
Part 10 (Merried Without Love)
***(Di kelas)****
Terlihat Lara yang baru datang ke kelas, namun aku hanya bersikap biasa sambil membaca buku ku, dan ternyata Yesi langsung berdiri dari tempat duduk dan menampar Lara yang sedang duduk.
"Apa apaan ini? Kenapa kamu tampar aku!" Ujar Lara kesal dan langsung berdiri.
"Aku sengaja! Kamu memang pantas dapat tamparan! Atau lebih dari tamparan!" Ujar Yesi kesal.
"I don't care! Yang penting bagi aku sekarang kalau putra itu milik aku satu satunya! Aku cuma jaga apa yang seharusnya milik aku!" Ujar Lara santai sambil melirik ke arah ku.
"Kamu ya..."
"Stop Yes, gak perlu buang tenaga untuk dia! Gak penting! Putra juga gak penting buat aku!" Sambung ku tegas.
Lalu Yesi pun kembali duduk ke kursi nya, sementara anak anak yang lain pada heboh dengan keributan yang kami buat. Cuma aku tidak peduli dan kembali duduk sambil menenangkan Yesi yang sedang emosi.
*****(Di kantin kampus)*****
"Maya! Aku perlu ngomong sama kamu!" Ujar Putra yang tiba tiba datang.
"Gak ada yang perlu di omongin lagi, ayo yes, kita pergi udah hilang nafsu makan aku!" Balas ku cetus dan tidak mau menatap Putra.
"Please, May!" Ujar Putra sambil memegang tanganku.
"Eh kalau Maya gak mau itu artinya gak mau!" Sambung Yesi kesal.
"Ya udah kamu mau ngomong apa? Lepas dulu tangan aku!" Ujar ku.
Lalu putra pun melepaskan tangannya dan aku pun menyuruh Yesi untuk menunggu di parkiran.
"May, aku sama sekali gak cinta sama Lara! Aku cinta sama kamu! Kamu mau kan nunggu aku!" Ujar Putra
"Gak! Buat apa aku nunggu kamu! Udah deh nggak usah ganggu aku lagi! Aku gak mau cari ribut dengan Lara! Lagian aku udah lupain semuanya! Lebih baik kamu buang rasa cinta kamu ke aku! Gak guna!" Ujar ku dan langsung pergi.
Aku pun pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Karena aku takut akan mengeluarkan air mata ku lagi.
""""(Di dalam mobil)""""
"Udah jangan nangis lagi dong May! Aku yakin semua akan berlalu kok!" Ujar Yesi sambil menghibur ku.
Lalu aku pun menghusap air mata yang ada di pipiku dan mulai menyalakan mobil dan pergi.
****(Di rumah)*****
"Papa.. Mama.... Udah pulang ya!" Ujar ku senang.
"Hai sayang! Papa kangen sekali sama kamu!" Balas Papa dan memeluk ku.
"Papa, Mama kapan nyampe? Kok nggak bilang kan bisa aku jemput!" Ujar ku.
"Kamu kan kuliah Nak! Mira juga ntar lagi pulang!" Balas Mama.
"Jadi papa gak balik ke luar kota lagi kan?" Tanya ku.
"Nggak! Kerjaan Papa di sana udah selesai!" Balas Papa.
"Syukur lah Pa! Aku senang kita bisa ngumpul bareng begini!" Balas ku senang.
Lalu Papa dan Mama pun pergi ke kamar mereka untuk istirahat.
*****
(Sore harinya di rumah di ruang tengah)
"Mira, Maya! Kalian nanti siap siap ya! Dandan yang cantik!" Ujar Papa ku.
"Ada apa Pa?" Tanya Mira.
"Kita makan malam di rumah teman Papa! Sudah lama Papa tidak bertemu dengan teman Kecil papa itu!" Balas Papa ku.
"Denny boleh ikut gak Pa? Hehe!" Ujar Mira.
"Ya sudah! Boleh!" Balas Papa lagi.
***(Di rumah teman Papa)****
"Hai, sahabat ku! Lama kita tidak bertemu ya!" Sapa Papa dengan temannya itu.
Kami pun saling menyapa, aku dan Mira pun bersalaman dengan teman Papa dan istrinya.
Lalu kami pun berkumpul di ruang tamu sebelum makan malam di mulai.
