
Isabella POV
aku sangat kesal dengan uncle george, Bagaimana bisa ia mengetahui rencanaku dan juga aku menyimpan uang di ranselku. benar-benar keterlaluan, jika dia bukan pamanku sudah aku pastikan ia aku pecat dan dia akan menderita seumur hidupnya.
setelah sampai di tempat tujuan yang tidak aku inginkan aku bingung harus kemana. uangku hanya beberapa lembar dollar yang aku yakini tidak akan cukup bertahan satu hari. uncle george benar-benar keterlaluan, lihat saja nanti aku akan memberinya pelajaran. tapi sebelum aku memberinya pelajaran dia pasti duluan membuatku tak berkutik seperti sekarang.
sekarang aku berdiri di pinggir jalan memikirkan cara untuk keluar dari hal-hal rumit ini. kalau ini bukan acara melarikan diri pasti hidupku sudah teratur, ada asisten kevin yang berada disisiku. disampingku berdiri orang yang menyebalkan, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. tapi aku tidak tahu kenapa saat bersamanya jantungku berdetak, ada rasa rindu yang muncul ketika mendengar suaranya. aku harap ini hanya halusinasiku saja.
pria itu lalu berteriak di sampingku dengan bahasa perancis. aku mengerti apa yang ia katakan karena aku menguasai bahasa ini. aku menatapnya horor, benar-benar aneh. untuk apa dia berteriak toh dia pikir kalau berteriak membuat semua orang yang mendengarnya senang tentu saja tidak. dia lalu melihat kearahku dan aku segera memalingkan wajahku dan mengejeknya. dia bertanya aku tinggal dimana. ahhh. aku baru ingat salah satu pusat perusahaanku ada disini dan paman georgeku yang menggantikanku memimpin disini.
aku lalu melihat sekitar mencari telpon umum atau sejenisnya dan lalu menelpon paman george. tapi! aku menepuk jidatku. bagi luaran sana pasti mengenalku sebagai seorang perfectionis tapi tidak kalau aku lagi menyalakan mode ceroboh begini. handphoneku rusak karena kecerobohanku tadi di bandara tentu saja nomor paman ada disana. aku lalu menendang-nendangkan kakiku ke aspal. aku mengutuk diriku sendiri.
orang gila disampingku terus berbicaraku tapi tentu saja aku tidak akan menggubrisnya pikiranku sekarang apa aku akan mati dalam waktu sehari disini. pria itu lalu menarik tanganku dan mengehntikan sebuah taxi. sopir taxi itu lalu turun dan memghampiri kami. kemudian dia memasukkan barang-barang pria itu.
"ehhh apa-apaan ini?"bentakku. aku mencoba menbebaskan tanganku dari genggaman orang gila ini tapi genggaman itu sangat kuat sekali.
"aku tahu kau tidak ada tempat tujuan. sementara kau bisa tinggal dirumahku. cepat masuk"perintahnya. huh dia pikir dia siapa memerintahku?.
"aku tidak mau".
"masuk atau aku cium kau" dia ancamku dan apa itu wajahnya sudah mendekat ke wajahku. dasar orang gila.
aku mengutuk dia dalam hatiku dan aku berpikir lebih baik aku menurutinya daripada dia melakukan apapun yang lebih gila lagi. lagian aku butuh tempat berteduh sebelum mememui paman grorge. aku menjauhkan wajahku dan lalu dia dengan segera masuk kedalam taxi itu.
"au restaurant le marbell montmartre (ke restaurant le marbell montmartre)". aku melototkan mataku ketika tahu kemana tujuannya.
pengemudi taxi itu pun menganggukkan kepalanya dan mobil pun melaju membela jalanan perancis.
"kenapa kau mengajakku ke restaurant?"tanyaku
pria itu merangkul bahuku dan membawa tubuhku itu semakin dekat kepadanya. aku sungguh sangat risih, si pengkhianat jhonny saja harus meminta izin padaku jika dia ingin memelukku, tapi orang ini. astaga aku berharap tubuhku mengeluarkan duri-duri layaknya landak dan menusuk disetiap kulitnya.
"kau bisa bahasa perancis rupanya. aku lapar dan aku lihat selama di pesawat kau tidak makan karena kau tidak ada uang"ejeknya.
what the hell
aku mengangkat tangannya yang ada di bahuku semakin lama dibiarkan dia akan semakin melunjak. saat tangan itu berhasil aku singkirkan dengan kurang ajarnya dia merangkulku lagi bahkan lebih kuat.
"tenanglah isabella. di indonesia kau memang ratunya. tapi di perancis aku adalah rajanya".
aku mendecih. memangnya dia siapa? bahkan aku tidak pernah melihatnya dimana pun.
"apa maksudmu?"
"kau tahu aku bisa menyuruh sopir taxi ini berhenti"jawabnya asal.
aku menghembuskan nafas keatas. aku pun bisa melakukannya bahkan anak kecil pun bisa melakukannya. tuhan!! bodoh sekali dia. akupun kemudian menjewer telinga sebelah kanannya
syukurin.
tiba-tiba sopir taksi itu berhenti. aku terheran kenapa sopir itu berhenti mendadak. apa sudah sampai?.
