
tiba-tiba sopir taksi itu berhenti. aku terheran kenapa sopir itu berhenti mendadak. apa sudah sampai?.
"désolé monsieur s'il vous plaît calmez-vous. Je dois me concentrer. (maaf tuan tolong tenang. saya harus berkonsentrasi)."ucap sopir itu.
"Pardonnez-nous. nous venons de nous marier (maafkan kami. kami baru saja menikah)"bohongnya. aku melihatnya dengan tajam.
aku lalu memukul lengan fabian dan memalingkan wajahnya keluar. cukup aku harus bersabar sampai aku bisa bertemu paman george dan lalu membalas pria disampingku ini.
tak terasa selama di perjalanan aku mengantuk, tubuhku selalu begini cepat sekali lelah dan membuat dadaku sesak. aku pun memejamkan mataku dan jatuh tertidur.
aku merasakan hembusan nafas seseorang di wajahku. aroma mint keluar saat dia mengucapkaj sesuatu yang terdengar samar di telingakum tak lama kemudian kedua mataku perlahan terbuka. dan saat ini mata kami saling menatap satu sama lain. mata yang indah berwarna abu-abu. warna mata yang jarang aku temui.
"sebaiknya kau minggir dari hadapanku sebeluk aku colok matamu"ancamku yang tidak mau terlalu lama menatap mata itu
dia tersenyum dan ia lalu menegakkan badannya. kami pun keluar dari taxi itu. barang-barang kami sudah dikeluarkan oleh sopir taxi. pria itu lalu membayar taxi kami, sedangkan aku terdiam ketika melihat sebuah restaurant yang sangat bagus sekali. sepertinya bintang lima kalau tidak bagaimana bisa restaurant ini begitu ramai dibandingkan restaurant lain didekatnya. bahkan restaurant ini pun berhadapan langsung dengan Sacré-Coeur Basilica. Gereja basilika berwarna putih yang berada di atas bukit montmartre dan merupaka landmark di negara ini. pasti kalian bertanya bagaimana aku mengetahui ini padahal aku membenci negara ini. itu semua karena paman george yang memberikan pelajaran sejarah dan wisata ketika aku kecil dulu.
orang gila itu lalu mengajakku masuk kedalam tapi aku sudah mendahuluinya. saat pertama kali aku melihat restaurant ini aku merasakan seperti pulang kerumah. tempat ini sangat familiar untukku. aku lalu masuk kesana mencari tempat duduk kosong tapi tidak ada semua penuh bahkan sampai diluar. pria itu merangkul leherku. sungguh aku berharap aku adalah jelmaan landak sekarang.
sebuah suara memecahkan perhatianku. "fabian" panhgil seorang perempuan dengan memakai pakaian pelayan.
"oh jadi namanya fabian"gumamku. well not bad.
semua karyawan disana menghampirinya dan ia pun menyambut mereka. aku bingung jangan-jangan ini miliknya. oh tidak. habislah aku.
sebuah dehaman terdengar dan muncullah seorang pria paruh bayah yang masih gagah di usianya. aku melihatnya sekilas dan seketika aku ingin menangus melihatnya. entah kenapa aku seperti ini. tiba-tiba hatiku menghangat, sedih, dan rindu. aku masih menatapnya. mereka lalu berpelukan lama dan setelah itu pria tua itu menyuruh kami keatas.
pria gila bernama fabian lalu mendorong kopernya dan menggoyangkan kepalanya ketika melihatku dan mengisyaratkan supaya ikut dengannya.
dengan canggung aku mengikuti fabian dari belakang. kami lalu naik kelantai atas. disana terdapat ruangan keluarga yang sangat nyaman dan juga diluar terdapat balkon dan meja panjang yang aku pikir itu adalah ruang makan. pria tua itu memberhentikan langkahnya saat mereka berhenti di ruang tengah. tampak banyak photo disekitar ruangan itu. pria itu lalu mengulurkan tangannya.
