
Part 20 (Merried without love)
Aku pun sudah bersiap dan Kami pun bergegas pergi.
**(Di dalam mobil)**
"Kita mau kemana?" tanya Ku penasaran.
"Ke suatu tempat yang sering di kunjungi orang banyak." jawab Dimas.
"Ke Mall?"
"Bukan, kita ke tempat yang ramai."
"Iya, dimana? Mall kan ramai."
"Pokoknya ikut aja! Pasti seru!"
Tidak lama kemudian kami pun sampai ke tujuan.
***(Di kebun binatang)***
"Ini kan kebun binatang, Mas?" tanya ku heran.
"Yang bilang ini kebun bunga siapa?"
Seperti biasa dia membalas pertanyaan ku dengan wajah datarnya.
"Aish, dasar cowok aneh!" cetus Ku pelan.
"Apa? Kamu bilang sesuatu?"
"Iya aku bilang sesuatu! Kamu itu aneh, masa iya bawa jalan cewek ke kebun binatang, gak romantis." balas Ku kesal.
"Justru itu! Kebun binatang itu adalah tempat yang romantis bagi aku, kalau gak percaya ayo kita masuk!" ajak Dimas sambil memegang tanganku.
Aku pun tidak menolak ajakan Dimas, ketika kami masuk ke dalam Dimas terus saja menghibur ku dengan menunjukkan beberapa binatang yang ada di sana.
***(Di kandang Monyet)***
"Lihat itu namanya Monyet." ujar Dimas santai.
"Eh, anak TK juga tau kali itu Monyet." balas Ku.
"Monyet yang itu mirip seseorang ya? Seperti yang aku kenal." ujar Dimas sambil menunjuk ke salah satu monyet yang ada di kandang.
"Wah, iya kamu benar! Monyet itu seperti mirip kamu ya." balas Ku senyum.
"Ih, kamu ya! Enak aja." ujar Dimas sambil menggelitik pinggang Ku.
Lalu kami pun saling bersenda gurau dan tertawa lepas satu sama lain. Lalu kami pun pindah ke kandang Kuda.
"Naik kuda yok?"
"Gak ah! Kuda kan bau." jawab Ku.
"Udah kamu tenang aja! Kudanya bersih kok." ajak Dimas dan lagi lagi memegang tanganku.
Lalu kami pun naik kuda, namun kami naik satu kuda, aku duduk di depan dan Dimas ada di belakang ku yang memegang kendali. Dimas berusaha menenangkan aku dengan memeluk aku erat di belakang.
Saat kuda jalan....
"Tuh kan asik naik kuda?"
"Iya, tapi tetap aja aku takut." ujar Ku yang sedikit gugup.
"Kamu tenang aja, kan aku ada di belakang kamu, aku akan melindungi kamu kok!" ucap Dimas lembut tepat di telinga ku.
****
"Duh, kok aku jadi gugup gini ya? Mungkin efek takut naik kuda kali ya?" ucap Ku dalam hati deg degan.
****
Setelah naik kuda, Dimas juga mengajak ku main flying fox dan naik wahana lainnya.
***(Sore harinya)***
"Gimana? Seru kan main ke kebun binatang?" tanya Dimas senyum sambil menatap Ku.
"Iya seru! Ternyata gak buruk main ke kebun binatang." balas Ku yang juga tersenyum menatap Dimas.
Ketika selesai istirahat sejenak Kami pun bergegas pulang, karena hari sudah malam jadi kami memutuskan untuk makan di luar sebelum pulang ke rumah.
***(Di restoran)***
Ketika pelayan tiba, Dimas langsung saja memesankan makanan dan minuman untuk Ku.
"Kamu tau juga kalau aku suka lemon tea?" tanya Ku.
"Iya aku tau! Kamu aja yang gak mau tau tentang aku."
"Aku tau kok tentang kamu, tau banget malah!"
"Apa coba?"
"Kamu itu rada stress, playboy, sok cakep juga."
"Hahaha.. apa seperti itu pandangan kamu ke aku? Kamu ini bener bener lucu ya." ujar Dimas senyum.
"Kok kamu gak marah?" tanya ku heran.
"Buat apa aku marah, itu kan hak kamu yang menilai aku gimana." balas Dimas yang masih saja tersenyum.
"Sebenarnya makanan dan minuman kesukaan kamu apa?"
"Aku itu suka udang saos tiram! Kalau minum apa aja, tapi kopi wajib minum kalau lagi santai."
"Terus, kalau tipe cewek kamu gimana?"
"Tipe cewek aku sih yang matanya juling, yang kulitnya hitam, terus gendut pendek."
"Apaan sih, aku serius tau." balas Ku kesal.
"Hahaha, iya aku jawab serius tapi kamu jangan marah ya?"
"Iya, lagian ngapain juga aku marah."
"Tipe cewek yang aku suka itu ya Kamu." balas Dimas tersenyum malu.
Aku pun kaget, dan ntah kenapa aku jadi tersipu malu dan senang juga dengan ucapan Dimas.
"Aku serius, tapi sayang kamu kan udah cinta sama orang lain." ujar Dimas murung.
Lalu aku merasa sedih, dan menundukkan kepala Ku. Ntah kenapa aku kok merasa nyaman dekat Dimas, sewaktu dengan Dimas aku juga sama sekali tidak mengingat Putra.
"Sudah, ayo kita makan!" ajak Ku yang ingin mengubah suasana jadi tidak Kaku.
