
Part 18 ( Merried without love)
***(Di cafe)***
"Aku bingung ini guys, satu sisi aku senang dengan pernikahan ku, tapi satu sisi aku rasanya tersiksa." ujar Dimas murung.
"Kamu sabar aja dulu Mas, istri kamu itu belum sadar aja dengan perasaan kamu ke dia. Coba deh kamu perhatian terus ke dia, buat dia jatuh cinta sama kamu, jangan mau kalah dong sama Mantan dia." nasehat Gio.
"Ntahlah, akhir akhir ini aku tidak menyapa Maya dan hanya pura pura sibuk dengan kerjaan ku. Aku masih sakit hati karena dia berpelukan dengan orang lain." balas Dimas sedih.
"Jangan gitu dong Bro! Dimas yang aku kenal orangnya pantang menyerah, apalagi kamu udah cinta sama Maya dari kecil, masa nyerah gitu aja sih!" balas Miko yang semangat.
"Buat apa aku berusaha kalau ujung ujungnya dia cintanya sama orang lain?"
"Bro! Yang sering ketemu Maya itu kamu, Kamu yang ada di sisi dia setiap saat, buat dong sesuatu hal yang beda yang membuat Maya ingat sama Kamu. Cewek itu mahluk yang perlu perhatian, cewek itu suka di manja dan di kasih hadiah." ujar Gio.
"Maya itu beda, Dia gak seperti cewek cewek yang kamu deketin. Hal hal romantis dari kamu itu gak mempan!"
"Masa iya jurus playboy aku gak mempan? Kalau gitu kamu harus tau kesukaan Maya apa, cari sesuatu yang dia suka." ujar Gio lagi.
"Bener juga ya. Aku akan cari tau dari sahabat nya dan Adiknya juga." ujar Dimas yang mulai semangat.
Lalu Dimas pun membuat janji dengan Mira dan mencari informasi tentang Maya.
***(Di cafe dekat kampus Mira)***
"Kak Maya itu suka masak, Dia itu dulu suka sama cowok yang suka masak Kak."
"Masak ya? Terus apalagi?"
"Kak Maya itu gak suka sama bunga mawar, dia sukanya bunga anggrek, terus dia phobia kecoa sama cicak, jadi kalau dia lihat ada kecoa dan cicak pasti dia melompat ketakutan. Makanan kesukaan kak Maya itu ayam rica rica, jadi kalau kakak masakin dia ayam rica-rica pasti dia senang banget."
"Itu aja? Apa lagi hal dia yang gak suka dari cowok?"
"Dia benci banget cowok yang cuek, dia suka cowok yang romantis dan perhatian kak. Dia suka boneka panda, Dia suka cowok wangi. Sepertinya itu aja yang Mira tau, Kalau kakak mau tau lebih rinci lagi coba tanya kak Yesi."
"Okelah. Makasih ya adik ipar kakak, ya sudah ini uang untuk kamu shopping." ujar Dimas sambil mengeluarkan uang di dompetnya.
"Wah kak! Banyak banget! Seriusan kakak kasih aku 5 juta?" balas Mira senang.
"Iya itu buat kamu, tapi ingat jangan bilang kak Maya ya kita ketemu."
"Sip, aman kok kak!"
***(Di kampus)***
"Hai!" sapa Dimas.
"Dimas, Kamu di sini?" ujar ku kaget.
"Iya aku ke sini mau jemput Yesi, Bukan kamu!"
"Hah? Aku?" balas Yesi kaget
"Ayo yes, Kita pergi. Maya pasti bisa jaga diri, Iya kan May?"
"Ha, aku.. hah?" ujar ku melongo.
Lalu Dimas menarik tangan Yesi dan membukakan pintu mobilnya dan pergi. Sementara aku terdiam seperti patung dan melongo heran dengan Dimas yang mengajak Yesi pergi.
"Mereka mau kemana? Tega banget Yesi ninggalin aku, Huhuhuhu." ujar ku sedih dan kesal.
**Di cafe***
"Jadi sebenarnya gini Yes, aku sengaja ajak kamu keluar untuk cari tau tentang Maya lebih dalam."
"Oh begitu. Aku yakin sekarang pasti Maya terdiam terpaku tebodoh! Hahaha."
"Maksudnya?"
"Iya, abis kamu tiba-tiba aja ajak aku pergi, apalagi kamu kan udah diamin dia akhir akhir ini." ujar Yesi
"Oh jadi dia cerita ke kamu ya."
"Apa aja dia cerita, Aku tuh kesal sama kamu Mas, harusnya kamu jangan nyerah gitu dong!"
"Iya aku tau, makanya sekarang aku pengen tau tentang Maya lebih jauh."
"Sebenarnya Maya itu hatinya halus dan baik. Dia cuma susah move on aja karena Putra masih aja ganggu dia!"
"Iya, coba aja Putra itu gak ganggu kami! Aku yakin putra bukan orang yang baik!"
"Iya aku juga mikir gitu. Ya sudah kamu mau tau apa tentang Maya?"
"Aku udah tau apa aja yang dia suka dan tidak suka, Aku cuma pengen tau sebenarnya yang buat Maya suka sama Putra itu apa!"
