Merried Without Love

Merried Without Love
part 16



Part 16 (Merried without love)


Keesokan harinya aku pun terbangun, saat aku terbangun aku melihat Dimas yang masih tidur. Lalu aku pun mandi dan bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi.


**(Di meja makan)**


"Kamu yang masak?" tanya Dimas.


"Iya dong! Aku itu bisa masak!" jawabku bangga.


"Oh ya! Hari ini aku udah mulai kerja!"


"Oh ya! Dimana?"


"Di kantor kejaksaan!"


"Loh, kenapa gak di kantor Papa kamu aja!" balas ku heran.


"Ya aku mau sesuatu yang baru aja! Lagian Papa kan masih sanggup ngurus perusahaan!"


"Oh! Ya sudah! Aku juga nanti mau pergi sama Yesi ya!"


"Kemana?"


"Shopping!"


"Oh! Ada uang? Kalau nggak kamu pegang aja kartu kredit aku!" balas Dimas sambil mengeluarkan kartu kreditnya.


"Oke! Aku bisa pakai sepuasnya kan?"


"Iya pakai saja! Kamu kan sekarang istri aku! Jadi aku wajib memenuhi semua kebutuhan kamu!" jawab Dimas santai.


***


"Bukannya marah dia malah baik gitu! Hm... Pasti dia ada maunya ini, jangan harap deh aku mau di sentuh sama dia!" ujar ku dalam hati sinis sambil melihat Dimas yang sedang makan.


***


"Ya sudah aku pergi kerja dulu ya!" Dimas pamit dan pergi.


****(Di Mall)****


"Banyak banget kamu belanja baju tidurnya May! Bajunya semua yang celana dan baju lengan panjang! Harusnya pengantin baru itu baju tidurnya yang seksi gitu loh?" ujar Yesi heran.


"Aduh... Jangan harap ya Yes! Gak bakalan aku mau di sentuh sama dia! Untuk setuju nikah sama dia aja udah bagus!" balas ku.


"Gak boleh gitu kamu May! Dia itu suami kamu loh! Dosa kalau kamu gak melayani suami kamu!"


"Eh, kamu lupa ya sama yang pernah aku bilang ke kamu! Aku mau buat dia gak betah nikah sama aku! Terus dia ceraikan aku deh!" balas ku senang.


"Jadi juga kamu punya niat begitu? Ya sudah habis cerai si Dimas sama aku aja! Dari pada sama kamu!" jawab Yesi kesal.


"Apaan sih Yes! Lagian dia itu udah punya pacar! Buktinya dia gak ngundang si Della, karena dia takut ketahuan!"


"Kamu yakin dia pacarnya Dimas? Udahlah May! Yang iyanya kamu itu belum move on!"


****(Di rumah ku dan Dimas)***


"Wah, rumah kalian bagus juga ya!" puji Yesi.


"Iya, rumah ini pemberian Papanya Dimas! Ada kolam renangnya juga!"


"Wah sepi juga rumah kalau cuma kamu dan Dimas yang tinggal di sini!"


"Ada pembantu juga kok! Kami gak berdua aja!"


"Ya ampun May! Maksud aku bukan itu! Sepi juga rumah ini kalau nggak ada tangisan bayi! Itu maksud aku!"


"Ogah! Ish, kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh Yes!" ujar ku geli.


" Ya sudah! Aku kan cuma kasih tau!"


***(Malam hari di kamar)***


"Halo! Siapa ini?" tanya ku lewat telpon.


"Ini aku Putra! Please jangan tutup telponnya!"


"Ada apa? Kamu ganggu orang tidur aja!" balas ku nada kesal.


"May! Aku kangen sama kamu!"


"Stress kamu ya! Kamu gak hargai istri kamu?" ujar ku makin kesal.


"Kami pisah kamar! Semenjak kami menikah aku belum ada menyentuh dia! Aku gak bisa lupain kamu May!" ujar Putra yang terdengar sedih.


"Sudah ya! Aku takut Dimas masuk kamar! Bye!" ujar ku yang menutup telponnya.


******


(Keesokan harinya)


"Pa, Ma! Ngapain pagi pagi udah ke sini?" tanya ku heran.


"Iya kami ke sini mau kasih kamu kado pernikahan!" ujar Papa.


"Kado apa Pa?" tanya ku


Lalu Papa memberikan amplop dan ketika aku buka isinya paket honeymoon.


"Apa? Honeymoon Pa? Gak perlu sepertinya Pa!" ujar ku gelisah.


"Kami ambil Pa! Makasih ya Pa hadiah Papa dan Mama!" sambung Dimas.


"Pokoknya kalian harus honeymoon ya! Papa sama Mama gak mau dengar apapun!" ujar Papa.


Tidak lama kemudian Papa dan Mama pun pergi.


"Honeymoon? Apaan itu?"


"Honeymoon itu artinya bulan madu Maya!" jawab Dimas polos.


"Aduh Dimas! Aku juga tau itu artinya bulan madu! Cuma aku gak mau bulan madu segala! Satu kamar aja aku udah risih!" ujar ku tanpa sadar.


"Oh jadi kamu risih tidur sama aku?" tanya Dimas sedih.


"Bukan itu maksud aku Dimas! Kamu paham kan! Kita ini nikah di jodohi orang tua kita! Aku sama sekali gak cinta atau suka sama kamu! Jadi gak mungkin kita honeymoon kan!"