Kami pun melanjutkan makan, setelah itu aku pun tidak berhenti memandang Dimas yang sedang makan.
***(Di rumah)***
"Akhirnya sampai rumah juga! Kamu mau ke kamar lebih dulu?" tanya Dimas.
"Iya aku mau ke kamar dulu ya, kalau kamu mau masuk kamar ketok pintu dulu!" tegas Ku.
"Iya, emang kamu." ejek Dimas.
"Ya..ya, sindir aja terus." balas Ku kesal tapi sedikit malu.
🌞🌞🌞
Pagi hari pun tiba, lalu aku pun bersiap dan menyiapkan sarapan untuk Dimas. Ketika selesai sarapan Dimas pun berpamitan untuk kerja, sementara aku bergegas pergi ke kampus.
Saat sampai di kampus Mamanya Dimas menelpon aku.
"Iya, Ma." jawab Ku.
"Maya, besok Dimas ulang tahun, jadi Mama mau minta tolong besok bawa Dimas ke rumah kamu ya? Bisa kan?"
"Oh, Iya Ma, kapan Mama siapkan suprisenya? Soalnya aku mau ikutan juga."
"Gak usah, keluarga kita udah mempersiapkan semuanya, kamu tinggal bawa Dimas saja ya ke rumah Kamu, biar Dimas gak curiga." ujar Mamanya Dimas semangat.
"Iya Ma, pasti!"
Lalu aku pun menutup telponnya, aku sendiri saja tidak tau kalau Dimas ulang tahun besok. Lalu aku meminta Yesi untuk menemani aku membeli kado setelah selesai kuliah.
***(Di Mall)***
"Aduh Yes, kira kira beli apa ya? Aku bingung nih." ucap Ku bingung.
"Masa iya kamu itu gak tau kesukaan Dimas apa?"
"Aku cuma tau makanan dan minuman kesukaan dia aja, baru itu yang aku tau!"
"Ya udah, mending kamu datang ke kantor Dimas, tanya sama dia mau apa?"
"Sama aja bohong! Aku kan mau kasih kejutan Yesi, masa langsung tanya ke orangnya sih."
"Kamu aja bingung apalagi aku May!"
"Apa aku tanya Mira aja ya?"
"Ya udah coba aja telpon Mira, mana tau dia ada ide."
Lalu aku pun menelpon Mira dan meminta pendapatnya.
"Ya kak, ada apa?" tanya Mira.
"Dek, besok kan Dimas ulang tahun, kira kira kado apa ya yang cocok untuk Dimas?" tanya Ku.
"Ya ampun kak! Jadi selama ini kakak gak tau Kak Dimas itu suka apa?"
"Udah jawab aja, kok malah tanya balik!" cetus Ku.
"Udah belikan aja Dasi atau jam tangan kak. Atau tidak kemeja kerja."
"Oh gitu ya, ya udah deh! Makasih ya dek." jawab Ku dan menutup telponnya.
"Jadi mau beli apa nih?" tanya Yesi.
"Aku mau beli dasi sama Jam tangan juga."
"Ya udah, bagus juga kok!"
Lalu aku dan Yesi pun memilih milih dasi, lalu aku memilih dasi yang berwarna biru tua, lalu aku juga melihat ada kemeja polos yang bewarna biru muda yang cocok untuk dasinya.
Setelah itu aku ke toko jam dan memilih jam tangan untuk Dimas, aku melihat ada jam tangan yang bagus dan elegan untuk Dimas.
"Banyak juga kado yang kamu beli May?"
"Habis aku bingung, jadi aku beli aja."
"Kamu yakin Dimas suka warna biru?"
"Yakin dong, kan aku pernah lihat Dimas pakai celana dalam biru tua." ujar Ku tanpa sadar.
"Apa? Jadi kamu udah lihat celana dalam Dimas? Kalian sudah..."
"Huss, ngawur kamu! Kami belum ngapa-ngapain loh! Jadi aku gak sengaja ngeliat aja." jelas Ku yang sedikit malu.
"Iya deh, iya!" ejek Yesi senyum.
***(Di rumah)***
Ketika sampai di rumah aku pun menyembunyikan hadiah ku agar Dimas tidak tau. Lalu aku mandi dan berganti pakaian.
Setelah itu aku pergi ke dapur untuk memasak udang saos tiram kesukaan Dimas.
***(Di meja makan)***
"Wah udang saos tiram ya." ujar Dimas senang.
"Iya, aku masak spesial untuk kamu." jawab ku senyum.
Lalu Dimas pun makan dengan lahapnya, karena sebelum masak aku menelpon Mamanya Dimas untuk tanya resepnya, aku sangat senang jika Dimas menyukai masakan Ku.
"Aku kenyang, enak sekali masakan kamu, hampir mirip dengan masakan Mama." puji Dimas senyum.
"Aku senang kalau kamu suka, nanti aku masakin lagi buat kamu." balas Ku.
Setelah selesai makan, kami pun duduk santai di ruang tengah sambil menonton TV. Ketika sedang asik mengobrol dan nonton, ponselku berdering saat aku lihat ternyata Putra yang menelpon, namun aku tidak mengangkat dan mematikan telponnya.
"Kenapa gak di angkat?" tanya Dimas.
"Gak penting." jawab Ku senyum.
Lalu kami pun melanjutkan pembicaraan kami, Dimas pun membuat lelucon yang membuat aku terhibur dan kami pun saling bicara.
Bersambung....