Merried Without Love

Merried Without Love
part 28



Part 28 (Merried without love)


"Jadi kak, kapan nih Aku punya ponakan?" tanya Mira santai.


"Tunggu saja," balas Dimas.


"Sudah.. sudah, gak usah bahas ponakan, nanti kamu malah minta Denny untuk ngelamar Kamu lagi," balas Ku lagi untuk mengganti topik.


****


"Aku sampai lupa untuk nyoba testpacknya, aku jadi gak sabar nyobain," ujar Ku dalam hati senyum.


****


"Kamu kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Dimas heran.


"Nggak apa-apa, Aku permisi ke kamar mandi dulu ya," balas Ku senyum dan pergi ke kamar.


Aku pun meninggalkan mereka di bawah, saat masuk ke kamar Aku langsung membuka tas Ku dan mengambil alat testpack yang Aku beli kemarin, lalu Aku langsung masuk ke kamar mandi dan menunggu kebelet pipis jadi Aku santai saja dulu duduk di closet.


Dan akhirnya Aku pun kebelet dan mencoba alat itu, saat Aku lagi mencoba ternyata Dimas membuka pintu kamar mandi begitu saja.


"Astaga!" seru Ku Kaget dengan mata membelalak.


"Kamu sedang apa? Apa itu yang di belakang tangan Kamu?" tanya Dimas penasaran.


"Sayang, kamu ketok pintu dulu dong, sudah tutup pintunya, Aku mau poop nih," balas Ku santai namun gugup.


"Nggak, itu apa Aku mau lihat," rampas Dimas.


Lalu Dimas pun melihat alat itu, saat melihat Dimas hanya tertawa ngakak yang Aku juga nggak tau kenapa.


"Hahahaha, ya ampun sayang, baru dua hari kita bulan madu loh," ujar Dimas sampai ketawa ngakak.


"Loh, emangnya kalau dua hari bulan madu gak boleh coba ya," jawab Ku polos dan heran.


"Hahaha, Kamu udah gak sabar ya mau punya anak?" tanya Dimas yang masih ngakak.


"Ih, apaan sih Dimas, ejek aja terus, ngakak aja terus, nanti Mira dan Denny bisa dengar, kan Aku jadi malu," jawab Ku bete.


"Ya sudah, simpan dulu ya alat ini, nanti kalau udah dua bulan baru pakai lagi, hahaha" balas Dimas lagi yang masih tertawa.


"Udahlah, bete di ketawain mulu, Aku mau ke bawah lagi," balas Ku ngambek.


"Eh, tunggu,"


"Apalagi,"


"Cuci tangan dulu biar bersih, hahaha," ujar Dimas yang masih saja mengejekku.


"Di wastafel bawah aja, bete!" balas Ku lagi kesal dan turun ke bawah.


Aku dan Dimas pun turun ke bawah dan yang membuat Aku ketawa Dimas masih saja ketawa, Aku jadi malu sekali dengan kelakuan konyol Ku, padahal awalnya Yesi sudah memberi tahu Aku tapi Aku malah nggak percaya dan sekarang auto jadi bahan tertawaan.


Aku jadi ngambek lagi sama Dimas gara gara itu, padahal memang Aku yang salah sih, tidak lama kemudian Mira dan Denny pun pamit pulang, ketika mereka pulang Aku langsung ke kamar dan cuek dengan Dimas.


***(Di kamar)**


"Ngambek ya?" tanya Dimas yang mencoba menggoda Ku.


"Hm," gumam Ku singkat.


"Ya udah, maaf ya sayang, lagian kamu juga aneh sih, buat orang ketawa aja," balas Dimas lagi senyum.


"Tuh kan, masih aja di ketawain," balas ku bete.


"Siapa yang ketawa? Aku cuma senyum aja kok,"


"Gak, kamu pasti masih ngejek aku kan dalam hati," bete Ku manyun.


"Haha, iya sedikit," balas Dimas ketawa lagi.


"Ih, tuh kan, nyebelin deh, udah sana pergi Aku mau sendiri," kesal Ku dan baring di kasur.


"Ya sudah, Aku keluar dulu ya, bye sayang,"


"Mau kemana?" tanya Ku cetus.


"Tapi tadi di suruh keluar, gimana sih?" tanya Dimas lagi.


"Iya, tapi mau kemana?"


"Kamu mau ikut?" ajak Dimas.


"Iya, mau" jawab ku nyengir.


"Hahaha, dasar, tukang ngambek," ejek Dimas senyum dan mengelus lembut kepala Ku.


Lalu Aku pun tersenyum lagi, Dimas selalu bisa mereda emosi ku kalau sedang ngambek, dan itu juga yang membuat Aku makin cinta dengannya.


Lalu Kami pun naik ke mobil dan seperti biasa Aku hanya ngikut saja kemana Dimas pergi, karena kalau di tanya juga dia bakalan bilang ikut saja.


Sampailah Kami ke tempat tujuan, ternyata Dimas mengajak Ku ke rumah sakit.


(Parkiran Rumah sakit)


"Loh sayang, ini kan rumah sakit?" tanya Ku heran.


"Yang bilang ini rumah makan siapa sayang?"


"Ih, Kamu, Aku serius loh, ngapain kita ke rumah sakit? Emangnya Ada yang sakit?" tanya Ku lagi yang masih heran.


"Udah masuk aja, ntar juga Kamu tau," jawab Dimas santai.


"Gak mau ah, lagian kita ngapain ke sini? Kamu mau ngerjain Aku ya?" tanya Ku takut.


"Nggak loh, ya sudah ayo kita masuk, nanti kamu juga tau kita ngapain," balas Dimas sambil menggenggam tanganku dan memaksa Aku masuk.