"Oh, Maya suka sama Putra itu karena dia keren dan aktif dalam bidang sosial di kampus. Putra juga romantis sih orangnya, jadi intinya kamu itu harus romantis sama dia."
"Jadi begitu ya."
"Satu lagi, Maya itu tipe orang yang harus di tarik ulur."
"Maksudnya?"
"Tarik ulur itu kamu kadang baik ke dia, romantis ke dia, perhatian ke dia, tapi setelah itu kamu pura pura cuek ke dia, jahilin dia, buat dia kesal. Aku yakin pasti lama lama dia cinta sama kamu, Maya itu sadar kalau dia cinta sama orang ketika dia sudah kehilangan!"
"Begitu ya, Kamu ada benernya juga sih. Buktinya dia masih belum move on."
"Tepat sekali! Aku tau masalah enam bulan itu. Kamu sabar ya Mas, Aku yakin kalian pasti berjodoh." hibur Yesi.
"Makasih ya Yes!"
**(Di rumah)***
"Kaget ya! Kaget karena sudah selingkuh dengan teman aku!" cetus ku.
"Siapa yang selingkuh." balas Dimas.
"Terus ngapain kamu ajak Yesi pergi tadi? Jadi sekarang sasaran kamu Yesi bukan Della lagi!" cetus ku kesal.
"Siapa yang...Eh tunggu dulu, Kamu cemburu?" tanya Dimas senyum.
"Idih, geer banget kamu! Please gak usah geer gitu ya, Aku cuma gak mau nanti Yesi sakit hati aja!" cetus ku ngeles.
"Ya iya, gak mungkin lah kamu cemburu. Kamu kan sudah cinta mati sama Putra! Ya sudah aku mau mandi trus ganti baju." balas Dimas dan pergi.
"Hah! Dasar! Waktu itu Della, sekarang mau dekati Yesi!" ejek ku.
***(Di ruang tengah)***
"Loh kamu mau kemana lagi?" tanya ku penasaran.
"Kamu mau ikut?" tawar Dimas.
"Mau!"
"Ya udah ayo!"
Lalu aku pun ikut dengan Dimas, aku juga gak tau mau kemana, karena sepanjang perjalanan Dimas hanya diam dan menyetir mobilnya.
***(Toko bunga)***
"Loh ini kan toko Bunga?" tanya ku heran.
"Yang bilang ini toko buku siapa?" jawab Dimas flat.
"Ish, menyebalkan!" gumam ku pelan dan geram.
"Kamu bilang apa?"
"Tidak! Hehe, Bukan apa apa."
Lalu Dimas pun berjalan duluan sementara aku di belakang melet melet kesal kepadanya.
***(Di dalam toko)***
"Saya pesan bunga anggrek ya!" ujar Dimas.
Ketika dia bilang anggrek aku sontak kaget karena itu kan Bunga favorit aku, lalu aku pun senyum senyum sendiri karena senang Dimas tau bunga kesukaan ku.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?"
"Hah? Nggak, bunga anggrek itu untuk aku kan?" tanya ku senang
"Geer! Bunga anggrek itu untuk hiasan di rumah." jawab Dimas datar.
Wajah ku pun berubah cemberut kesal dan malu juga padanya karena sudah kegeeran.
"Hahaha." tawa Dimas sambil melihat wajah cemberut ku.
"Kenapa? Ada yang lucu!" cetus ku.
"Iya lucu. Bunga ini memang untuk kamu kok, bunga ini tanda maaf aku karena akhir akhir ini udah cuek sama kamu." ujar Dimas lembut dan memberikan bunga anggrek kepada ku.
Yang awalnya wajahku cemberut sekarang sudah berubah senang karena bunga itu memang untuk ku.
"Ya sudah ayo kita pergi lagi." ujar Dimas.
"Mau kemana?"
"Ke supermarket, untuk makan malam hari ini aku yang masak." jawab Dimas dan masuk ke mobil.
***
"Hah? Dia bisa masak? Masa sih?" gumam ku dalam hati heran.
****
Lalu kami pun pergi ke supermarket dan belanja kebutuhan dapur. Aku gak menyangka Dimas tau juga dalam urusan dapur dan tidak lupa aku juga membantu Dimas mengambil beberapa bumbu dapur.
****(Di dapur rumah)****
"Kamu yakin bisa masak? Aku yakin pasti gak enak!" ejek ku.
"Kamu lihat saja nanti, yang penting aku kan udah usaha masak." jawab Dimas.
"Memangnya kamu mau masak apa sih?"
"Ayam rica-rica."
"Benarkah? Itu kan kesukaan aku, mau aku bantuin gak?" tawar ku semangat.
"Boleh." balas Dimas senyum.
Aku pun membantu Dimas untuk memasak, aku gak nyangka kami sangat akrab di dapur, aku juga tertawa melihat Dimas yang kaget kena jepratan minyak.
"Aduh! kok muncrat gini?" rintih Dimas.
"Hahaha. Ya namanya juga goreng ayam. Sini sini tangan kamu!" ujar ku lucu dan memegang tangan Dimas yang terkena minyak.
Aku salut akan usaha Dimas untuk masak di dapur padahal dia belum pernah masak sebelumnya.
Bersambung....