Merried Without Love

Merried Without Love
part 29



Part 29 (Merried without love)


Lalu siang harinya kami pun bersiap untuk pergi ke rumah Lara dan Putra, pada akhirnya Kami pun sampai di sana, ternyata ada Yesi dan Miko juga.


"Wah, ada Miko juga ya, ehem..ehem," goda Ku.


"Yesi udah jadian sama Miko katanya May," sambung Lara.


"Kalian ini ya, suka sekali menggoda Aku," balas Yesi kalem.


"Kalau ada Miko si Yesi jadi jaim, hahaha," ejek Ku lagi.


"Sudah, jangan menggoda Yesi seperti itu, kasihan Yesi dan Miko, mereka Kan baru aja jadian," balas Dimas senyum.


"Aku senang semuanya bisa berkumpul seperti ini," ujar Putra.


"Iya, Aku juga senang Put, akhirnya Kamu bisa menjadi lelaki sejati," balas Ku.


"Memangnya selama ini nggak ya?" tanya Putra heran.


"Sama sekali nggak, bagi Aku dulu kamu Cemen dan labil, hahaha," balas Ku tertawa kecil.


"Ya, ya... Ejek aja terus May," ujar Putra senyum.


Lalu kami semua pun ke meja makan karena makan siang sudah siap, ketika di meja makan kami pun bersenda gurau dengan sangat senang, bahkan membicarakan masa lalu yang lucu bersama sama.


"Jadi kalian nggak ada rencana bulan madu?" tanya Ku pada Lara dan Putra.


"Nggak payah lah bulan madu, lagian Aku juga sibuk," balas Putra.


"Ya ampun Put, pantesan aja Aku jatuh cinta dengan suami Ku dan move on dari kamu," ujar Ku sambil menggelengkan kepalaku.


"Emang kenapa?" tanya Putra.


"Jelaslah, Dimas sangat romantis, kami aja baru baru ini honeymoon," balas Ku senyum.


"Eleh, dulu aja kamu ejek si Dimas, Dimas ini lah, Dimas itulah, bla..bla..," cetus Yesi.


"Emang Maya bilang apa Yes?" tanya Dimas penasaran.


"Aduh Mas, pokoknya macam macam lah, sekarang aja karena udah klepek-klepek sama Kamu di puji puji terus," jawab Yesi senyum.


"Ya maklum lah sayang, dulu kan bagi Aku kamu nyebelin, hehehe," jawab Ku.


"Tapi untung aja Put kamu nggak jadi nikah sama Maya," ujar Dimas senyum.


"Loh emang kenapa?" tanya Putra.


"Iya emang kenapa?" tanya Ku juga.


"Iya bagus lah, Kamu kan tukang ngambek, hahaha," jawab Dimas tertawa.


Lalu semuanya pun tertawa kecuali Aku tentunya.


"Ih...gak lucu!" cetus Ku ngambek.


"Tuh kan ngambek?" ujar Dimas senyum.


Lalu semuanya tertawa lagi. Aku pun jadi manyun kesal sama semuanya, tapi seperti biasa Dimas selalu bisa membuat Aku tersenyum lagi.


Makan malam pun selesai, kami berkumpul lagi di ruang tamu dan berbincang sejenak, ketika waktu sudah hampir larut lalu kami pun berpamitan pulang.


****(Di kamar)***


Kami pun berbaring di kasur, dan saling berpelukan.


"Sayang," ujar Dimas.


"Iya, sayang," jawab Ku.


"Aku penasaran deh, sebenarnya apa sih yang Kamu suka dari Putra sampai sampai berantem dengan Lara dulu?" tanya Putra yang masih penasaran.


"Aku juga gak tau sih, mungkin dulu Aku cuma kagum aja sama dia, atau mungkin Aku khilaf, hehehe," jawab Ku.


"Eleh, gaya kali khilaf, kamu kan cinta mati banget Ama dia dulu," ujar Dimas lagi.


