
Part 19 (Merried without love)
***(Meja makan)***
"Gimana? Enak gak?" tanya Dimas.
"Lumayan. Ya sedikit enak lah, kan aku juga yang bantu."
"Iya deh iya. Ternyata masak itu menyenangkan ya, apalagi kalau masak berdua sama istri."
Aku yang sedang minum pun tersedak batuk batuk karena mendengar ucapan Dimas tadi.
"Kamu gak apa?" tanya Dimas cemas.
"Nggak! Aku cuma kaget aja kamu ngomong gitu."
"Oh.. iya aku tadi cuma bilang gitu aja kok gak serius."
"Ya aku tau! Kamu kan memang gak pernah serius sama cewek! Tapi ingat, jangan Yesi ya! Yesi itu teman aku yang terbaik!"
****
"Ya ampun May! Kapan sih kamu sadar kalau aku cinta sama kamu." ucap Dimas dalam hatinya.
****
""""(Di kamar)"""""
"Loh kok kamu di sini?" tanya Ku.
"Iya kita satu kamar lagi. Kamar sebelah sempit aku jadi sesak nafas." jawab Dimas.
Lalu Dimas pun langsung ke kasur dan tarik selimut. Lalu aku meletakkan guling di tengah karena aku takut khilaf seperti waktu itu di hotel.
🌞🌞🌞
Keesokan harinya...
****
Saat aku terbangun ternyata Dimas sudah tidak ada di sebelah ku, lalu aku merapikan tempat tidur dan mandi.
(Di meja makan)
Ternyata di meja makan sudah ada makanan lalu aku mendekat dan melihat ada kertas catatan di meja.
"""""(Isinya)"""""
"Good morning! Maaf ya aku buru buru berangkat kerja. Aku gak enak bangunin kamu yang masih tidur, aku juga udah nyiapin sarapan buat kamu."
""""""""""""""""""
Ntah kenapa aku spontan tersenyum setelah membaca catatan itu, lalu aku pun menyantap makanannya.
***(Di kampus)***
"Eh Yesi! Kamu jangan dekati Dimas deh. Takutnya kamu patah hati." ujar Ku.
"Yang dekati dia siapa? Lagian kemarin itu dia cuma mau kenalan aja kok sama aku, karena aku kan teman kamu." jawab Yesi.
"Ya aku cuma kasih tau aja!"
Lalu saat lagi asik mengobrol dengan Yesi, datang Lara yang marah marah padaku.
"Eh! Udah nikah pun masih aja ya ganggu suami orang!" hina Lara kesal.
"Apaan sih kamu datang datang marah gak jelas!" jawab ku santai.
"Ngapain kamu masih dekat sama Putra? Kamu kan tau dia suami aku!" sindir Lara.
"Oh... Suami apa maksud kamu? Aku tau kok kalian pisah kamar! Asal kamu tau ya Lara, Putra itu cintanya sama aku bukan sama kamu! Ngapain sih kamu paksa dia terus?" balas ku santai.
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah lepasin Putra! Nggak akan pernah May! Jangan harap kamu bisa menang dari aku ya! Awas kamu!" ancam Lara kesal dan pergi.
"Pantesan aja si Putra gak suka sama dia. Lihat aja karakter dia kayak Mak lampir gitu! Tapi May, Mak lampir itu ada benarnya juga. Ngapain sih kamu masih berhubungan dengan Putra? Kamu gak takut?" cemas Yesi.
"Nggak! Dia deluan yang udah rebut Putra dari aku! Jadi biar saja dia merasakan apa yang aku rasakan!" jawab Ku.
"Terserah kamu deh!"
***(Di rumah)***
"Put, Kamu ngapain ke sini?" ucapku kaget dan khawatir Dimas tau.
"Aku tau tadi Lara datang marah marah sama kamu, maaf ya."
"Iya tapi gak harus datang juga kan ke sini! Kalau Dimas tau gimana? Aku kan gak enak." cemas ku.
"Ya sudah kalau gitu kita keluar cari tempat untuk ngobrol." ajak Putra.
"Ya udah ayo!" balas Ku sambil menarik tangan Putra cepat.
***(Di Cafe)***
"Aku nggak suka kamu datang ke rumah!" tegas Ku.
"Kenapa? Aku kan mau ketemu kamu, lagian bagi aku itu nggak masalah." jawab Putra santai sambil meminum kopinya.
"Pokoknya gak boleh! Kalau mau ketemu ya di kampus atau di luar."
"Kamu kan tau aku nggak di kampus lagi, Lagian aku sudah telpon kamu tapi gak di angkat! Ya sudah aku ke rumah kamu saja."
"Kamu tau dari mana rumah aku di sana?"
"Aku tau semuanya! Udah lama aku pantau kamu. Apapun tentang kamu pasti akan aku cari tau."
"Dasar stalker! Tapi aku gak suka kamu ke rumah! Bagaimana pun aku jaga perasaan Dimas, lagian kamu juga sibuk kan dengan urusan kantor."
"Iya aku tau, May! Aku mohon kamu jangan cinta dengan Dimas ya! Kamu harus ingat kesepakatan kita."
"Iya aku ingat kok, tapi ingat ya! kita keluar bareng diam diam jangan sampai Dimas tau! Aku cuma gak enak aja ke Dimas."
"Iya, yang penting aku bisa dekat kamu." jawab Putra sambil memegang tanganku.
Aku dan Putra pun jalan ke bioskop untuk nonton film, sehingga aku pulang malam.
***(Di rumah)***
"Kamu dari mana?" tegur Dimas sambil menyalakan lampu.
"Ya ampun! Kamu mengagetkan ku saja!" sahut ku kaget sambil memegang dadaku.
