Merried Without Love

Merried Without Love
part 21



Part 21 (Merried without love)


🌞🌞🌞


Keesokan paginya aku bangun dan melihat ada Dimas yang sedang menatap ku.


"Kamu udah bangun?" tanya Ku dengan nada orang yang baru bangun tidur.


"Iya aku udah bangun dari tadi, kamu gak ingat ini hari apa?" tanya Dimas lagi senyum.


"Hari Selasa, emangnya kenapa?"


"Jadi kamu gak tau sama sekali?" tanya Dimas yang mulai kesal dan kecewa.


"Udahlah, aku mau mandi." jawab Ku santai.


Sebenarnya aku tau apa maksud Dimas, pasti Dimas berharap aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya, ntah kenapa aku suka dengan ekspresi kesal dia.


Setelah aku selesai mandi dia terus bertanya kepada ku.


"Apa kamu yakin gak tau hari ini ada apa?" tanya Dimas harap.


"Nggak! Udah mandi sana, aku mau ke dapur untuk siapkan sarapan."


Ketika keluar kamar aku langsung ngakak senang karena sepertinya Dimas sangat berharap aku tau ulang tahun dia.


***(Di meja makan)***


"Kamu keterlaluan!" kesal Dimas yang sedang menyantap makanannya.


"Apaan sih? Gak jelas!" cetus Ku.


"Udah kenyang! Aku pergi dulu." cetus Dimas Lagi dan pergi.


"Hahaha, ternyata dia bisa kesal juga! Mau dia kesal, senyum, cemberut wajah flat, masih cakep aja." lamun Ku dengan senyum senyum sendiri.


Lalu aku tersadar dengan lamunanku dan menepuk nepuk pipi Ku.


"Aw, sakit juga! Sepertinya aku mulai gila, masa iya aku muji si Dimas? Emang dah gila aku ini!" lirih Ku aneh.


***(Di kampus)***


"Aku ikut ya acara ulang tahun Dimas?" tanya Yesi.


"Boleh, nanti pulang dari kampus kamu langsung aja ke rumah aku, soalnya aku kan harus bawa Dimas ke sana." jawab Ku.


"Oke, hari ini kan kita cuma satu mata kuliah, mending kamu masakin Dimas makan siang."


"Iya juga ya, boleh tuh."


Ketika selesai kuliah, aku pun pulang ke rumah dan memasak udang saos tiram kesukaan Dimas.


Saat di perjalanan aku membeli bunga untuk Dimas.


***(Di kantor)***


"Permisi, saya mau bertemu dengan Dimas Wijaya." ucap Ku kepada resepsionis.


"Dengan siapa?"


"Saya istrinya."


Lalu resepsionis itu menelpon ke ruangan Dimas, dan mempersilahkan aku pergi.


"Baiklah, Bu! Ibu naik ke lantai dua, nanti belok kanan di pintu ke tiga, di depan pintu sudah ada nama Pak Dimas Wijaya di sana."


"Terima kasih."


***(Ruangan Dimas)***


"Hai, Pak Dimas Wijaya." sapa Ku senyum.


"Tumben kamu ke kantor? Bunga itu untuk aku ya?" tanya Dimas senyum.


"Iya bunga ini untuk kamu, dan aku juga bawa makan siang kesukaan kamu." jawab ku senyum dan memberikan bunga.


Ketika aku memberikan bunga Dimas langsung senang dan memelukku.


"Makasih ya istri Ku." ucap Dimas sambil memeluk ku.


Aku pun tidak menolak dia memelukku malah ntah kenapa aku sangat senang. Lalu Dimas membuka kotak makan yang aku bawa sambil duduk di kursi sofa tamunya.


"Wah, pasti enak." puji Dimas.


"Iya dong, ini kan spesial untuk Pak Dimas." canda Ku.


Lalu Dimas makan masakan aku, sementara aku memandang Dimas senyum karena lahap, lalu tiba tiba Dimas menyuapi aku, lalu aku pun membuka mulut ku dan mengunyahnya.


"Kamu pasti belum makan kan?" tanya Dimas.


"Iya belum, aku bisa makan setelah pulang dari sini kok." jawab Ku.


"Ya sudah kita makan berdua ya, Aku suapin kamu ya." tawar Dimas.


"Nggak usah, kamu aja yang makan." tolak Ku padahal aku lapar.


"Sudah, lagian kalau aku sendiri juga gak habis."


Lalu Dimas menyuapi aku lagi dengan senyuman manisnya. Setelah kami makan aku pun berpamitan pulang.


"Kalau gitu aku pulang ya."


"Jangan, kamu pulang sama aku aja." cegah Dimas.


"Tidak usah aku pulang aja, aku tunggu kamu di rumah ya." jawab Ku senyum.


"Ya sudah hati-hati ya." balas Dimas senyum lagi.


**(Sore harinya di rumah)**


"Dimas, kamu mandi terus siap siap ya." ujar Ku.


"Emangnya mau ngapain?" heran Dimas.


"Iya, aku mau ajak kamu keluar, udah buruan siap siap aku tunggu di bawah."


"Halo, Ma! Sebentar lagi Maya dan Dimas ke sana ya, sudah beres kan semua?"


"Sudah kok Nak, semuanya sudah berkumpul di sini." jawab Mamanya Dimas.


Lalu aku dan Dimas pun bergegas pergi, saat sampai di depan rumah ku.


"Loh ini kan rumah kamu?" heran Dimas.


"Iya ini rumah aku, udah buruan turun!"


