Merried Without Love

Merried Without Love
part 22



Part 22 (Merried without love)


***(Di Kampus)***


"Hah? Jadi kalian ciuman?" tanya Yesi kaget.


"Ssst, jangan kuat kuat suaranya!" larang Ku pada Yesi.


"Iya maaf, Aku kaget! Terus gimana?"


"Gimana apanya?"


"Aduh **** banget sih May! Terus gimana perasaan kamu pas Dimas cium kamu?" tanya Yesi heboh dan penasaran.


"Oh, ya aku kaget plus deg degan dan malu banget pastinya." jawab Ku santai.


"Itu artinya kamu juga suka sama Dimas." balas Yesi menggoda ku.


"Masa sih? Duh dia kan playboy!"


"Playboy gimana? Aku aja gak pernah lihat dia jalan bareng cewek!" cetus Yesi.


"Terus si Della itu siapa?"


"OMG, jadi kamu masih mikirin di Della itu, gimana kalau kita selidiki Della itu siapa?" ajak Yesi.


"Ogah, kurang kerjaan."


"Kamu mau tau apa nggak yang sebenarnya, harusnya kamu itu senang May, punya suami perfect seperti Dimas! Aku aja iri sama kamu." seru Yesi.


"Ya memang aku mengakui kalau dia itu perfect jadi cowok, tapi gimana dengan Putra?"


"Putra lagi.. Putra lagi.. ya sudah gini aja, untuk memastikan perasaan kamu, gimana kalau kamu jalan ganti gantian dengan mereka? Terus kamu bedaain deh lebih asik dan lebih nyaman dengan siapa, gimana?"


"Boleh juga itu saran kamu." jawab Ku.


Aku pun menelpon Putra untuk ajak ketemuan, lalu Putra pun setuju.


***(Di cafe)***


"Kenapa kalau aku telpon kamu sering matikan?" tanya Putra serius.


"Ya kamu kan tau Aku kalau di rumah istri Dimas, Aku kan masih status istri orang." jelas Ku.


"Aku juga masih status suami orang, tapi Aku masih bisa telpon kamu."


"Ya kamu kan beda, Aku dan Dimas itu sekarang sudah akrab, jadi aku jaga perasaan dia."


"Apa kamu suka sama Dia?"


"Hah? Kamu nanya apa sih? Hehe, udah kita bahas yang lain aja." jawab Ku gugup.


"Ingat kesepakatan kita ya, kamu jangan sampai lupa kalau kita sudah sepakat dan waktu kita tinggal 5 bulan lagi!" tegas Putra.


"Iya, Aku ingat kok!" cetus Ku.


Ketika kami sedang makan Aku izin ke toilet dengan Putra, dan saat aku sudah keluar dari toilet ada cowok yang menyapa Ku.


"Kamu Maya kan?"


"Iya, Kamu siapa ya?" tanya Ku heran.


"Aku Gio, temannya Dimas, kan waktu kalian menikah Aku datang! Kamu lupa ya?" jelas Gio.


"Iya aku sedikit lupa."


"Aku senang akhirnya Dimas bisa menikah sama cinta pertamanya." ujar Gio senang.


"Maksudnya?"


"Iya, Dimas itu sudah suka sama kamu sejak kecil, kalian kan sudah di jodohkan sejak kecil, jadi pas Papanya tunjukkan foto kamu waktu kecil Dimas itu udah suka sama kamu." jelas Gio


Aku pun gak nyangka dengan perkataan Gio tadi dan aku juga teringat kalau Dimas memang memajang foto ku ketika kecil waktu itu.


"Ah, kamu pasti bohong kan? Terus Della itu siapa?" tanya Ku ragu.


"Oh, Della itu memang suka sama Dimas, cuma Dimas cuek aja sama Dia karena Dimas cintanya sama kamu! Ya sudah aku pamit dulu ya, bye!" jawab Gio dan pergi.


"Oh, jadi Della itu bukan pacar Dimas! Aku gak nyangka Dimas suka sama aku dari Kecil, so sweet banget sih Dia." ujarku dalam hati sambil senyum senyum sendiri.


Lalu aku kembali ke meja dan bertemu Putra lagi.


"Put, kayaknya kita gak bisa deh lanjutin hubungan kita." kata Ku yang agak takut.


"Aku gak mau dengar apapun, Maya!" seru Putra kesal.


"Tapi Put, kita udah nyakitin dua hati kalau begini." jelas Ku.


"Aku yang akan lebih sakit hati lagi kalau kamu akhiri hubungan kita! Jangan pernah katakan itu lagi padaku, Paham?" kesal Putra dengan tatapan mata tajamnya.


"Kamu kok jadi seram gini sih Put? Kamu buat aku takut! Aku mau pulang!" cetus Ku kesal.


"May! Maya!" teriak Putra


Putra terus memanggil Aku, namun aku tidak hiraukan dia dan terus jalan menuju mobilku.


Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan cara agar bisa lepas dari Putra, karena bagi ku Putra sudah berubah menjadi orang yang keras tidak seperti dulu yang memperlakukan aku romantis dan lembut.


Lalu Aku pergi ke rumah Lara untuk bertemu dengannya, namun Lara tidak tinggal dengan orang tuanya lalu Mamanya Lara memberi Ku alamat rumah Lara dan Putra.


***(Di rumah Lara dan Putra)***


"Kamu? Ngapain kamu ke sini?" cetus Lara.


"Sabar dulu, bisa gak kita ngomong di dalam?"


"Ya sudah masuk!" Lara yang masih cetus pada Ku.


***(Di ruang tamu)***


"Sebenarnya Aku ke sini mau minta tolong sama Kamu untuk jaga Putra agar dia tidak mengejar Ku lagi." ujar Ku sopan.