"Aku tunggu kamu pulang, dari tadi hp kamu mati, jadi aku cemas!"
"Maaf ya. Hp aku lowbet! Ya sudah ayok kita ke kamar dan tidur!"
"Kamu mau ngajak aku malam pertama?" tanya Dimas senang.
"Ya nggaklah! Ngarep kamu! Ya sudah aku mau ke kamar!" cetus ku dan pergi.
****(Di kamar)****
"Aaaaaa!" jerit Ku takut dan keluar kamar mandi.
Lalu aku langsung berlari ke arah Dimas dan memeluk Dimas karena takut.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Dimas heran.
"Ada kecoa di kamar mandi, Aku takut!" jawab ku yang masih memeluk Dimas.
"Ya sudah kamu tunggu di sini! Biar aku usir kecoanya."
Lalu aku berdiri di atas kursi, sementara Dimas masuk ke kamar mandi dan mencari kecoa itu dan membuangnya.
"Udah aman, udah jangan takut lagi ya!"
"Kok bisa ada kecoa sih! Gimana sih Bi Asih bersihin kamar mandi!" gumam Ku yang masih takut.
"Lagian kecoa doang! Kecoa juga takut kali dengar jeritan kamu tadi."
"Ih.. Dimas! Aku serius tau! Aku benci banget sama kecoa! Kecoa itu bau dan jorok!" kesal Ku.
"Iya iya! Ya sudah kamu peluk aku lagi, biar kecoanya kabur." balas Dimas senyum.
"E.... Itu sih maunya kamu! Ya sudah aku mau mandi!" cetus ku dan masuk ke kamar mandi.
"Hahaha, dasar Aneh! Sama kecoa aja takut. Tapi aku senang!" ujar Dimas tersenyum.
🌞🌞🌞
Hari ini adalah hari Minggu, jadi Aku terbangun agak siang. Ketika aku bangun ternyata Dimas sudah tidak ada, lalu aku mendengar suara air seperti ada yang lagi berenang. Ternyata Dimas sedang berenang aku pun terus melihat dia dari jendela kamar yang mengarah kolam renang, setelah Dimas keluar dari kolam aku melihat tubuh Dimas yang atletis dan seksi bagi ku.
"Oh My Gosh! Tubuh dia sexy juga, pantesan dia jadi playboy." ujar Ku kagum.
Lalu aku terus melihatnya, tanpa sadar aku jadi menghayal, namun aku memukul pelan kepalaku "aduh! Sepertinya aku sudah gila masa iya aku ngayal jorok! Ih... Dasar aku ini apa apaan sih!" gumam ku heran.
Lalu aku pun pergi mandi, dan bersiap untuk ke bawah, ketika aku di bawah aku masih melihat Dimas sedang santai berjemur di kolam renang dan aku pun menghampiri dia dengan membawakan cemilan karena di sana aku sudah lihat dia meminum kopi.
"Ini cemilan untuk kamu." sapa ku dan meletakkan cemilan di meja.
"Makasih ya, Kamu gak berenang?"
"Gak! Aku gak bisa berenang! Pas di pantai aja waktu itu kaki aku keram." jawab Ku.
"Kamu itu harus sering olahraga! Ya minimal lari di tempat! Hahaha." ejek Dimas.
"Ngakak aja terus, Aku tuh gak suka olahraga! Aku benci keringatan! Gak olahraga aja badan aku tetap langsing kok." balas Ku bangga.
"Ya deh, terserah kamu!"
"Kamu memang suka olahraga ya?"
"Iya, aku suka olahraga! Karena olahraga itu penting!"
"Pantes!"
"Pantes apa?"
"Oh gak apa-apa! Pantes aja sehat, hehehe." jawab Ku kaku.
*****
"Huff! Untung aja aku gak keceplosan bilang body dia seksi! Kalau gak bisa mati gaya aku!" gumam Ku dalam hati.
*****
"Kamu udah sarapan?"
"Belum. Lagian udah telat juga sarapan!"
"Ya jangan gitu dong! Tunggu sebentar di sini!" jawab Dimas lalu pergi ke dalam.
Aku pun menunggu karena aku juga gak tau Dimas mau ngapain, lalu tidak lama Dimas datang dengan membawakan aku buah buahan.
"Ini buah, Kamu makan ya! Jangan sampai perut kamu kosong." ujar Dimas sambil mengambil apel dan memberikan kepada Ku.
"Makasih." jawab Ku santai.
"Gimana hari ini kita jalan jalan?" tawar Dimas.
"Mau kemana?"
"Udah ikut aja! Ya sudah aku siap siap dulu ya, Kamu juga habis makan buah siap siap!" ujar Dimas lalu berdiri dan masuk ke dalam.
****(Di kamar)***
"Astaga!" ucap Ku kaget dan membalikkan badanKu.
"Ketok dulu dong pintunya!" balas Dimas yang segera memakai celananya.
Memang salah ku juga sih tidak mengetok pintu dulu.
"Udah belum pakai bajunya?" tanya ku yang masih membalikkan badanku.
"Ntar! Tinggal pakai baju." jawab Dimas yang memakai bajunya.
"Udah?"
"Udah, Kamu boleh balik badan!"
"Maaf ya, Aku gak tau kalau kamu pakai baju."
"Iya, Lain kali ketok pintu!" balas Dimas malu.
"Ya sudah aku keluar dulu, buruan ya kamu siap siap!" ujar Dimas yang masih terlihat malu malu dan kaku dan langsung keluar.
"Ya ampun! Malu banget aku tadi, Malah kelihatan lagi dia pakai celana dalam warna apa." ucap Ku pelan dan malu.
Bersambung......