
malam sudah bergeser pagi. sinar matahari sudah melakukan tugasnya untuk menyinari bumi. disebuah ruangan yang sangat mewah isabella masih setia tidur di kasur queen sizenya. tak berapa lama mata cantiknya mulai begerak. kelopak matanya berangsur membuka menyambut sinar matahari yang sedari tadi sudah membangunkannya. isabella menyesuaikan cahaya yang masuk dan dia bangkit dari tidurnya.
ditempelkan tangan kanannya di keningnya. malam yang menguras pikirannya semalam. setelah memergoki jhonny yang telah menjadi mantan kekasihnya itu ia kembali ke apartemennya, dia enggan pulang kerumah pribadinya yang pasti disambut oleh mbok jati yang selalu menunggunya pulang tak lupa dengan wejangan dan makanannya. bella bersyukur meski ibunya mengabaikannya dan sibuk dengan bisnisnya, ia masih memiliki mbok jati yang memberinya kasih sayang sejak dulu ia kecil dan sampai peristiwa kelam yang terjadi padanya. beberapa tahun yang lalu.
isabella lalu bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi dan menghiraukan ponselnya yang terus berdering. 30 menit kemudian dirinya sudah siap untuk melakukan aktivitasnya. blazer sepanjang pahanya berwarna navy telah melekat ditubuhnya dengan kaus dalaman berwarna putih dan juga celana pendek denimnya. ia lalu mengambil tasnya yang berwarna senada dan memasukkan ponselnha didalam. ia lalu keluar dari apartemennya dan berjalan menuju lift. ia lalu menekan lift tersebut dan pintu lift terbuka. ia lalu masuk kedalam lift tersebut dan memencet tombol lantai gf.
"sepertinya kau si gadis viral?"tanya seseorang di sampingnya. sewaktu ia masuk kedalam lift bella memang melihat pria berpostur tubuh tinggi itu, tapi dia hanya cuek dan biasa saja.
isabella tidak menggubris pertanyaan orang tersebut dan hanya mentap lurus. pria itu lalu tersenyum melihat ekspresi datar isabella dari dinding lift.
"sepertinya benar!. kau gadis yang memergoki pacarnya selingkuh"ucap pria itu lagi.
isabella lalu menolehkan wajahnya kesamping melihat kearah pria itu yang tersenyum kearahnya.
"apa? aku hanya menebak saja dan ternyata benar"ucap pria itu santai saat ditatap tajam oleh bella.
pintu lift terbuka dan isabella keluar dari lift itu. sqqt keluar tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria yang ada dibelakangnya dan meletakkan topi pria itu keatas kepala bella.
"sempurna! jangan kau lepaskan topi ini dan sebaiknya kau lepaskan kacamata hitammu itu. nanti mereka menyangka matamu membengkak karena menangis semalaman"ucap pria itu lalu pergi meninggalkan bella.
bella menatap pria itu pergi dan ia menatap dirinya di dinding lift. ia lalu pergi ke keluar dari apartemennya dan dia terkejut melihat wartawan yang sudah menunggunya di depan pintu lobby. tampak para security kewalahan menahan para wartawan itu saat melihat bella keluar.
isabella lalu mengingat ucapan pria yang baru saja ditemuinya dan ia segera membuka kacamata hitamnya dan menyimpannya di dalam tas.
"nona"sapa kevin.
kevin lalu mengawal isabella dan dibantu oleh beberapa bodyguard mereka.
"nona jelaskan apa jhonny ketahuan berselingkuh?"
"*nona bagaimana perasaan anda saat putus dari jhonny?"
"nona tolong beri kami penjelasan sedikit saja?"
"nona! nona! tolong jawab pertanyaan kami*?"
isabella tidak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan wartawan yang masih terus melemparkan pertanyaan kepadanya. ia lalu masuk kedalam mobil yang sudah menunggu di depan.
di sudut tempat dimana kerumunan wartawan yang terus mengejar bella tampak seorang pria yang terus menerus melihat pergerakan bella.
"akhirnya kita bertemu sayang"
di dalam mobil isabella menyenderkan kepalanya ke kursi mobilnya.
