
Part 8 (Merried Without Love)
(Keesokan harinya)
"Sayang, aku mau tanya sama kamu! Kamu harus jawab jujur! Janji?" Ujar ku.
"Tanya aja sayang! Nggak mungkin lah aku bohong! Mau nanya apa sih?" Jawab Putra senyum.
"Bener kalau kamu udah tunangan?" Tanya ku serius.
Putra langsung terdiam, yang tadinya dia tersenyum sekarang ekspresinya datar.
"Nggak! Aku belum tunangan! Aku kan pacar kamu! Ya nggak mungkin dong aku tunangan sama orang lain!" Jawab Putra gugup.
"Iya aku juga yakin begitu, maaf ya sayang! Harusnya aku percaya sama kamu!" Ujar ku sambil memeluk Putra.
*******
Lara yang di kejauhan melihat Maya dan Putra berpelukan terlihat sangat kesal dan marah, karena usahanya untuk menjauhkan mereka gagal.
******
Lalu kegiatan sosial pun selesai, para mahasiswa kembali ke kampus, semua mahasiswa terlihat senang dan lelah.
""""""(Di kampus)""""""
"Kamu bawa mobil?" Tanya Putra
"Nggak sayang!" Balas ku.
"Ya udah kamu aku antar pulang ya! Soalnya kan dah malam, gak baik baik taksi!" Ujar Putra.
Lalu tiba tiba Lara datang menghampiri aku dan Putra.
"Aku boleh nebeng gak?" Tanya Lara senyum.
"Kamu gak bawa mobil?" Tanya ku.
"Nggak, boleh ya May! Kita kan teman!" Ujar senyum.
"Gimana sayang? Lara boleh nebeng?" Tanya ku pada Putra.
"Ya kalau kamu izinkan boleh aja!" Balas Putra.
"Ya udah boleh! Ayo Lara!" Ujarku.
Lara pun ikut dengan kami, satu sisi aku pun senang akhirnya Lara sudah tidak marah padaku lagi.
(Di dalam mobil)
"Berarti Maya dulu dong di antar, soalnya kan rumah Maya gak terlalu jauh!" Ujar Lara.
"Gak! Kami mengantar kamu deluan! Karena habis ini kami mau pergi ke suatu tempat!" Balas Putra.
"Oh, begitu! Kemana? Aku ikut dong!" Balas Lara lagi.
"Ngapain kamu ikut! Udah kamu saya antar pulang deluan!" Balas Putra lagi.
"Maya bolehin kok! Boleh ya May!" Ujar Lara.
"Ya udah, habis ngantar kamu kami nggak kemana mana kok! Lagian aku capek!" Balasku.
Lalu suasana pun jadi hening, Lara terlihat sangat kesal. Tidak lama kemudian Lara pun sampai ke rumahnya, setelah Lara turun Putra langsung tancap gas tanpa menyapa Lara lagi.
"Hah! Awas kamu ya Put! Aku akan bilang ke keluarga kita kalau pertunangan kita di percepat!" Ujar Lara dalam hatinya kesal.
****(Di dalam mobil)***
"Kok kamu langsung tancap gas sih? Aku kan belum say goodbye sama Lara!" Ujar ku.
"Udah malam! Jadi aku langsung tancap gas aja! Lagian dia itu kepo banget!" Balas Putra.
"Aneh! Kemarin kemarin kamu peduli sama dia, sekarang kok berubah! Apa karena aku ya?" Ujar ku.
"Ya aku gak mau aja kamu cemburu! Kan aku sayang banget sama kamu!" Balas Putra senyum.
Tidak lama aku pun sampai ke rumah, sebelum aku turun dari mobil, Putra mencium kening ku dan say goodbye pada ku, lalu aku pun turun dan Putra pun pergi.
⏳⏳⏳
"Hai, Maya! Hai Yesi!" Sapa Lara senang.
"Hai Lara, seneng banget!" Balas ku.
"Iya, happy banget kamu Ra!" Balas Yesi lagi.
"Iya aku senang banget! Besok jangan lupa kalian datang ya ke rumah aku!" Ujar Lara.
"Ada apa?" Tanya Yesi.
