
Part 12 (Merried Without Love)
Lalu Dimas pun turun ke bawah dengan ekspresi murung dan datar, lalu di bawah saat kumpul Dimas hanya diam karena sudah tidak semangat.
Tidak lama kemudian Dimas dan keluarganya pun pamit pulang.
****(Di rumah Dimas)****
"Pa, Ma! Apa sebaiknya pernikahan ini di batalkan aja!" Ujar Ku murung.
"Loh, kenapa? Jangan bilang kamu sudah punya pacar?" Balas Pak Bobby.
"Bukan Pa! Dimas sama sekali tidak punya pacar! Sepertinya Maya gak suka sama Dimas, makanya Dimas mau mundur aja deh!" Balas Dimas tidak semangat.
"Nak, harusnya kamu usaha dong dapetin hati Maya! Jangan nyerah begini!" Ujar Mamanya Dimas.
"Iya sih Ma! Kalau Maya aja gak bahagia buat apa?" Balas Dimas.
"Pokoknya pernikahan ini akan di laksanakan! Lagian Om Rudi dan Papa dulu sudah berjanji untuk menjodohkan kalian!" Ujar Papanya Dimas.
Lalu Dimas pun tidak berkata apa apa lagi, Dimas hanya mengikuti keinginan orang tuanya.
*****(Di kamar Maya)****
"Kak! Boleh masuk gak?" Tanya Mira yang berdiri Depan pintu kamar ku.
"Boleh saja! Ngapain pake izin segala sih!" Balas ku.
"Kak! Sebenarnya hubungan kakak sama cowok yang waktu itu gimana? Kalau kakak masih pacaran sama cowok itu biar Mira bilang ke Papa! Jadi kakak gak perlu di jodohkan! Kasihan Kak Dimas tau, sepertinya dia suka sama Kakak!" Ucap Mira.
"Sama cowok yang waktu itu udah putus! Lagian bagi kakak cowok itu jahat! Bagi kakak cowok itu cuma bisa nyakitin cewek!" Balas ku kesal.
"Ya udah kalau gitu pacaran aja sama cewek!" Balas Mira cetus.
"Apaan sih kamu! Kakak masih normal ya!" Balas ku tegas.
"Ya abisnya kakak itu aneh! Kalau gak mau sakit hati ya gak usah hidup! Lagian suatu hubungan itu harus ada duka kak, jangan suka nya aja! Kakak pikir selama aku pacaran sama Denny baik baik aja? Nggak kak, kami udah bolak balik berantem Mulu!" Ucap Mira.
"Sok bijak deh kamu! Lagian kalian itu memang jarang akur kakak lihat! Hubungan kayak apa gitu!" Ujar ku.
"Kakak ku tercinta! Hubungan yang penuh canda dan berantem terus baikan dan bahkan hal kecil aja bisa ribut, itulah cinta kak! Itulah bumbu bumbu cinta! Dari benci bisa tumbuh cinta!" Balas Mira lagi.
"Itu namanya hubungan gak normal! Mana ada hubungan cinta berantem terus! Udah sana kakak mau tidur!" Balas ku cetus.
Lalu Mira pun keluar dari kamar ku.
🌞🌞🌞
(Keesokan harinya)
"Maya! Gimana?" Tanya Papa ku.
"Apanya Pa?" Tanya ku lagi.
"Ya perjodohan kamu! Kamu setuju kan nikah sama Dimas?" Tanya Papa.
"Maya gak mau! Lagian Maya gak mau nikah Pa! Maya mau nikah sama pilihan Maya sendiri!" Jawab ku.
"Maya, kamu gak kasihan sama Papa! Papa dan Om Bobby itu sudah buat janji semenjak kalian kecil, kami berniat menjodohkan kalian kalau kalian sudah besar nanti! Kalau kamu gak mau menikah dengan Dimas, Papa yang berdosa Nak!" Ujar Papa yang mulai tampak sedih.
"Pa, bukan maksud Maya begitu! Cuma Maya belum siap aja Nikah muda Pa! Kan Maya juga masih kuliah!" Balas ku lembut.
"Nak! Kamu sudah cukup umur, masalah kuliah itu kan bukan masalah Nak, kamu kan bisa kuliah walaupun sudah menikah! Papa mohon ya Nak! Kamu tega sama Papa?" Ujar Papa sedih.