"nona ini jadwal anda hari ini"ucap kevin yang menyerahkan dokumen kearah bella.
bella memalingkan wajahnya kearah luar jendela.
"batalkan hingga jam siang. panggil semua yang terlibat dalam insiden di acara kemarin dan jangan sampai terlewatkan satu pun".
"baik nona. bagaimana dengan gadis resepsionis semalam?"tanya kevin.
"memangnya kenapa dia?"bentak bella.
"maaf nona. dia hanya menjalankan prosedur hotel kita".
"terserah! panggil dia juga".
"baik nona"ucap kevin.
isabella menghembuskan nafasnya kasar sepertinya hari ini akan sangat panjang. dia harus memikirkan hukuman untuk stafnya dan juga mendengarkan alasan-lasan tak logis dari mereka saat dia akan memecat karyawannya. dan itu membuatnya pusing dan muak. karena mereka akan mengatakan "jangan pecat saya nona. bagaimana keluarga saya?". kata-kata pamungkas yang selalu ia dengar.
suara isakan tangis seorang wanita masih mengisi ruangan pantry di suatu tempat. tampak temannya terus memberikan semangat kepadanya. ia tahu temannya belum mengetahui tentanv wajah pimpinannya dirinya pun juga belum mengetahui bagaimana wajah bella dari dekat selama ini ia hanya melihat dari media.
"sudah! kamu pulang saja dari semalam kamu disini nanti keluarga kamu nyariin"
srrrtttttt. bunyi hembusan ingusnya.
"bagaimana nanti kalau mereka bertanya? aku harus jawab apa?". teriaknya.
temannya pun menjadi bingung.
pintu terbuka dan muncullah manajernya.
"vina". orang yang bernama vina pun langsung mendongakkan kepalanya. ia dengan cepat mengusap air matanya.
"maaf pak! saya sebentar lagi pergi dari sini"ucap vina gugup. temannya yang ada di sampingnya pun menundukkan kepalanya takut kalau dia juga terseret.
manajer itu pun menghela nafas beratnya.
"kamu di panggil nona bella di kantor pusat sekarang".
vina dan temannya mebelalakan matanya. tubuh vina langsung lemas mendengarnya.
"aa...apaa pak? tttaaa...pppi".
"sudah kamu cepat kesana! dan jelaskan semuanya. kamu tahu dia orangnya tepat waktu kamu terlambat satu detik kesempatanmu akan hilang selamanya"peringat pria itu.
vina lalu segera mengambil tas kerjanya dan memasukkan barannya diatas meja dengan cepat. dia lalu memeluk temannya dan meminta doa. dia juga menjabat tangan manajernya dan segera berlari.
di ruangan produksi dan event pun mengalami suasana sunyi senyap. mereka semua menunggu hasil review dari acara fashion show semalam.
pintu ruangan terbuka muncullah kevin dengan wajahnya dengan wajah yang serius.
"selamat pagi pak!"ucap mereka kompak.
kevin menganggukkan kepalanya.
semuanya menganggukkan kepalanya.
"nona yang akan mereview semuanya. jangan sampai kalian salah bicara. dan terutama kalian berdua". tunjuk kevin kepada pria berkepala pelontos dan seorang wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"panggil juga staf yang membawa semua gaun semalam terutama gaun terbaik semalam". kevin pergi meninggalkan ruangan itu. dan saat kevin meninggalkan ruangan tampak semua karyawan berbisik satu sama lain.
"mati eyke cyin".
Di ruangannya isabella tampak asyik mendesign sebuah gaun. tangannya sangat terampil sekali ketika menggoreskan pensil itu.
tok tok tok
pintu ruangannya berbunyi. kevin membuka pintu ruangan bella dan melihat majikannya sedang asyik mendesign.
"nona".
"ehm"jawab bella yang masih asyik di duniannya.
"semuanya sudah siap"
bella menghela nafasnya dan meletakkan peralatannya. ia lalu bangkit dari kursinya dan merapikan blazernya.
