
Part 17 ( Merried without love)
Keesokan paginya aku terbangun, saat bangun aku mencium parfum yang wanginya sangat dekat dengan hidung ku, aku sangat menikmatinya wanginya.
"Wanginya enak sekali, Aku jadi pengen cium terus, Nyaman sekali rasanya." ucap ku pelan.
Lalu aku membuka mataku dan ternyata kepala ku sudah ada di atas dadanya Dimas, Lalu aku langsung duduk kaget dan parahnya lagi Dimas sudah bangun.
"Apakah nyaman?" ejek Dimas sambil tersenyum.
"Maaf, Aku gak sadar! Pasti kamu kan yang pindahin guling!" cetus ku malu.
"Aku? Tapi sepertinya aku mendengar sedikit ocehan kamu yang bilang nyaman sekali.. wanginya enak sekali.. Hahaha." ejek Dimas senang.
****
"Aduh May, Apa yang kamu lakukan, Buat malu aja, Aduh gimana ini!" gumam ku dalam hati sambil memukul pelan kepala ku.
***
"Hahaha. Sudah lupakan saja, Kejadian seperti ini sering terjadi kok, Tapi kalau kamu butuh sandaran aku siap kok, Tubuh ini milik kamu." ucap Dimas senyum lebar.
"Ish, ogah! Itu cuma kebetulan aja dan gak akan terjadi lagi! Aku mau mandi!" cetus ku yang masih malu.
**(Pantry hotel)***
"Kalian baru bangun ya." sapa Putra yang menghampiri kami sedang sarapan.
"Dimana mana ada nyamuk!" cetus Dimas.
"Nyamuk itu kamu bukan aku!" cetus Putra.
"Kok bahas nyamuk sih. Udah sarapan lagi, Aku benci nyamuk." ujar ku santai sambil menyantap makanan.
Putra pun ikut makan dengan kami, aku tau Dimas tidak suka namun bagaimana lagi kasihan Putra sarapan sendiri.
"May. Bagaimana nanti kita berdua jalan jalan ke pantai?" tawar Putra.
"Gak berdua tapi bertiga, Dimas ikut juga." jawab Ku santai.
***(Di pantai)***
Kami sangat bersenang-senang. Dimas dan Putra saling ribut karena ingin berdekatan dengan aku, Lalu aku menggandeng keduanya supaya adil dan tidak ribut.
Lalu saat berenang di pantai entah kenapa kaki ku keram, lalu Dimas yang sigap membantu aku ke pinggir pantai.
"Kaki aku keram." rintih ku sakit.
"Aku pijat ya, tahan sakitnya ya." ujar Dimas yang memijat kaki ku.
Lalu Putra kesal dan mendorong Dimas dan memijat kaki ku juga. Tapi Dimas tidak mendorong balik melainkan dia berdiri mencemaskan aku. Saat Putra mau menggendong ku Dimas langsung mencegahnya.
"Tunggu! Aku yang berhak menggendong istri ku ke kamar, karena itu kamar suami istri!" tegas Dimas dan langsung menggendong ku.
Karena aku merasa sakit jadi bagiku siapa aja boleh, cuma masuk akal yang di katakan Dimas, Putra tidak berhak masuk ke kamar kami.
***(Saat di kamar)***
"Apa masih sakit?" tanya Dimas cemas.
"Sudah mendingan kok, Makasih ya." balas ku senyum.
"Akhirnya kamu tersenyum." ujar Dimas senang.
Lalu aku pun diam, karena aku juga heran kenapa aku bisa tersenyum dengan dia.
***(Malam hari)***
Putra mengirimkan pesan kepadaku di tengah malam, dia minta bertemu di kolam renang. Lalu aku melihat Dimas sudah tertidur lalu aku pun diam diam keluar kamar.
**(Pinggir kolam renang)**
"Ada apa Put?" tanya ku.
"Besok kita sudah pulang, Jadi aku mau katakan sesuatu hal penting sama kamu." ucap Putra serius.
"Pasti kamu takut kan sama Lara!" ejek ku.
"Bukan itu, Aku lagi berusaha untuk mengamankan perusahaan aku dari Papanya Lara. Setelah aman semuanya, aku langsung menceraikan Lara dan menikah dengan kamu. May! Kamu satu satunya wanita yang aku cintai, Nasib kita sama May. Menikah dengan orang yang salah! Aku mohon ya tunggu aku selama enam bulan ini." ujar Putra serius sambil memegang tanganku.
"Aku juga masih cinta sama kamu Put, tapi kamu kan tau aku sudah menikah dengan Dimas, Aku yakin Papa pasti gak mau kami pisah." balas ku sedih.
"May, Aku yakin Dimas pasti mengerti! Kamu tinggal buat perjanjian aja sama dia. Lagian kamu cuma anggap dia sahabat aja kan! Aku yakin dia juga gak cinta kok sama kamu! May, kamu mau kan pacaran lagi sama aku?"
"Tapi kamu janji kan gak bohong lagi?" tanya ku serius.
"Iya aku janji! Aku udah muak dengan Lara! Aku tersiksa May, Cuma sama kamu aku bahagia. Pokoknya dalam enam bulan ini kita akan berpisah dengan pasangan kita masing-masing setelah itu kita akan menikah!"
"Iya, Aku akan tunggu enam bulan ini, Ingat janji kamu ya!"