"Kita ngapain ke sini? Kan Aku nggak hamil sayang," ujar Ku.


"Justru itu sayang, kita itu konsultasi sama yang ahli, jadi kamu lebih banyak pengetahuan soal kehamilan, gak kayak tadi sembarangan pakai alat testpack," jelas Dimas.


"Masih ingat aja,"


Lalu Kami pun masuk ke dalam dan konsultasi dengan dokter ahlinya, dokter itu pun memeriksa kesehatan dan kesuburan kami berdua dan menjelaskan bagaimana cara cepat hamil, dan berita bagusnya kami berdua sehat dan subur.


Tidak lama kemudian kami pun keluar dengan banyak arahan dari dokter tersebut, Aku pun jadi lega dan makin semangat untuk hamil.


"Gimana? Jadi tau banyak kan?" tanya Dimas senyum.


"Iya, ya udah ntar malam kita coba yok," jawab Ku semangat.


"Hahaha, kamu ini, sabar dong sayang, kita tunggu dulu dalam sebulan ini," jelas Dimas senyum.


"Hehehe,"


Setelah dari rumah sakit Dimas membawa Aku ke rumah Papa dan Mama Ku, semenjak menikah memang Aku sudah lama tidak berkunjung.


"Sudah lama sekali kalian tidak datang, mentang mentang baru menikah," ujar Mamaku.


"Bukan gitu Ma, Dimas masih sibuk, jadi baru ini Dimas bisa ke sini," balas Dimas.


"Mira mana Ma? Tadi pagi dia ke rumah loh," ujar Ku.


"Biasalah, kalau udah sama Denny entah kemana mereka," jawab Mamaku.


"Papa mana Ma?" tanya Ku


"Papa ada di kantor, biasalah sibuk,"


"Ini kan hari Sabtu masih aja sibuk si Papa," balas Ku.


"Ya gitulah, kalau ada proyek baru memang gitu," sambung Dimas.


Lalu kami pun berbincang bincang dengan Mama, sampai akhirnya Kami makan siang di rumah dengan Mama, setelah Makan kami pun pamit pulang.


🌙🌙🌙


Lalu malam harinya pun tiba, Aku menyuruh Dimas memakai piyama couple, untuk hari ini piyama hello Kitty.


"Masih ingat aja ya? Aku kira kamu sudah lupa," ujar Dimas.


"Ingat dong, lagian Kamu imut dan lucu kalau pakai piyama hello Kitty warna pink," balas Ku senyum.


"Iya deh, demi istri Ku tercinta apapun Aku lakukan," ujar Dimas dan memeluk Ku mesra.


Lalu Aku pun memeluknya juga dengan mesra, semakin hari Kami semakin mesra saja, Dimas juga tidak lupa mencium dan memeluk Ku ketika tidur.


**(Di kamar Lara dan Putra)**


"Apa Kamu masih belum siap Put?" tanya Lara harap.


"Kamu bisa bersabar kan?"


"Ya sudah, kalau gitu kita tidur saja," ujar Lara sedih.


Lalu Lara dan Putra pun tarik selimut dan tidur, lalu Putra jadi teringat Akan kata kata Maya kalau dia sudah berhubungan intim dengan suaminya, Lalu Putra pun sadar kalau Dia memang harus membuka hati untuk Lara.


Tiba tiba Putra mendekat dan memeluk Lara dari belakang dan mencium bahu Lara.


"Baiklah, ayo kita melakukannya," bisik Putra ke Lara.


Lalu Lara membalikkan badannya dan menatap mata Putra lalu mengelus Pipinya Putra, dan akhirnya Putra pun mencium bibir Lara begitu juga Lara, perlahan mereka pun mulai berhubungan intim.


Sehingga akhirnya membuat Lara senang karena Putra sudah menerimanya utuh sebagai seorang istrinya.


🌞🌞🌞


Keesokan paginya


(Di rumah Maya dan Dimas)


Suara ponselku pun berbunyi, ternyata Putra yang menelpon lalu Aku mengangkatnya.


"Iya, Put, ada apa?" tanya Ku.


"Makasih ya, sekarang Aku dan Lara sudah seutuhnya menjadi suami istri," jawab Putra senang.


"Benarkah? Akhirnya kalian bisa, Aku ikut bahagia untuk kalian berdua, apa ada Lara di situ?"


"Hai, May, Aku di sini, makasih juga ya, Kamu memang teman terbaik Aku," ujar Lara haru.


"Jangan begitu, nanti Aku bisa sedih nih, bagaimanapun juga kita Kan teman Ra, lagian kalian sudah di ciptakan satu sama lain," ujar Ku.


"Maaf ya May, kalau selama ini Aku udah ganggu hubungan Kamu dan Dimas," ucap Putra.


"Tidak masalah, berkat Kamu juga Maya akhirnya jadi istri Aku," sambung Dimas yang memelukku dari belakang.


"Ada kamu ya Mas? Aku minta maaf ya Mas, gimana kalau kita nanti makan siang bersama?" ajak Putra.


"Boleh, dimana?" tanya Ku semangat.


"Di rumah Ku dong, biar Lara yang memasak, ini juga dalam rangka merayakan pernikahan sempurna Kami," ujar Putra senang.


"Baiklah, kami pasti datang" balas Ku.


Lalu kami pun menutup telponnya, Aku sangat senang akhirnya semuanya baik baik saja.


"Akhirnya ya, Aku bahagia bisa nikah sama Kamu," ujar Ku dengan Dimas.


"Aku yang lebih bahagia, karena Aku sangat mencintai Kamu," balas Dimas lagi.


Bersambung....