"Udah kalian datang aja! Pokoknya besok kalian datang ke rumah aku jam 8 malam! Jangan lupa ya!" Balas Lara senang.
"Iya deh, besok malam kami datang!" Balas ku senang.
"Ya udah aku pergi dulu ya!" Ujar Lara.
"Loh, kamu gak kuliah?" Balas Yesi.
"Nggak! Aku udah izin! Aku ke sini cuma mau ketemu kalian aja kok! Bye!" Ujar Lara dan pergi.
"Aneh tu anak! Kalau moodnya lagi baik, ya baik banget!" Ujar Yesi.
"Udah, yang penting kan dia senang!" Balas ku
"Tapi besok kan hari Minggu May! Aku udah janji mau pergi sama Mama! Gimana dong!" Ujar Yesi.
"Ya udah, besok aku aja yang datang! Sekalian wakilin kamu!" Balas ku
"Makasih ya!" Ujar Yesi senang.
Lalu kami pun ke kelas dan memulai mata kuliah kami, setelah selesai kuliah aku pun menelpon Putra dan telpon nya pun tidak di angkat. Lalu aku pun memutuskan untuk pulang saja.
*****(Di rumah Putra)*****
"Apa maksud kamu membatalkan pertunangan ini? Apa kamu sudah tidak waras? Hah?" Tanya Papanya Putra marah.
"Iya Pa, aku nggak cinta dengan Lara! Aku cinta sama orang lain." Balas Putra.
"Cinta...cinta... Nggak ada itu cinta! Lama lama nanti kan kamu bisa cinta dengan Lara! Dari awal kita kan sudah sepakat, sebelumnya kamu juga setuju!" Ujar Papanya Putra marah.
"Itu dulu Pa, sekarang aku udah jatuh cinta! Pa, tolong Pa!" Ujar Putra Memohon.
"Besok pertunangan kamu! Ingat, kamu jangan macam macam, Lara itu anak rekan bisnis Papa! Jangan buat malu Papa! Siap gak siap kamu harus siap! Lupakan wanita itu!" Ujar Papanya Putra marah dan pergi ke kamar.
"Nak, Mama mohon ya, jangan buat malu keluarga kita! Lagian Lara anak yang baik kok! Mama yakin lama lama kamu bisa cinta dengan Lara!" Ujar Mamanya Putra.
"Papa sama Mama nggak ngerti perasaan aku!" Balas Putra sedih dan pergi ke kamarnya.
*****
Putra sedih dan kesal karena orang tuanya tidak mendukungnya. Putra juga tidak bisa berbuat apa apa selain menerima pertunangannya itu, lalu Putra pun menelpon Maya.
******(Di rumah Maya)*****
"Halo, sayang!" Jawabku.
"Sayang kamu lagi apa?" Tanya Putra.
"Lagi baring aja di kamar! Kamu kenapa gak angkat telpon tadi? Sibuk ya!" Ujar ku.
"Iya tadi agak sibuk sedikit! Sayang aku mau katakan sesuatu sama kamu!" Ujar Putra.
"Ya udah sayang, katakan aja!" Balas ku.
"Sayang! Apapun yang terjadi dengan hubungan kita, satu hal yang harus kamu tau kalau aku cinta sama kamu! Apapun yang membuat kamu sedih nanti yang harus kamu ingat kalau aku cinta sama kamu! Kamu harus ingat itu ya!" Ujar Putra.
"Kok kamu ngomong gitu! Ya pasti lah aku tau kalau kamu cinta sama aku! Kamu aneh deh!" Balas ku heran.
"Ya aku ngomong gini karena aku takut suatu saat nanti aku nyakitin kamu, jadi kalau itu terjadi kamu harus tau kalau aku cinta sama kamu dan aku gak bermaksud untuk nyakitin kamu." Ujar Putra lagi.
"Ish, kamu ini aneh aneh aja! Ya udah kalau gitu jangan nyakitin aku dong!" Balas ku lagi.
"Ya sudah! Aku tutup dulu ya! Bye!" Ujar Putra dan menutup telponnya.
Aku pun jadi aneh dengan perkataan Putra tadi. Apa ada sesuatu terjadi, padahal aku berniat mau mengajak nya untuk pergi ke rumah Lara besok.
Bersambung.....