"désolé monsieur s'il vous plaît calmez-vous. Je dois me concentrer. (maaf tuan tolong tenang. saya harus berkonsentrasi)."ucap sopir itu.
"Pardonnez-nous. nous venons de nous marier (maafkan kami. kami baru saja menikah)"bohongnya. aku melihatnya dengan tajam.
aku lalu memukul lengan fabian dan memalingkan wajahnya keluar. cukup aku harus bersabar sampai aku bisa bertemu paman george dan lalu membalas pria disampingku ini.
tak terasa selama di perjalanan aku mengantuk, tubuhku selalu begini cepat sekali lelah dan membuat dadaku sesak. aku pun memejamkan mataku dan jatuh tertidur.
aku merasakan hembusan nafas seseorang di wajahku. aroma mint keluar saat dia mengucapkaj sesuatu yang terdengar samar di telingakum tak lama kemudian kedua mataku perlahan terbuka. dan saat ini mata kami saling menatap satu sama lain. mata yang indah berwarna abu-abu. warna mata yang jarang aku temui.
"sebaiknya kau minggir dari hadapanku sebeluk aku colok matamu"ancamku yang tidak mau terlalu lama menatap mata itu
dia tersenyum dan ia lalu menegakkan badannya. kami pun keluar dari taxi itu. barang-barang kami sudah dikeluarkan oleh sopir taxi. pria itu lalu membayar taxi kami, sedangkan aku terdiam ketika melihat sebuah restaurant yang sangat bagus sekali. sepertinya bintang lima kalau tidak bagaimana bisa restaurant ini begitu ramai dibandingkan restaurant lain didekatnya. bahkan restaurant ini pun berhadapan langsung dengan Sacré-Coeur Basilica. Gereja basilika berwarna putih yang berada di atas bukit montmartre dan merupaka landmark di negara ini. pasti kalian bertanya bagaimana aku mengetahui ini padahal aku membenci negara ini. itu semua karena paman george yang memberikan pelajaran sejarah dan wisata ketika aku kecil dulu.
orang gila itu lalu mengajakku masuk kedalam tapi aku sudah mendahuluinya. saat pertama kali aku melihat restaurant ini aku merasakan seperti pulang kerumah. tempat ini sangat familiar untukku. aku lalu masuk kesana mencari tempat duduk kosong tapi tidak ada semua penuh bahkan sampai diluar. pria itu merangkul leherku. sungguh aku berharap aku adalah jelmaan landak sekarang.
sebuah suara memecahkan perhatianku. "fabian" panhgil seorang perempuan dengan memakai pakaian pelayan.
"oh jadi namanya fabian"gumamku. well not bad.
semua karyawan disana menghampirinya dan ia pun menyambut mereka. aku bingung jangan-jangan ini miliknya. oh tidak. habislah aku.
sebuah dehaman terdengar dan muncullah seorang pria paruh bayah yang masih gagah di usianya. aku melihatnya sekilas dan seketika aku ingin menangus melihatnya. entah kenapa aku seperti ini. tiba-tiba hatiku menghangat, sedih, dan rindu. aku masih menatapnya. mereka lalu berpelukan lama dan setelah itu pria tua itu menyuruh kami keatas.
pria gila bernama fabian lalu mendorong kopernya dan menggoyangkan kepalanya ketika melihatku dan mengisyaratkan supaya ikut dengannya.
dengan canggung aku mengikuti fabian dari belakang. kami lalu naik kelantai atas. disana terdapat ruangan keluarga yang sangat nyaman dan juga diluar terdapat balkon dan meja panjang yang aku pikir itu adalah ruang makan. pria tua itu memberhentikan langkahnya saat mereka berhenti di ruang tengah. tampak banyak photo disekitar ruangan itu. pria itu lalu mengulurkan tangannya.
" nous ne sommes pas encore au courant. je m'appelle alexandre (kita belum berkenalan. namaku alexandre)"ucap pria itu.
aku tampak terkejut dengar nama pria itu adalah alexandre seperti nama ayahnya. aku pun melihat kearah fabian dan sedikit melototkan mataku. aku berpikir jika fabian adalah orang yang dikirim paman george untuk membuatku kembali ke keluargaku yang telah meninggalkanku. pikiranku sungguh kacau sekarang. banyak praduga yang muncul. apa benar pria ini adalah ayahku, kalau benar aku ingin sekali memakinya sekarang. tapi jika ini ayahku berarti fabian adalah kakakku, tapi kami bahkan kelihatan seumuran. sungguh pikiranku benar-benar kacau. dadaku mendadak sesak dan kepalaku menjadi sakit. aku berusaha mencoba menahannya.
"apa yang kau lihat?"tanya fabian kepadaku.
dengan ragu aku mengulurkan tangannya.
"edward"ucapku yang menjabat tangan pria itu. aku harus menyelidiki ini secara diam-diam.
isabella pov end