"Apa? Aku gak salah dengar kan?" tanya Lara kaget.


"Gak, Aku serius Ra! Hubungan Aku dan suami ku sudah mulai membaik. Aku gak mau nyakitin perasaan suami Aku lagi, Dimas itu lelaki yang baik." mohon Ku pada Lara.


"Aku sudah berusaha May, tapi yang ada di pikiran Putra hanya Kamu! Bahkan saat mimpi aja yang dia sebut nama Kamu, sampai sekarang Kami masih pisah kamar." jelas Lara sedih.


"Kamu berusaha dong Ra, buat Putra cinta sama Kamu! Dulu aja kamu berusaha sekali merebut Putra dari aku kenapa sekarang kamu nyerah gitu aja?" hibur Ku pada Lara.


"Aku akan berusaha May, Aku senang akhirnya kamu bisa melupakan Putra." balas Lara senyum.


Lalu Aku pun memeluk Lara agar dia semangat untuk merebut hati Putra, setelah itu Aku pun pergi.


***(Di rumah Ku dan Dimas)***


"Kamu sudah pulang." sambut Ku senyum manis kepada Dimas.


"Kamu kenapa? Kesambet?" tanya Dimas heran.


"Ish, serba salah pun! Aku tuh dah nyambut kamu dengan senyuman mahal aku tau!" cetus Ku kesal.


"Ya Aku kan heran kok tiba tiba kamu sok manis gitu, apa karena aku pakai semua hadiah kamu?"


"Bukan karena itu loh."


"Apa karena kemarin malam aku cium kamu?" goda Dimas.


"Bukan!" cetus Ku malu.


"Terus apa dong? Berarti bener kan kamu itu kesambet?" ejek Dimas lagi.


"Ah, sudahlah susah ngomong sama cowok gak peka!" seru Ku kesal dan naik ke atas.


Lalu Dimas pun hanya tertawa kecil melihat tingkah ku padanya.


***(Di kamar)***


"Mas, gimana hari ini kita makan malam di luar?" ajak Ku.


"Boleh, tapi tumben?" heran Dimas.


"Mau apa nggak nih? Terus aja sindir aku!" seru Ku dengan wajah manyun kesal.


"Hahaha, iya iya! Ya sudah aku mandi dulu ya istri ku sayang." balas Dimas senyum lebar.


Lalu aku pun membalas senyuman Dimas.


"Mau mandi bareng gak!" canda Dimas


"Ogah!" tolak Ku.


Lalu Dimas pun tertawa lagi dan masuk ke kamar mandi, sementara Aku seperti orang gila yang senyum senyum sendiri.


***(Di restoran)***


"Kapan kamu PKL?"


"Dua Minggu lagi, kenapa?" tanya Ku lagi.


"Udah dapat kantornya?"


"Ya udah dong, kantor Papa kan ada."


"Kenapa gak di kantor Aku aja?" tawar Dimas.


"Telat, lagian Aku udah ajukan di kantor Papa." jawab Ku santai sambil mengunyah.


"Harusnya Kamu pindah di Kantor aku aja."


"Kenapa gitu?" heran Ku.


"Karena Della PKL di kantor Aku kerja sekarang."


Lalu aku langsung tersedak mendengar nama Della dan wajah ku langsung cemberut kesal.


"Ngapain Dia di sana? Kayak gak ada kantor lain aja?" tanya Ku cemberut kesal.


"Cie... Cemburu ya?" sindir Dimas.


"Nggak! Siapa yang cemburu? Lagian gak penting juga Aku cemburu!" kesal Ku dengan wajah manyun.


"Tuh wajah Kamu jadi manyun gitu, jelek tau!" ejek Dimas lagi.


"Kalau aku bilang nggak ya nggak!" cetus Ku lagi.


"Kamu tenang aja ya, lagian yang ada di hati Aku cuma Kamu kok." jelas Dimas senyum dan memegang tangan Ku.


Wajah Ku pun berubah malu dan senyum karena ucapan Dimas tadi, lalu kami pun melanjutkan makan malam kami.


***(Di rumah)***


"Wah...wah! Mesra sekali kalian!" seru Putra yang mengagetkan Kami berdua.


"Putra! Sedang apa Kamu di rumah Kami?" tanya Dimas kesal.


"Aku mau ketemu kekasihku."


"Siapa yang kamu sebut kekasih mu, hah?" Dimas yang semakin kesal.


"Siapa lagi kalau bukan Maya." jawab Putra tengik.


"Ayo Maya kita masuk!" tegas Dimas.


"May, tunggu!" tegas Putra lagi.


"Kamu pergi sana!" marah Ku pada Putra.


Karena tidak terima Aku marah Padanya, lalu Putra menarik tanganku, tidak tinggal diam Dimas melepaskan tanganku dari genggaman Putra.


"Cukup! Kamu pergi sana, please Put jangan buat keributan!" tegas Ku kesal.


"Kamu dengar? Maya suruh kamu pergi!" kesal Dimas.


Akhirnya Putra pun pergi dari rumah Kami.


***(Di kamar)***


"Kok Dia tau rumah Kita?" tanya Dimas heran.


"Aku juga gak tau, Kamu tenang ya." balas Ku santai.


"Sepertinya Kita harus pindah dari sini."


"Ya gak harus pindah juga Dimas! Kamu kira pindah rumah itu gampang."


"Ya sudah, mending kita tidur dari pada mikirin Putra."


Aku berusaha menenangkan Dimas, Aku sangat kesal dengan Putra dengan kejadian tadi. Lalu aku pun berfikir bagaimana caranya untuk buat Putra mengerti.


Bersambung.....