
Bella menghentikan mobilnya tepat di pintu lobby. dia keluar dari mobilnya dengan perasaan marah tak disangka dihari spesialnya dia akan mendapatkan kejutan yang sangat menguras jiwanya.
dilemparnya kunci mobil sport yang ia bawa kepada petugas valet tanpa melihat kearah petugas itu. wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang sebentar lagi meledak. ia berjalan lurus kedepan tanpa menghiraukan tatapan orang yang melihatnya kagum dan juga penasaran. suara panggilan namanya juga tidak ia hiraukan baginya panggilan itu hanya angin lalu.
"nona! nona!"panggil petugas resepsionis yang memanggil namanya. petugas itu tampak kesulitan menyamai langkah bella yang sudah jauu di depannya.
bella berhenti di depan pintu lift dan menekan tombol lift itu.
"nona"panggil resepsionis tersebut yang sudah menghadang jalan bella. resepsionis tersebut tampak mengambil nafas dalam-dalam. sungguh ia tidak percaya wanita anggun dan elegan didepannya ini mempunyai langkah kaki yang besar.
"nona anda mau kemana? an..anda harus melapor ke resepsionis dulu kalau mau masuk kesini"ucap wanita itu yang masih mengambil nafasnya dalam-dalam.
isabella melipat tangan didadanya, tatapannya sangat tajam kearah resepsionis wanita itu. nyali resepsionis itu menciut tapi dirinya tetap berusaha untuk menjalankan prosedur pekerjaannya. dirinya tidak ingin mendapatkan teguran dari atasannya karena tidak menjalankan prosedur pekerjaan yang baik.
ting
bunyi pintu lift terbuka. isabella mendorong tubuh wanita itu kesamping. seketika tubuh wanita itu bergeser kesamping. saat hendak masuk kedalam tangan bella ditarik oleh resepsionis tersebut membuat dirinya tetarik keluar dari lift. tubuhnya hampir tersungkur jatuh kelantai.
"maaf nona anda harus melapor"keukeuh resepsionis tersebut.
isabella membalikkan tubuhnya dan jarinya menunjuk ke wajah wanita itu.
"kau tidak tahu siapa aku?"tanyanya geram.
"maaf nona! saya tidak tahu tapi siapa pun anda harus melapor ke resepsionis jika harus masuk kedalam hotel ini". ucap wanita itu sopan.
bella mengeluarkan smirknya. sungguh ia tidak percaya dirinya harus mengalami ini.
"kau! apa aku harus memecatmu"
"maafkan saya nona. saya hanya menjalankan prosedur hotel kami".
"ada apa ini?"tanya seseorang yang muncul dari belakang.
isabella melihat kearah sumber suara dan ia langsung mendongakkan kepalanya.
"kau bisa singkirkan kecoa ini! dia menghalangi jalanku".
saat hendak menekan tombol lift lagi wanita itu masih menghalangi lagi langkah bella membuat wanita itu geram.
"kau! apa aku harus mengungkapkan siapa diriku"bentak bella.
"maaf nona"
"aku isabella Claudya Lèonore dan aku pemilik hotel ini. hari ini juga kau ku pecat"ucapnya dengan marah.
tubuh resepsionis itu bergetar kuat ketika mendengar nama wanita yang ia halangi dari tadi. seketika dirinya terjatuh ke lantai. kevin yang melihat wanita itu terjatuh dengan sigap ia membantu wanita itu berdiri.
"tu.. tuan"panggilnya gemetar. kevin hanya memandangnya miris.
isabella masuk kedalam lift dan pintu lift itu tertutup pandangannya lurus kedepan tanpa mau melirik kearah resepsionis tersebut.
isabella sekarang sudah didepan kamar yang ditujunya, ia lalu merogoh tasnya dan mengambil kartu acess miliknya yang bisa membuka seluruh kamar hotel ini. pintu kamar itu terbuka, dia lalu masuk kekamar itu.
suasana suite room tersebut tampak gelap. terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. penghuni kamar mandi itu tidak tahu jika diluar sudah terjadi perang dingin. isabella yang duduk di sofa kamar itu tampak menatap dingin kearah wanita dihadapannya sambil memegang selimut yang menyelimutinya. kevin sekretarisnya tampak setia berdiri disamping bella otaknya sedang mencari tahu apa yang terjadi.
"cintya bisa kau ambilkan pakaianku"teriak pria dari dalam kamar mandi.
hening.
wanita yang bernama cintya itu tidak menjawab panggilan itu. dirinya sangat takut menjawab panggilan tersebut disaat di depannya ada seorang wanita yang menjelma menjadi malaikat pencabut nyawanya.
"cintya! baby! kau dengar aku"panggil pria itu lagi.
isabella masih menatap tajam wanita dihadapannya itu. dia tersenyum miring ketika pria di dalam kamar mandi itu terus memanggil.
pintu kamar mandi itu pun terbuka dan pria itu keluar dengan memakai bathrobe. dirinya masih sibuk mengelap rambutnya yang basah.
"sayang kenapa kau diam saja! apa kau masih ingin lagi"ucap pria itu yang tak lain adalah jhonny.
jhonny tersenyum memikirkan gadis seksi dibar itu pasti masih menginginkan dirinya lagi. ia lalu membuka matanya dan melihat kearah gadis itu yang menatap takut kearahnya. senyuman jhonny pun memudar dan ia lalu mengikuti arah pandang wnaita yang barusan ia tidurin. matanya langsung terbelalak.
"hi honey"sapa isabella dengan senyuman iblisnya.