"Itu juga gara gara Kamu sih,"


"Loh kok gara gara Aku?" tanya Dimas heran.


"Iyalah, coba aja dulu kamu deketin Aku, terus kita kan gak harus pedekate lagi pas sudah nikah," jawab Ku.


"Gimana mau deketin Kamu, mandang Aku aja nggak," ujar Dimas.


"Tapi sekarang kan Aku selalu mandangin Kamu setiap saat," balas Ku senyum sambil menatap mata Dimas.


"Itu harus dong, sampai seterusnya Kamu harus mandang Aku selalu," ujar Dimas mencium kening Ku.


Lalu kami pun saling bertatapan mata dan Dimas mulai mencium bibirku mesra, lalu kami pun mulai berhubungan intim lagi.


⏳⏳⏳


(Dua bulan kemudian)


***(Di kamar mandi)***


Saat di kamar mandi Aku pun pakai testpack Ku lagi, karena Aku sudah telat datang bulan, ketika Aku lihat ternyata hasilnya positif hamil, Aku pun langsung sedih haru akhirnya Aku hamil juga.


Lalu Aku pun buru buru bergegas untuk pergi ke kantornya Dimas, saat sampai di kantor Aku pun langsung memberi tahu dia berita bahagia ini.


"Sayang," ujar Ku yang baru datang langsung memeluk Dimas nangis karena haru.


"Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Dimas cemas.


"Ini, kamu buka," ucapku sambil memberikan kotak kado yang isinya testpack Ku tadi.


Lalu Dimas pun membukanya, saat dia membuka kotak itu dan melihat hasilnya positif, Dimas langsung menangis haru lalu Dimas memeluk Aku dengan senang.


"Aku jadi Ayah," ucap Dimas nangis.


"Iya sayang, akhirnya keluarga kita akan lengkap," balas Ku juga ikut nangis.


"Kita harus kasih tau kabar baik ini sama semuanya,"


"Iya sayang," balas Ku senang.


Lalu kami pun menelpon orang tua Kami masing masing atas kabar ini kehamilan Aku, semua para orang tua pun sangat bahagia sekali atas kehamilan Aku.


"Papa senang sekali akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga," Ujar Papanya Dimas.


"Iya, akhirnya kita punya cucu ya," balas Papa Ku juga.


Semuanya pun sangat bahagia karena mereka akan punya cucu pertama.


Saat Aku hamil Dimas sangat memanjakan Aku, mulai dari makanan dan susu Ku pun dia yang buat.


"Sayang, Aku bisa kok urus makan Aku sendiri," ujar Ku.


"Gak apa-apa sayang, Aku senang Kok," jawab Dimas.


"Ya kerjaan Kamu di kantor kan banyak," ujar Ku lagi.


"Iya kerjaan itu gampang, yang terpenting sama Aku adalah keluarga sayang, uang bisa di cari, keluarga segalanya dari apapun, Aku gak mau kamu kekurangan apapun," jawab Dimas sambil memegang perut ku.


⏳⏳⏳


(Delapan bulan kemudian)


Mulai dari hamil pertama sampai sembilan bulan, Dimas selalu menjadi suami yang siaga dan perhatian, Dimas tidak pernah berubah sedikit pun, dia masih menjadi Dimas yang dulu bahkan sekarang malah lebih perhatian lagi.


**(Di rumah)**


"Aduh, sayang perut Aku sakit banget," rintih Ku.


"Hah? Ayo kita ke rumah sakit, mungkin kamu mau lahiran sayang," jawab Dimas panik.


Lalu Dimas langsung menggopong Aku untuk naik ke mobil, Lalu Dimas buru buru ke rumah sakit, sementara Aku merintih kesakitan sambil memegang perut Ku.


"Sabar ya sayang, bentar lagi kita nyampe," ujar Dimas panik.


"Aduh sayang perut Aku sakit banget," rintih Ku sambil memegang perut Ku


"Ya sudah, ini tangan Aku gigit aja gak apa-apa," jawab Dimas lagi sambil memberikan jarinya.