*****
Satu sisi lainnya, ternyata Dimas melihat Maya dan Putra berpelukan mesra di pinggir kolam renang, hati Dimas sangat sakit dan tanpa sadar Dimas meneteskan air matanya. Karena Dimas tidak tahan lagi melihatnya, Dimas pun kembali lagi ke kamarnya.
***(Di kamar)***
"Kamu dari mana?" cetus Dimas yang duduk di sofa kamar.
"Kamu belum tidur? Ya tadi itu..aku.. ya aku.."
"Ketemu Putra kan." cela Dimas dingin.
"Iya, Aku ketemu dia, maaf ya aku gak pamit soalnya aku kira kamu tidur." ujar ku kaku.
"Tidak! Kamu tidak perlu izin dengan ku, mulai sekarang kamu bebas ketemu siapa saja! Aku kan cuma sahabat kamu! Ya kan?" ujar Dimas dingin sambil menatap ku tajam.
"Hehehe.. Iya baguslah kamu mengerti."
"Baiklah, Enam bulan ya. Jadi setelah enam bulan kita berpisah, Kalau memang itu keputusan kamu, aku akan mempersiapkan perpisahan kita setelah enam bulan!" cetus Dimas dengan wajah datar.
"Jadi kamu..."
"Iya! Aku mendengar semuanya! Sudah lebih baik kita tidur, besok kita akan pulang! Dan butuh tenaga untuk akting depan orang tua kita kan?" cetus Dimas yang masih flat tanpa ekspresi.
Lalu Dimas pun ke tempat tidur dan aku jadi khawatir dengan ekspresi wajahnya tadi yang membuat ku takut dan gugup.
***(Keesokan harinya di bandara)***
"Hai anak Papa dan Mama. Bagaimana honeymoonnya?" Tanya Papa ku.
"Menyenangkan Pa, kami sangat bersenang-senang." balas Dimas tersenyum tanpa menoleh ke arah ku.
****
"Dia benar-benar akting di depan Papa, Baguslah, harusnya aku senang kan, kenapa harus takut!" gumam ku dalam hati.
****
Saat di perjalanan Papa banyak bicara dengan Dimas, mereka terlihat sangat akrab satu sama lain, Dimas pun pandai mengambil sikap.
Sesampainya di rumah Papa pamit kepada kami, karena Papa ada urusan lagi. Setelah Papa pergi Dimas kembali dingin kepadaku. Dimas tidak bicara pada ku semenjak tadi pagi sampai sekarang, dia hanya diam dan bicara jika perlu pada ku.
***(Di kamar)***
"Kok dari tadi kamu gak banyak bicara sama aku? Kamu marah ya?" tanya ku sedikit takut.
"Gak! Buat apa marah!" jawab Dimas singkat.
"Ya aneh aja. Kan biasanya kamu banyak ngomong sama aku, sekarang beda."
"Gak ada yang beda! Sama aja kan. Aku akan pindah ke kamar sebelah! Mulai hari ini kita gak satu kamar!" cetus Dimas dan keluar kamar.
"Ada apa dengan dia? Bukannya dia yang dulu mau satu kamar? Hah! Baguslah, kenapa aku harus heboh! Harusnya senang dong!" cetus ku.
****
Keadaan di rumah berbeda sekali semenjak Dimas tau kami akan berpisah setelah enam bulan, Dimas hanya menghabiskan waktunya sendiri saja tanpa menghiraukan aku. Ntah kenapa aku jadi ingin bicara banyak dengannya. Namun aku tidak mau mengganggu Dimas karena mungkin dia sedang sibuk.
**(Keesokan harinya)***
Hari ini aku kembali kuliah setelah libur semester. Sebelum berangkat kuliah seperti biasa aku menyiapkan sarapan pagi untuk ku dan Dimas. Di meja makan Dimas hanya makan tanpa berkata apapun, dia hanya menatap ponselnya saja. Jujur aku sedikit kesal tapi mungkin dia memang sedang sibuk.
**(Di kampus)***
"Kamu kenapa May?" heran Yesi.
"Dimas akhir akhir ini aneh. Dia jadi dingin sama aku, dia gak ada canda tawa sama aku, dia juga cuek sama aku, menyebalkan!" ujarku kesal.
"Hahahaha, Kamu yang aneh atau Dimas yang aneh? Bukannya ini yang kamu mau? Kamu kan gak suka sama Dimas jadi ngapain peduli." balas Yesi tertawa.
"Haha..Iya iya, bener juga ya. Oh ya ada kabar nih, Aku sama Putra udah balikan."
"Apa?" Yesi kaget.
"Biasa aja dong.. jadi Putra sama aku memutuskan untuk balik lagi, jadi selama enam bulan ini Putra berusaha untuk mengamankan perusahaan dia dan setelah itu dia ceraikan Lara! Berita bagus kan." ujarku senang.
"Berita bagus apanya?" balas Yesi kesal sambil memukul pelan kepalaku dengan buku.
"Aduh!" rintih ku
"Otak kamu udah gak beres ya May. Kasihan Dimas tau, masih aja percaya sama Putra brengsek itu! Ntar kamu yang nyesal loh May." nasehat Yesi.
"Aku yakin kali ini Putra gak bohong kok, ya dah ayo kita ke kelas aja." ajak ku.
Bersambung....