
Part 24 (Merried without Love)
Setelah dari Kantor Dimas aku juga singgah Ke kantor Putra, karena seingat Aku dia selalu melarang Aku datang ke kantor.
"Pak Putra Kurniawan ada?" tanya Ku pada serketarisnya.
"Ibu dengan siapa? Apa sudah buat janji terlebih dahulu?" tanya Serketarisnya lagi.
"Saya selingkuhan Pak Putra Kurniawan." jawab Ku dengan nada Kuat.
Beberapa karyawan yang ada di ruangan tersebut pun memandang Ku sinis, namun Aku tidak peduli karena memang ini yang Aku mau, Aku mau buat Putra malu dan Dia akan membenciku.
Lalu serketaris Putra mempersilahkan Aku masuk.
**(Di ruangan Putra)**
"Ngapain Kamu ke sini? Aku kan sudah bilang jangan ke sini? Terus kenapa kamu bilang selingkuhan? Kalau semua karyawan gosipin Aku gimana?" tanya Putra geram.
"Loh kenapa? Kamu takut!" gumam Ku.
"Aku gak takut, kalau mertua Aku tau gimana? Sebagian saham Kantor ini Papanya Lara yang pegang!" kesal Putra.
"Bagus dong, jadi Kamu bisa cerai sama Lara." jawab Ku santai.
"Gila kamu ya? Kalau Aku cerai sekarang yang ada Aku gak bisa dapat apa apa!" kesal Putra.
"Jadi kamu lebih mentinggin harta ketimbang Aku?" tanya Ku cetus.
"Bukan begitu, Kita kan punya kesepakatan, Kamu jangan cari masalah deh, mending sekarang Kamu pulang! Kalau mau ketemu di luar aja!" tegas Putra kesal.
"Jadi ini sifat asli Kamu?" tanya Ku cetus.
"Maya, tolong pahami Aku dong!"
"Gak, Aku udah paham kok, Aku bersyukur gak jadi nikah sama Kamu." jawab Ku senyum sinis.
Lalu sesuai rencana Ku, Lara datang sambil marah marah.
"Oh, jadi ini yang kamu lakukan di kantor? Selingkuh di belakang Aku?" tanya Lara marah.
"Lara, suara Kamu kecilkan! Kalau yang lain dengar gimana?" suruh Putra panik.
"Biarin, Aku juga pengen Papa tau kelakuan Kamu di belakang Aku!" Bentak Lara.
"Maya lebih baik kamu pergi, situasi lagi gak bagus." ujar Putra tenang.
"Nggak! Aku mau di sini, biar Lara tau juga tentang kesepakatan kita!" tegas Ku.
"Kesepakatan apa?" tanya Lara kesal.
"Nggak ada, nggak ada!" kesal Putra lagi panik.
***
"Hah? Panik juga kamu kan Put? Ternyata Kamu gak benar benar tulus sama Aku." ujar ku dalam hati senang.
****
"Aku udah gak sanggup sama Kamu Put, sekarang Kamu pilih Aku atau Maya?" tanya Lara kesal.
"Aku cinta dengan Maya, tapi Aku pilih Kamu" jawab Putra.
Aku pun langsung kaget ternyata Putra tanpa segan jawab seperti itu, Aku pun semakin ilfil dengan Dia.
"Put, mulai sekarang jangan cari Aku lagi! Aku sudah tau harus memilih siapa!" cetus Ku kesal dan pergi.
"Kenapa sih Put, Kamu selalu saja nyakitin Aku?" tanya Lara nangis dan pergi.
Putra pun semakin kesal dengan kekacauan yang terjadi, lalu Putra pun jadi bahan gosip di kantor.
**(Di parkiran)**
"Kamu yang sabar ya Lara? Kamu sudah tau sifat Putra gimana, apa Kamu masih mempertahankan pernikahan Kamu?" tanya Ku yang ikut sedih.
"Ntahlah, Aku tulus mencintai Putra! Aku takut Papa akan tau kejadian ini dan menghancurkan Putra, Papa Aku itu wataknya keras." jawab Lara sedih.
"Ya sudah, Aku yakin dengan cara ini pasti Putra benci banget sama Aku, kalau gitu Aku pamit pulang ya." ujar Ku sambil memeluk Lara dan pergi.
***(Di rumah Ku dan Dimas)***
Aku mandi lalu bersiap, dan menyiapkan makan malam.
(Di meja makan)
"Tadi Aku ke kantornya Putra." ucap Ku.
"Apa? Ngapain?" tanya Dimas penasaran.
"Buat onar."
"Loh, emangnya kenapa Kamu buat onar si sana?"
"Aku mau buat Putra benci sama Aku, biar dia ninggalin Aku" jawab Ku.
"Ya ampun May, gak harus kayak gitu juga caranya, kan kasihan Putra jadi bahan gosip di Kantor! Apalagi Dia bos di sana" nasehat Dimas.
"Ya habis Aku bingung harus apa, rencana Aku tuh buat dia benci sama Aku" ujar Ku nyesal.
"Lain kali Kamu jangan begitu ya, jangan lupa kamu minta maaf ke Putra."
"Malas ah, tapi ada untungnya juga Aku buat ribut, soalnya dari situ Aku tau Putra yang sebenarnya" ujar Ku pede.
"Emangnya dia kenapa?"
"Iya, masa Dia bilang mencintai Aku tapi pilih Lara, ketahuan banget kan Dia cuma ngincar kekuasaan jabatan" jawab Ku kesal.
"Aku memang udah yakin dari awal kalau Dia bukan cowok yang baik, cuma kamu cinta mati banget sama Dia" sindir Dimas.
