
Flash back
Isabella membuka pintu ruangan uncle george nya, i melihat pamannya itu sangat fokus dengan berkas-berkasnya. sejak ia kembali ke perusahaan ibunya, paman geoge sangat sibuk sehingga isabella jarang menghabiskan waktu bersama dengan pamannya itu.
isabella berjalan mendekati pamannya yang tak bergeming sama sekali. ditariknya kursi didepannya dan pamannya tidak terganggu sama sekali. dalam hatinya dia mengerutuki dirinya sendiri, uncle georhe pasti sedang marah pada dirinya selama pria tua itu pergi. isabella sering membuat ulah beberapa kali sehingga fasilitasnya yang ia pakai sering di non aktifkan oleh paman george.
"katakan apa yang ingin kau katakan?"ucap paman george yang membuyarkan lamunan isabella.
mendengar suara bariton khas dari pamannya itu seketika nyali isabella menciut. ia pun menundukkan kepalanya.
"katakan nona lèonorè? apa kau membuat ulah lagi?"selidik pamannya yang masih fokus pada tumpukan kertasnya.
isabella sontak mendongakkan kepalanya, matanya membelalak. ia yakin paman george akan memarahinya sebelum ia mengatakan maksud dan tujuan dia datang kesini.
"tidak paman! bella tidak melakukan apa-apa. ada yang bella ingin katakan" ucapnya pelan saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
pamam george lalu menutup penanya dan kemudian dilanjutkan berkasnya. dia merasakan sesuatu saat bella masuk tadi. ia menghela nafasnya lalu melihat kearah isabella yang menatapnya sendu.
"baiklah! apa itu?".
isabella menundukkan kepalanya lagi dan memelintirkan jarinya.
"paman tahukan aku menyukai dunia fashion dan bahkan rancanganku beberapa kali menang dalam perlombaan, bahkan LV dan Chanel pernah membeli karyaku"
paman george menganggukkan kepalanya, ia akui isabella memang sangat berbakat dalam bidang fashion.
"maka dari itu uncle. bella ingin membuat rumah mode brand bella sendiri dan juga perusahaan yang bergerak dibidang ini"ucap isabella takut-takut.
"apa ada alasan yang lain? kau tahu keputusanmi ini sangat berbahaya jika mereka tahu siapa dirimu?"tanya paman george.
isabella menganggukkan kepalanya, dia tahu konsikuensinya jika dia memakai nama marganya. semua sudah ia pikirkan.
"iya paman! bella mengerti. bella juga ingin lepas dari mama. isabella capek harus hidup menjadi seperti boneka. bella ingin lepas dari semuanya, bella tidak akan memakai marga yang bella punya. meskipun bella tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi. tolong bella paman. bella tidak ingin tertekan tinggal disana, bella kesepian disana, hidup bella selalu dibayangi mama"isaknya.
paman george mengerti dengan kegundahan gadia yang sudah dianggapnya anak sendiri itu.
"apa kau yakin melakukan ini? kau tahu untuk memulainya kau harus belajar seluk beluk bisnis, manajemen, pemasaran, dan lainnya. dan dalam berbisnis kau harus serius, yakin, tekun, dan kerja keras. apa kau yakin mau melakukannya?"tanya paman george.
isabella mengusap airmatanya dan mendongakkan kepalanya.
"bella yakin paman dan bella akan belajar itu semua".
"apa jaminannya?"tanya paman george
"bisa kau berjanji pada paman. kalau kau akan meninggalkan kebiasaan burukmu itu. dan kau harus berubah dan serius dengan bisnismu ini. dan jangan sampai mereka tahu tentang jati dirimu. dan terakhir jika kau terlibat skandal apapun dan situasinya sangat buruk hingga mereka mencari tentang dirimu dan semuanya terbongkar. paman akan datang kehadapanmu dan langsung membawamu ke perancis. apa kau bisa lakukan ini?"tantang pamannya.
isabella meneguk ludah kasarnya. kembali ke perancis adalah hal yang mengerikan. dia tidak ingin kembali ke negara tempat ia dilahirkan dan bertemu dengan ayahnya yang telah meninggalkkannya. dia akan memastikan dirinya tidak terlibat dengan skandal apapun.