"Dengar! Simpan ini dalam pikiran kamu baik baik! Maya, dari awal aku tau kamu belum bisa cinta sama aku! Dari awal aku juga tau kamu menyukai orang lain! Aku gak akan pernah paksa kamu untuk cinta sama aku ataupun anggap aku suami kamu! Satu hal yang harus kamu tau! Aku gak akan sentuh kamu sebelum kamu mau aku sentuh! Tapi bisa tidak kamu anggap aku setidaknya jadi sahabat kamu!" ujar Dimas serius sambil memegang kedua bahuku dan menatap mata ku terus.


"Maya! Kalau kamu tidak percaya sama aku! Kamu bisa pukul aku! Anggap aja kita bukan honeymoon tapi kita liburan! Hargai hadiah orang tua kamu!" ujar Dimas lagi yang masih menatap mata ku.


"Iya.. kalau begitu kita pergi!" balas ku gugup karena Dimas terus saja menatap ku.


*********


Lalu kami pun pergi liburan dan menginap di hotel bintang lima. Kami liburan di Bali dengan sangat happy, banyak sekali hiburan yang kami lakukan di Bali.


(Dua hari kemudian)


***Di kolam renang hotel****


"Hai Maya!" sapa Putra.


"Putra! Kamu di sini?" tanya ku kaget.


"Iya! Aku paksa Yesi untuk kasih tau kamu dimana! Aku gak rela orang yang aku cintai honeymoon dengan orang lain." ujar Putra


"Tapi dia bukan orang lain! Dia suami aku!" Jawab Ku.


"Dia suami kamu tapi kamu cintanya sama aku kan?"


"Cukup Put, aku gak mau Dimas lihat kita berdua di sini! Lebih baik kamu pergi! Pasti Lara menunggu kamu!"


"Lara gak ikut! Aku pergi sendiri! Dari awal aku gak cinta dengan dia! Aku tidak memperlakukan dia seperti istri aku, aku cuma mau buat dia menderita karena udah pisahin kita!" balas Putra kesal.


"Jadi kamu dan Lara.."


"Iya! Kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri! Aku tidak mau menyentuh dia!" sambung Putra.


Ntah kenapa mendengar ucapan Putra aku sangat senang, karena niat Putra menikah dengan Lara Hanya balas dendam saja.


"Jangan ganggu istri saya!" cela Dimas yang baru datang.


"Dimas!" ujar ku kaget.


"Ayo kita balik ke kamar?" ajak Dimas.


"Harusnya kamu sadar Dimas, Maya tidak cinta sama kamu! Kenapa kamu masih memaksakan diri!" ujar Putra.


"Kamu yang harusnya sadar diri! Kamu juga sudah menikah! Lelaki sejati itu menghargai setiap hubungan yang dia jalin! Bukan sebaliknya!" balas Dimas lagi.


"Sudah cukup! Ayo Dimas kita pergi!" ajak ku kepada Dimas.


**(Di kamar)***


"Maaf ya soal tadi!" ujar ku.


"Kamu kasih tau dia kalau kita di sini?" tanya Dimas cetus.


"Nggak! Aku aja kaget dia ada di sini!" balas ku.


"Kamu kaget atau kamu senang dia di sini?" tanya Dimas dan keluar kamar.


***


"Aduh! Jangan jangan dia marah lagi! Dia marah gak ya? Lagian gak mungkin Dimas marah! Kami kan sahabat!" ujar ku bingung.


Lalu aku pun mencari Dimas karena sudah dua jam dia tidak balik ke kamar.


(Di pantai dekat hotel)


"Kamu di sini?" ujar ku yang menyapa Dimas ragu.


"Ngapain kamu di sini!" balas Dimas dingin.


"Aku nyari kamu! Kamu marah ya?"


"Nggak! Aku nggak marah! Buat apa aku marah? Nggak ada gunanya!" sikap Dimas dingin.


"Terus kenapa raut wajah kamu menakutkan gitu!"


"Kamu cinta sama dia?"


"Hm, maksudnya?" tanya ku penasaran


"Kamu masih cinta sama Putra apa tidak? Jawab jujur!"


"Haha! Nggak perlu di jawab itu! Kamu nggak serius kan nanya itu?" jawab ku gugup.


"Aku serius! Kamu harus jawab sekarang!"


Lalu aku hanya terdiam tanpa berkata apapun.


"Aduh, kenapa ni orang tiba tiba tanya itu? Gawat nih!" gumam ku dalam hati.


****


"Oke! Aku tau jawabannya!" ujar Dimas lalu pergi.


***(Malam hari di restoran hotel)***


"Wah, Dimas! Kamu siapkan ini semua?" tanya ku senyum.


"Bukan aku! Tapi dia yang siapkan semua!" ujar Dimas sambil menunjuk ke arah Putra.


"Putra! Jadi kamu yang siapkan dinner ini?" tanya ku kaget.


"Oke! Kalian berdua selamat dinner ya! Aku pergi dulu karena aku gak mau ganggu kalian!" ujar Dimas dan pergi.


"Tunggu Dimas! Kamu gak boleh pergi! Kita makan bertiga di sini." ujarku


"Kamu yakin?" tanya Dimas Lagi.


"Yakin! Kita sahabat kan? Sahabat gak akan ninggalin temannya!" balas Ku senyum.


"Tapi May! Aku nyiapin ini semua untuk kita berdua, Dimas sudah setuju kok kita dinner!" kesal Putra


"Aku mau dinner bertiga! Kalau kamu gak setuju ya sudah kami dinner berdua saja!" cetus ku.


"Oke! Kita dinner bertiga!" Putra yang makin kesal.


Kami semua pun dinner dan menikmati makanannya, aku melihat Dimas sepertinya senang sekali, bagaimanapun dia suamiku dan sekarang jadi sahabat ku, aku gak mau Dimas sakit hati karena dia pilihan orang tua aku.


Bersambung....