"Sekarang udah gak! Aku kesal sama Dia!" cetus Ku.
"Ya kamu lah" ceplos Ku
Dimas pun tersenyum bahagia karena Aku sudah mengakui cinta dengan Dimas. Sementara Aku tersipu malu.
"Cie..malu ya!" ejek Dimas.
"Apaan sih? Tadi itu cuma becanda!" tegas Ku malu.
"Beneran juga gak apa-apa! Aku malah senang kalau beneran." jelas Dimas senang.
Lalu aku pun diam karena malu dan gak tau mau bilang apa lagi.
***(Di rumah Lara dan Putra)***
Ternyata kejadian tadi sampai ke telinga orang tua Lara dan Putra, Lalu Papanya Lara pun marah kepada Putra karena sudah menyakiti hati Lara.
"Berani sekali Kamu menyakiti anak saya? Harusnya Kamu jaga anak saya dengan baik, bukan selingkuh sana sini! Kalau begitu saya cabut semua saham saya di kantor Kalian!" Kesal Papanya Lara kepada Putra dan orang tuanya Putra.
"Saya minta maaf Pa, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti Lara, saya cuma belum bisa mencintai Lara." jawab Putra nyesal.
"Putra, Papa sangat kecewa sama Kamu, Papa kira kalian baik baik saja ternyata ini yang kamu perbuat kepada Lara? Benar benar membuat Papa malu!" kesal Papanya Putra.
"Sudah, ini semua bukan sepenuhnya salah Putra kok, Lara juga salah." cela Lara.
"Lara, kamu ikut Papa pulang! Papa akan urus surat perceraian Kamu dan Papa juga akan cabut saham di kantor Kalian!" kesal Papanya Lara.
"Gak Pa! Putra suaminya Lara, Lara gak mau pisah sama Putra Pa." ucap Lara nangis.
"Pa, putra juga minta maaf! Putra janji gak akan nyakitin Lara lagi, Putra akan belajar mencintai Lara!" tegas Putra.
Ketika mendengar ucapan Putra, Lara yakin kalau Putra mau berubah, dan Lara pun membujuk lagi Papanya agar memaafkan Putra.
"Ya sudah, terserah Kalian! Yang jelas kalau Putra buat kesalahan lagi Papa gak akan kasih kesempatan lagi." tegas Papanya Lara.
Lalu suasana mulai reda lalu orang tua Lara dan Putra pamit pulang.
"Maaf ya." ucap Putra nyesal.
"Kamu serius kan mau berubah?" tanya Lara harap.
"Iya, lagian Aku juga sadar kalau Maya juga gak serius sama Aku, bantu Aku ya supaya bisa mencintai Kamu." jawab Putra senyum kepada Lara.
**(Di kamar Ku dan Dimas)**
Lalu Aku pun mengganti pakaian Ku di kamar mandi, Aku mengganti baju tidur Ku dengan piyama yang seksi agar Dimas tertarik dengan Aku.
Setelah Aku keluar dari kamar mandi ternyata Dimas sudah berbaring tidur di ranjang.
"Dimas..Dimas!" tegur Ku sambil menepuk pelan kaki Dimas.
***
"Ish, kok malah tidur sih? Aku kan sudah pakai piyama seksi kenapa malah tidur." ujar Ku dalam hati kesal.
Rencana Ku untuk bermesraan pun gagal malam ini. Lalu aku pun tarik selimut dan tidur.
🌞🌞🌞
Keesokan paginya Aku terbangun dan Dimas ternyata masih tidur, lalu Aku pun menunggu Dimas bangun, tidak lama Dimas pun terbangun lalu Aku membuka selimut Ku dan pura pura tidur.
Bukannya menyentuh Ku Dimas malah menyelimuti Aku lagi lalu pergi ke Kamar mandi.
"Kok malah di cuekin sih? Apa piyama Aku kurang seksi ya?" tanya Ku heran dalam hati.
Tidak lama kemudian Dimas pun keluar dari kamar mandi, lalu aku berdiri dan berjalan bagai model untuk menghampiri Dia.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas heran.
"Kok kenapa? Emangnya ada yang aneh ya?" tanya Ku balik dan heran.
"Iya aneh, ngapain Kamu jalan kayak model gitu? Gak cocok! Udah mending Kamu mandi sana." ujar Dimas santai.
***
"Aish, gak peka banget sih!" kesal Ku dalam hati dan masuk ke kamar mandi.
***
(Di meja makan)
"Gak normal!" Gumam Ku kesal dengan suara pelan.
"Apa? Kamu ngomong sesuatu?" tanya Dimas.
"Nggak ada!" cetus Ku.
"Kamu kenapa? Datang bulan?"
"Nggak ada!" cetus Ku lagi manyun.
"Uang belanja kurang?" tanya Dimas heran.
"Ih....bukan itu loh Dimas! Aku tuh kesal sama Kamu, Aku udah capek capek pakai piyama seksi malah kamu cuekin!" cetus Ku kesal.
"Hahaha, oh jadi gara gara itu ya, Aku kira kamu lagi datang bulan" balas Dimas tertawaan.
"Ketawa aja terus!" Kesal Ku manyun.
"Ya sudah Aku kerja dulu ya sayang." ucap Dimas lembut dan berdiri dari kursinya lalu mencium kening Ku.
Lalu Dimas pun pergi kerja dengan ketawa cengengesan.
"Buat kesal aja, tau gitu tadi malam Aku pakai jaket aja dua lapis!" seru Ku masih kesal.
Bersambung.....