"iya paman. bella tidak akan terlibat skandal apapun dan bella akan meninggalkan semuanya, tidak ada balapan liar ataupun tawuran lagi. jika bella melakukan itu semua dan kondisi tidak kondusif paman boleh bawa bella".
paman george menyenderkan bahunya di kursi kebesarannya. dia melihat kedalam manik mata isabella yang mirip sekali dengan sahabatnya itu penih keyakinan. ia masih bersyukur isabella tidak menyentuh minuman beralkohol ataupun narkoba yang biasa terjadi dilingkungan yang biasa isabella datangi.
"baiklah paman pegang janjimu itu". paman george pun berdiri dari kursinya dan kemudian merentangkan tangannya.
"kemarilah"pinta pamannya.
isabella berdiri dari kursinya dan menghampiri pamannya. ia peluk orang yang sangat berjasa kepadanya saat ia bangun dari komanya. orang yang mengajarinya dari makan, berbicara, berjalan dan lainnya. isabella mengalami kerusakan pada otaknya menyebabkan beberapa syarafnya bermasalah ini disebabkan isabella terlalu banyak menghirup asap saat rumahnya terjadi kebakaran dan ia juga mengalami amnesia karena benturan keras di kepalanya dan mempengaruhi kerja otak kecilnya. saat ia bangun setelah tidur selama 2 tahun, dirinya hanya melihat paman george dan mbok jati yang saat itu ia klaim sebagai orang tuanya.
setelah permohonan bella kepada paman george dan juga janjinya. isabella sangat berubah, ia tinggalkan balap liarnya dan juga tawuran yanh sering ia ikuti, bahkan sahabatnya tidak ia gubris jika mereka menelponnya. setiap hati isabella berhadapan dengan buku-buku tebal yang dibawa oleh paman george ataupun yang ia baca di perpustakaan.
"george, aku lihat sebulan ini dia sangat berubah? apa yang terjadi?"tanya martha saat ia baru pulang dari perjalanan bisnisnya.
paman george yang sedari tadi mengawasi bella dari depan pintu ruangan belajar bella terkejut dengan suara nyonya besarnya. ia lalu membalikkan tubuhnya dan memberi hormat. ia lalu melihat kearah bella yang masih sibuk dengan buku-bukunya.
"nona muda meminta saya untuk mengajarinya tentang dunia bisnis. karena ia ingin membuat rumah
mode dan bahkan perusahaannya sendiri"jawab paman george.
martha melihat kearah isabella anaknya itu.
"apa? ini ide gila george. kau tahu...".
"saya tahu nyonya. saya juga sudah mempersiapkan semua dan juga saya sudah mengatakannya kepada nona. tapi nona tetap berkeras dan berjanji dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuat semua terbongkar"jawab paman george cepat.
"menurut saya biarkan nona mencari jati dirinya sendiri. sudah cukup nona merasa tertekan dan terbebani. anda tidak tahu apa yang terjadi terhadap nona selama ini. anda hanya menemaninya saat koma dulu dan itu tidak lebih dari 5 bulan saja"
ucapan dari sahabat dari mantan suaminya itu seperti tamparan baginya. karena kesibukannya ia hanya menemani isabella yang saat itu masih tenang dalam komanya tidak lebih dari 5 bulan dan saat ia mendengar anaknya sadar dari koma, dirinya sedang ada di polandia untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan disana. padahal kehadirannya sangat diharapkan oleh anaknya tersebut.
"baiklah! jika dia butuh sesuatu katakan padaku. aku akan membantunya".
"maafkan saya nyonya. nona muda berpesan dia tidak ingin ada campur tangan nyonya dalam urusannya. dia ingin lepas dari anda".
martha memalingkan wajahnya. hatinya sakit mendengar anaknya tidak ingin dirinya ikut dalam urusannya. matanya sudah berkaca-kaca tetapi ia tahan. kemudian dia pergi dari hadapan george yang menatapnya datar.