Kedua orang tua ku pun mengobrol dengan teman Papa ku itu, sementara Mira sibuk ngobrol dengan Denny pacar nya dan aku yang hanya sibuk dengan ponsel ku.
"Oh iya! Kemana anak kamu Dimas?" Tanya Papaku.
"Oh iya sebentar lagi dia pasti pulang! Dia lagi sibuk dengan skripsinya!" Balas Teman Papaku Pak Bobby.
Lalu tidak lama kemudian anaknya Pak Bobby yaitu Dimas pun pulang dan masuk ke rumah. Dimas pun langsung menyalami kedua orang tua ku, Mira, Denny dan Aku.
"Ini anak saya Rud!" Ujar Teman Papa ku kepada Papa.
"Ya ya! Oh ya Dimas! Kenalkan ini Mira anak kedua Om! Ini Denny pacar Mira dari SMA, dan ini anak om yang pertama Maya! Dan nggak akan lupa istri Om tercinta Tante Diana!" Ujar Papa sambil mengenalkan kami satu persatu.
Lalu Dimas pun tersenyum ramah kepada kami, tak lupa aku pun membalas senyuman ramah nya kepadaku.
Lalu tidak lama kemudian kami pun berpindah ke meja makan. Ketika di meja makan keluarga ku sangat gembira.
Ketika kami selesai makan, para orang tua berkumpul di ruang tengah dan membicarakan masa masa indah mereka dulu, sementara Mira dan Denny pergi ke teras depan dan aku pun hanya diam duduk sambil mendengarkan pembicaraan orang tua ku yang gak aku pahami sama sekali, karena sadar aku sedang bosan lalu Dimas mendekati aku dan mengajak aku mengobrol, ketika hendak mengobrol Pak bobby menyapa kami.
"Nak! Ajak Maya duduk di dekat kolam renang! Kalian pasti bosan kan!" Sapa Pak Bobby kepada kami.
Lalu Dimas pun mengangguk malu dan mengajak ku ke kolam renang dan aku pun mau karena aku juga sudah mulai bosan.
***(Di pinggir kolam renang)***
Di pinggir kolam renang ada kursi untuk duduk, dan kami pun duduk di sana.
"Kamu kuliah dimana?" Ujar Dimas.
"Di Universitas Indonesia!" Jawab ku.
"Oh ya! Aku juga kuliah di sana! Kok kita gak pernah ketemu ya!" Balas Dimas kaget.
"Ya mungkin kita beda fakultas dan kan baru ini kita kenal!" Ujar ku senyum.
"Iya juga ya! Aku fakultas hukum! Dan sekarang lagi sibuk skripsi!" Balas Dimas.
"Udah enak dong! Aku masih semester 6, pengen rasanya cepat wisuda dan pergi dari kampus itu!" Ujar ku murung.
"Kok gitu? Masa masa kuliah itu menyenangkan loh!" Balas Dimas.
"Tapi buat aku nggak! Ya untuk saat ini sih!" Balas ku lagi.
"Seperti nya kamu lagi banyak masalah ya di kampus? Ya menurut aku sih, kalau memang ada masalah harus di hadapi, jangan menyerah dan tegar!" Ucap Dimas santai.
Aku pun langsung menangkap ucapan Dimas yang sudah kasih aku motivasi, karena bagiku memang benar yang dia bilang.
Lalu tidak lama kemudian Papa ku memanggil karena kami akan bergegas pulang. Lalu aku pun berpamitan dengan keluarga nya Dimas.
****(Sampai di rumah ku)****
"Maya! Gimana nak Dimas? Baik gak orang nya?" Tanya Papa
"Baik sih! Kok Papa tanya Maya?" Tanya ku.
"Oh, ya gak apa-apa! Soalnya tadi kan kalian sudah ngobrol berdua!" Ujar Papa.
"Kak Dimas tampan ya Pa! Sayang aku udah punya pacar!" Sambung Mira.
"Mira, kalau dengar Nak Denny gimana?" Balas Mama.
"Haha! Iya Ma, aku kan memang bilang kenyataan kalau Kak Dimas itu tampan!" Ujar Mira tertawa.
Lalu semuanya pun tertawa kecuali aku, karena bagiku itu lelucon garing. Lalu aku pun kembali ke kamar ku dan tidur.
Bersambung....