Lalu Aku pun menggigit jari Dimas.


"Aduh, sakit juga sayang," rintih Dimas sakit karena jarinya Aku gigit.


"Udah buruan, sakit banget ini," rintih Ku sambil memukul mukul bahu Dimas.


Dimas pun semakin panik, akhirnya Kami sampai juga ke rumah sakit, saking paniknya Dimas sampai lupa kalau Aku masih ada di mobil.


"Dimassss!" teriak Ku kesakitan.


"Astaga, Aku lupa Maya masih di mobil," ujar Dimas panik.


Karena Aku gak kuat jalan lagi, lalu Dimas menggendong Ku kedalam. Aku pun langsung di bawa ke ruang bersalin dan Dimas pun menemani Aku lahiran.


Saat lahiran, Aku tanpa sadar sudah menjambak Jambak dan menarik narik rambut Dimas karena saking sakit yang Aku rasakan tapi Dimas hanya diam dan sabar karena dia juga sangat panik. Akhirnya anak kami pun lahir.


"Selamat ya, anak bapak Ibu tampan seperti Ayahnya," ujar Bu dokter.


Lalu Dimas pun menggendong Anak kami dengan bahagia sekali.


**(Di kamar perawatan)**


"Aku kesal deh," ujar Ku manyun.


"Kesal kenapa? Kan anak kita udah lahir dengan selamat," jawab Dimas heran.


"Ih, kamu gak dengar yang di bilang Bu dokter tadi, masa dia bilang tampan seperti Ayahnya," ujar Ku kesal.


"Hahaha, ya ampun sayang, kalau di bilang cantik kan gak mungkin juga," tawa Dimas.


"Ya masa harus kayak kamu, mirip Aku juga dong harusnya," ujar Ku.


"Ya sudah, ntar Aku bilang dokternya ya suruh ralat omongan dia tadi, hahaha,"


"Nggak perlu, dah telat," ujar Ku lagi.


Lalu Dimas pun mengabari semua keluarga, dan mereka semua pun hadir untuk melihat jagoan Kami.


"Namanya siapa ini?" tanya Mira.


"Iya ya, kita belum kepikiran namanya siapa," ujar Dimas.


"Gimana kalau Rasya," saran Ku.


"Jangan itu, gimana kalau Bambang," sambung Mira.


"Apaan sih Bambang, ogah jelek banget, udah Rasya aja," balas Ku lagi.


"Hahaha, iya Kak, lagian Aku cuma becanda kok," jelas Mira.


Akhirnya anak Kami pun bernama Rasya Wijaya. Lalu Yesi dan Miko pun datang.


(Empat bulan kemudian)


Akhirnya Yesi dan Miko menikah, Kami pun ikut hadir di acara pernikahan Yesi, Aku dan Dimas tidak lupa membawa Rasya. Saat itu Lara dan Putra juga hadir, ternyata...


"Loh, Lara kamu kapan lahiran?" tanya Ku kaget.


"Iya, tiga bulan lalu Aku lahiran, kami memang sengaja nggak ngabarin kalian karena mau kasih kejutan," jawab Lara.


"Wah, imut ya, namanya siapa?" tanya Ku lagi.


"Nama anak kami adalah Tasya," jawab Lara.


"Wah, Tasya dan Rasya cocok tuh nanti di jodohkan, hahaha," sambung Yesi.


"Nggak ada jodoh jodohin lagi deh, nikah tanpa cinta itu ribet," jawab Ku nggak setuju.


"Bener, ribet," sambung Putra.


Lalu semuanya pun tertawa terbahak.


"Tapi kan ending nya indah dan menyenangkan," ujar Yesi senyum.


"Pokoknya nggak ada jodoh jodohin lagi deh, hahaha," balas Ku.


Akhirnya semuanya pun bergembira, hubungan Kami sangat terjalin baik satu sama lain.


♥️♥️The end♥️♥️