai mic bilangnya!" Balas Yesi ngotot.
Lalu Putra datang.
"Tidak perlu buat keributan!" Bisik Putra kepada Lara.
"Oh ya! Selamat menempuh hidup baru ya buat kalian! Semoga kalian bahagia sampai mati!" Ujar ku kepada mereka padahal dalam hati sedih.
"Selamat juga buat kamu!" Balas Putra kesal.
"Jangan sekarang! Kalian harus datang ke pernikahan kami!" Balas ku lagi.
Aku dan Putra pun saling menatap satu sama lain. Lara semakin kesal karena Putra terus saja menatap ku, sementara Dimas hanya menatap ku dan mungkin dalam hatinya bertanya tanya.
""""
Tidak lama kemudian kami pun pamitan pulang, dan yang paling mengejutkan Yesi sengaja menumpahkan minuman ke gaun Lara, melihat itu aku pun senang sekali.
"Ops! Maaf gak sengaja!" Ujar Yesi santai.
"Yesi....! Kamu pasti sengaja kan! Awas kamu ya!" Balas Lara marah.
Ketika Lara mau mengambil minuman juga, Putra mencegahnya dan marah balik ke Lara.
"Cukup Lara! Kamu selalu saja buat keributan!" Ujar Putra.
"Tapi dia yang deluan!" Balas Lara kesal.
"Kamu gak perlu ribut kan! Tinggal ganti baju aja kan bisa!" Balas Putra lagi.
Lalu Lara pun pergi dengan kesal, lalu Putra ikut pergi menemani Lara.
"Hahaha! Emang enak! Dasar Mak Lampir!" Ujar Yesi.
"Hahaha! Kamu lihat kan ekspresi si Lara! Aku gak nyangka kamu beneran buat kekacauan Yes!" Balas ku senang.
"Itu tidak baik! Kalian seharusnya jangan begitu?" Sambung Dimas tidak suka.
Lalu Yesi dan aku pun diam, lalu kami pun pulang. Dimas mengantarkan Yesi dulu. Tinggallah kami berdua di dalam mobil.
***(Di dalam mobil)****
"Apa kamu senang sudah buat mantan pacar kamu cemburu?" Tanya Dimas dengan wajah serius.
"Maksudnya?"
"Aku tau kamu pura pura mesra dengan aku kan? Aku tau kamu cuma manfaatin aku aja untuk datang ke acara itu!" Ujar Dimas.
Aku pun langsung terdiam dan kaget karena ternyata Dimas tau maksud ku.
"Terus? Kamu marah?" Tanya ku gugup namun sok jutek.
"Gak! Aku gak marah kok sama kamu! Aku cuma mau kasih tau aja ke kamu kalau itu tidak baik! Bagaimanapun itu salah! Aku sadar kamu selama ini dingin sama aku! Tapi bagi aku wajar saja! Karena kita belum lama mengenal satu sama lain!" Jawab Dimas santai dengan pandangan ke depan tanpa melihat ku.
Dengan ucapan dia tadi membuat ku semakin tidak enak dengannya, aku jadi merasa bersalah namun aku gengsi mengakuinya.
Bersambung