"Ya sudah, Maya pikirkan lagi ya Pa! Nanti kalau Maya udah siap mental, Maya akan terima pernikahan ini!" Ujar ku lagi.
Lalu aku pun bersiap untuk pergi ke kampus. Aku benar-benar bingung sekarang harus apa.
****(Di kampus)*****
"May! Udah dengar kabar gak?" Ujar Yesi heboh.
"Kabar apa?" Tanya ku.
"Putra dan Lara lagi ribut tuh di kelas, ayo May! Kita lihat yok!" Ujar Yesi
Lalu kami pun buru buru ke kelas, dan ternyata benar Putra dan Lara sedang bertengkar sampai sampai anak anak yang lain merekam pertengkaran mereka.
"Berhenti! Kalian apa apaan sih bertengkar di sini? Gak malu ya?" Ujar ku.
"Stop Lara! Kamu yang salah dalam hal ini! Kamu yang udah paksa orang tua aku untuk tunangan sama kamu! Jangan salahkan Maya!" Ujar Putra lagi Marah dengan Lara.
"Iya benar! Lara ini perebut pacar orang! Kalian semua sebar video nya ya! Lara ini bukan orang yang baik, dia ini musuh dalam selimut!" Ujar Yesi kesal.
"Eh! Kamu sama Maya itu sama aja! Sama sama buruknya!" Balas Lara lagi.
"Stoooppppp! Udah cukup semua! Aku sama Putra gak punya hubungan apa apa! Aku itu udah punya calon suami, jadi gak ada yang perlu di ribut kan lagi..! Bubar semua!" Ujar ku kesal.
Lalu semuanya pun pergi, sementara Putra kaget dengan ucapan Maya tadi.
"Beneran kamu mau nikah?" Tanya Putra penasaran.
"Iya! Jadi kalian gak perlu ribut lagi!" Balas ku tegas.
"Tapi aku cinta sama kamu May!" Ujar Putra lagi.
"Kalau kamu cinta sama aku, kamu gak akan bohongi aku Put! ayo Yes kita pergi!" Balas ku dan pergi dengan Yesi.
******
"Kamu dengar kan sayang! Maya akan menikah! Jadi kamu gak usah mikirin Maya lagi ya?" Ujar Lara merayu.
"Kalau begitu kita menikah! Tapi jangan harap kamu bisa dapatkan cinta aku!" Balas Putra dan pergi.
Lara pun semakin kesal.
****(Di kantin)****
"May! Kamu seriusan mau nikah?" Tanya Yesi penasaran juga.
"Iya! Papa udah jodohi aku sama Dimas!" Balas ku.
"Dimas yang waktu itu? Yang cakep itu?" Tanya Yesi kaget.
"Iya! Biasa aja kali ekspresinya Yes?" Ujar ku.
"Please deh May! Itu bagus dong! Secara Dimas itu cowok perfect! Dari pada si Putra brengsek itu!" Balas Yesi lagi.
"Semua cowok itu sama aja! Gak ada bedanya!" Balas ku lagi.
"Emang susah ya ngomong sama kamu! Harus pake urat!" Ujar Yesi.
"Ya udah gak usah bahas itu!" Balas ku senyum.
Lalu tiba tiba Lara datang menghampiri kami.
"Thank you ya Maya! Berkat kamu Putra mau menikah dengan aku! Bye!" Ujar Lara dengan menyeleneh dan pergi.
"Ih, dasar Mak lampir!" Ujar Yesi kesal.
Satu sisi aku sedih karena Putra akhirnya akan menikah dengan Lara, lalu aku pun berusaha tegar dan harus melupakan dia.
****(Di rumah ku)****
Semua keluarga pun sedang santai di ruang tengah, lalu aku pun bicara soal pernikahan ku.
"Pa, Ma! Maya setuju menikah!" Ujar ku.
"Beneran?" Ujar Papa senang.
Semuanya pun bergembira, kecuali aku karena pernikahan ini.
Lalu Papa pun langsung menelpon Om Bobby atas persetujuan pernikahan ini.
***(Di rumah Dimas)***
"Dimas! Ada kabar baik! Tadi Om Rudi menelpon katanya Maya sudah setuju untuk menikah!" Ujar Papanya Dimas.
"Bener Pa?" Tanya Dimas yang masih ragu.
"Iya Dimas! Ngapain sih Papa bohong!" Balas Papanya Dimas.
Dimas pun terlihat senang karena akhirnya Maya setuju Untuk menikah.
Bersambung....