"baiklah".
bella dan kevin keluar dari ruangannya dan ia menuju keruang rapat dimana semua orang yang terlibat dalam eventnya kemarin sudah berkumpul termasuk vina wanita resepsionis yang menegur bella semalam.
bella masuk kedalam ruangan itu dan semua orang menundukkan kepalanya. mereka takut jika hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja di tempat dimana semua orang berebut untuk mendapatkan kursi disini.
bella duduk di kursi paling ujung dan langsung melipat tangannya sedangkan kevin tampak tenang berdiri di samping bella.
"aku tidak punya waktu banyak. kita langsung saja"ucap bella yang memulai rapatnya.
semua orang meneguk ludahnya kasar, mereka semua keringat dingin semuanya.
"semua staf yang tidak berurusan dengan backstage kalian silahkan keluar dari ruangan ini kerja kalian bagus".
semua staf yang di sebut bella menghelakan nafasnya dan segera keluar dari ruang rapat tersebut.
"siapa yang mengemas dan membawa gaun terbaikku semalam?"tanya bella.
4 orang yang terdiri dari dua pria dan dua wanita maju kedepan dan menundukkan kepalanya.
"kami nona"jawab mereka serentak.
bella melihat kearah mereka tajam.
"apa kau saat mengemasinya melakukan kesalahan sehingga gaunku bisa sobek atau kalian yang membawanya tidak berhati-hati karena penasaran melihat rancangan terbaikku dan ingin menyebarkannya ke media sosial"bentak bella.
semua orang gemetar mendengar bentakan atasan mereka yang sangat mengerikan itu. mereka lebih senang jika yang membentak mereka adalah kevin dan bukan isabella.
"maafkan kami nona".
"apa maaf bisa menyelesaikan semua. jika aku datang terlambat kemarin. apa yang akan kalian lakukan? apa kalian akan mempermalukan aku? dan membuat orang berhenti membeli hasil karyaku dan akan berimbas dengan aku memecat kalian yang bekerja tidak kompeten?"
semua orang yang disana semakin menundukkan kepalanya mendengar makian dari bella.
"kevin berikan aku data mereka? kita lihat bagaimana jika aku memecat dan memblacklist mereka".
"aku yang bersalah nona"ucap seorang wanita yang memberanikan diri maju.
isabella menatapnya dan mendongakkan kepalanya.
"saya mohon nona! mereka tidak bersalah. saya yang ceroboh memakaikan gaun itu kepada nona sica saat saya akan menarik rel sletingnya dengan kuat dan berakhir sobek".
"dan kau tidak melakukan apapun?"
wanita itu menggelengkan kepalanya.
isabella menoleh ke arah pria berkepala pelontos.
"kau sebagai apa?"tanyanya.
"eyke.. eh... maksud saya... saya bagian kepala penata busana"jawabnya gugup.
bella mendecih mendengar jawaban pria itu. dia lalu berdiri dari kursinya dan berjalan kearah pria berkepala pelontos itu.
"kevin suruh mereka pergi kecuali dua orang ini". beberapa orang beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. vina yang merasa belum menjelaskan kejadian semuanya ragu. isabella melihat kearah vina yang maju mendekat kearahnya.
"nona aa..aku"
"kau tidak dengar aku bilang pergi"bentaknya.
vina gemetar, dirinya hampir pingsan melihat amukan bella. ini kedua kalinya ia di bentak oleh isabella.
"nona... tolong jangan pecat saya. saya...."
"jangan kau ucapkan ujungnya aku sudah muak mendengarnya".
"tapi nona..."
bella melototkan matanya.
"satu kesempatan dan lakukan terbaik. kau harus mengetahui siapa atasanmu. sekarang keluar"
vina menganggukkan kepalanya, ia berjanji akan bekerja dengan baik lagi dan tidak akan ceroboh lagi. vina lalu keluar menyisahkan pria berkepala pelontos itu dan wanita yang telah merusak gaun bella. mereka berdua meremas tangan mereka yang sudah berkeringat dingin, mereka bersiap jika mereka akan diambil nyawanya sekarang juga. karena mereka bersalah dan sangat ceroboh dalam bekerja. dan mereka siap menghadapi konsekuensinya.