" nous ne sommes pas encore au courant. je m'appelle alexandre (kita belum berkenalan. namaku alexandre)"ucap pria itu.
aku tampak terkejut dengar nama pria itu adalah alexandre seperti nama ayahnya. aku pun melihat kearah fabian dan sedikit melototkan mataku. aku berpikir jika fabian adalah orang yang dikirim paman george untuk membuatku kembali ke keluargaku yang telah meninggalkanku. pikiranku sungguh kacau sekarang. banyak praduga yang muncul. apa benar pria ini adalah ayahku, kalau benar aku ingin sekali memakinya sekarang. tapi jika ini ayahku berarti fabian adalah kakakku, tapi kami bahkan kelihatan seumuran. sungguh pikiranku benar-benar kacau. dadaku mendadak sesak dan kepalaku menjadi sakit. aku berusaha mencoba menahannya.
"apa yang kau lihat?"tanya fabian kepadaku.
dengan ragu aku mengulurkan tangannya.
"edward"ucapku yang menjabat tangan pria itu. aku harus menyelidiki ini secara diam-diam.
isabella pov end
isabella sekarang berada di balkon yang terdapat meja panjang yang dilihat isabella tadi. balkon yang berada dilantai 2 pojok itu berhadapan tepat dengan Sacré-Coeur. langit mulai senja, lampu disekitar gereja basilika itu mulai menyala dan taman belakang mereka yang dipwnuhi dengan phon cemara pun mulai menyalakan lampunya membuat suasana menjadi romantis.
"makan malammu tuan edward cullen"sindir fabian.
isabella menatap tajam kearah fabian. pria itu suka sekali menyindirnya. aroma makanan yang dibawa fabian tafi cukup membuatnya menghentikan aksi protes yang hendak ia layangkan. perut isabella sudah menabuh genderang.
isabella lalu mengambil salah satu piring yang dibawah oleh fabian.
"eitsss kalau kau ambil yang itu aku jamin mukamu akan menjadi boneka hello kitty yang hendak berak"goda fabian.
fabian menarik kursinya dan duduk disamping isabella ia pun mendorong seporsi besar nasi goreng spesial.
"ini punyamu. aku yang ini. aku tahu kau tidak menyukai ayam".
"dari mana kau tahu?"tanya isabella.
fabian menghentikan suapannya dan menatap isabella. isabella membuka kepala hoddie dan topinya. ia lalu melipat tangannya didada dan menatap pria itu tajam.
"jawab aku darimana kau tahu aku tidak menyukai ayam. apa kau dikirim paman george?"selidik isabella.
suasana romantis tersebut mendadak mencekam. fabian yang menatap isabella, ia mengakui otak cerdas gadis itu. tapi permainan baru saja dimulai dan dia tidak mungkin mengaku kalah begitu saja.
fabian lalu tersenyum.
"george siapa? bukankah itu salah satu monyet pintar dalam film kartun?".
"aku tidak suka main-main. sekarang jawab aku".
"memangnya kita sedang bermain apa nona? aku tidak mengenal siapa itu george. aku hanya mengenalmu yang mengaku sebagai edward cullen tadi".
isabella mulai geram dengan fabian yang terus saja mengelak. ia pun menunjukkan jarinya kearah fabian.
"kau..."
"sssttt. tenanglah. aku bukan siapa-siapa dibanding dirimu nona. tenang dan makanlah kasihan cacing di perutmu sudah meronta-ronta. jika aku memang orang suruhan paman george maka aku sudah menyerahkanmu kepadanya bukan membawa kerumah orang tuaku"ucap fabian.
isabella melemaskan tubuhnya dan mengambil sesuap nasi dihadapannya.
"mengenai apa yang kau sukai atau tidak, aku tahu dari google. ada beberapa facta di jabarkan disana. kalau kau tidak percaya periksa saja sendiri".
isabella tidak menggubris ucapan fabian dan asyik memakan makanannya. fabian tersenyum melihat isabella memakan dengan lahap. di sudut ruangan alexandre menatap haru putri yang ia rindukan itu.