Lalu kami pun turun dari mobil, dan mengajak Dimas masuk, saat aku membuka pintu.


"Suprise!" kejut semuanya pada Dimas.


Dimas pun terlihat sangat senang sekali akan kejutan ulang tahunnya. Lalu semuanya pun menyanyikan lagu ulang tahun untuk untuk Dimas dan tak lupa Dimas pun meniup lilin yang ada di kue.


Saat Potong kue Dimas menyuapi orang tuanya dulu, lalu orang tuaku setelah itu Dimas pun menyuapi aku kue.


"Dimas, jangan suapi aja dong, cium istri mu!" suruh Papa Ku.


"Ahahaha, tidak perlu Pa, banyak orang." cela Ku malu.


Lalu Dimas menatap Ku dan langsung mencium kening Ku, sementara aku terdiam seperti patung karena kaget.


"Makasih ya istri ku sayang." bisik Dimas kepadaku yang masih diam seperti patung.


Lalu semuanya pun menarik Dimas ke ruang tengah untuk membuka kadonya. Sementara aku masih diam kaku.


"Dia bilang apa tadi? Istriku sayang? Ya ampun, dia baru aja cium kening aku." ucap ku dalam hati malu dan pipi ku memerah.


"Kak, ngapain diam di situ? Ayo buka kado!" tegas Mira yang membuat ku kaget dan tersadar.


**(Di ruang tengah)**


"May, kado kamu tadi mana?" tanya Yesi.


"Ada kok, nanti di rumah aku kasih." jawab Ku sambil melirik Dimas.


"Buat semuanya, makasih ya! Dimas sangat terharu dengan kejutan ini, Dimas juga senang di ulang tahun Dimas tahun ini berkumpul dengan dua keluarga dan bisa merayakan dengan istri tercinta." ucap Dimas senyum sambil melihat ke arahku.


Aku yang sadar dengan tatapan Dimas dan ucapannya yang manis membuat ku menunduk dan malu.


"So sweet! Aku jadi pengen nikah juga." puji Mira.


Mendengar perkataan Mira tadi semuanya pun tertawa.


***


Tidak lama kemudian kami semua pun makan malam, setelah selesai makan malam semuanya pun pamitan pulang termasuk aku dan Dimas.


***(Di rumah ku dan Dimas)***


"Mana kado untuk Ku?" tanya Dimas tidak sabar.


"Ada di kamar." jawab Ku santai.


Lalu kami berdua pun pergi ke kamar, saat Dimas membuka pintu kamar Dimas kelihatan kaget akan suprise yang aku buat khusus untuk Dimas.


"Happy birthday ya, maaf aku cuma bisa kasih suprise kecil kecilan saja." ucap Ku senyum.


"Makasih ya, ini saja aku sudah senang." jawab Dimas terharu.


"Ya sudah, tiup lilinnya sana, tapi sebelum itu make a wish dulu." ujar Ku.


Lalu Dimas pun make a wish dan langsung meniup lilinnya.


***Make a wishnya Dimas***


"Semoga istriku bisa mencintai Aku seutuhnya dan rumah tangga kami bahagia."


******


Lalu aku pun memberikan kado yang sudah aku beli untuk nya dan Dimas pun membukanya.


"Biru?" tanya Dimas singkat.


"Iya, kamu gak suka ya?" tanya Ku lagi ragu.


"Suka, suka banget malah, aku kaget aja kamu tau warna kesukaan aku." jawab Dimas senang.


"Syukurlah kamu suka." jawab Ku lagi lega.


Lalu Dimas meletakkan hadiahnya dan menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan ku dengan menatap wajahku tajam, dan sebaliknya aku juga menatap Dimas. Saat kamu saling bertatapan Dimas mengelus pipi ku dan dia mendekatkan wajahnya sehingga hidung kami bersentuhan lalu Dimas tiba tiba mencium bibir ku.


Ketika Dimas mencium bibir ku mata ku langsung terbelalak kaget, terdiam kaku dan jantung Ku berdetak kencang.


"I love you." ujar Dimas mesra.


"Hah?" balas Ku kaku.


"Maaf ya, aku sudah mencium kamu?" ucap Dimas malu.


"First Kiss." ujar Ku pelan dan gugup.


"Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Dimas


"Itu first Kiss aku loh! Aduh, gimana ini?" ujar Ku malu dan langsung masuk ke kamar mandi.


"First Kiss? Jadi aku orang pertama." ungkap Dimas tersenyum dan senang.


Lalu tidak lama aku pun keluar kamar mandi, aku tidak berani menatap Dimas karena jujur aku masih berdebar, lalu Dimas hanya tersenyum dan masuk kamar mandi untuk ganti pakaian.


"Ya ampun, gimana ini? Aku gak nyangka Dimas mencium aku." ucap Ku gelisah.


Lalu Dimas keluar dari kamar mandi, aku langsung tarik selimut dan pura pura tidur, lalu Dimas mendekat dan berbaring.


"Aku tau kamu belum tidur! Aku serius dengan ucapan aku tadi, aku memang benar mencintai kamu May, aku juga gak mau paksa kamu untuk mencintai aku balik, good night!" ungkap Dimas dan tidur.


Aku tidak membalas perkataan Dimas tadi, aku hanya diam saja karena aku masih belum yakin dengan perasaan aku bagaimana dengan Dimas. Aku sungguh dilema dengan mereka berdua, satu sisi ada Putra yang masih berharap dengan kembali hubungan kami dan satu sisi ada Dimas bilang cinta sama aku namun aku masih ragu ketulusan cinta dia.


Bersambung.....